
Setelah selesai makan siang, Reinar, Malvin dan dua wanita yang menghabiskan waktu makan siang bersama mereka, keempatnya memutuskan pergi nonton film.
Ingin meninggalkan restoran tempat mereka makan, duan murid pria mantan teman satu kelas Reinar dan seorang guru yang cukup muda, tiba-tiba saja mereka menghentikan Reinar dan tiga orang lainnya.
Mengabaikan keberadaan Reinar dan Malvin, ketiga pria itu hanya terfokus pada Wulan dan Sania. Dua murid pria mendekati Sania, dan guru pria mendekati Wulan yang terlihat risih dengan keberadaannya.
Bukan hanya Wulan yang risih, Sania juga risih dengan keberadaan dua pria yang mencoba mendekatinya. Mengetahui kedua wanita yang bersama mereka risih dengan keberadaan ketiga pria, Reinar dan Malvin bersama-sama menyembunyikan kedua wanita itu dibelakang tubuh mereka.
Kini ketiga pria itu saling berhadap-hadapan dengan Reinar dan Malvin. Jelas terlihat ketiganya tidak senang dengan keberadaan Reinar dan Malvin, yang mengganggu rencana mereka mendekati Wulan dan Sania.
Dua pria di depan Malvin yang sedang memperebutkan Sania, mereka tahu jika pria di hadapan mereka adalah saingan terberat untuk mendapatkan wanita yang mereka idam-idamkan.
“Sebaiknya kamu segera menyingkir sebelum hal buruk terjadi padamu karena telah mengganggu tujuan kami!” Salah satu pria mengancam Malvin, yang sama sekali tidak gentar setelah mendengar ancamannya.
“Kau juga, sebaiknya kau segera menyingkir, dan jangan menghalangiku membawa pergi wanitaku dari tempat ini!” Giliran pria di hadapan Reinar yang melontarkan ancaman.
Mendengar perkataan pria itu sama sekali tidak membuat Reinar takut, tapi saat merasakan Wulan yang tiba-tiba menggenggam kuat tangannya, dia tahu kalau wanita di belakangnya sedang dilanda ketakutan.
“Kalau aku tidak mau menyingkir, apa yang ingin kamu lakukan padaku? Kamu mau berantem? Kalau itu maumu, aku sama sekali tidak takut,” kata Reinar tenang, dan tak sedikitpun dia menunjukkan rasa takut pada pria di depannya yang jelas lebih berumur darinya.
“Berantem dengan anak kecil tentu aku bisa memenangkannya, tapi kenapa juga aku harus mengotori tanganku, disaat aku memiliki banyak orang yang bisa menyingkirkanmu dari hadapanku?” katanya dan bersamaan dengan itu, datang sepuluh orang yang segera berbaris di belakangnya.
Orang-orang segera menyingkir karena mereka tahu tak lama lagi pasti terjadi keributan di tempat itu. Petugas keamanan juga tidak ada yang berani melerai karena jumlah mereka yang terbatas, dan lagi sepuluh orang yang baru datang masing-masing dari mereka memegang senjata api.
Pria di hadapan Reinar dan dua pria di hadapan Malvin, ketiganya semakin merasa diatas angin setelah kedatangan sepuluh orang yang berbaris rapi di belakang mereka. Sedangkan dua wanita dibelakang Reinar dan Malvin, mereka semakin ketakutan setelah melihat kedatangan sepuluh orang yang masing-masing dari mereka memegang senjata api.
“Apa sekarang kalian berdua sudah menyesal berurusan dengan kami? Sayangnya aku tidak peduli dengan penyesalan kalian, dan aku baru mengizinkan kalian pergi setelah mematahkan kedua tangan dan kaki kalian!” kata pria dihadapan Reinar sambil menyeringai.
“Reinar, Malvin, sebaiknya kalian segera pergi dari tempat ini! Biarkan aku dan Sania yang menyelesaikan permasalahan ini dengan mereka. Mereka bagian dari kelompok Tubuh Besi, jelas kalian bukan lawan sepadan untuk mereka,” kata Wulan yang tidak rela hal buruk terjadi pada Reinar dan Malvin.
__ADS_1
Terutama dia tidak ingin hal buruk terjadi pada Reinar yang sejak pertama kali bertemu dengannya, dia sudah memili ketertarikan padanya, meski dirinya sadar jika mustahil mendapatkan Reinar yang jelas jauh lebih muda darinya. Sekalipun tidak bisa mendapatkan Reinar, bukan berarti dirinya mengabaikan ketertarikannya pada Reinar.
Mendengar orang-orang didepannya adalah anggota kelompok Tubuh Besi yang dipimpin para pengkhianat penyebab kematian ayahnya, bukannya menuruti keinginan Wulan, Reinar justru melihat ke suatu tempat sambil menganggukkan kepala pelan.
Bersama dengan anggukan kepala Reinar, tiba-tiba saja muncul sepuluh sosok assassin bayangan, yang langsung mengalungkan belati ke leher sepuluh orang di belakang tiga pria dihadapan Reinar dan Malvin. Keberadaan sepuluh sosok anggota assassin bayangan, tentu saja membuat terkejut sepuluh orang yang merupakan anggota kelompok Tubuh Besi.
Tiga pria di hadapan Reinar dan Malvin, mereka juga terkejut dengan keberadaan anggota assassin bayangan yang jelas lebih kuat dari anggota kelompok Tubuh Besi, dan sebisa mungkin mereka harus menghindari keberadaan anggota assassin bayangan.
“Seharusnya kalian tahu siapa mereka, dan sehebat apa kekuatan yang mereka miliki! Ingin mematahkan kaki dan lenganku? Bagaimana kalau sekarang aku yang melakukan semua itu untuk kalian?” tanya Reinar sambil menyeringai, membuat ketakutan pria di hadapannya.
Pria di hadapan Reinar dan dua pria di hadapan Malvin, perlahan mereka bergerak mundur. Kedua orang di hadapan mereka jelas memiliki hubungan dengan anggota assassin bayangan.
Siapapun orang yang memiliki hubungan dengan anggota assassin bayangan, siapapun itu, mereka harus menghindarinya, dan jangan sekali-kali menyinggung keberadaannya.
Menyinggung keberadaan seseorang yang memiliki hubungan dengan anggota assassin bayangan, hanya membuat mereka berada dalam posisi berbahaya.
Jelas mereka ketakutan, tapi tak satupun dari mereka berani membuka suara, membalas perkataan Malvin. Ketiganya sadar dengan posisi mereka saat ini, dan jelas mereka berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Sedikit saja melakukan kesalahan, nyawa mereka bisa lenyap ditangan para assassin bayangan, yang kemampuannya menghabisi nyawa seseorang tidak perlu dipertanyakan.
“Kalian, bawa mereka pergi dari tempat ini, dan lakukan apa yang sudah seharusnya kalian lakukan pada mereka!” perintah Reinar pada kesepuluh assassin bayangan yang senantiasa ikut kemanapun dirinya pergi.
Mereka adalah anggota terbaik dari keseluruhan anggota assassin bayangan, dan tugas utama mereka adalah melindungi Reinar.
Lantai tiga Mall tiba-tiba saja menjadi hening setelah menghilangnya kesepuluh assassin bayangan, beserta sepuluh anggota kelompok Tubuh Besi.
Sekarang ditempat itu hanya tersisa Reinar, Malvin, Wulan, Sania, serta tiga pria yang sekujur tubuhnya telah dibanjiri oleh keringat dingin, bahkan salah satu dari mereka sudah membuang air kecil di celana.
Reinar mengarahkan pandangannya pada dua murid pria yang dulu pernah menjadi teman satu kelasnya, tapi hubungan diantara mereka tidak pernah baik, dikarenakan keduanya sering membully Reinar yang saat itu terkenal miskin dan lemah, meski memiliki keunggulan dalam hal kecerdasan.
“Arya dan Ragil, dulu aku mengira kalian cuma murid biasa yang suka membully murid lainnya, dan merasa diri kalian sangat berkuasa. Akan tetapi setelah apa yang terjadi hari ini, kini aku tahu apa yang membuat kalian, merasa diri kalian sangat berkuasa...”
__ADS_1
“Aku tidak tahu posisi yang kalian tempati dalam kelompok Tubuh Besi, tapi sepertinya itu bukanlah posisi terendah dalam sebuah kelompok,” kata Reinar.
Mengetahui Reinar mengenal mereka, dan sejak awal pertemuan mereka sudah merasa tidak asing dengan wajah Reinar. Sekarang keduanya yakin jika sosok yang mereka lihat adalah Reinar, yang mereka kenal sebagai pria miskin, lemah, dan sering menjadi korban pembullyan mereka.
Namun, sekarang orang yang mereka bully, sedang menunjukkan kekuasaan, yang selama ini begitu rapat disembunyikannya.
Melihat siapa Reinar yang sebenarnya meski mereka tidak tahu identitas asli dari pria itu, sekarang keduanya mulai menyesali, dengan kelakuan yang mereka lakukan pada Reinar di masa lalu. Bukannya menyesal karena membully Reinar, mereka menyesal karena kenapa tidak dari dulu mereka tidak menghabisi nyawa Reinar.
“Sepertinya kalian sudah ingat siapa aku, dan aku yakin kalian menyesal karena kenapa dulu kalian tidak langsung membunuhku saat memiliki banyak kesempatan untuk melakukannya. Wajar kalian menyesalinya karena hari ini, kalian lah yang bakal merasakan siksaan yang selama ini belum pernah kalian rasakan,” kata Reinar dingin sambil melangkah maju mendekat tiga orang yang terus saja berjalan mundur.
“Malvin, serahkan mereka bertiga padaku! Kamu cukup lindungi Wulan dan Sania, pastikan tak ada yang dapat melukai mereka!” perintah Reinar yang segera dituruti oleh Malvin.
“Percaya padaku, selama ada aku, tidak mungkin ada yang bisa melukai mereka,” kata Malvin yang kini berdiri di hadapan Wulan dan Sania.
Reinar yang mendengar itu, dia hanya menganggukkan kepala, dan terus saja berjalan santai mendekati tiga pria yang hanya berjarak sepuluh langkah darinya.
Melihat Reinar semakin mendekat, ketiga pria itu mengeluarkan pistol dari balik punggung mereka, dan tanpa banyak berkata mereka langsung menembaki Reinar.
Senyuman terlihat di wajah ketiganya saat belasan peluru menghujani tubuh Reinar, tapi tak lama senyuman mereka digantikan oleh ekspresi buruk, saat mereka melihat tak satupun peluru mengenai tubuh Reinar.
Berbeda dengan mereka yang menunjukkan ekspresi wajah buruk, Wulan yang sebelumnya teriak histeris saat melihat tubuh Reinar dihujani peluru, melihat keadaan Reinar yang masih baik-baik saja, dia sangat senang, tapi dia masih tetap mengkhawatirkan keadaan Reinar.
“Ibu guru tenang saja, hanya pistol dengan peluru begitu kecil tidak mungkin dapat melukainya. Aku sendiri bahkan ragu apa dia dapat terluka seandainya sebuah bom meledak tepat di hadapannya,” kata Malvin mencoba menghibur Wulan.
Sedangkan Wulan maupun Sania yang mendengar perkataan Malvin, keduanya jelas tercengang mendengar semua itu, dan mereka mulai berpikir kalau Reinar adalah sosok Tubuh Besi yang sesungguhnya.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1