
Dua hati berlalu dengan cepat, dan akhirnya tiba hari dimana Reinar menikah dengan kelima wanitanya. Tidak ada banyak tamu yang dipastikan menghadiri jalannya acara pernikahan karena hanya anggota keluarga dan orang-orang terdekat yang diundang.
Sebelum menggelar acara pernikahan, Reinar sudah menemui Rita dan menyampaikan keputusannya yang setuju mengambil alih kursi kepemimpinan asosiasi Black Dragon. Rita tentunya sangat senang dengan keputusan Reinar, dan dia jauh lebih senang saat tahu Indah juga kembali ke dalam lingkungan asosiasi Black Dragon.
Sampai akhirnya tiba hari hari, hari pernikahan yang sudah dinantikan Reinar dan kelima wanitanya.
Sejak pagi hari berbagai macam acara telah dimulai. Dengan penjagaan berlapis super ketat, diharapkan semua acara berjalan lancar dari awal sampai akhir.
Adhitya setidaknya mengerahkan hampir dua ribu personil militer dan seratus personil militer khusus untuk membuat tiga lapis keamanan. Selain Adhitya, Rita juga membantu keamanan dengan mengerahkan lima ratusan assasin bayangan.
Keamanan berlapis diyakini sudah lebih dari cukup untuk menjaga kelancaran acara pernikahan, dan memberi ketenangan pada semua orang yang hadir dalam acara pernikahan.
“Entah kenapa aku merasa sangat tegang, seolah sedang dihadapkan dengan ratusan musuh yang mengarahkan senjata api ke arahku.” Reinar berkata sambil terus mondar-mandir di ruangan tempatnya dirias.
Malvin yang melihat semua itu hanya bisa terkekeh pelan sebelum akhirnya dia membuka suara. “Kamu langsung menikahi lima wanita dalam satu waktu, jadi wajar saja jika saat ini kamu merasa sangat tegang.”
Reinar duduk di kursi yang tersedia untuknya setelah mendengar perkataan Malvin. “Menikah bersama adalah keinginan mereka, dan aku hanya bisa menuruti apa yang menjadi keinginan mereka.”
Malvin tahu tentang itu dan dirinya cukup iri dengan kehidupan Reinar yang berhasil menaklukkan hati empat wanita, bahkan mereka akur satu sama lainnya.
Sedangkan dirinya sendiri, jangankan memiliki lima wanita yang dapat hidup rukun selayaknya para wanita Reinar, satupun wanita sampai sekarang belum berhasil dirinya dapatkan.
Saat keduanya sedang membicarakan perihal pernikahan, Indah tiba-tiba masuk ke dalam ruangan yang ditempati Reinar, dan karena ada yang ingin dibicarakan berdua dengan putranya Indah meminta Malvin lebih dulu keluar.
Malvin tidak keberatan dengan permintaan Indah, dan dia keluar untuk membiarkan Indah memiliki waktu berdua dengan putranya.
__ADS_1
“Aku tidak menyantka putra kecilku sudah tumbuh dewasa, dan sebentar lagi sudah memulai kehidupan rumah tangga.” Indah berkata sambil menunjukkan senyuman kebahagiaan di wajahnya.
“Sebentar lagi aku memang resmi menjadi suami dari lima orang wanita, tapi aku tetaplah putra kecil Ibu, yang senantiasa memerlukan kasih sayang Ibu.” Reinar bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia memeluk Indah yang postur tubuhnya sedikit lebih pendek darinya.
Indah membalas pelukan Reinar, keduanya cukup lama berpelukan sampai keduanya bersama-sama memyudahi apa yang sedang mereka lakukan. Acara inti pernikahan baru di mulai setengah jam lagi, dan dalam setengah jam Reinar ingin menghabiskan waktu bersama Indah.
Sementara itu, di ruangan yang ditempati para wanita, mereka baru saja selesai dirias, dan saat ini mereka sedang membicarakan rencana besar setelah selesainya sekuruh rangkaian acara pernikahan mereka.
Namun, pembicaraan mereka kini terfokus pada Eliza dan Wina yang sama-sama ingin menghabiskan malam pertama bersama Reinar. Untuk Wina yang masih anak sekolah, tentu bahaya baginya kalau kebobolan sebelum lulus. Sedangkan Eliza, mereka semua merasa Eliza masih terlalu dini melakukan itu.
Akan tetapi saat Wina maupun Eliza sama-sama mengatakan tentang keadilan, Erina, Bella serta Sarah tak lagi dapat melakukan apa-apa. Ketiganya sadar kalau kedepannya status mereka adalah istri Reinar, yang artinya setiap dari mereka berhak mendapatkan perlakuan adil dari Reinar.
Pada akhirnya Erina, Bella, serta Sarah hanya bisa mengikhlaskan Reinar merenggut kesucian dari dua wanita yang sebenarnya belum saatnya merasakan sensasi benda besar milik Reinar.
Sampai akhirnya tiga puluh menit berlalu, dan sudah saatnya mereka mengikuti prosesi pernikahan.
Berjalan menuju arah yang sama, Reinar dan kelima calon istrinya mulai memasuki aula pernikahan yang sudah di penuhi oleh ratusan tamu undangan.
Melangkah beriringan menuju altar pernikahan, keberadaan mereka jelas menjadi perhatian selurub tamu undangan. Banyak pemuda merasa iri dengan keberuntungan Reinar, tapi tak kalah banyaknya wanita yang rela menjadi istri keenam Reinar.
Seluruh pasangan pengantin yang menggunakan pakaian berwarna senada, yaitu keseluruhannya menggunakan warna putih, membuat mereka terlihat selayaknya Dewa dan Dewi yang sedang melakukan janji suci pernikahan.
Berdiri di altar pernikahan, mereka mengikrarkan janji suci pernikahan, dan setelahnya Reinar menyematkan cincin pernikahan secara bergantian kepada kelima wanita yang telah resmi menjadi istrinya. Sedangkan untuk memasangkan cincin ke jari tangannya, Bella mewakili empat saudarinya melakukan itu.
Sekarang mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri, dan tak satupun ada orang yang berani menentang atau keberatan dengan pernikahan mereka. Berakhirnya acara inti pernikahan, sekarang semua orang dapat menikmati pesta.
__ADS_1
“Suami, janji suci pernikahan telah kamu ucapkan. Seperti janjimu, kamu harus bersikap adil pada kami semua, dan tidak boleh memberi perlakuan berbeda pada kami meski banyak perbedaan dari kami. Untuk janji kesetiaan yang semalam kamu janjikan, kami sengaja melarangmu mengutarakan janji itu karena masih ada wanita di luar sana yang mungkin bisa menjadi kekasih hatimu.” Bella berkata pada Reinar begitu turun dari altar pernikahan.
“Lagi pula kami berlima sepertinya belum cukup untuk memberikan kenikmatan yang sesungguhnya pada suami, jadi sebaiknya suami segera mencari yang keenam, dan mungkin yang ketujuh.” Sarah tersenyum setelah mengatakan semua itu, sedangkan Reinar justru mengerutkan kening setelah mendengar semuanya.
Jika seorang istri pada umumnya melarang suami mereka menikah lagi, lain halnya dengan para istri Reinar yang menyuruh suami mereka mencari istri baru.
“Aku tidak mengerti apa yang ada dipikiran kalian, tapi aku sangat penasaran kenapa kalian begitu ingin aku menambah istri, sedangkan kita baru saja menikah? Apa aku benar-benar sekuat itu saat bermain dengan kalian di atas ranjang?” Bersuara setengah berbisik, Reinar menanyakan semua itu pada Erina, Bella serta Sarah yang sudah merasakan miliknya.
Tentu saja pertanyaan seperti itu tidak dirinya tanyakan pada Eliza dan Wina karena keduanya belum pernah melakukan semua itu dengannya, dan dirinya baru bisa melakukan semua itu begitu pesta pernikahan ini berakhir. Itu juga dirinya baru bisa melakukannya setelah mendapatkan izin dari tiga istrinya yang lain.
Jika istrinya yang lain tidak memberikan izin dirinya melakukan semua itu pada Eliza dan Wina, dirinya mungkin mempertimbangkan untuk tidak dulu melakukan semua itu dengan keduanya. Kecuali untuk Eliza, dia hanya bisa melawan keputusan ketiga wanitanya karena sebelumnya dirinya sudah berjanji melakukan itu dengannya, setelah acara pernikahan.
“Suami, kamu memang kuat dalam pertempuran di atas ranjang, bahkan setelah mengeluarkan banyak ****** *****, milik kamu masih saja tegak berdiri, dan selalu saja seperti itu meski sudah berkali-kali mengeluarkan ****** *****. Pertama kali melakukannya, aku bahkan hampir pingsan karenanya.” Erina berbisik di dekat telinga Reinar.
Bella dan Sarah memiliki jawaban yang sama dengan Erina, dan mereka sama-sama yakin berlima masih belum cukup untuk memberi kepiasa yang sesungguhnya pada suami mereka. Bagi mereka, setidaknya harus ada tujuh wanita untuk melakukan semua itu.
‘Harus aku akui, ketahananku di atas ranjang memang luar biasa, bahkan aku seperti tidak pernah puas meski sudah berkali-kali melakukannya.’ Reinar membatin membenarkan apa yang dibisikkan Erina.
Untuk menambah istri, dia bisa memikirkannya di lain waktu. Untuk sekarang dirinya ingin menikmati pesta pernikahan dengan lima wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
Dengan didampingi kelima istrinya, Reinar pergi menemui tamu undanga untuk sedikit berbasa-basi, dan setelah merasa cukup menyapa dan berbasa-basi mereka berenam memilih duduk di tempat yang telah disediakan khusus untuk mereka.
“Suami, jangan lupa janjimu! Malam ini kamu harus melakukannya, dan sepertinya Wina juga ingin bergabung dengan malam berdarah kita.” Tubuh Reinar merinding dan dia kesusahan menelan ludahnya sendiri setelah mendengar suara lembut bisikan Eliza.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.