Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 26. Pulang


__ADS_3

“Kalian berdua keluarlah! Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian, terutama denganmu.” Calvin meminta Reinar dan Erina keluar dari mobil, dan saat ini dia mengarahkan jari telunjuk pada Reinar.


Mendengar itu Reinar menunjukkan senyumnya pada Erina. “Kamu tetap di dalam, dan biarkan aku sendiri yang menemuinya!” Reinar meminta Erina tetap di dalam mobil sedangkan dia memutuskan keluar menemui Calvin.


Erina mengikuti permintaan Reinar dengan tetap diam di dalam mobil, sedangkan Reinar sudah berada di luar menemui Calvin. Ada rasa khawatir yang dirasakan Erina, tapi mengingat semua kelebihan yang dimiliki Reinar, dia tahu pria itu sudah memiliki rencana menghadapi Calvin dan orang-orang yang datang bersamanya.


Reinar yang sudah berada di luar, dengan tenang dia dia berdiri tepat di depan mobil Erina, dan hanya berjarak lima langkah dari Calvin yang berdiri di depannya.


Melihat Reinar sudah berada di luar mobil Calvin tak sungkan menunjukkan senyuman liciknya, dia merasa sudah satu langkah berhasil dengan rencananya, dan sekarang tinggal mengeksekusi rencana yang mana dia berencar menyingkirkan Reinar dari hidup Erina.


“Bunuh orang itu untukku!” Calvin memberi perintah pada orang-orang berpakaian serba hitam membunuh Reinar.


Lima orang berpakaian serba hitam langsung saja mengeluarkan berbagai jenis senjata tajam dan langsung menyerang Reinar begitu menerima perintah Calvin. Mereka menyerang bersamaan dengan gerakan sangat cepat. Jika lawan mereka adalah orang biasa, pasti orang itu mati hanya dalam sekali serang.


Sayangnya lawan mereka adalah Reinar yang selain memiliki kecepatan jauh lebih cepat dari manusia tercepat di dunia, dia juga memiliki kekuatan yang mampu membunuh manusia biasa hanya dengan satu pukulan.


Setelah berkali-kali menghindari serangan yang tertuju padanya, Reinar melakukan serangan balik yang seluruh serangannya menargetkan titik vital kelima musuhnya.


“Bugh... Bugh... Bugh...” Tiga pria berpakaian hitam seketika tumbang dengan darah menyembur keluar dari mulutnya, seteleh masing-masing dari mereka terkena pukulan Reinar.


“Kalau kalian ingin bernasib sama dengan mereka, silahkan maju dan dengan senang hati aku akan membuat kalian bernasib sama dengan mereka bertiga.” Reinar menunjukkan senyuman di hadapan dua pria berpakaian hitam.


Keduanya yang tidak percaya akan bernasib sama seperti tiga orang lainnya, mereka tetap saja maju menyerang Reinar, dan pada akhirnya mereka tumbang dengan luka yang lebih parah dibandingkan tiga orang yang sudah lebih dulu tumbang.

__ADS_1


Reinar mengarahkan pandangannya pada Calvin yang tubuhnya sudah gemetaran. “Aku tidak pernah ada masalah denganmu, tapi jangan kamu berpikir aku tidak berani melawan saat kamu ingin berbuat buruk padaku! Kali ini aku membiarkanmu, tapi tidak untuk lain kali.” Reinar tidak sedang mengancam, tapi dia benar-benar akan melenyapkan Calvin jika masih berani mengganggunya.


“Semuanya sudah selesai. Sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan!” Reinar berkata pada Erina begitu sudah kembali berada di dalam mobil.


Erina mengangguk, kemudian dia kembali mengemudikan mobil. “Aku sudah merekam semua kejadian yang baru saja terjadi. Kalau saja dia ingin memutar balik fakta dengan melakukan tuduhan kamu telah melakukan penganiayaan, bukti yang aku miliki sudah lebih dari cukup untuk membuktikan merekalah yang lebih dulu melakukan penyerangan.”


“Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan itu karena tak akan pernah ada hukum di dunia ini yang mampu menjebloskan aku ke dalam penjara.” Dengan sistem kebal hukum yang dimilikinya, hanya hukum kematian dari Sang Pencipta yang berlaku untuknya.


“Jangan mengatakan omong kosong padaku! Kehidupan semua orang di dunia ini diatur oleh hukum, dan aku tidak ingin kamu mendapatkan hukum yang tak seharusnya kamu dapatkan.” Erina tidak akan membiarkan prianya terkena masalah akibat menjalin hubungan dengan dirinya.


Reinar tersenyum mendengarnya. “Sepertinya aku tidak melakukan kesalahan saat menerima kamu dan mereka bertiga menjadi wanitaku. Kalian memang wanita terbaik untukku.” Tak ragu Reinar memberi pujian untuk keempat wanitanya.


Erina tersipu mendengar itu. ‘Ini kali pertama aku merasa sangat senang saat ada pria memuji diriku, meskipun pujian itu bukan khusus hanya untukku.’ katanya membatin.


...----------------...


“Apa kamu ingin langsung ke bandara, atau ingin bermain satu kali lagi denganku?” Erina yang masih terduduk di tepian tempat tidur terpesona dengan tubuh Reinar yang keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk.


“Kita masih punya waktu tiga jam sebelum keberangkatan pesawat. Kalau kamu ingin, kenapa juga kita tidak melakukannya?” Reinar membuka handuknya, yang ternyata di balik handuk dia sama sekali tidak menggunakan apa-apa, dan langsung saja dia mendorong Erina jatuh di atas lembutnya tempat tidur.


“Apa kamu ingin bermain cepat dan sedikit kasar? Kalau kamu ingin melakukan itu, aku tidak terpikirkan untuk menolak keinginanmu.” Erina membiarkan Reinar melakukan apapun padanya. Mendapatkan lampu hijau, Reinar mulai melakukan semua yang ingin dia lakukan, dan terjadilah pertempuran panas di pagi hari yang berlangsung singkat.


Tiga jam kemudian Reinar dan Erina sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka pulang ke Indonesia. Tiga rekam Erina dan tiga wanita yang dikirim Liona juga berada di dalam pesawat yang sama dengan keduanya, dan satu hal yang tak mereka duga Calvin ternyata juga berada di dalam pesawat yang sama.

__ADS_1


“Bukannya dia sedang berlibur, kenapa tiba-tiba memutuskan pulang? Dan lagi kenapa juga harus naik pesawat biasa sedangkan dia memiliki pesawat pribadi yang bisa membawanya pergi ke manapun selama masih berada di Bumi?” Erina sangat risih dengan keberadaan Calvin yang berada di dalam pesawat yang sama dengan dirinya.


“Biarkan saja dia melakukan semua yang ingin dilakukan, asalkan apa yang dilakukannya tidak mengganggu kita. Kalau dia masih memiliki niatan mengganggu kita, aku tidak akan segan mematahkan lehernya!” Reinar tidak takut membunuh orang demi kenyamanan hidupnya.


Erina hanya menganggukkan kepala bersamaan dengan pesawat yang memulai proses take-off, dan kurang dari sepuluh jam pesawat akan sampai ke tempat tujuan.


Begitu pesawat sudah mengudara dan pilot sudah mengizinkan penumpang melepaskan sabuk pengaman, tiba-tiba seorang pramugari menghampiri Erina.


“Nona Erina, Tuan Muda Calvin menunggu Nona di depan.” Pramugari itu menunjuk ruang first class. “Keseluruhan tempat duduk first class telah dibeli oleh Tuan Muda Calvin, dan Nona adalah satu-satunya orang yang diizinkan menemaninya.” Pramugari itu menjelaskan kalau Calvin sedang demam, dan hanya ingin dirawat oleh Erina.


“Maaf aku tidak memiliki kepentingan dengan pria itu dan aku juga tidak peduli dengan apapun yang terjadi padanya. Terlebih lagi aku di pesawat ini bersama kekasihku, jadi bagaimana mungkin aku pergi menemani pria lain? Kalaupun tidak ada kekasihku, aku juga tidak sudi menemani pria lain!” Erina, Reinar dan enam wanita lainnya menempati kursi Business Class, dan kebetulan hanya mereka berdelapan yang menempati kursi Business Class. Jadi, dia tidak khawatir ada yang terganggu setelah mendengar perkataannya.


“Nona Erina, tapi Tuan Muda Calvin benar-benar sedang membutuhkan perawatan, dan hanya Nona yang diizinkan Tuan Muda memberi perawatan padanya.” Pramugari itu terus mendesak supaya Erina mau menemani Calvin.


“Kalau dia benar-benar membutuhkan perawatan, dia tidak akan terlalu pilih-pilih pada siapa yang ingin merawatnya. Dia mengatakan hanya wanitaku yang diberi izi merawat dirinya. Dari situ aku tahu kalau dia tidak apa-apa, dan sebaiknya kamu segera pergi karena keberadaanmu dudah mengganggu ketenangan kami sebagai penumpang!” Reinar menatap tajam pramugari yang berdiri di samping Erina, membuat wanita itu ketakutan dan buru-buru pergi.


“Kalau saja dia yang datang sendiri menemuimu, dengan senang hati aku akan melemparnya keluar dari pesawat ini.” Reinar hanya mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Erina hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar semua itu. Sedangkan enam orang lainnya, mereka hanya bisa menghela napas panjang.


“Kalau Tuan Muda melempar pria itu keluar dari pesawat ini, bukan hanya pria itu yang mati, tapi kita semua yang berada di pesawat juga akan mati.” Salah satu rekan Erina berkata sedangkan dua lainnya hanya menganggukkan kepala.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2