Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 82. Menemani Bermain


__ADS_3

Indah dan Malvin telah sampai di rumah tak lama kemudian Reinar juga sampai. Ketiganya yang sampai dengan jarak tak begitu lama, mereka bersama-sama memasuki rumah.


“Putraku, apa kamu tahu dari kelompok mana mereka yang sebelumnya terus mengikuti mobil kami?” tanya Indah begitu dirinya, Reinar, serta Malvin duduk bersama di ruang keluarga.


Sedangkan para istri Reinar, mereka masih sibuk di dapur mempersiapkan makanan untuk makan malam bersama.


“Mereka berasal dari kelompok Stars Of Darkness, dan tujuan mereka terus mengikuti mobil kalian adalah untuk melakukan teror pada kalian.” Reinar memberi jawaban sesuai dengan apa yang diketahui olehnya.


“Mereka sepertinya mulai menargetkan kita setelah apa yang terjadi pada keluarga salah satu karyawanmu. Namun, bagaimanapun juga cepat atau lambat kita memang harus berurusan dengan kelompok itu,” ungkap Indah.


"Mereka terlibat dalam kematian ayah, dan aku belum merasa tenang sebelum membalas perbuatan mereka,” kata Reinar.


Baru juga Reinar selesai berkata, Erina dan Eliza datang, kemudian duduk mengapit tempat duduk Reinar. “Secepatnya kita pasti dapat menghancurkan mereka,” kata Erina.


“Kelompok Stars Of Darkness memang kuat, tapi aku yakin tidak sulit bagi kita mengalahkan mereka, selama kita bisa menyatukan tigas aspek penting yaitu, kekuatan, teknologi, serta kecerdasan.” Eliza menimpali perkataan Erina.


Reinar mengangguk mendengarnya, kemudian dia berkata, “Meski sulit menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya, tidak sulit bagi kita menghancurkan mereka yang berada di negara ini...”


“Dengan apa yang saat ini kita miliki, tak lama lagi kita pasti dapat menghancurkan mereka!” Dengan semua yang dimilikinya, Reinar yakin dalam waktu dekat dirinya dapat menghancurkan keberadaan kelompok Stars Of Darkness di negaranya saat ini.


“Untuk sekarang kita sudahi dulu pembicaraan karena sudah tiba waktu makan malam,” ungkap Erina bersamaan dengan munculnya tiga wanita yang mulai menata berbagai jenis makanan di meja makan.


Malvin buru-buru pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri karena dia risih menikmati makan malam dengan tubuh bau keringat. Indah juga melakukan hal yang sama. Meski tidak melakukan pekerjaan lapangan seperti yang dilakukan Malvin, tubuh Indah juga berkeringat, dan dia tidak nyaman dengan keadaannya.


Sambil menunggu Indah dan Malvin yang sedang mandi, Reinar memutuskan pergi ke kamarnya. Dia ingin mencuci muka dan berganti pakaian sebelum makan malam bersama anggota keluarganya.


Setelah semua orang berkumpul di ruang makan, mereka segera memulai makan malam bersama. Semua orang tenang memakan makanan di piring masing-masing, dan hanya terdengar suara benturan antara sendok, garpu, dan juga piring.


Selesai makan saat kelima istrinya sedang membersihkan peralatan dapur yang kotor setelah digunakan masak sedangkan Malvin memilih melakukan latihan malam di halaman belakang, Reinar bersama ibunya mengobrol santai di tepian kolam renang.

__ADS_1


“Nak, apa kamu tetap ingin membalaskan kematian Ayahmu pada mereka yang melakukannya? Jujur saja, aku tidak ingin kamu berada di situasi berbahaya, dan aku cuma berharap kamu menikmati kehidupan bersama para istrimu,” ungkap Indah.


“Ibu, apapun yang terjadi aku pasti membalas perlakuan mereka pada ayah! Sekalipun nyawaku sebagai taruhannya, aku tetap memiliki keinginan semua itu untuk memberi keadilan pada apa yang telah mereka semua lakukan pada Ayah.” Tenang Reinar membalas perkataan Indah.


“Sifat keras kepalamu sangatlah persis dengannya, dan aku sama sekali tidak memiliki kesempatan mencegah kamu membalas perbuatan mereka. Putra ibu sudah besar, dan tentunya dia tahu apa yang baik untuknya,” ujar Indah sambil tersenyum.


Reinar yang mendengar semuanya dari awal sampai akhir, tiba-tiba saja dia memegang kedua tangan ibunya menggunakan telapak tangan. “Ibu tidak perlu khawatir karena aku pasti berhasil memberi mereka hukuman yang layak untuk apa yang sudah mereka berikan pada ayahku!”


“Ibu percaya kamu pasti bisa melakukannya, tapi ingat untuk tidak senantiasa bertahan di gari terdepan saat kamu benar-benar membutuhkan bala bantuan untuk memenangkan sebuah pertempuran.” Pesan tegas Indah yang hanya dirinya berikan pada putra satu-satunya, yang tak lain adalah Reinar.


“Aku pasti bisa melakukannya, apalagi aku mendapatkan bantuan langsung dari orang-orang yang begitu aku cinta. Dengan dukungan orang-orang yang aku cintai, sekuat apapun lawan pasti dapat aku kalahkan!” kata Reinar sambil menunjukkan senyuman lembut di wajahnya.


Indah ikut tersenyum saat melihat senyum lembut di wajah putranya. Kemudian dia mengarahkan pandangan pada lima menantu cantiknya, yang bersama-sama jalan mendekat, dan duduk di kanan serta kiri suami mereka.


Melihat orang-orang yang disayanginya berkumpul, dia merasa tidak tega jika tak lama lagi harus meninggalkan mereka semua dalam kurun waktu yang tidak sebentar.


Namun dirinya harus pergi meninggalkan mereka untuk beberapa waktu, demi hidup yang lebih lama bersama dengan mereka. Waktu beberapa tahun tidak akan berarti banyak selama dirinya dapat hidup lebih dari seratus tahun bersama mereka.


Mendengar itu Reinar langsung saja meretas seluruh kamera CCTV di seluruh perumahan, untuk mencari keberadaab orang-orang bersenjata yang kemungkinan sudah berada di dalam kawasan komplek perumahan.


“Mereka sepertinya belum memasuki komplek perumahan, dan hanya menempatkan diri di luar komplek perumahan,” gumam Reinar yang hanya menemukan keberadaan orang-orang bersenjata di luar kawasan komplek perumahan.


Sedang fokus melihat layar laptopnya, tiba-tiba gambar di layar laptopnya menghilang, menandakan ada yang sedang melakukan peretasan selain dirinya.


“Menarik, sepertinya ada yang ingin bermain-main denganku, dan dengan senang hati aku menemaninya bermain,” kata Reinar lalu dia mulai melakukan serangan balik.


Hanya butuh beberapa detik bagi Reinar untuk mengambil alih seluruh kamera CCTV seperti sebelumnya, dan sekarang dia tidak membiarkan teman bermainnya kembali mengambil alih jalannya permainan.


Sementara itu, seorang pria dengan kacamata dan seperangkat alat elektronik di depannya, dia mengerutkan kening saat layar utama di hadapannya tak lagi menunjukkan tangkapan dari kamera CCTV yang diretas.

__ADS_1


Dia mencoba kembali mengambil alih tangkapan gambar kamera CCTV, tapi seluruh usahanya senantiasa mengalami kegagalan.


“Aku tidak menyangka di negara ini masih ada orang yang memaksa aku serius melakukan permainan dengannya. Baiklah, kamu ingin bermain, dengan senang hati aku mengabulkan keinginanmu,” ujarnya lalu dia mulai melakukan serangan balik, bahkan dia mencoba mengirimkan sejumlah virus pada perangkat elektronik seseorang yang mengajaknya bermain.


Namun, meski dia telah mengerahkan seluruh kemampuan, tetap saja kegagalan yang dirinya dapatkan, bahkan kini dirinya harus bertahan dari serangan virus yang menyerang perangkat elektronik miliknya.


“Sial! Aku sama sekali tidak bisa menghentikan virus yang dia kirim!” Pada akhirnya dirinya menyerah, dan membiarkan perangkat elektroniknya terserang virus.


“Perangkat tua memang sudah mengalami banyak penurunan fungsi. Tunggu saja, aku pasti dapat mengalahkanmu begitu selesai mengganti barang tua dengan barang baru yang lebih baik!” kata pria itu menyalahkan perangkat elektroniknya saat dirinya kalah dalam permainan.


Kalau saja dia tahu peralatan elektroniknya yang sangat canggih dan mahal kalah hanya dengan sebuah laptop standart yang harganya tidak mencapai puluhan juta, mungkin dia akan merasa dirinya sangatlah bosoh.


Sementara itu, di rumahnya Reinar tersenyum senang karena berhasil mengalahkan musuh yang lumayan gigih dalam permainan singkat yang berlangsung kurang dari tiga puluh menit.


“Semoga saja dia tidak menangis karena aku yakin peralatan berharganya tak lagi bisa digunakan,” kata Reinar sambil tersenyum.


Sedangkan Eliza yang mendengar perkataan Reinar, dia hanya tersenyum kecut karena dirinya pernah kalah telak dari pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.


“Apa malam ini ada yang ingin kalian lakukan denganku?” tanya Reinar menggoda para istrinya, terutama Wina dan Eliza yang tamu bulanannya baru saja pamit pergi.


Malam ini Reinar berencana mengambil mahkota berharga, tapi dirinya baru melakukan itu setelah mendapatkan izin dari mereka.


Kalau mere berdua tidak memberinya izin, tentu dirinya tidak akan memaksa mereka melakukannya. Seandainya malam ini tidak bisa melakukan bersama mereka, dirinya masih bisa melakukannya dengan Erina, Bella, maupun Sarah.


“Aku dan saudari Wina sudah menunggu datangnya malam ini,” bisik Eliza kemudian dia pergi lebih dulu menuju kamar dengan diikuti Wina.


“Karena mereka sudah mengizinkan, tentu aku tidak menolaknya. Kalau kalian ingin ikut, segera susul kami!” kata Reinar pada Bella dan dua wanita lainnya sambil berlari mengejar Wina dan Eliza.


“Malam ini adalah malam mereka, dan sebaiknya kita menikmati malam ini dengan menonton film sampai pagi,” ungkap Bella, yang mendapat persetujuan dari yang lainnya, bahkan Indah bergabung dengan mereka menikmati tontonan film.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2