
“Kenapa bisa aku melupakan keberadaan mereka berempat? Malvin, bagaimana menurutmu kalau kita bekerjasama dengan mereka supaya bisa keluar dari tempat ini?” tanya Reinar pada Malvin, setelah dia mengingat keberadaan empat orang yang terjebak bersamanya di dalam Cafe.
Malvin melihat ke arah empat orang yang bersembunyi di balik sebuah meja. “Tidak ada salahnya kita bekerjasama dengan mereka,” katanya.
"Akan tetapi aku sama sekali tidak tahu mereka berasal dari mana, dan aku memiliki sedikit keraguan untuk mempercayai mereka,” kata Reinar mengatakan apa yang dirasakan olehnya.
Malvin yang mendengar itu seketika terdiam karena dirinya juga merasakan apa yang di rasakan Reinar, mempercayai mereka yang belum dikenal, tentu sulit dilakukan olehnya.
“Bagaimana kalau kita langsung menerobos keluar, membunuh sisa anggota kelompok Stars Of Darkness yang berada di luar?” tanya Malvin pasa Lin Feng.
Tidak ada salahnya melakukan seperti apa yang dikatakan Malvin, lagipula tidak ada peluru, peledak, maupun senjata tajam yang dapat melukai mereka.
“Kalau begitu, aku menerobos keluar, dan kamu menjaga sisi belakang!” perintah Reinar yang disambut anggukan kepala oleh Malvin.
Menggunakan mata tembus pandang, Reinar jelas mengetahui keberadaan musuh di luar Cafe. “Mereka ada lebih dari empat puluh orang, dan masing-masing memegang senapan serbu,” katanya.
“Jumlah dan persenjataan mereka lebih baik dari kita, tapi aku yakin kita pasti dapat mengalahkan mereka, dan keluar hidup-hidup dari tempat ini,” balas Malvin sambil memegang sepasang pistol di tangan kanan dan kirinya.
Reinar juga memegang sepasang pistol di kedua tangannya. Namun, belum juga bergerak, mata tembus pandang milik Reinar menangkap pergerakan di sebuah atap gedung, dan jelas sosok yang melakukan pergerakan adalah seorang sniper.
"Ada seorang sniper di atap gedung tepat di depan Cafe. Aku tidak tahu dia bagian dari kelompok mana, tapi saat ini dia mengarahkan senjatanya ke tempat persembunyian Vicky,” ujar Reinar pada Malvin.
“Mengarahkan senjata ke tempat persembunyian Vicky? Jika dia bagian dari kelompok Stars Of Darkness, tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu. Kemungkinan besar, dia adalah bagian dari empat orang yang memiliki permasalahan dengan kelompok Stars Of Darkness,” tanggapan Malvin tentang keberadaan sosok sniper di atas gedung.
“Kalau benar sniper itu bagian dari mereka, sebaiknya kita abaikan keberadaannya, dan fokus memerangi anggota kelompok Stars Of Darkness yang berjaga di luar!” kata Reinar dan langsung saja dia dengan diikuti Malvin bergerak menuju pintu keluar.
Keadaan Cafe dan sekitarnya sangat sepi karena selain anggota kelompok Stars Of Darkness yang bersembunyi dari sniper, pengunjung Cafe sudah pergi menjauh, sejak pertama kali mereka mendengar adanya suara tembakan di dalam Cafe.
Bahkan pemilik Cafe beserta para karyawannya telah pergi meninggalkan Cafe untuk menyelamatkan diri.
“Apa mereka berdua ingin mati? Di luar masih banyak anggota kelompok Stars Of Darkness, tapi mereka begitu nekat mencoba keluar dari tempat ini. Apa menurut kalian kita perlu membantu mereka? Bagaimanapun juga mereka memiliki tujuan yang sama dengan kita?” tanya salah satu orang dari empat orang yang masih bersembunyi di balik sebuah meja.
“Bagaimana cara kita membantu mereka, sedangkan peluru di senjata kita tinggal sedikit? Membantu mereka hanya mempercepat kematian kita.”
__ADS_1
“Daripada membantu mereka yang tidak menyayangi nyawa sendiri, lebih baik kita tetap berada di tempat ini. Di situasi seperti ini, sikap pengecut kadang bisa menyelamatkan hidup kita,” kata salah satu dari mereka yang berada dalam keadaan terluka di bagian tangan.
“Hah, sepertinya kita memang hanya bisa melihat. Kalau mereka masih memiliki keberuntungan dan berhasil keluar meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat, artinya kita harus berusaha lebih keras dari mereka untuk bisa keluar dari tempat ini,” kata salah satu orang yang dijadikan pemimpin oleh mereka.
...----------------...
Baku tembak kembali terjadi saat anggota kelompok Stars Of Darkness melihat pergerakan Reinar dan Malvin yang mencoba keluar.
Kaca-kaca pecah berserakan terkena peluru tajam, dan semua peluru yang ditembakkan mengarah pada dua orang yang dengan begitu tenang berdiri tegak di tempatnya. Satu orang menghadap depan, dan satu lainnya menghadap belakang.
Banyak yang yakin mereka berdua mati setelah puluhan bahkan ratusan peluru melesan ke arah keduanya. Akan tetapi, keyakinan mereka terbantahkan saat peluru yang hampir mengenai keduanya jatuh berserakan, seolah baru menghantam dinding kokoh.
Semua orang membulatkan mata melihat semua itu. “Bagaimana mungkin seluruh peluru berjatuhan sebelum mengenai tubuh mereka? Apa aku sedang bermimpi? Sial! Ini bukanlah mimpi karena rasa sakit di tanganku begitu nyata,” kata salah satu anggota empat orang yang mengalami luka, saat dia melihat kejadian di depan kedua mata kepalanya sendiri.
“Sejak awal aku curiga mereka bukanlah manusia biasa seperti kita, dan sepertinya kecurigaanku itu benar setelah melihat apa yang baru saja terjadi,” kata orang lainnya, yang masih bagian dari empat orang di dalam Cafe.
Sementara itu, Reinar dan Malvin yang berhasil membuat banyak orang terkejut, kini giliran mereka melakukan serangan balik dan dengan mengikuti instruksi Reina, keduanya melakukan serangan balik mematikan.
“Jumlah mereka masih banyak, tapi tak sebanyak sebelumnya,” kata Reinar sambil berjalan perlahan keluar Cafe.
Menggunakan mata tembus pandang, Reinar dapat melihat Vicky dan Nino memasuki mobil.
Keduanya berhasil menyelamatkan diri dari sniper di atas gedung, dan pada akhirnya mereka berhasil pergi dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi.
Meski keduanya dan lima anggota kelompok Stars Of Darkness berhasil menyelamatkan diri dan pergi meninggalkan Cafe, setidaknya masih ada lebih dari dua puluh anggota kelompok Stars Of Darkness yang masih berjaga di luar Cafe.
Sebenarnya mereka tidak sedang berjaga, tapi mereka sedang bersembunyi dari sniper, dan bersiap menghadapi dua sosok yang sebelumnya tidak berhasil lolos dari kematian setelah menerima hujan peluru tajam.
“Malvin, sebaiknya kita cepat membereskan mereka karena tak lama lagi matahari bakal menunjukkan wujudnya,” kata Reinar pada Malvin.
Melihat Malvin menganggukkan kepala, Reinar langsung saja keluar dari Cafe, dan menembaki anggota kelompok Stars Of Darkness yang terlihat oleh mata mereka.
Suara tembakan kembali terdengar bersama dengan kematian belasan anggota kelompok Stars Of Darkness.
__ADS_1
“Sisakan beberapa orang, dan kita bisa pergi dengan tenang dari remot ini,” ujar ReinarReinar sambil mengarahkan tembakan ke musuh yang terlihat.
Menyisakan tiga orang dalam keadaan ketakutan, Reinar dan Malvin langsung saja pergi ke parkiran mobil.
Mengendarai sebuah mobil, mereka segera pergi meninggalkan Cafe.
...----------------...
Setelah kepergian Reinar dan Malvin yang telah melenyapkan sebagian besar anggota kelompok Stars Of Darkness yang berada di sekitaran Cafe, empat orang yang sebelumnya berada di dalam Cafe keluar.
“Masih tersisa tiga orang, tapi keberadaan mereka sudah dikunci oleh adik kelima,” kata pemimpin dari empat orang yang perlahan keluar dari dalam Cafe.
“Bagaimana kalau kita lenyapkan keberadaa tiga orang yang tersisa? Sekarang kita unggul dalam jumlah dan kekuatan, mengalahkan mereka bertiga sepertinya bukan masalah besar untuk kita,” kata pria yang berdiri di samping pemimpin kelompok.
Pemimpin kelompok menggelengkan kepalanya. “Dua orang tadi sepertinya sengaja membiarkan ketiganya hidup, dan mereka memiliki tujuan membiarkan ketiganya hidup. Daripada merusak rencana mereka dan membuat kita terlibat masalah dengan kita, sebaiknya abaikan tiga orang itu, dan segera kita kembali ke markas!” ungkapnya.
Tiga orang yang mendengar semua itu, bersamaan mereka menganggukkan kepala, dan begitu mereka berhasil keliar Cafe buru-buru mereka pergi menuju parkiran mobil.
Mobil segera melaju meninggalkan area Cafe, tapi mobil berhenti di bangunan tepat di seberang Cafe untuk menjemput salah satu rekan mereka. Begitu jumlah mereka lengkap berlima, mobil segera pergi menjauhi lokasi Cafe.
Hanya berselang kurang dari lima menit setelah kepergian mereka, lima unit mobil kepolisian datang, dan segera melakukan penangkapan pada tiga orang yang masih hidup di tengah-tengah mayat yang berserakan.
Setidaknya terdapat lebih dari enam puluh mayat, yang tersebar di luar dan di dalam Cafe, dan petugas kepolisian segera melakukan olah tempat kejadian perkara. Baru setelahnya mereka melakukan pembersihan.
Saat melakukan pembersihan, dua petugas polisi terlihat sedang mengumpulkan senjata dari tempat kejadian perkara. “Senjata-senjata ini persis seperti yang kita miliki,” kata salah satu dari mereka.
“Apa kamu ingin mengatakan mereka mendapatkan senjata ini dari salah satu Jenderal kepolisian? Kalau kamu ingin mengatakan itu, sebaiknya jangan di tempat ini karena dinding sekalipun dapat mendengar perkataanmu, dan itu bisa membuatmu berada dalam bahaya!” ujar rekannya sambil melirik ke sekelilingnya.
Wajah polisi yang membahas tentang senjata tiba-tiba memucat, dan setelahnya tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia hanya fokus dengan pekerjaan, dan selebihnya dia hanya diam.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1