Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 44. Gadis Polos


__ADS_3

Tanpa berkedip Reinar melesat maju bagai angin, dan dengan belati di tangan kanannya dia menyerang sepuluh orang yang mencoba menghindarinya. Belati di tangan Reinar menari-nari menebaa leher sepuluh orang yang sama sekali tidak bisa melihat pergerakan Reinar.


Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan kemana perginya pria bertopeng yang sebelumnya berada di dekat mayat Brandy. Namun, ketidaktahuan mereka harus dibayar menggunakan nyawa. Satu persatu mereka tumbang dengan luka menganga di leher, dan tak sampai sepuluh detik mereka semua tumbang.


Darah segar mengalir deras dari luka mereka, sampai akhirnya satu persatu dari mereka menghembuskan napas terakhir. Kini bau amis darah tercium dari lantai ketiga bangunan, dan orang-orang yang berdatangan dari lantai dua dikejutkan dengan pemandangan berdarah-darah di lantai tiga.


“Apa yang sudah terjadi di tempat ini? Bagaimana ini semua bisa terjadi?” Mereka semua bingung dengan apa yang terjadi karena yang mereka temukan hanyalah mayat dalam keadaan mengenaskan, tapi mereka tidak menemukan pelaku yang membunuh rekan-rekan mereka.


Sementara itu, Reinar telah pergi meninggalkan lantai ketiga bangunan setelah membunuh sepuluh orang yang dianggapnya menghalangi jalan. Sampai di lantai satu, dia sebenarnya ingin langsung pergi. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya saat melihat seorang wanita mengarahkan pandangan ke arahnya.


Reinar menghampiri wanita itu dan berdiri di hadapannya. “Kamu butuh uang? Kalau kamu butuh, ikut denganku dan aku akan memberikan banyak uang padamu.” Reinar mengatakan itu semua pada wanita di hadapannya.


“Berikan aku bayaran satu miliar sekarang juga, dan setelah itu aku akan menjadi milikmu.” Liz, wanita di hadapan Reinar menunjukkan nomor rekening di layar HP nya.


Tak ingin membuang-buang waktu, Reinar langsung saja mengeluarkan HP nya, dan mentransfer dua miliar rupiah ke nomor rekening Liz. “Aku rasa itu semua lebih dari cukup membuatmu jadi milikku.” Tak menunggu jawaban, Reinar langsung saja menggendong Liz, dan dia melesat meninggalkan bangunan yang baru saja kehilangan pemilik barunya.


Berlari sejauh dua kilometer dan memastikan area sekitarnya aman, Reinar berhenti berlari dan menurunkan Liz dari gendongannya. “Maaf karena aku langsung menggendongmu tanpa seizin darimu!”


Liz menggelengkan kepalanya mendengar semua itu. “Kamu sudah membeliku, bahkan kamu memberi uang lebih. Tidak seperti Brandy yang hanya memberi janji, yang akhirnya dia selalu menahan setengah gajiku. Dengan uang lebih yang kamu berikan padaku, kamu bahkan bisa memiliki tubuhku.”

__ADS_1


Reinar tak bisa berkata-kata mendengar apa yang dikatakan wanita yang sampai sekarang belum diketahui namanya. “Bagaimana kalau aku mengatakan aku tidak tertarik dengan tubuh kecilmu karena aku sudah memiliki empat wanita yang jauh lebih menarik darimu?”


“Aku baru lima belas tahun, dan aku masih dalam masa pertumbuhan. Sekarang Tuan memang tidak menginginkanku, tapi setelah tubuh ini tumbuh sempurna, aku yakin Tuan akan tertarik menjadi yang pertama menikmati kesucianku.” Liz tersenyum polos di hadapan Reinar.


“Ya aku rasa tidak ada ruginya menjadi yang pertama. Akan tetapi kamu haru tahu, siapapun yang telah melakukan itu denganku, selamanya dia harus menjadi milikku! Jika dia mencoba bermain api dengan menjalin hubungan dengan pria lain, tanganku sendiri yang akan mengakhiri hidupnya!”


Liz sama sekali tidak ketakutan dengan kata-kata Reinar. “Kalau memang seperti itu, dengan senang hati aku memberikan kesetiaan pada Tuan.” Liz mengatakan semua itu tanpa ragu, dan dia sangat serius dengan perkataannya.


“Sepertinya aku harus menjelaskan keberadaanmu pada para wanitaku.” Reinar menatap wajah wanita yang sekarang berdiri di hadapannya, dia harus akui kalau wajah wanita di hadapannya masih sangat polos, tapi soal kecantikan tak kalah dari keempat wanitanya. “Sejak awal bertemu kamu belum mengatakan namamu padaku. Mau sampai kapan kamu merahasiakan namamu dariku?”


Liz menatap dalam kedua mata Reinar. “Namaku Elizabeth, Tuan bisa memanggilku Eliza, atau Liz. Saat masih menjadi bawahan Brandy, orang-orang di tempat itu memanggilku Liz.” Mendengar wanita di hadapannya mengenalkan diri, Reinar juga memperkenalkan dirinya.


Sebelum keluar dari taksi, Reinar membuka topengnya, dan Eliza seketika mimisan saat melihat wajah Tuan barunya untuk pertama kalinya. Dia tidak menyangka, pria bertopeng yang telah membelinya seharga dua miliar rupiah ternyata masih sangat muda, dan dia sulit mendeskripsikan seberapa sempurna ketampanan tuan barunya.


“Semua yang ada di sini adalah para pengawal keluarga Bagaskara. Oh iya, aku lupa mengatakan padamu kalau statusku adalah calon menantu keluarga Bagaskara, dan dua wanitaku merupakan putri keluarga Bagaskara. Seharusnya semua itu sudah dapat menjelaskan padamu kenapa aku mengakhiri hidup Brandy dan orang-orang kepercayaannya!”


Eliza menghala napas pelan karena sekarang dia lebih tahu identitas dari tuan barunya, dan dirinya benar-benar tidak menyangka kalau begitu keluarga dari anggota Brandy, kini justru menjadi bagian dari orang yang selama ini menjadi musuh Brandy dan asosiasi Red Cobra.


Keluar dari taksi setelah membayar biaya sewa, Reinar berjalan menuju gerbang rumah bersama Eliza yang mengekor di belakangnya. Penjaga gerbang yang sangat tahu siapa Reinar, segera saja dia membukakan gerbang, dan dengan hormat menyambut kedatangan Reinar, meski dia merasa penasaran dengan identitas gadis imut yang berjalan di belakang Reinar.

__ADS_1


Reinar membawa Eliza langsung masuk kedalam rumah, dan Malvin adalah orang pertama yang menyambut kedatangan mereka. Pria itu memberi sambutan seperti biasa pada Reinar, tapi dia sejenak cukup terpesona saat melihat keimutan Eliza.


Reinar memperkenalkan Eliza mada Malvin, tapi saat Malvin mengulurkan tangannya, Eliza menolak berjabat tangan dengannya. “Tuan Rei telah membeliku, dan hanya Tuan yang boleh menyentuh tubuhku.” Mata Reinar dan Malvin membulat sempurna mendengar perkataan Eliza.


Bukan hanya mereka berdua yang membuatkan mata, Bella dan Erina yang tak sengaja mendengar perkataan Eliza, mereka juga melakukan hal yang sama, tapi tak lama senyuman terlihat di bibir mereka saat melihat betapa imutnya wajah Eliza.


Keduanya segera mendekati Eliza, dan mengabaikan keberadaan Reinar dan Malvin. “Sebaiknya kamu ikut dengan kami, dan jaga jarak dari mereka!” Erina menjadi orang pertama yang bicara pada Eliza, dan Erina mengarahkan telunjuk tangannya pada Reinar dan Malvin.


Eliza tidak langsung mengiyakan ajakan Erina. Dia terlebih dahulu melihat Reinar, dan dia baru ikut pergi mengikuti Erina setelah melihat Reinar menganggukkan kepalanya. Dia tidak merasakan ancaman dari Erina, oleh karena itu dia tidak ragu ikut dengannya setelah diizinkan Reinar.


“Wina sudah menunjukkan apa saja yang kamu lakukan sambil olahraga pagi. Mengunjungi markas asosiasi Red Cobra, dan pulang membawa calon baru. Gadis itu masih sangat polos, dan kamu jangan melakukan apapun padanya sebelum dia cukup usia.” Tegas Bella mengatakan itu pada Reinar.


“Kalau seperti itu apa artinya kalian setuju aku menambah satu lagi wanita?” Reinar bertanya dan sangat berharap segera mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Namun, Bella tidak langsung memberi jawaban, tapi terlebih dahulu dia menyuruh Malvin pergi sebelum memberi jawaban.


Setelah Malvin pergi barulah Bella memberi jawaban, tapi dia menjawab dengan cara berbisik di dekat telinga Reinar. “Kami tidak keberatan kamu menambah satu lagi wanita, mengingat betapa kuatnya kamu saat di atas ranjang. Dengan banyak wanita, baru kami semua yakin dapat memberi kepuasan yang sesungguhnya padamu.” Selesai mengatakan itu Bella buru-buru pergi meninggalkan Reinar.


Sementara itu, Reinar yang mendengar jelas bisikan Bella, dia hanya bisa tersenyum dan menyadari kalau dirinya memang lebih kuat dibandingkan pria lainnya, apa lagi kalau itu sudah berurusan dengan pertempuran di atas ranjang. “Memiliki banyak wanita memang lebih baik dibandingkan membuat mereka kelelahan dan tidak lagi dapat menikmati kenikmatan pertempuran di atas ranjang.” Reinar bergumam lirih kemudian dia pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuh.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2