Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 25. Membeli Oleh-Oleh


__ADS_3

“Apa tidak apa-apa pergi begitu saja meninggalkan orang itu dan mengabaikan misi yang diberikan pada tim kamu? Apa tim kamu tidak akan dimarahi para petinggi pasukan super elite?” Reinar bertanya sambil mengikuti kemanapun Erina pergi.


“Tidak ada gunanya terus berada di dekat orang seperti itu. Untuk misi yang diberikan pada timku, itu bukanlah misi wajib, melainkan hanya misi sukarela yang bisa aku tolak maupun aku lakukan. Setelah melihat seperti apa sikap dia padamu, tentu aku tidak ragu menolak misi itu.” Erina tentu lebih memilih pria yang dicintainya, dibandingkan sedikit bayaran dari misi pengawalan Calvin.


“Petinggi pasukan super elite juga tidak memiliki hak marah pada timku karena misi itu memang hanya misi sukarela, dan tidak wajib dikerjakan oleh timku. Kalau mereka berani marah cuma gara-gara Calvin putra Presiden, aku tinggal mengirim surat pengunduran diri ke mereka.” Sambung Erina.


“Bukannya banyak orang yang ingin menjadi bagian dari pasukan super elite, bagaimana bisa kamu semudah itu mengatakan tinggal mengirim surat pengunduran diri seandainya mereka benar-benar marah pada timmu?” Dengan bayaran yang besar, tentu banyak orang yang ingin menjadi bagian dari pasukan super elite.


“Pendapatan sebagai anggota pasukan super elite memang sangat banyak, tapi aku bukanlah wanita yang gila akan materi. Aku lebih memilih mendapatkan sedikit penghasilan, tapi dapat menikmati apa yang menjadi pekerjaanku.” Erina hanya ingin bekerja dan menikmati pekerjaannya. Kalau sudah merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya, dia lebih memilih berhenti dan mencari pekerjaan lainnya.


Reinar setuju dengan pola pikir Erina, kemudian dia berkata, “Pekerjaan sesulit apapun jika kita menyukainya, kita pasti menikmati saat melakukan pekerjaan itu. Akan tetapi jika sejak awal kita tidak menyukai pekerjaan itu, semenarik apapun pekerjaan itu bagi orang lain, tetap saja akan terasa sangat membosankan bagi kita.”


Erina menganggukkan kepala. “Bagaimana kalau sekarang kita menikmati keindahan kota ini? Sejak datang ke kota ini, kamu sudah terlibat dalam musiku. Jadi, sebelum pulang ke Indonesia, alangkah baiknya kalau kita terlebih dahulu menikmati keindahan kota ini.” Erina berinisiatif mengajak Reinar menikmati keindahan Kota Beijing.


“Aku setuju saja, tapi bagaimana dengan mereka bertiga? Apa mereka akan terus bersama kita?” Reinar merasa kurang nyaman saat ketiga rekan Erina terus mengarahkan pandangannya pada dirinya.


Mendengar itu Erina terkekeh pelan, kemudian berkata, “Mereka punya kegiatan masing-masing di Kota ini, tapi dua hari lagi kami harus berkumpul di tempat ini untuk bersama-sama kembali ke Indonesia.”


Setelah mengatakan itu Erina membawa Reinar ke parkiran mobil, kemudian dengan mobil yang dikemudian langsung oleh Erina, mereka pergi meninggalkan bandara, dan yang menjadi tujuan mereka saat ini adalah menikmati keindahan Kota Beijing.


“Aku sebenarnya tidak terlalu tau banyak tentang kota ini karena sebagian besar waktuku di kota ini habis untuk mengerjakan misi. Kalaupun ada waktu luang, biasanya aku menggunakan waktu itu untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiranku.” Erina menjelaskan kegiatan selama berada di Kota Beijing.


“Kalau begitu, kita pergi saja ke tempat yang umum didatangi turis saat mereka di kota ini. Aku rasa, tempat yang banyak pengunjungnya adalah tempat terbaik yang bisa kita kunjungi.” Reinar tidak tahu apa-apa tentang Kota Beijing. Dia tidak pernah membayangkan dapat pergi ke kota Beijing, oleh karena itu dia tidak pernah mencari tahu tentang Kota Beijing.

__ADS_1


Mendengar itu Erina memutuskan membawa Reinar pergi ke Forbidden City, atau biasa disebut Kota Terlarang. Kota indah bekas Istana Kekaisaran Dinasti Ming, dan Dinasti Qing. Dari tempatnya sekarang, setidaknya membutuhkan waktu untuk sampai ke tempat itu.


Setelah mengunjungi Forbidden City, Erina ingin melanjutkan pergi ke Badaling National Forest Park, dan setelahnya dia ingin menikmati makan malam bersama Reinar di pusat keramaian Kota Beijing. “Semoga semua berjalan lancar, dan tak ada yang mengganggu rencanaku.” Erina bergumam lirih sambil mengemudikan mobil.


...----------------...


Malam harinya.


Setelah mengunjungi Forbidden City dan Badaling National Forest Park, malam ini Reinar dan Erina sudah berada di atas rooftop salah satu gedung pencakar langit, dan keduanya sedang menikmati makan malam romantis di bawah jutaan bintang yang menghiasi langit malam.


“Hari ini adalah hari terindah yang pernah aku lalui bersama seorang pria, tentunya selain bersama Ayah dan kedua kakakku. Meskipun aku pernah berpacaran dengan Calvin, tapi itu hanya formalitas, dan aku tidak pernah sekalipun jalan berdua dengannya.”


“Apa aku juga boleh berpikiran sama denganmu di saat aku memiliki tiga wanita lainnya? Kalau aku berpikiran seperti itu, entah kenapa aku merasa tidak adil dengan mereka karena belum pernah mengajak satu-persatu mereka jalan berdua.”


Bukannya marah, Erina justru tersenyum mendengarnya. “Aku senang kamu ingin selalu bersikap adil pada kami berempat, dan sebaiknya setelah selesai makan kita pergi membeli oleh-oleh untuk mereka.” Erina ingin membeli beberapa oleh-oleh untuk Wina, Bella, dan juga Sarah.


Selesai makan dan membayar semua tagihan yang tentu dibayar oleh Reinar, keduanya segera pergi ke tempat perbelanjaan terbesar di Kota Beijing.


“Sebaiknya kamu simpan saja uangmu, dan kali ini biarkan aku yang membayar semua yang kita beli!” Erina sudah menyelidiki keadaan keluarga Reinar, dan dia tidak ingin membebani prianya dengan banyaknya pengeluaran yang akan dikeluarkan untuk malam ini.


“Kamu tenang saja, aku memiliki banyak uang untuk membeli apa yang kamu inginkan.” Reinar menunjukkan senyuman di wajahnya.


“Lagipula, sebagai seorang pria aku tidak ingin membiarkan wanitaku mengeluarkan sepeser uang untukku. Harga diriku sebagai seorang pria akan sedikit terluka kalau sampai membiarkan itu terjadi.” Masih dengan pendiriannya, Reinar tidak menerima uang dari wanitanya, sekalipun nanti dirinya berada dalam situasi sulit.

__ADS_1


“Bukannya lebih baik uangmu kamu simpan untuk memenuhi kebutuhan kita setelah menikah? Untuk sekarang, biarkan aku yang mengeluarkan uang.” Erina ingin Reinar menyimpan uangnya.


“Percaya saja padaku, mengumpulkan uang bukan sesuatu yang sulit untukku.” Reinar berkata sambil membawa Erina masuk kedalam tempat perbelanjaan.


Erina pada akhirnya hanya menganggukkan kepala, dan memuruti apa yang menjadi keinginan Reinar.


Berada di dalam tempat perbelanjaan mereka segera membeli barang-barang apa saja yang ingin dijadikan sebagai oleh-oleh. Selain memilih barang untuk oleh-oleh, mereka juga membeli beberapa barang untuk diri sendiri.


Setelah dua jam berlalu dan mendapatkan semua barang yang diinginkan, keduanya kembali ke dalam mobil.


Banyak barang yang mereka beli, dan barang-barang itu menumpuk di kursi baris kedua. Selain banyak, barang-barang yang mereka beli merupakan barang-barang bermerek, dan menghabiskan uang lebih dari satu milyar rupiah jika dirupiahkan.


Kembali mengemudikan mobil menuju bangunan yang kini dijadikan tempat tinggal mereka selama tinggal di Kota Beijing, Erina yang sedang mengemudikan mobil tiba-tiba menginjak dalam pedal rem saat sebuah mobil tiba-tiba memotong jalur mobilnya.


Lima pria berpakaian serba hitam dan seorang pria yang dikenali oleh Erina dan Reinar keluar dari mobil. Pria yang dikenal keduanya adalah Calvin, sedangkan lima pria berpakaian serba hitam adalah para pengawal khusus yang bekerja dibawah perintah Calvin.


“Dia sepertinya ingin mencari masalah dengan kita.” Erina ingin keluar dari mobil, tapi Reinar mencegahnya keluar.


“Kita tunggu dan lihat apa yang mereka inginkan dari kita! Kalau mereka memiliki niatan buruk pada kita, sebaiknya kita tancap gas pergi dari tempat ini, tapi sepertinya dia hanya memiliki niatan buruk padaku.” Dari mata Calvin yang terus tertuju padanya, Reinar yakin pria itu sangat membenci keberadaannya.


“Cih, kalau dia memiliki niat buruk padamu, tanganku sendiri yang akan memberi hukuman padanya.” Erina terlihat geram dengan tingkah yang ditunjukkan Calvin.


Setelah mendengar itu Reinar tiba-tiba memegang tangan Erina, kemudian dia berkata, “Aku tidak akan membiarkan tangan bersihmu kotor olehnya. Kalau memang ingin memberi hukuman padanya, biar aku yang melakukannya!”

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2