Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 71. Bertemu Salah Satu Pemimpin Kelompok Tubuh Besi


__ADS_3

“Sudah banyak bahan peledak yang kita jinakkan, apa itu sudah semuanya?” Salah satu assassin bayangan bertanya pada kedua rekannya yang baru saja datang setelah menjinakkan peledak di beberapa tempat.


“Aku sudah berkali-kali mengecek di berbagai ruangan dan tempat yang berada di lantai satu, dan tak lagi menemukan adanya keberadaan peledak aktif.” Salah satu assassin bayangan memberi jawaban.


“Di lantai dua aku juga tidak lagi menemukan keberadaan peledak aktif, tapi aku menemukan banyak senjata api di gudang senjata, yang letaknya di bagian ruangan paling jauh dari anak tangga.” Sebuah informasi penting diberikan oleh assassin bayangan yang melakukan tugasnya di lantai dua.


Kedua assassin bertugas menemukan keberadaan peledak aktif yang harus dijinakkan. Sedangkan untuk assassin ketiga, tugas utamanya adalah menjinakkan bahan peledak aktif, dan dia berhasil melakukan tugasnya dengan sangat baik. Puluhan peledak aktif berhasil dijinakkan olehnya, dan sekarang tak lagi ada bahan peledak aktif di lantai satu maupun lantai kedua. Bahkan kabar baiknya mereka berhasil menemukan keberadaan gudang senjata.


“Sekarang apa yang harus kita lakukan? Apa kita susul ketua ke atas, atau tetap berada di tempat ini, mengamankan orang-orang dari luar yang ingin memasuki tempat ini?” Salah satu assassin bertanya, tapi tak ada satupun dari mereka yang bisa memberi jawaban pasti. Namun, pada akhirnya mereka memutuskan bertahan di lantai dua, menghalangi siapapun yang ingin melangkah lebih tinggi.


Sementara itu, Reinar yang telah sampai di lantai ketujuh gedung yang dicurigai sebagai markas kelompok Tubuh Besi, saat ini dia sedang berjibaku dengan belasan penjaga yang menjaga lantai ketujuh.


Suara pertempuran tak lagi bisa ditutup-tutupi, dan banyak penjaga dari lantai kedelapan yang turun ke lantai tujuh untuk membantu rekan mereka.


Mereka yang baru datang tidak melihat keberadaan musuh, tapi mereka semua jelas melihat satu-persatu rekan mereka tumbang tanpa sebab yang pasti.


“Apa sebenarnya yang sedang kita hadapi? Aku benar-benar tidak bisa melihat atau menemukan sosoknya.”


“Akulah yang kalian hadapi.” Tiba-tiba saja sosok Reinar muncul di belakang mereka, dan belum juha sempat ada yang menoleh peluru tajam sudah lebih dulu melesat ke kening mereka.


Kali ini bukan hanya membereskan para penjaga di lantai ketujuh, tapi sepertinya sebagian besar penjaga di lantai kedelapan ikut mati bersama penjaga lantai ketujuh.


Melangkah tenang menuju lantai ke delapan, Reinar sejenak berhenti saat melihat keberadaan empat orang berpakaian selayaknya ninja, yang sudah menantinya di ujung anak tangg lantai kedelapan.


“Aku cukup terkejut melihat keberadaan ninja di tempat ini, tapi keberadaan mereka terlihat biasa-biasa saja, bahkan aku justru tertarik dengan seberapa baik kemampuan mereka.”


Dengan ketenangannya, Reinar kembali melangkahkan kaki, dan tanpa rasa takut dia mendatangi para ninja yang menunggu kedatangannya.


“Katakan apa yang menjadi tujuanmu datang ke tempat ini dan membuat keributan?” Salah satu ninja bertanya dengan suara dingin yang dia tujukan untuk memberi efek ketakutan pada lawannya. Namun, semua itu tidak berguna dilakukan pada Reinar yang sejak awal sama sekali tidak takut pada mereka.

__ADS_1


“Tujuanku cuma satu, bertemu dengan pemimpin kalian, dan tujuan setelahnya baru aku pikirkan setelah bertemu dengannya.” Reinar menjawab sambil tersenyum, tapi empat ninja yang melihat senyumannya, mereka berempat merasa pria di hadap mereka bukanlah sosok sembarangan.


Namun cepat menyingkirkan pikiran itu, dan kembali fokus menjalankan tugas. “Tuan kami tidak ingin bertemu dengan siapapun, jadi sebaiknya kamu segera pergi meninggalkan tempat ini!” Tegas salah satu ninja mengusir Reinar.


“Mau atau tidak, itu bukan ditentukan olehnya. Kalau aku katakan ingin bertemu, artinya dia harus bertemu denganku!” Sosok Reinar tiba-tiba menghilang, tapi tak lama dua ninja merasakan dingin di punggung mereka.


Keduanya tahu sosok yang sebelumnya berasa di depan mereka, saat ini sosok itu sudah berada di belakang mereka, dan tak satupun dari mereka tahu bagaimana cara orang itu melakukan pergerakan cepat tanpa terlihat.


Mereka berempat benar-benar terdiam, tidak tahu harus melakukan apa karena lawan yang datang bukanlah lawan yang dapat ditaklukkan dengan kemampuan milik mereka.


“Apa sekarang kalian semua sekarang sudah mengerti kalau aku ingin bertemu dengan pemimpin kalian?”


Keempat ninja mengangguk mendengar pertanyaan Reinar. Pergerakan mereka dimatikan oleh Reinar, dan mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk membebaskan diri dari apa yang dilakukan Reinar.


“Sekarang aku ingin memberi pilihan pada kalian! Pergi dari tempat ini dalam keadaan hidup, atau mati di tempat ini karena terus-terusan menghalangi tujuanku?” Reinar memberi mereka dua pilihan, dan secepatnya mereka harus menentukan pilihan.


“Karena kalian memutuskan untuk pergi, aku tidak memiliki hak menahan kalian di tempat ini, tapi kalian hanya memiliki waktu tiga detik menghilang dari pandanganku!”


Mendengar itu, langsung saja mereka berempat melesat pergi, dan kurang dari tiga detik mereka benar-benar telah menghilang dari pandangan Reinar.


“Kalian memang bisa pergi meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup-hidup, tapi kalian tetap saja akan mati di tangan mereka!”


Menghubungi salah satu assassin bayangan yang ikut dengannya memasuki bangunan dengan menggunakan alat komunikasi jarak jauh, Reinar memberi tugas pada mereka membunuh empat ninja yang turun dari lantai atas.


“Urusan mereka telah terselesaikan, sekarang aku bisa melanjutkan perjalanan menuju lantai kesembilan. Namun sayangnya di lantai itu tidak ada penjaga, melainkan hanya ada berbagai jenis senjata yang dikontrol langsung oleh dia yang ada di lantai sepuluh.”


Menggunakan mata tembus pandang, jelas Reinar melihat apa yang menanti kedatangannya di lantai sembilan.


Sampai di ujung anak tangga di lantai sembilan, kedatangannya sudah disambut rentetan tembakan yang seluruh pelurunya mengarah pada dirinya.

__ADS_1


Namun, dari puluhan dan ratusan peluru, tak satupun peluru berhasil mengenai Reinar, bahkan pria itu masih tenang melangkahkan kaki menuju jalan ke lantai sepuluh.


“Mencoba membunuhku menggunakan senjata yang jelas-jelas tidak berguna padaku. Lantai sembilan sepertinya lebih mudah dilalui dibandingkan lantai-lantai sebelumnya.” Reinar bergumam lirih sambil terus melangkahkan kakinya.


Terus saja melangkahkan kaki, Reinar telah menapaki anak tangga menuju lantai kesepuluh. Diiringi ratusan peluru yang terus ditembakkan ke arahnya, Reinar melanjutkan langkah kakinya penuh ketenangan, dan akhirnya dia sampai di depan satu-satunya ruangan di lantai sepuluh.


Sekali tendang pintu itu hancur, dan sekarang Reinar dapat melihat satu-satunya orang yang berada di balik pintu.


“Aku tidak menyangka dapat bertemu dengan Tuan Virgo, salah satu pemimpin kelompok Tubuh Besi.”


Reinar sedikit membungkukkan tubuhnya, memberi sedikit penghormatan pada pria yang dulunya merupakan salah satu orang kepercayaan ayahnya.


“Seharusnya aku yang mengatakan semua itu karena beruntung bagiku bisa mati bersama putra orang yang dulu aku layani.” Virgo memegang alat, yang dari bentuknya alat itu merupakan pemicu bom jarak jauh.


Melihatnya, Reinar hanya menggelengkan kepala, kemudian berkata, “Aku tidak menyangka kamu sudah mengetahui isentitasku, tapi untuk mati bersamamu, jelas aku menolaknya.”


Reinar sudah memastikan seluruh peledak sudah dinonaktifkan. Jadi, alat pemicu bom di tangan Virgo sama sekali tidak berguna, dan sepertinya pria itu tidak tahu apa yang sudah terjadi.


Dia masih percaya diri dengan pemicu bom di tangannya, dan yakin dapat membawa Reinar mati bersama dirinya.


“Aku sudah memasang banyak peledak di lantai satu dan lantai dua. Sekuat apapun tubuhmu, begitu bom di kedua lantai ini meledak dan meruntuhkan bangunan ini, kamu pasti mati bersamaku di tempat ini!”


Virgo percaya diri mengatakan itu, sedangkan Reinar hanya terkekeh pelan sambil berjalan mendekat ke arah pria itu. “Kalau kamu ingin meledakkan tempat ini, lakukan saja! Namun, itu juga kalau kamu bisa melakukannya.”


“Asal kamu tahu, alat sampah di tanganmu sama sekali tidak berguna karena aku sudah menjinakkan selurub peledak aktif di lantai saru maupun lantai dua.”


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2