
Di ruangan yang ditempati Erina, wanita itu mulai merasa panas di sekujur tubuhnya, meski jelas terasa suhu ruangan sangat dingin.
‘Kenapa tubuhku tiba-tiba terasa panas? Mereka, apa mungkin mereka telah menaruh sesuatu di minumanku?’ Erina membatin sambil mengarahkan pandangan pada tujuh pria yang entah sejak kapan mereka sudah melepas seluruh pakaian, dan hanya menyisakan ****** *****.
Bahkan, tanpa disadari olehnya, dua wanita yang sebelumnya berada di samping dirinya, saat ini keduanya sudah menggeliat menikmati sentuhan empat pria yang bergantian bermain di milik mereka. Suara dessahan kedua wanita itu terdengar jelas di telinganya, dan semakin membuat panas tubuhnya.
“Ka.. kalian mau apa?” Erina sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan saat tiga pria mendekatinya. Satu pria memegang kedua kalinya, satu pria lagi memegang kedua tangannya, dan pria yang terakhir mencoba melucuti seluruh pakaiannya.
“Aku sudah tidak tahan lagi dengan tubuhnya. Lihatlah, daripada dua wanita di sana, tubuh wanita ini jauh lebih menggoda! Pantas saja harga sewanya berkali-kali lebih mahal.” Satu kancing pakaian Erina berhasil dilepas oleh pria yang melucuti pakaiannya.
Saat pria itu mencoba membuka kancing pakaian kedua, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar ruangan mereka. Meski hanya terdengar sebanyak empat kali, tapi itu cukup mengganggu aktivitas mereka yang berada di dalam ruangan.
“Biarkan orang-orang kita yang mengatasi masalah kecil di luar, lebih baik kita lanjutkan pesta ini.” Pria itu kembali membuka kancing pakaian Erina, dan akhirnya kancing kedua terbuka.
“Brak...” Baru juga ingin mengintip bagian dalam tubuh Erina, pintu ruangan mereka dibuka secara paksa, dan muncullah sosok pria berparas tampan dari pintu ruangan yang terbuka lebar.
Melihat keadaan Erina, pria yang baru saja masuk terlihat sangat marah. “Melihat yang tak sepantasnya kalian lihat. Kalian semua pantas mati.”
Pria yang baru datang adalah Reinar dan saat melihat pakaian Erin hampir terbuka, dia langsung menyerang tiga pria di sekeliling Erina.
“Bugh... Bugh... Bugh...” Dua pria mendapatkan tendangan langsung dari Reinar. Khusus untuk pria yang membuka kancing pakaian Erina, selain terkena tendangan, Reinar juga menginjak milik pria itu yang seketika membuatnya pingsan.
Untuk empat pria lainnya yang hampir memasukkan milik mereka ke dalam milik dua wanita sewaan yang ternyata merupakan rekan Erina, Reinar tak memberi ampun pada mereka.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Reinar memukul dan menendang keempatnya, membuat mereka babak belur dengan luka lebam di sekujur tubuh, bahkan salah satu dari mereka mengalami patah tangan setelah terinjak kaki Reinar.
Melihat ketujuh pria tak lagi mampu memberi perlawanan, Reinar menggunakan mata tembus pandang untuk memindai identitas mereka, sekalian mencari barang bukti keterlibatan mereka dalam perdagangan narkoba jaringan internasional.
Tiga pria yang mencoba melakukan hal buruk pada Erina adalah bandar narkoba. Dua orang dari Indonesia, dan satu lagi merupakan orang berkebangsaan Afrika. Sedangkan untuk empat pria lainnya, dua orang merupakan Wakil Menteri, dan dua orang lainnya merupakan pengusaha.
__ADS_1
Setelah merapikan kembali pakaian Erina dan dua wanita lainnya, Reinar bermaksud memanggil tiga wanita di gedung sebelah.
Akan tetapi, tiba-tiba saja Erina mencium bibirnya, bahkan dua wanita lainnya mulai meraba tubuhnya dari belakang.
‘Aku bisa menebak obat apa yang dicampurkan ke minuman mereka. Kalau hanya Erina, aku tentu bisa melakukannya, tapi aku tidak bisa melakukan itu dengan mereka.’ Reinar membatin sambil menikmati ciuman Erina, tapi dia merasa terganggu dengan dua wanita yang terus meraba tubuhnya.
“Sistem, apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan efek obat yang tak sengaja mereka minum?” Reinar bertanya pada sistem.
[Ding... Tuan bisa membeli obat penghilang efek buruk di toko sistem yang baru saja dapat diakses setelah peningkatan versi sistem selesai]
“Kalau begitu, tolong bantu aku membelikan tiga obat itu di toko sistem!”
[Ding... Membeli tiga obat penghilang efek buruk. Dikarenakan Tuan belum memiliki Poin Sistem, pembayaran akan digunakan menggunakan uang dari rekening Tuan. Memotong tiga ratus juta uang di rekening Tuan, tersisa Rp. 199.677.000.000]
Tiga pil mengambang di hadapan Reinar. Satu pil langsung dia masukkan ke dalam mulut Erina, dan dua pil lainnya dia masukkan kedalam mulut dua rekan Erina.
Erina tentu tidak merasa bersalah karena yang barusan dia cium adalah Reinar, calon suaminya yang entah bagaimana bisa muncul di hadapannya. Sedangkan dua rekan Erina, mereka masih terlihat shock dengan apa yang barusan terjadi.
Masih teringat jelas dalam ingatan mereka saat empat pria ingin menggilir tubuh mereka. Beruntung mahkota mereka belum berhasil direnggut, setelah seorang pria tiba-tiba datang menyelamatkan mereka.
“Lain kali jangan melakukan penyamaran bodoh seperti barusan! Untuk barang bukti yang kamu cari, semua ada di koper itu.” Reinar menunjuk koper kecil di atas meja, yang sejak awal sudah membuat Erina curiga.
Mendengar itu, Erina langsung melompat ke dalam pelukan Reinar. Dia benar-benar merasa dirinya sangat bodoh, dan juga sangat ceroboh. Melakukan penyamaran tanpa melihat efek buruk dari penyamaran yang dilakukan, hampir membuat dirinya dan kedua rekannya hancur ditangan para pria yang menjadi target utama pekerjaan mereka.
Sementara itu dua wanita yang melihat interaksi antara Erina dan pria yang menyelamatkan mereka, kini mereka tahu kalau ada hubungan khusus diantara pria itu dan Erina.
“Kamu tenang saja, selama ada aku, tidak akan ada orang yang dapat berbuat buruk padamu!” Baru juga Reinar selesai berkata, tiga wanita yang sebelumnya berada di gedung sebelah muncul di ruangan tempat Erina sedang memeluk erat tubuh Reinar.
Mereka terlambat datang karena tidak bisa bergerak secepat Reinar, dan lagi mereka juga sedikit terlambat sadar saat Reinar pergi meninggalkan ruangan. Ketiganya baru sadar Reinar tak lagi bersama mereka, saat melihat sosok Reinar berhasil membunuh empat penjaga pintu ruangan tempat Erina melakukan penyamaran.
__ADS_1
“Mereka bertujuh adalah tersangka, dan koper itu berisikan barang bukti.” Reinar kembali menunjuk koper kecil di atas meja.
Ketiga wanita itu mengangguk. Satu wanita segera menghubungi seseorang, wanita kedua membantu dua rekan Erina mengamankan barang bukti, sementara wanita ketiga yang tadi menjemput Reinar di bandara, dia mempersilahkan Reinar dan Erina beristirahat di gedung sebelah.
Mendengar itu Reinar hanya menganggukkan kepala, kemudian dia menggendong Erina ala tuan putri menuju gedung sebelah. Dua rekan Erina dan satu wanita yang membantu keduanya, mereka juga pergi ke gedung sebelah, dan berjalan tepat di belakang Reinar.
Reinar dan Erina menempati sebuah kamar. Tak lama setelah sampai di kamar yang mereka tempati, melalui jendela di kamar, keduanya dapat melihat puluhan mobil berhenti di depan gedung yang baru mereka tinggalkan.
Sedangkan dari arah dalam gedung, tujuh pria dibawa keluar dari dalam gedung, dan dimasukkan ke dalam tujuh mobil berbeda. Setelahnya, mobil-mobil itu segera pergi.
“Mereka adalah orang-orang ibuku, dan aku tidak menyangka kalau ibuku melibatkanmu dalam misi ini.” Erina memandang Reinar yang berdiri di hadapannya sementara dirinya duduk di tepian tempat tidur.
“Aku datang ke tempat ini bukan karena misi, tapi karena aku mengkhawatirkanmu, dan kekhawatiran itu benar-benar terjadi.” Reinar tidak bisa membayangkan apa yang menimpa Erina seandainya dirinya tidak datang tepat waktu.
Erina tersenyum senang mendengarnya. “Aku sudah sebulan ini bertugas di tempat ini, dan beberapa hari yang lalu aku memutuskan pulang karena orang-orang yang menjadi targetku berkumpul di Indonesia, dan baru kembali setelah mereka juga kembali.”
“Hm, tapi aku tidak menyangka mereka sudah merencanakan hal buruk itu padaku dan kedua rekanku begitu sekembalinya mereka dari Indonesia.” Erina menarik lengan Reinar, membuat pria itu duduk di sebelahnya. “Aku ternyata masih butuh banyak belajar, dan sepertinya aku harus banyak belajar darimu.”
Erinr kembali menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Reinar.
“Hampir satu bulan aku mengikuti mereka, tapi tidak sadar jika bukti itu selalu ada di depan mataku, tapi kamu hanya sekali melihat tahu kalau buti itu ternyata ada di depan mata.” Erina berkata sambil melingkarkan tangannya di pinggang Reinar.
“Bukannya kamu tahu mataku dapat melihat segalanya? Bukan hanya melihat dalam gelap, tapi mata ini juga dapat melihat isi dari kotak itu.” Reinar mendekatkan bibirnya ke telinga Erina. “Bahkan saat ini aku dapat melihat milikmu yang basah.”
Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu balasan Erina, Reinar langsung mencium bibir wanita itu, dan setelahnya pertarungan panas di atas tempat tidur terjadi diantara keduanya untuk kedua kalinya.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1