Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 27. Masalah Di Bandara


__ADS_3

“Aku merasa ke depannya kita masih akan berurusan dengan orang itu. Dia sangat menginginkan dirimu dan tidak terima dengan adanya hubungan diantara kita. Selama dia belum mendapatkan apa yang diinginkannya, kita akan terus berurusan dengannya.” Meskipun Calvin putra seorang Presiden, Reinar tidak gentar berurusan dengannya.


“Aku tidak menyangka dia bisa sampai sejauh ini dalam mengganggu hubungan kita.” Erina semakin geram dengan apa yang dilakukan Calvin, tapi dirinya tidak tahu harus melakukan apa untuk menyingkirkan pria itu dari hidupnya.


“Sebaiknya kita memikirkan bagaimana cara menyingkirkan pria itu bersama-sama dengan Bella, Sarah, dan Wina. Aku yakin mereka bisa menyumbang solusi terbaik supaya kita dapat menyingkirkan pria itu tanpa harus menyinggung Ayahnya.” Reinar memberi saran pada Erina.


“Benar apa katamu, sebaiknya kita memang memikirkan masalah ini bersama dengan mereka.” Erina setuju dengan saran yang diberikan Reinar. “Akan tetapi sepertinya kita masih akan terlibat masalah lainnya karena saat ini orang itu berada di pesawat yang sama dengan kita. Aku yakin dia masih memiliki beberapa cara untuk mengganggu kita selama di perjalanan.” Pandangan mata Erina mengarah pada tirai yang membatasi tempat Calvin dengan tempatnya.


“Kamu tenang saja, selama ada aku dia tidak akan bisa berbuat macam-macam padamu.” Reinar mengelus lembut rambut Erina, membuat wanita itu merasa tenang.


Tangan Reinar memang sedang mengelus rambut Erina, tapi dengan mata tembus pandang miliknya, dia terus mengawasi apa yang sedang di lakukan Calvin di depan sana.


Sembilan jam perjalanan berlalu tanpa ada masalah, dan pesawat mendarat di bandara tak lama setelah matahari terbenam. “Sebaiknya kita keluar lewat pintu belakang.” Reinar membawa Erina keluar lewat pintu belakang. Enam orang wanita lainnya juga ikut keluar dari pintu belakang.


“Kenapa kita keluar lewat pintu belakang?” Erina bertanya pada Reinar setelah keluar dari pesawat.


“Di pintu depan sudah ada Calvin yang menunggu kedatangan kita. Untuk menghindari keributan yang tidak diperlukan dengannya, bukannya lebih baik kita keluar lewat pintu belakang?” Dengan mata tembus pandangnya Reinar jelas melihat apa yang dilakukan Calvin. Pria itu berdiri di samping pintu bagian depan, sengaja menunggu dirinya dan Erina keluar dari pesawat.


“Kalau memang begitu, sebaiknya kita segera pergi meninggalkan tempat ini sebelum dia sadar kalau kita semua sudah keluar pesawat lewat pintu belakang!” Erina yang sudah memegang barang bawaan di tangan kanan dan kirinya, segera saja dia membawa Reinar dan yang lainnya pergi meninggalkan bandara.


“Kita langsung menuju parkiran! Kebetulan di sana ada mobil yang bisa kita gunakan untuk pergi meninggalkan bandara ini.” Erina terus melangkahkan kaki menuju parkiran mobil. Akan tetapi, belum juga sampai di tempat parkiran mobil, Calvin dan beberapa orang muncul, menghadang perjalanan mereka.

__ADS_1


“Erina, sebaiknya kamu ikut denganku jika tidak ingin ada hal buruk yang terjadi pada pria itu!” Calvin berkata dengan suara meninggi sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Reinar.


Erina ingin mengatakan sesuatu pada Calvin, tapi Reinar lebih dulu berkata. “Seorang putra Presiden tapi kelakukan tak ada bedanya dengan seorang preman pasar. Asalkan Tuan Muda Calvin tahu, aku tidak pernah mengizinkan wanitaku pergi bersama pria lain, meskipun pria itu adalah putra seorang Presiden.”


“Berani kau menghina putra seorang Presiden! Apa kau tidak tahu hukuman untuk orang yang berani menghina putra Presiden?” Calvin terlihat sangat arogan karena saat ini dirinya berada di negara yang dikuasai oleh ayahnya.


“Dari yang aku tahu, tidak ada hukuman yang mengatur larangan menghina seorang putra Presiden selama hinaan itu memang pantas untuknya. Jadi, aku tidak punya alasan untuk tidak berani menghina putra seorang Presiden sepertimu, yang jelas-jelas telah melakukan sebuah kesalahan.” Reinar berkata penuh dengan ketenangan.


“Cih, bicara dengan orang sepertimu memang tidak ada gunanya. Jika kemarin malam kamu bisa menang dariku, di negara yang dikuasai ayahku kamu tidak akan pernah bisa menang dariku.” Calvin menyuruh orang-orang yang datang bersamanya menyerang Reinar, sedangkan dirinya akan membawa Erina pergi meninggalkan bandara.


“Apa seperti ini sifat seorang putra Presiden? Entah kenapa aku melihatmu seperti ketua preman pasar.” Adhitya, ayah Erina tiba-tiba muncul bersama dengan para pengawalnya. Kedatangannya benar-benar sangat mengejutkan terutama bagi Calvin dan orang-orang nya.


“Paman, ini semua tidak seperti yang Paman pikirkan, aku bisa menjelaskan semuanya pada Paman.” Seperti pencuri yang ketahuan saat mencuri, Calvin mencoba mencari alasan untuk apa yang sedang dia lakukan.


“Aku pastikan memberi hukuman yang tepat untukmu, dan aku pastikan kamu akan jera mengganggu mereka setelah menyelesaikan hukuman dariku.” Adhitya berkata tepat di hadapan Calvin. “Bawa dia pergi ke markas, dan tempatkan di ruangan isolasi selama dua hari penuh!” Adhitya memberi perintah pada pengawalnya yang sedang memegang erat kedua tangan Calvin.


“Baik Tuan.” Empat pengawal pergi membawa Calvin menuju markas besar yang letaknya hanya diketahui Adhitya dan orang-orang kepercayaannya. Bahkan pasukan elite maupun pasukan super elite tidak ada yang tahu dimana letak markas besar yang dimaksudkan oleh Adhitya.


Setelah kepergian empat pengawalnya yang membawa Calvin, Adhitya bergegas menemui Reinar dan Erina.


“Kenapa Ayah tiba-tiba menangkap Calvin dan membawanya ke markas pasukan Ayah? Apa Ayah tidak takut dengan kemarahan Presiden karena Ayah berani menahan salah satu putranya?” Erina bertanya pada Adhitya.

__ADS_1


Adhitya tersenyum mendengar pertanyaan putrinya, lalu dia berkata, “Apa juga yang harus Ayah takutkan dari orang itu? Kalau Ayah mau, sudah sejak lama Ayah menggulingkannya dari kursi Presiden, tapi Ayah tidak melakukan itu karena bagaimanapun juga, dia sudah puluhan tahun menjadi Ayah baik dalam suka maupr duka.”


Setelah menjawab apa yang ditanyakan Erina, Adhitya dengan tegas menyuruh orang-orang yang mengawal Calvin kembali ke kesatuan mereka masing-masing. Sebelum mereka pergi Adhitya menjanjikan hal buruk akan menimpa mereka jika masih berani mengusik kehidupan putri dan calon menantunya.


“Masalah kalian dengan putra Presiden telah terselesaikan. Apa sekarang kalian sudah ingin menentukan tanggal pernikahan? Semakin cepat kalian menikah, semakin cepat aku menimang cucu.” Adhitya langsung membahas pernikahan saat berada di hadapan Reinar dan Erina karena dia sangat menginginkan cucu dari putra-putrinya.


“Ayah, kami berdua tidak terburu-buru melakukan pernikahan, dan lagi ketiga kakakku sampai saat ini belum ada kabar kapan mereka ingin menikah. Bagaimana kalau kami menikah setelah mereka bertiga menikah? Jika mendahului mereka, entah kenapa aku merasa tidak enak.” Erina teringat dengan ketiga kakaknya yang sampai sekarang belum menikah karena terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka.


“Kalau kamu menunggu mereka menikah, takutnya kamu akan menjadi yang terakhir menikah dengannya. Apa kamu pikir Ayah tidak tahu kalau pria kecil ini sudah memiliki dua wanita lainnya sebelum kamu dan Wina datang untuknya? Ayah tentu sudah mengenal kamu dan Wina karena kalian berdua adalah putri Ayah, untuk Sarah dan Bella, Ayah juga sangat mengenal baik siapa mereka.” Adhitya menjeda kata-katanya.


“Saran Ayah, daripada kalian menikah di waktu yang berbeda-beda, bagaimana kalau kalian menikah di waktu yang sama? Dengan kalian menikah di waktu yang sama, tidak akan ada yang pertama maupun yang terakhir, dan tidak akan muncul perselisihan di masa depan hanya karena berebut tempat pertama.” Adhitya memberi saran yang terdengar sangat masuk akal.


Erina menatap Reinar setelah mendengar semua itu. Melihat Reinar menganggukkan kepala, Erina segera membalas berkataan Ayahnya. “Biarkan kami mendiskusikan semua itu dengan Wina, Bella, dan Sarah. Tidak mungkin kami memutuskan semua berdua, sedangkan mereka bertiga juga bagian dari kami.”


“Paman, beri kami waktu satu minggu, dan setelahnya kami pasti memberi kabar yang memuaskan.” Setelah cukup lama diam, akhirnya Reinar berkata.


“Baiklah, dalam satu minggu aku menunggu kabar dari kalian, tapi jika dalam satu minggu kalian tidak memberi kabar, bulan depan Ayah akan menikahkan kalian semua.” Dengan senyum dibibirnya Adhitya mengatakan itu, kemudian dia pergi meninggalkan Reinar, Erina, dan yang lainnya.


Sedangkan Reinar dan Erina yang ditinggal pergi Adhitya, keduanya hanya bisa menghela napas panjang setelah mendengar perkataan Adhitya sebelum pergi.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2