
“Sebentar lagi kalian menikah, kira-kira hadiah pernikahan seperti apa yang kalian inginkan dari pria tua ini?” Adhitya bertanya pada Reinar dan kelima calon istrinya setelah mereka selesai makan malam.
“Aku tidak menginginkan hadiah apa-apa, cukup restu dari Ayah, itu adalah hadiah terbaik untukku.” Saat makan bersama Adhitya meminta Reinar memanggilnya Ayah, dan sejak saat itu Reinar memanggilnya Ayah.
“Restu sejak awal sudah aku berikan. Pikirkan sekali lagi, kira-kira hadiah apa yang kamu inginkan! Bukan hanya kamu, tapi kalian semua.” Bergantian Adhitya menatap Reinar dan kelima calon istrinya.
Semuanya diam dan berpikir. Sebenarnya mereka tak menginginkan hadiah apa-apa, tapi Adhitya pastinya tidak ingin mendengarkan jawaban seperti itu dari mereka.
“Ayah, aku menginginkan mobil sport keluaran terbaru.” Erina menjadi wanita pertama yang mengatakan hadiah sesuai dengan keinginannya.
“Aku ingin Ayah memberi perangkat elektronik baru untuk mempermudah pekerjaanku, dan sepertinya Eliza juga menginginkan barang yang sama.” Eliza tersenyum senang sambil mengangguk setelah mendengar perkataan Wina.
Disaat tiga wanita meminta hadiah dalam wujud barang, Bella dan Sarah sepakat meminta hadiah hari libur. Mereka meminta hadiah libur dari semua pekerjaan selama satu bulan, dimulai sejak hari pernikahan mereka. Sebagai tambahan, mereka juga meminta hari libur untuk Reinar.
Eliza terlihat biasa-biasa saja dengan hadiah yang diminta Bella dan Sarah, sedangkan Erina dan Wina, mereka merasa rugi karena tidak terpikirkan meminta hadiah yang sama seperti yang diminta Bella dan Sarah.
Sedangkan Reinar, dia memilih menyodorkan layar HP miliknya, dan meminta Adhitya membaca apa yang tertulis di layar HP nya. “Aku tidak meminta hadiah besar, aku hanya ingin perusahaan Ayah menjalin kerjasama dengan perusahaanku.”
Mendengar itu Adhitya segera membaca tulisan di layar HP Reinar, yang menunjukkan semua keunggulan perusahaan milik Reinar. Dari membaca tulisan di layar HP Reinar, Adhitya juga tahu kalau perusahaan Reinar sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan Dewana Grup.
“Jujur saja, program yang ditawarkan perusahaanmu sangat menarik, tapi aku harus membicarakan ini dengan beberapa orang terlebih dahulu, dan melakukan ujicoba langsung dengan menyerang program keamanan perusahaanmu.”
Apa yang ingin dilakukan Adhitya adalah cara terbaik untuk menguji sebuah program keamanan. Jika lolos uji, tentu program itu cocok untuknya.
"Baiklah, tapi diwaktu yang sama aku juga melakukan hal yang sama. Menyerang program keamanan perusahaan milik Ayah, dan membuktikan siapa yang lebih kuat!” Reinar sangat yakin dengan kemampuan dirinya, dan program keamanan buatannya sendiri.
“Tidak masalah, besok siang temui Ayah di kantor, dan mari kita adu siapa yang lebih baik dalam bertahan maupun menyerang.” Adhitya tidak merasa diremehkan, bagaimanapun juga jika program keamanan Reinar lebih kuat dari keamanan yang saat ini dimiliki perusahaannya, dengan senang hati dia bisa menjalin kerjasama antara perusahaannya dan perusahaan Reinar.
__ADS_1
Reinar setuju berkunjung ke kantor Adhitya dan tentu Eliza ikut dengannya. Namun, dia berencana pergi mengunjungi kantor Adhitya begitu menyelesaikan urusan pekerjaan di perusahaan Dewana Grup, yang sudah lebih dulu menjalin kontrak kerja dengan perusahaannya.
“Sebaiknya malam ini kita pulang bersama! Aku masih khawatir ada yang ingin berbuat buruk pada kalian, setelah apa yang baru saja terjadi.” Adhitya sangat berhati-hati dengan situasi saat ini karena yang baru bersinggungan dengan menantunya adalah putra orang paling berkuasa di negaranya.
Meski kekuatan di tangannya sama kuat dengan apa yang dimiliki seorang Presiden, tapi dirinya tidak ingin membuat rakyat menderita jika memang dirinya harus berkonflik dengan Presiden berkuasa. Kalau bisa urusan keluarga seharusnya diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak melibatkan orang lain.
“Untuk keamanan mereka Ayah tidak perlu khawatir. Selama masih ada aku, tak satupun orang yang dapat berbuat macam pada mereka, yang berada dalam perlindunganku. Aku pastikan mereka hanya menemui nasib buruk kalau sampai berani melakukan hal buruk pada orang-orangku!” Penuh ketenangan Reinar mengatakan itu pada Adhitya.
Adhitya mengangguk puas mendengar perkataan Reinar tentang melindungi orang-orangnya. “Jika di masa depan kamu memiliki masalah besar yang tidak bisa teratasi seorang diri, jangan sungkan meminta bantuan karena Ayah senantiasa siap memberi bantuan padamu!” ujar Adhitya.
“Sesuai keinginan Ayah, aku tidak akan sungkan jika memang membutuhkan bantuan di masa depan.” Tidak ada yang tahu kejadian di masa depan, oleh karena itu Reinar tidak menyia-nyiakan penawar yang diberikan Adhitya padanya. Dengan begini, dirinya memiliki bantuan besar seandainya di masa depan ada masalah besar yang harus dihadapinya.
“Jika tidak lagi ada yang di bahas di tempat ini, bagaimana kalau kita pulang?” Melihat jam di tangannya, Adhitya tersadar hari sudah larut malam, dan sudah waktunya semua orang pulang.
“Ini sudah larut dan sudah seharusnya kita pulang.” Reinar beranjak dari tempat duduknya lalu dia berjalan ke kasir untuk membayar seluruu pesanan. Selesai membayar pesanan makanan, Reinar kembali ke tempat para wanitanya, kemudian bersama-sama mereka berjalan menuju parkiran mobil.
Mobil yang dikemudikan Reinar sudah melaju menyusuri sepinya jalanan ibukota di malam hari. Terlihat mobil Adhitya membuntuti tepat di belakang mobil Reinar, sedangkan di bagian depan terdapat satu mobil yang berisikan pengawal pribadi Adhitya.
Reinar dan kelima wanitanya telah berada di dalam rumah. Indah yang kebetulan baru menyelesaikan pekerjaannya untuk tiga hari ke depan, dia keluar dari ruanga kerjanya, menyambut kedatangan mereka.
Untuk Malvin yang hari ini menghabiskan waktu meningkatkan kekuatan fisiknya, malam ini dia sudah beristirahat setelah selesai makan malam. Dia sudah membuat agenda esok hari, jadi malam ini memilih tidur lebih cepat dari hari-hari biasanya.
"Bagaimana, apa kalian suka dengan pakaian, yang dipilihkan untuk acara pernikahan kalian?” Indah bertanya saat Reinar dan yang lainnya duduk di sofa ruang keluarga, sedangkan dirinya memilih duduk di sebelah Eliza yang terlihat sudah mengantuk.
“Kami sangat menyukainya, tapi ada beberapa bagian yang membutuhkan sedikit perbaikan.” Bella mewakili yang lainnya memberi jawaban dari apa yang ditanyakan Indah pada mereka.
Indah mengangguk kemudian tersenyum senang karena apa yang dipilih olehnya dan para ibu lainnya, ternyata di sukai oleh Bella dan yang lainnya. Masalah perbaikan, semua itu wajar karena ada yang harus disesuaikan dengan tubuh mereka.
__ADS_1
“Sebaiknya kalian segera istirahat, terutama putri kecil ibu.” Saking gemasnya dengan Eliza yang sudah mengantuk, Indah terus saja menyentuh kedua pipi wanita itu.
“Bu, biarkan aku menggendongnya ke kamar.” Reinar bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menggendong Eliza yang sudah tidur menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Sarah.
Indah sendiri langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat, begitu juga dengan empat wanita lainnya. Reinar sendiri juga langsung pergi ke kamarnya setelah menidurkan Eliza di atas tempat tidur, dan tak lupa menyelimutinya.
Di dalam kamar Reinar tidak langsung tidur. Dia memilih menyalakan laptop, lalu mulai mengawasi keadaan di sekitar rumah, dan mengawasi para penjaga yang mendapatkan jatah jaga malam.
Memastikan keadaan di sekitar aman dan para penjaga bekerja sesuai tugas mereka, Reinar memutuskan istirahat karena besok dirinya sudah direpotkan dengan berbagai pekerjaan.
“Jika Ayah setuju menjalin kerjasama dengan perusahaanku, masa depan cerah sudah menanti perusahaan yang baru satu hari mulai beroperasi.” Perusahaan miliknya memang baru saja beroperasi, tapi masa depan cerah terlihat di depan mata.
Berhasi menjalin kerjasama dengan Dewana Grup sebenarnya sudah menjamin masa depan cerah perusahaannya.
Apalagi jika perusahaannya berhasil menjalin kerjasama dengan Bagaskara Grup, tentu masa depan perusahaannya terang benderang, seolah ada cahaya dari surga yang menyinari perusahaannya.
Sementara itu di kantor kepolisian, Calvin sedang mendekam di balik dinginnya jeruji besi penjara.
Suara teriakan minta dibebaskan terdengar dari mulutnya, tapi tak ada satu orang pun yang menganggap teriakannya. Ayahnya sendiri yang baru saja datang, dia sama sekali tidak memiliki keinginan memberikan kebebasan padanya.
Ayahnya justru memberi tugas pada kepolisian untuk menghukum dirinya sesuai hukum yang berlaku. Untuk kasus pemilikan senjata api secara ilegal, dirinya tidak bisa membantah, dan jelas hukuman yang harus dijalaninya tidaklah sebentar.
Terus berteriak sampai suara serak dan tidak mendapat tanggapan dari para penjaga, akhirnya Calvin mulai diam dan meringkuk di atas matras tipus yang mulai malam ini menggantikan tempat tidur empuk sebagai tempat tidurnya.
Menyesal, dia sama sekali tidak menyesali apa yang telah dilakukannya. Daripada menyesal, dia justru dendam pada mereka yang telah membuat hidupnya sangat menderita.
“Reinar, tunggu saja, aku pasti membalas semua yang kau lakukan padaku!”
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.