Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 42. Berhasil Mendapatkan Informasi


__ADS_3

“Bagaimana, apa kita aktifkan kembali kamera CCTV untuk memancing orang itu? Aku rasa dia tak sehebat seperti yang kamu katakan, buktinya saja kamu hampir berhasil menemukan keberadaannya.” Dari tempat persembunyian Reinar dengan jelas mendengar suara seorang pria, tapi pria itu tidak sendirian.


“Aku memang hampir berhasil mengetahui keberadaannya, tapi aku sudah berkali-kali mengatakan padamu kalau sepertinya dia memang sengaja melakukan itu karena ingin memberi harapan palsu padaku.” Kali ini Reinar mendengar suara wanita, dan dirinya meyakini kalau wanita itu adalah orang yang semalam menemaninya bermain.


Kedua orang itu dan tempat persembunyian Reinar hanya berbatasan sebuah dinding. Namun, meski ada dindin yang membatasi, dengan mata tembus pandang Reinar dengan jelas melihat keberadaan mereka, dan dia merasa sedikit takjub mengetahui wanita yang semalam menemaninya bermain karena wanita itu ternyata masih begitu muda.


“Anggap saja semalam dia memang sengaja melakukan itu, tapi kalau dia kembali melakukan hal yang sama, seberapa yakin kamu dapat mengetahui keberadaan orang itu?” Suara pria kembali terdengar, dan Reinar sangat penasaran dengan jawaban si wanita.


Dengan mata tembus pandang Reinar melihat wanita itu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak memiliki keyakinan dapat mengetahui keberadaan orang itu, kecuali dia membiarkan aku mengetahui keberadaannya.” Wanita itu menjawab realistis karena dia sadar akan kemampuannya.


Pria dan wanita itu adalah Lin Dan Zein, orang kepercayaan Brandy yang bertugas memperkuat sistem keamanan siber miliknya. Akan tetapi, kemampuan keduanya sangat tidak berguna di hadapan seseorang yang semalam berhasil membobol tanpa ketahuan, sistem keamanan yang mereka ciptakan.


“Apa kemungkinan orang itu anggota asosiasi Red Cobra yang pergi melarikan diri bersama Bastian saat Tuan Brandy berhasil mengambil alih tempat ini?” Zein bertanya pada Liz, tapi tanpa sepengetahuannya, apa yang dia tanyakan membuat Reinar di tempat persembunyiannya tahu apa yang terjadi di markas asosiasi Red Cobra.


“Bastian tidak memiliki orang-orang hebat disisinya. Semua orang terbaiknya dipercaya pada Tuan Brandy, oleh karena itu Bastian tidak bisa melawan saan Tuan Brandy mengambil alih tempat ini. Orang itu pastinya bukan anggota Bastian.” Liz menjawab pertanyaan Zein, sekaligus menambah informasi untuk Reinar.


“Aku sangat berterimakasih pada kalian karena telah memberi jawaban dari apa yang ingin aku ketahui.” Reinar membatin dan kini dia bisa menyimpulkan kalau telah terjadi pemberontakan di dalam asosiasi Red Cobra, dan pemimpin asosiasi telah terusir dari wilayah kekuasaannya.


“Zein, apa kamu merasa ada orang lain di sekitar tempat ini dan dia mendengar apa yang sejak tadi kita bicarakan? Entah kenapa aku merasa ada orang lain yang diam-diam mencuri dengar pembicaraan kita.” Liz memiliki insting yang sangat tajam, dan biasanya instingnya selalu menunjukkan sebuah kebenaran.


Zein yang mendengar itu tentunya dia tidak menganggap Liz sedang mengatakan omong kosong karena sudah berkali-kali dia melihat kebenaran dari insting yang dimiliki wanita itu. Sementara itu, Reinar yang merasa keberadaannya akan segera tersembunyi, dia sama sekali tidak ketakutan. Dengan begitu tenang, dia masih saja duduk santai ditempat persembunyiannya.

__ADS_1


Benar saja setelah beberapa menit sosok Liz tiba-tiba muncul di depannya, tapi Reinar yang sejak awal tidak terkejut karena dia sudah melihat semuanya dengan mata tembus pandang. Sedangkan Liz yang datang seorang diri karena Zein sedang meminta bantuan dari anggota yang berjaga di depan, dia tak melihat adanya ancaman dari sosok yang dia temukan.


“Kalau kamu marah karena aku mendengar pembicaraanmu dengan pria itu, kamu tidak berhak melakukan semua itu karena aku sudah lebih dulu berada di tempat ini.” Dengan santainya Reinar mengatakan itu pada wanita di hadapannya yang menatap keberadaannya dengan penuh kecurigaan.


“Aku tidak pernah melihat keberadaanmu dintara anggota Tuan Brandy. Sebenarnya kamu siapa, dan kenapa berada di tempat ini?” Liz sangat penasaran dengan identitas pria di hadapannya. Selain tidak pernah bertemu dengannya, Liz merasa pria di depannya sedang menyembunyikan identitasnya karena wajahnya tertutupi sebuah topeng.


Meskipun topeng yang digunakan hanya menutupi bagian hidung dan mulut, tetap saja dirinya tidak bisa melihat secara keseluruhan wajah pria dihadapannya. Namun, dari warna kulitnya, Liz menyimpulkan pria dihadapannya usianya tak begitu jauh darinya.


Belum juga memberi jawaban dari pertanyaan yang diberikan padanya, Reinar melihat empat orang pria berjalan menuju ke tempat persembunyiannya. “Teman kamu datang membawa tiga orang pria dan masing-masing dari mereka membawa senapan serbu.” Reinar bangkit berdiri dan dengan tenang membersihkan debu yang menempel di celananya.


Setelahnya dia mengarahkan pandangan pada wanita di hadapannya. “Terimakasih atas informasinya yang baru kamu berikan padaku, dan terimakasih untuk permainannya semalam. Satu lagi, aku bukan anggota Bastian.” Reinar melesat pergi setelah mengatakan itu.


Tak lama setelah kepergian Reinar Zein datang bersama tiga pria dengan masing-masing membawa senapan serbu. Melihat itu Liz semakin terkejut karena apa yang dilihatnya sama persis dengan apa yang dikatakan pria misterius, yang baru saja pergi meninggalkan dirinya.


Sementara itu, Zein yang melihat Liz terdiam di tempatnya, dia merasa khawatir dan segera menghampiri wanita itu. “Apa yang sudah terjadi denganmu? Apa kamu menemukan sesuatu di tempat ini?” Zein bertanya begitu dia berdiri tepat di hadapan Liz.


Tubuh Liz tiba-tiba jatuh karena dia merasa seperti baru bertemu seorang Dewa. “Zein, sebaiknya kita jangan menyinggung orang yang semalam! Dia sangatlah mengerikan, bahkan dia bisa tahu kalau kamu datang bersama tiga orang dengan masing-masing dari mereka membawa senapan serbu...”


“Kamu lihat sendiri betapa tertutupnya tempat ini, tapi dengan mudahnya dia mengetahu kedatanganmu dan mereka. Katakan padaku, bagaimana manusia biasa seperti kita dapat mengetahui semua itu?” Liz mengatakan sorot mata tajam pada Zein.


Zein sendiri lebih dulu membantu Liz bangun, dan barulah dia menjawab. “Aku tidak tahu bagaimana ada manusia dapat melakukan itu, disaat mata yang kita miliki tidak memiliki kemampuan melihat objek yang terhalang tanpa bantuan kamera CCTV.”

__ADS_1


“Liz, apa kamu bertemu dengan orang itu di tempat ini? Kalau benar orang itu berada di tempat ini, katakan padaku dimana dia sekarang?” Zein bertanya sambil melihat sekelilingnya, tapi sejauh apa yang dapat terlihat oleh kedua matanya, dia tidak melihat keberadaan orang lain selain Liz dan tiga orang yang datang bersamanya.


“Dia sudah pergi meninggalkan tempat ini tak lama sebelum kamu datang. Gerakannya sangat cepat, dan mungkin kamu hanya akan merasakan hembusan angin saat dia melintas di dekatmu.” Liz memberi jawaban.


Mendengar itu, Zein teringat dengan angin kuat yang muncul sebelum dia memasuki ruangan keberadaannya saat ini. Angin itu terasa sangat aneh karena tiba-tiba muncul padahal sebelumnya dia sama sekali tidak merasakan adanya hembusan angin.


"Aku sepertinya tadi berpapasan dengannya, dan yah benar dia bergerak selayaknya angin. Awalnya aku cuma merasa aneh kemunculan angin yang begitu tiba-tiba, tapi setelah mendengar jawabanmu yang sedikit tidak masuk akal, entah kenapa aku percaya kalau yang barusan itu adalah manusia.” Zein percaya pada Liz karena selama ini wanita itu tidak pernah membohonginya, dan lagi tak ada gunanya berbohong padanya.


“Sebaiknya kita laporkan kejadian ini pada Tuan Brandy. Bagaimanapun juga orang itu sangat berbahaya, dan kita tidak tahu dia itu lawan atau lawan.” Liz ingin cepat-cepat menemui Brandy. Namun, baru juga ingin melangkah ke tempat Brandy, seorang anggota asosiasi Red Cobra yang memutuskan bergabung dengan Brandy tiba-tiba datang dengan napas terengah-engah.


“Beruntung kalian berada di tempat ini.” Sejenak orang itu menghela napas, kemudian dia kembali berkata. “Berkali-kali terdengar suara tembakan dari lantai tiga yang ditempati Tuan Brandy. Banyak anggota yang berlarian ke lantai tiga, tapi sampai saat ini belum ada yang kembali.”


Mendengar itu tiga orang yang sebelumnya mengikuti Zein segera berlari menuju lantai tiga, menyisakan Zein, Liz, dan seseorang yang masih terus menghela napas.


Liz yang sejenak hanya diam membisu, tiba-tiba saja kedua matanya melebar setelah mengingat seseorang yang baru ditemuinya. “Apa mungkin dia yang melakukannya? Tapi apa yang membuatnya melakukan itu pada Tuan Brandy? Apa sebelumnya Tuan Brandy pernah menyinggung nya?” Saat Zein dan satu orang lainnya pergi menyusul tiga orang yang lebih dulu pergi, Liz tetap berdiri di tempatnya dengan kaki gemetaran.


“Ka.. kalau benar dia yang melakukannya, aku sama sekali tidak bisa membantu.” Meski tak merasakan ancaman dari seseorang yang baru ditemuinya, tapi dirinya merasakan ketakutan pada sosok itu.


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2