
Reinar dan Malvin berpindah ke tempat lainnya. “Ini yang kedua dan masih ada empat kelompok lainnya yang berada di tempat berbeda. Kali ini mereka benar-benar mengerahkan banyak kekuatan untuk menyerang kita. Dengan jumlah sebanyak ini, aku khawatir mereka masih memiliki lebih banyak anggota yang belum dikerahkan.” Reinar khawatir jumlah musuh jauh lebih banyak dari yang sudah dikerahkan.
“Organisasi Red Cobra memiliki lebih dari dua ribu anggota yang tersebar di beberapa negara, dan pusat mereka berada di negara ini. Dari jumlah yang mereka kerahkan, tentu masih banyak yang belum dikerahkan.” Malvin sudah lama mengumpulkan informasi tentang organisasi Red Cobra, dan informasi yang didapatkannya sembilan puluh persen akurat.
“Kalau seperti itu sepertinya membutuhkan banyak waktu untuk menghancurkan asosiasi Red Cobra sampai ke akar-akarnya.” Reinar memiliki misi menghancurkan organisasi Red Cobra dari sistem. Setelah mendengar informasi Malvin, sekarang dirinya tahu kenapa sistem tidak memberinya batas waktu dalam menyelesaikan misi.
“Pasukan elite sudah belasan tahun memburu anggota organisasi Red Cobra, tapi baru akhir-akhir ini banyak anggota organisasi Red Cobra yang berhasil di tangkap, dan semua itu tak lepas dari apa yang kakak ipar lakukan.”
Meski kebanyakan yang tertangkap dalam keadaan mati, setidaknya itu sebuah kemajuan signifikan setelah selama belasan tahun pasukan elite telah banyak kehilangan anggota karena memburu anggota organisasi Red Cobra.
Reinar yang mendengar itu sama sekali belum bangga akan pencapaiannya. Dirinya baru akan bangga setelah memberikan kehidupan damai yang menyenangkan untuk orang-orang terdekatnya.
“Kita bahas lagi itu nanti. Sekarang sebaiknya kita kembali berfokus pada mereka.” Reinar melihat layar HP di tangannya, dimana di layar HP terlihat pergerakan yang dilakukan oleh satu kelompok, yang hanya berjarak beberapa meter dari posisinya saat ini.
“Kakak ipar, apa kita akan melakukan penyerangan seperti sebelumnya?” Malvin bertanya pada Reinar tentang rencana penyerangan yang akan digunakan.
Reinar menggelengkan kepala pelan. “Menyerang seperti sebelumnya terlalu lama dan beresiko membuat pergerakan kita ketahuan kelompok lainnya. Lebih baik kita serang mereka menggunakan senjata api.” Reinar membeli peredam senjata dari toko sistem. Dia juga membelikan peredam senjata untuk meredam suara senjata Malvin.
Peredam yang dibeli dari toko sistem kualitasnya jauh lebih baik dari peredam biasa. Selain meredam suara tembakan sampai benar-benar tak terdengar, peredam yang dibeli dari toko sistem tidak menambah berat senjata.
“Meski sudah memasang peredam, aku merasa pistol di tanganku tidak bertambah berat. Berbeda dengan peredam yang aku miliki yang cukup menambah berat pada pistol.” Malvin kagum dengan peredam pemberian Reinar, dan dia merasa peredam ini juga buatan tangan pria itu.
“Aku tidak tahu kakak iparku ini otaknya terbuat dari apa, tapi aku merasa dia adalah sosok dengan kepintaran luar biasa, dan mungkin dia adalah sosok paling pintar di dunia ini.” Malvin bergumam lirih sambil terus bergerak perlahan mengikuti Reinar di depannya.
Keduanya saat ini hanya berjarak belasan meter dari musuh, bahkan dari tempat mereka berdiri, keduanya dapat melihat jelas keberadaan musuh yang terlihat sedang menunggu perintah.
__ADS_1
Menggunakan mata tembus pandang, Reinar mencoba melihat perlengkapan apa saja yang dimiliki musuhnya. “Mereka ada delapan orang, dan masing-masing membawa senapan serbu dengan peredam suara.”
“Kali ini mereka lebih berbahaya dari yang sebelumnya, tapi kamu tidak perlu khawatir karena kedua gelang di pergelangan tanganmu akan memberikan perlindungan padamu.” Selesai mengatakan itu pada Malvin, Reinar mulai memperpendek jarak dengan musuh.
Melihat sekeliling, dia menemukan sebuah celah tersembunyi yang bisa dimanfaatkan untuk menyerang musuh. Langsung saja dia membawa Malvin pergi ke tempat itu.
Dibelakang pagar dengan celah yang dapat digunakan untuk melakukan serangan. Saat ini Reinar dan Malvin berada di tempat itu, dan bersiap melakukan serangan.
“Malvin, bereskan dua orang di sisi kanan! Sisanya serahkan padaku!” Malvin menganggukkan kepala mengerti dengan apa yang harus dilakukannya setelah mendengar perkataan Reinar.
Sementara itu, Reinar memilih menjaga jarak dari Malvin dan sudah siap ditempat untuk melakukan serangan. Melihat adanya kesempatan menyerang memanfaatkan kelengahan musuh, Reinar langsung saja melakukan serangan, yang diikuti serangan Malvin.
Tak terdengar sedikitpun suara peluru, tapi tiba-tiba saja empat dari delapan orang tumbang dan mengalami kejang-kejang sebelum mereka berempat mati dengan tubuh berlumuran darah.
Belum juga hilang kebingungan yang mereka alami, dua orang kembali tumbang bersamaan dengan munculnya sosok Reinar yang mengarahkan pistol ke arah kepala dua orang terakhir. “Semoga kalian tenang hidup di dasar neraka.” Reinar mengatakan itu pada keduanya sebelum mengakhiri hidup mereka.
“Satu kelompok lagi tumbang, tinggal empat kelompok.” Baru juga Reinar mengatakan tinggal empat kelompok, Wina menghubunginya dan mengatakan kalau ada kelompok baru yang saat ini berada di luar komplek perumahan.
Jumlah mereka ada puluhan orang dan sepertinya mereka adalah anggota tambahan yang dikirim untuk membantu anggota yang sudah berada di dalam area komplek perumahan.
‘Ini tidak akan berakhir dengan mudah.’ Reinar membatin sambil mengumpulkan mayat-mayat dengan bantuan Malvin. Malvin sendiri sudah tahu keberadaan anggota tambahan musuh karena semua orang saat ini saling terhubung dengan alat komunikasi.
“Malvin, bukannya berkurang, musuh yang kita hadapi justru semakin banyak.” Kembali mengisi peluru ke pistolnya, Reinar bersiap menyerang kelompok selanjutnya untuk mengurangi jumlah musuh yang sudah berada di dalam area komplek perumahan.
“Anggota pasukan elite akan segera datang, tapi sepertinya mereka butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di tempat ini.” Malvin berkata pada Reinar.
__ADS_1
“Tiga puluh menit lebih dari cukup untuk kita membersihkan seluruh kelompok yang sudah berada di area komplek perumahan.” Reinar membawa Malvin ke tempat kelompok selanjutnya, membiarkan tumpukan mayat di tempat yang cukup tersembunyi.
...----------------...
Dalam tiga puluh menit Reinar dan Malvin berhasil melumpuhkan tiga dari empat kelompok yang sudah berada di area komplek perumahan, dan hanya menyisakan satu kelompok yang saat ini berada tak jauh dari rumah tempat Wina dan yang lainnya.
Kelompok terakhir beranggotakan lebih dari sepuluh orang, dan saat ini mereka sedang mengawasi rumah yang ditempati Wina dan yang lainnya. Salah satu dari mereka mencoba meretas kamera CCTV di dalam rumah, tapi dia terus-terusan gagal melakukannya.
Meretas kamera CCTV yang biasanya sangat mudah dilakukan olehnya, sekarang benar-benar sangat sulit dilakukan. Usahanya selalu mental, bahkan beberapa kali dia mendapatkan serangan balik berupa virus yang dapat menghancurkan perangkat elektronik nya.
Terus berusaha dan terus-terusan gagal, dia merasa kalau target yang ingin dimusnahkan telah mengetahui pergerakan rekannya yang terbagi menjadi beberapa kelompok. Untuk memastikan kelompok lainnya dalam keadaan baik-baik saja, dia mencoba meretas kamera CCTV perumahan.
Baru juga ingin melakukan peretasan, tiba-tiba virus yang sangat kuat menyerang perangkat elektroniknya. "Ini buruk, sepertinya mereka sudah mengetahui keberadaan kita! Hubungi yang lainnya, minta mereka untuk meningkatkan kewaspadaan!”
Mendengar perkataan orang yang sejak tadi sibuk dengan segala perangkat elektroniknya, salam satu dari mereka mencoba menghubungi kelompok lain yang tersebar di berbagai tempat. Menghubungi dari kelompok terdekat sampai kelompok terjauh, dia tidak mendapatkan balasan dari mereka.
Tak mendapatkan balasan dari orang-orang yang dihubunginya, orang itu merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi pada mereka, dan mungkin yang terjadi pada mereka akan segera terjadi pada kelompoknya. “Aku tidak bisa menghubungi siapapun, seolah mereka semua telah mati!”
Mendengar itu, semua anggota kelompoknya mencoba tetap tenang, dan sebisa mungkin memenuhi pikiran mereka dengan hal positif.
Orang yang ditunjuk sebagai pemimpin kelompok berkat, “Sebaiknya kita maju menyerang mereka daripada terus diam di tempat ini menunggu perintah penyerangan! Lebih lama lagi berdiam di tempat ini, semua itu hanya akan memperburuk posisi kita.”
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1