Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 35. Kena Batunya Sendiri


__ADS_3

Mobil yang dikemudian Erina akhirnya sampai di kediaman keluarga Bagaskara. Adhitya dan keempat istrinya langsung menyambut kedatangan mereka. Akan tetapi, Erina dan Wina yang baru keluar mobil, keduanya tidak melihat keberadaan kakak mereka. Berbeda dengan keduanya yang tidak melihat keberadaan kakak mereka, dengan mata tembus pandang yang mampu melihat tiga ratus enam puluh derajat, Reinar jelas melihat keberadaan dua pria yang bersiap melakukan serangan padanya.


Menyadari kedua pria yang bersiap menyerangnya tidak memiliki niatan membunuh, Reinar bisa meebak dengan pasti identitas mereka. Jika tebakannya benar seharusnya mereka adalah kedua calon kakak iparnya.


Benar saja, baru juga keluar dari dalam mobil, Reinar sudah disambut dua peluru yang melesat ke arahnya. Kedua peluru bukanlah peluru tajam, melainkan hanya peluru bius.


“Sepertinya kedua kakak ipar ingin bermain-main denganku. Kalau begitu aku akan melayani permainan mereka.” Dua peluru di awal berhasil dihindari dengan sangat mudah olehnya. Saat ada dua peluru yang kembali melesat ke arahnya, bukannya menghindar, Reinar justru menangkap kedua peluru itu dengan kedua tangannya.


“Tidak adil jika hanya kalian yang melakukan serangan. Sekarang biarkan aku membalas serangan kalian, dan maaf jik sedikit menyakitkan.” Reinar melempar dua peluru di tangannya ke dua arah berbeda. Seharusnya peluru bius yang dilempar menggunakan tangan gerakannya jauh lebih lambat dibandingkan saat ditembakkan menggunakan senjata api, tapi peluru yang dilemparkan Reinar justru bergetar lima kali lebih cepat dibandingkan saat ditembakkan menggunakan senjata api.


“Swusshh... Swusshh...” Dua peluru bius melesat cepat dan mustahil untuk dihindari. “Sial! Aku tidak bisa menghindar.” Sebuah suara terdengar dari arah lantai dua rumah keluarga Bagaskara, dan tak lama terdengar suara rintihan dari dua tempat berbeda.


“Sangat tepat sasaran.” Reinar menepuk-nepuk kedua tangannya, kemudian dia berjalan ke arah Erina dan Wina yang tercengang dengan apa yang baru mereka lihat. Bukan hanya mereka yang tercengang, Adhitya dan keempat istrinya juga mengalami hal yang sama.


Menghindari peluru bius memang bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan karena kecepatan peluru bius tak secepat peluru tajam, tapi dapat menangkap peluru bius yang melesat dengan kecepatan tinggi bukanlah sesuatu yang pernah mereka lihat.


Bukan hanya berhasil menangkap, tapi kedua peluru itu dilemparkan kembali ke arah pengirimnya, dan luar biasanya kecepatan lemparan tangan bisa jauh lebih cepat dibandingkan kecepatan peluru bius yang ditembakkan menggunakan senjata api.


“Kalau tidak melihatnya secara langsung, aku tidak akan pernah percaya kalau ada yang mampu melakukan semua itu.” Adhitya sendiri merasa dirinya tidak akan mampu melakukan sama persis seperti yang dilakukan Reinar, meskipun dirinya dulu mendapatkan julukan si kilat saat masih menjadi bagian dari pasukan super elite.


Sementara itu, keempat istri Adhitya hanya bisa menahan senyum mereka membayangkan apa yang terjadi pada dua pria yang bersikeras ingin menguji kekuatan calon adik ipar mereka. Bukannya berhasil menguji, mereka kini justru kena batunya.

__ADS_1


Reinar yang sudah berhadap-hadapan langsung dengan Adhitya dan keempat istrinya, dia terlihat sangat tenang mengulurkan tangan menyalami mereka semua. Tak sedikitpun terlihat ketakutan di wajahnya, selayaknya pria lain yang baru pertama kali bertemu calon mertu.


“Selamat pagi Om, Tante.” Suara Reinar terdengar sangat berwibawa dan begitu tenang saat menyapa Adhitya dan keempat istrinya.


Adhitya, Leona dan Nila, ibu Wina, yang sudah beberapa kali bertemu Reinar, mereka segera membalas sapaan Reinar. Sedangkan Airin dan Arumi yang baru pertama kali bertemu dengan Reinar, mereka sedikit canggung berhadapan dengan pemuda yang ketampanannya sangat tidak masuk akal.


“Aku mendengar dari Erina ada sesuatu yang ingin kamu berikan pada kami. Kalau boleh tahu, apa itu yang ingin kamu berikan pada kami?” Tanpa basa basi Leona langsung saja mengatakan apa yang ingin dia katakan.


“Aku hanya ingin memberikan barang-barang ini pada Om dan Tante.” Reinar menunjukkan empat buah cincin dan gelang untuk keempat calon ibu mertuanya. Selain itu Reinar juga menunjukkan lima gelang yang sangat pas dipakai para pria.


Khusus untuk Adhitya, Reinar tidak memberinya cincin ataupun gelang untuk melindunginya. Melainkan sebuah jam tangan diberikannya pada pria itu. Sebenarnya Reinar ingin memberikan yang sama pada para pria, tapi poin sistem miliknya belum cukup untuk membeli jam seperti yang diberikannya pada Adhitya.


“Apa ada yang istimewa dari benda-benda ini? Bukannya ini hanya perhiasan pada umumnya?” Liona bertanya sambil memakai cincin pemberian Reinar yang ada inisial namanya.


Muncul perisai berwarna merah menahan peluru yang ditembakkan ke arah Liona, dan terlihat jelas perisai itu muncul dari cincin yang melingkar di jari tengah Liona.


“Cincin itu dapat melindungi kita dari serangan senjata api, dan disaat musuh menggunakan senjata tajam atau tangan kosong cincin itu dapat membuat tubuh kita kebal terhadap serangan mereka.” Erina memberi penjelasan kegunaan cincin pemberian Reinar.


“Untuk gelang itu, gelang itu dapat menetralkan segala jenis racun yang masuk ke dalam tubuh kita. Selama kita memakai gelang itu, tak ada satupun racun yang dapat mencelakai kita.” Giliran Wina menjelaskan kegunaan gelang pemberian Reinar.


“Bagaimana mungkin di dunia ini ada alat yang begitu menakjubkan? Siapa yang membuat alat-alat ini, dan bagaimana cara mendapatkannya?” Adhitya bertanya pada Reinar, orang yang memberikan semua alat-alat itu pada dirinya.

__ADS_1


“Apa Om dan Tante akan percaya jika semua alat-alat itu hasil buatanku sendiri? Kenyataannya alat-alat itu memang buatanku sendiri, dan aku harap Om maupun Tante merahasiakan semua ini dari orang-orang!” Reinar mengarahkan sorot mata tajam pada Adhitya dan keempat istrinya.


Melihat sorot mata Reinar yang begitu tajam, mereka berlima kompak menganggukkan kepala, dan berjanji akan merahasiakan darimana mereka mendapatkan alat-alat yang sangat luar biasa.


[Ding... Berhasil menyelesaikan misi tersembunyi, memberikan alat perlindungan pada keluarga Bagaskara. Mendapatkan hadiah » 100 Poin Sistem]


Suara notifikasi sistem terdengar di kepala Reinar setelah dia memberikan semua alat keselamatan pada anggota keluarga Bagaskara. Dia tidak menyangka kalau memberi alat-alat itu pada mereka dapat membuatnya menyelesaikan sebuah misi tersembunyi.


Adhitya yang harus berangkat kerja, dia segera menaiki mobilnya setelah memakai jam tangan dan gelang pemberian Reinar. Airin dan Arumi yang juga telah memakai cincin dan gelang pemberian Reinar, keduanya naik ke lantai dua untuk melihat keadaan putra mereka.


Saat ini hanya tersisa Reinar, Erina, Wina, Leona dan Nila. Merasa kurang nyaman jika terus berdiri di teras rumah, mereka semua masuk dan pergi menuju taman di bagian tengah rumah keluarga Bagaskara. Meskipun taman bunga berada di tengah-tengah bangunan rumah, keadaan taman bunga sangatlah terawat.


Mereka semua telah sampai di kursi bersantai yang berada ditengah-tengah taman. Para pelayan keluarga Bagaskara segera menyiapkan camilan dan minuman di meja yang berada di taman. Setelah para pelayan selesai dengan tugas mereka, barulah Reinar dan yang lainnya memulai pembicaraan santai.


“Untuk pernikahan kalian, mengingat situasi keluarga Bagaskara, kami sepakat untuk tidak melakukan pesta meriah.”


“Pesta meriah mungkin baru kita lakukan saat musuh utama keluarga Bagaskara berhasil dimusnahkan.” Leona berkata pada Reinar dan kedua putrinya.


“Memang lebih baik tidak dulu mengadakan pesta meriah karena itu hanya akan membuat kita lengah, dan memberi banyak celah pada musuh untuk melakukan serangan besar.” Reinar tidak keberatan dengan keputusan calon mertuanya, begitu juga dengan Erina dan Wina.


“Kalau begitu kita semua sudah sepakat untuk menunda pesta besar-besaran, dan minggu depan kalian akan menikah!” Tanggal pernikahan sudah ditentukan, dan Nila sudah tidak sabar untuk menimang cucu. Tentu bukan cucu langsung dari putrinya karena putrinya masih anak sekolah.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2