
“Sepertinya dia sangat ingin bertemu denganku, bahkan sampai begitu terburu-buru mengajakku ketemuan.” Reinar berkata setelah membaca pesan Rita.
Dia hanya menjawab ya, dan setelahnya tak lagi melihat layar HP nya. Namun, apa yang baru dilakukannya sudah membuat penasaran kedua wanitanya.
“Siapa yang baru berkirim pesan denganmu, dan kenapa dia sangat ingin bertemu denganmu?” Dengan rasa penasaran yang tak lagi dapat ditahan, Erina menanyakan semua itu pada Reinar.
Tak langsung menjawab, Reinar justru memberikan HP nya pada Erina. “Nanti malam kamu temani aku bertemu dengannya.” Reinar berkata pada Erina saat wanita itu fokus membaca pesan Rita yang ada di HP nya.
“Aku pasti menemanimu kalau itu berhubungan dengan wanita ini, dan aku peringatkan padamu untuk tidak lama-lama menatap kedua matanya!” kata Erina.
“Ada apa dengan kedua matanya? Apa dia memiliki mata istimewa seperti yang aku miliki?” Kini giliran Reinar yang melontarkan pertanyaan pada Erina.
“Banyak yang mengatakan matanya bisa menghipnotis mereka yang lama menatap kedua matanya.” Erina menjawab.
Reinar menganggukkan kepalanya mendengar itu. “Sistem, apa mata Dewa yang aku miliki dapat menangkal segala jenis hipnotis yang mengarah ke arah mata?” Reinar bertanya pada sistem.
Belum juga mendapat balasan, Reinar tiba-tiba saja memukul keningnya sendiri. ‘Aku lupa kalau sistem masih dalam proses peningkatan versi.’ Reinar membatin dan dirinya sepertinya harus membuktikan sendiri kehebatan mata Dewa miliknya dalam melawan teknik hipnotis yang dimiliki Rita.
“Kenapa tiba-tiba kamu memukul kepalamu sendiri? Apa ada yang salah dengan otakmu?” Eliza yang merasa aneh dengan apa yang baru dilakukan Reinar, akhirnya dia membuka suara untuk bertanya.
Bukannya marah, Lin Feng justru tersenyum mendengarnya. “Tidak ada yang salah dengan otakku, tapi barusan aku merasa sedikit pusing, dan mungkin itu efek rasa lelah karena akhir-akhir ini aku jarang memiliki waktu istirahat panjang.” Reinar berkata memberi alasan.
“Kalau kamu kurang sehat, sebaiknya nanti malam tidak usah bertemu dengannya!” Erina berkata sambil memberikan HP Reinar pada Eliza.
“Aku tidak apa-apa. Sekarang aku cuma butuh istirahat, dan aku bisa istirahat di ruangan sebelah.” Reinar menunjuk ruangan yang menyatu dengan ruang kerjanya, tapi terdapat pembatas dinding dan pintu kaca antara ruangan itu dan ruang kerjanya.
“Kalau begitu kamu bisa istirahat, dan biarkan aku yang menyelesaikan semua pekerjaan, yang belum kamu selesaikan.” Dengan kemampuannya, Eliza yakin dapat menyelesaikan tugas Reinar yang belum terselesaikan.
__ADS_1
“Aku bisa membantu menyelesaikan pekerjaan Eliza, dan sebaiknya kamu segera pergi ke ruangan sebelah untuk beristirahat!” Erina tidak keberatan membantu Eliza selama itu bisa meringankan pekerjaan Reinar.
Melihat keseriusan di kedua mata wanitanya, tidak ada alasan baginya untuk menolak keinginan mereka. “Baiklah, aku istirahat di ruangan sebelah, dan bangunkan aku saat jam pulang kerja.”
Reinar langsung saja bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke ruangan sebelah. Sedangkan Eliza dan Erina, keduanya bekerjasama menyelesaikan pekerjaan Reinar, yang bagi mereka pekerjaan itu sangat mudah diselesaikan.
“Aku bisa melihat dia sangat kelelahan meski dari luar terlihat baik-baik saja.” Erina berkata pada Eliza sambil membantu menyelesaikan pekerjaan Reinar.
“Dia sangat baik dalam menyembunyikan apa yang dirasakannya, tapi aku harus mengakui kalau dia sangatlah bertanggung jawab sebagai seorang pria dengan lima istri.” Eliza membalas perkataan Erina.
“Saat ini mungkin cuma lima, tapi kita tidak tahu ke depannya apa dia masih menginginkan wanita lainnya.” Melihat keberadaan Cleo, entah kenapa Erina merasa wanita itu adalah sosok wanita keenam dalam kehidupan Reinar.
“Aku merasa tahu siapa wanita yang mungkin menjadi wanita keenam dalam hidupnya.” Cleo juga nama wanita yang terlintas dalam pikiran Eliza.
“Apa kamu keberatan jika dia menambah satu lagi wanita? Kalau aku, jujur saja aku tidak keberatan dengan semua itu karena di zaman ini wajar seorang pria memiliki banyak istri.” Erina bahkan pernah melihat seorang pria dengan belasan istri.
"Aku juga tidak keberatan asalkan dia bisa adil dalam memberikan apa yang kita butuhkan.” Eliza berkata sambil tersenyum, begitu juga dengan Erina yang tersenyum setelah mendengar perkataan Eliza.
...----------------...
“Nyonya, apa perlu aku mengirim anggota lainnya untuk menguji kehebatan pria itu? Kalau Nyonya mengizinkan, tiga anggota terbaik kita siap menguji pria itu.” Wanita berambut biru di hadapan Rita membuka suara, sedangkan Rita dengan cepat menggelengkan kepala, setelah mendengar semua itu.
“Aku sudah cukup mengujinya. Mengirim semakin banyak orang, hanya akan membuat kita semakin merugi olehnya, dan aku tidak ingin rugi lebih besar hanya karena keinginan menguji kelebihannya.” Rita berkata dengan sorot mata tajam menatap wanita berambut biru.
“Kalau begitu, apa sekarang yang ingin Nyonya lakukan padanya? Apa kita segera menemui pria itu, dan menyampaikan maksud dari tujuan Nyonya menguji kelebihan yang dimilikinya?” Wanita berambut biru bertanya dengan rasa penasaran tentang apa yang ingin dilakukan Rita.
“Selama bertahun-tahun menguji, hanya dia yang lolos dari ujian tanpa luka, bahkan dia membunuh hanya dengan sekali gerakan. Menurutmu, apa ada sosok lain yang pantas menempati posisi itu selain dia?” Rita bertanya balik pada wanita berambut biru di hadapannya.
__ADS_1
“Menurutku, sampai sekarang tidak ada kandidat yang sama kuatnya dengan dia, apalagi melampaui kekuatannya.” Wanita berambut biru memberi jawaban jujur.
Rita menganggukkan kepalanya puas karena dirinya juga memiliki penilaian yang sama dengan wanita berambut biru, yang sudah belasan tahun menjadi orang kepercayaannya.
“Kalau begitu malam ini kamu temani aku bertemu dengannya di tempat biasa! Tidak perlu membawa banyak orang karena aku yakin dia hanya membawa salah satu wanitanya.”
“Apa kita tidak perlu membawa para assassin bayangan untuk memberi perlindungan lebih pada kita? Bagaimanapun juga Nyonya maupun aku belum terlalu mengenalnya, dan aku tidak tahu berada seberapa besar kekuatannya.” Wanita berambut biru mengkhawatirkan keadaan Rita jika hanya pergi berduaan.
“Kita tidak perlu membawa mereka karena keberadaan mereka hanya membuat dia curiga kita memiliki niat buruk padanya.” Rita tentu tidak ingin Reinar berpikiran buruk tentangnya karena dirinya sama sekali tidak memiliki niatan buruk padanya.
Soal ujian yang bahkan mengancam nyawa Reinar, Rita sudah memperhitungkan segalanya. Dia memiliki keyakinan Reinar tidak mungkin mati, meski dirinya memperkirakan pria itu mendapatkan luka kecil sebelum mengakhiri hidup orang-orang yang dibuatnya seolah sangat menginginkan nyawanya.
“Nyonya tidak perlu khawatir tentang keberadaan mereka, aku bisa memastikan mereka berada di tempat tersembunyi, dan hanya kita yang tahu tempat persembunyian mereka.” Wanita berambut biru meyakinkan Rita untuk tetap membawa assassin bayangan.
“Kalau kamu bisa menjamin tidak ada orang lain yang mengetahui keberadaan mereka selain kita, aku mengizinkan empat assassin bayangan ikut bersama kita! Ingat, hanya empat dan tidak lebih!”
Wanita berambut biru menganggukkan kepala. “Empat orang jauh lebih membuatku yakin dapat melindungi Nyonya, dibandingkan pergi tanpa mereka.” Terlihat kelegaan di wajah wanita berambut biru dengan keputusan yang diambil Rita.
“Kalau begitu kamu segera persiapkan mereka, dan satu jam dari sekarang kita berangkat!” Perintah Rita sangat tegas, membuat wanita berambut biru segera saja pergi mengerjakan apa yang diperintahkan Rita.
Sementara itu, di kantor Reinar, setelah istirahat selama beberapa jam Reinar sudah terbangun dan saat ini dia sedang mencuci wajahnya. Jika awalnya dirinya ingin pergi menemui Rita hanya bersama Erina, kini ada dua wanita lainnya yang akhirnya ikut pergi bersamanya.
Dua wanita itu adalah Cleo dan Eliza. Meski keduanya ikut, mereka nantinya tidak ikut masuk ke dalam hotel. Keduanya bertugas meretas kamera CCTV hotel, dan mencari keberadaan orang-orang yang mencurigakan.
Setelah Reinar mencuci muka dan kembali terlihat segar, dia bersama tiga wanita yang mengikutinya berjalan menuju parkiran mobil, dan memasuki mobil yang sama. Sedangkan untuk karyawan lain, mereka semua telah pulang, dan hanya menyisakan para security.
“Kalian semua ikuti apa yang aku perintahkan. Saat aku memberi perintah diam, kalian harus diam, dan tunggu perintah selanjutnya.” Mendengar itu ketiga wanita yang pergi bersama Reinar menganggukkan kepala, mengerti apa yang menjadi keinginan Reinar.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.