Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 73. Meninggalkan Pasar Gelap


__ADS_3

“Bukannya kalian terlalu kejam pada mereka?” Reinar melihat mayat tiga ninja yang tak lagi dapat dikenali, dan pelakunya tentu saja tiga assassin yang menemaninya masuk ke dalam gedung.


“Mereka sudah meremehkan status assassin bayangan. Jadi kami terpaksa memberi kematian paling layak untuk mereka.” Salah satu assassin membalas perkataan Reinar.


Mendengar itu Reinar hanya tersenyum lalu segera dia dan tiga assassin bayangan pergi meninggalkan gedung yang dipenuhi mayat karena dari kejauhan mulai banyak berdatangan para penjaga pasar gelap.


Pergerakan mereka yang sangat cepat dan dapat menyamarkan keberadaan dalam bayang-bayang, membuat tak seorangpun tahu kalau mereka telah meninggalkan gedung yang kini ramai didatangi para penjaga.


“Selain berhasil membunuh salah satu pemimpin kelompok Tubuh Besi, aku juga mendapatkan informasi berharga yang berhubungan erat dengan kematian ayahku.” Reinar mengatakan semua itu pada Erina dan Malvin begitu dia bertemu keduanya.


“Sebaiknya kita bahas lebih detail tentang semua itu setelah keluar dari tempat ini, dan sepertinya kita tidak keluar dengan mudah dari tempat ini setelah apa yang baru saja kamu lakukan.” Erina melihat banyak orang yang ingin keluar dari pasar gelap, tapi mereka baru mendapatkan izin keluar setelah melewati pemeriksaan ketat.


Melihat apa yang dilihat Erina, Reinar hanya tersenyum kemudian berkata, “Kenapa juga harus keluar lewat jalan utama, disaat banyak jalan lainnya yang bisa digunakan untuk keluar dari tempat ini?” Dengan kemampuan mata tembus pandang miliknya, bukan perkara sulit bagi Reinar menemukan jalan keluar tersembunyi.


Mendengar itu, Erina dan Malvin mengarahkan pandangannya pada Reinar, termasuk para assassin bayangan. “Ikuti aku, dan kita keluar dari tempat ini tanpa harus melewati pintu utama!” Reinar memegang tangan Erina, dan mulai berjalan menuju tempat paling dekat yang bisa membawa dirinya dan yang lainnya keluar dari pasar gelap.


Malvin mengekor tepat di belakang Reinar, sedangkan para assassin bayangan, mereka bergerak di belakang Malvin sambil mengawasi area sekitar, memastikan keamanan untuk Reinar, Erina, dan juga Malvin.


“Bukannya ini sebuah rumah kosong yang tidak beroenghuni? Kenapa juga kita pergi ke tempat seperti ini?” Erina bertanya pada Reinar saat dirinya dibawa memasuki rumah kosong tidak berpenghuni yang sekilas masih tetap bersih dan tertata rapi, meski dalam keadaan kosong tak berpenghuni.


“Ikut saja denganku, dan kita bersama-sama keluar dari tempat ini!” Reinar dan Erina terus saja berjalan, dan akhirnya mereka sampai di bagian belakang rumah, tapi bagian belakang yang terlihat justru mirip dengan bagian depan sebuah rumah.


“Rumah ini memiliki dua sisi. Sisi lain menghadap bagian luar pasar gelap, dan sisi lainnya menghadap bagian dalam pasar gelap.” Reinar memberi penjelasan tentang keadaan rumah yang terasa aneh bagi Erina.


“Aku tahu tempat ini dari informasi yang ada di salah satu lantai gedung. Selain rumah ini, masih ada jalan tersembunyi lainnya yang bebas digunakan keluar masuk pasar gelap tanpa harus melewati jalan utama.”


Reinar buru-buru membeli penjelasan palsu sebelum Erina bertanya bagaimana dirinya bisa tahu tentang keberadaan jalan lainnya selain jalan utama.


Akhirnya mereka bisa keluar dari pasar gelap, tapi tempat keluar mereka sangat jauh dari tempat mereka memarkirkan mobil, dan butuh beberapa menit jalan kaki untuk sampai di tempat itu.

__ADS_1


Meskipun sudah berada di luar pasar gelap, Reinar dan yang lainnya sama sekali tidak mengendurkan kewaspadaan.


Bagaimanapun juga saat ini mereka masih berada di kawasan paling berbahaya di wilayah ibukota, dan lengah sedikit saja nyawa adalah bayarannya.


Terus berjalan, tiba-tiba Reinar menyuruh semua orang berhenti, dan buru-buru pergi ke tempat yang cukup tersembunyi. “Ada yang datang dan sepertinya jumlah mereka lumayan bayang.” Reinar berkata lirih pada Erina dan Malvin.


Keduanya hanya mengangguk tanpa bersuara, dan benar saja tak lama kemudian sekelompok orang bersenjata lengkap melewati jalan baru saja dilewati Reinar dan yang lainnya. Jumlah mereka memang tidak terlalu banyak, tapi membuat masalah dengan mereka hanya akan memancing terjadinya keributan yang lebih besar.


Memikirkan semua itu, Reinar lebih memilih bersembunyi, dan menunggu sekelompok orang itu pergi menjauh. Baru setelah itu dirinya dan yang lainnya bisa melanjutkan perjalanan.


“Mereka masuk ke pasar gelap lewat rumah yang baru kita lewati.” Erina berkata sambil melihat sekelompok orang yang baru saja lewat memasuki rumah kosong yang sebelumnya dilewati olehnya.


“Sepertinya mereka bagian dari penjaga pasar gelap, makanya mereka tahu tentang keberadaan rumah itu.” Reinar mengajak Erina dan Malvin kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat parkir mobil setelah memastikan tak lagi ada orang lain di sekitar mereka, selain para assassin bayangan.


Sampai di tempat mereka memarkir mobil, Reinar sebagai pengemudi mobil, dia langsung saja memacu mobilnya cepat menuju rumah.


Sedangkan para assassin bayangan, mereka menggunakan tiga buah mobil yang saat ini melaju tak jauh di belakang mobil Reinar.


“Jangan ada yang menyerang mereka karena aku ingin tahu apa tujuan mereka mengikutiku!” Menggunakan alat komunikasi jarak jauh, Reinar berkomunikasi dengan para assassin bayangan yang berada tak jauh darinya.


Para assassin mengerti, dan segera saja mereka memberikan jalan untuk enam motor yang sebelumnya sengaja mereka halang-halangi.


Keenam motor langsung saja tancap gas mendekati mobil Reinar. Sedangkan Reinar, bukannya tancap gas menjauh, dia justru berhenti saat berada di jalanan yang sangat sepi.


Keluar dari mobilnya, Reinar mengarahkan pandangan pada enam motor yang melewatinya, sebelum akhirnya berhenti beberapa meter di depan mobil Reinar.


Masing-masing motor dinaiki dua orang bersenjata lengkap, dan mereka semua saat ini berjalan mendekati Reinar yang tak lagi menggunakan topeng sejak masuk kedalam gedung yang ditempati Virgo.


Dua belas orang itu merasa aneh karena pria yang mereka hampiri masih terlihat tenang, meski di hadapannya terdapat dua belas orang bersenjatakan senapan serbu.

__ADS_1


“Aku tahu kalian mengikutiku, tapi aku tidak tahu apa tujuan kalian mengikutiku.” Reinar berjalan ke depan mobilnya. “Katakan, apa yang menjadi tujuan kalian mengikutiku?” Tenang Reinar mengatakan semuanya.


“Kami tidak memiliki maksud buruk, kami hanya ingin menanyakan identitas asli yang kamu miliki, dan mereka yang berada di dalam mobil.” Salah satu orang menjawab pertanyaan Reinar.


Reinar mengerutkan keningnya mendengar itu. “Untuk apa aku menunjukkan identitas pada kalian? Aku tidak mengenal siapa kalian dan aku juga tidak pernah menyinggung kaloan, jadi tidak ada alasan aku harus menuruti keinginan kalian!”


Apa yang dikatakan Reinar tentu saja mulai membuat geram orang yang menjawab pertanyaannya, dan benar saja orang itu langsung saja mengarahkan senjata api di tangannya ke arah kepala Reinar.


“Turuti saja apa yang menjadi keinginan kami sebelum aku meledakkan isi kepalamu!” Orang itu mengancam Reinar menggunakan senjata api.


Bukannya takut dengan ancaman orang di depannya, Reinar justru teekekeh dan sama sekali tidak takut dengan ancaman yang diberikan padanya.


“Apa kamu ingin tahu sudah berapa banyak orang yang hari ini menodongkan senjata api ke arahku, dan nasib mereka setelah melakukan itu?” Reinar menunggu respon dari orang yang mengarahkan senjata api ke arahnya.


“Karena kamu cuma diam, aku akan memberitahu apa yang terjadi pada mereka.” Sosok Reinar menghilang dari tempatnya, dan tiba-tiba muncul tepat di hadapan orang yang menodongkan pistol ke arah kepalanya.


Orang itu tidak merasakan apa-apa, tapi perlahan dia merasakan tubuhnya dingin. “Kalau kamu ingin tahu apa yang terjadi pada mereka, mereka semua mati di tanganku.”


Kata-kata Reinar adalah kata-kata terakhir yang didengar olehnya sebelum dia kehilangan kesadaran, dan merosot jatuh tepat di hadapan Reinar. Saat dia jatuh, barulah semua orang melihat sebuah belati tertancap di dada orang itu.


“Jangan memaksa aku melakukan apa yang aku inginkan kalau kalian masih sayang dengan nyawa! Namun, jika kalian ingin bernasib sama dengan orang ini, cukup arahkan senjata kalian ke arahku!”


Mendengar itu, bukan hanya mengarahkan senjata ke arah Reinar, mereka juga langsung menghujani tubuh Reinar dengan puluhan peluru.


“Berani membunuh salah satu anggota kelompok Tubuh Besi, kau harus mati di tangan kami!” Terus saja sebelas orang mengarahkan tembakan pada Reinar.


Sementara itu, Reinar yang tahu asal mereka, tak seperti sebelumnya yang menunggu lawan kehabisan peluru, kalian ini dia langsung saja menyerang mereka yang memperkenalkan diri sebagai anggota kelompok Tubuh Besi.


“Karena kalian mengakui sendiri darimana asal kalian, dengan senang hati aku pastikan kalian semua mati di tanganku!” Tanpa ampun Reinar menyerang dan membunuh mereka satu-persatu.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2