SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 10


__ADS_3

Mengetahui kebohongan putranya, Aira nampak murka. Hingga perdebatan antara dirinya dan Zulfikar mengundang rasa penasaran Papa Kurniawan yang sementara menidurkan Naudira di kamar.


"Cepat telepon balik! Mama mau bicara sama wanita itu" titah Aira. Deruh nafas wanita itu terdengar memburuh.


"Mah ... apalagi sih, Mah ...? Aku udah nurutin maunya Mama dan Papa ... Kenapa kalian nggak mikirin perasaan aku, Mah. Aku berhak bahagia. Aku berhak memilih dengan siapa aku akan menua. Asal Mama tahu, aku nggak bahagia menjalani pernikahan ini, Mah!" terang Zulfikar meneteskan air mata.


Degh!! Bagai disambar petir, Azahra yang tadinya hanya menjadi pendengar juga penonton, seketika mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Nyatanya, Zul begitu tersiksa menjalani hari bersamanya. Jika tidak bahagia, kenapa Zul tak mengindahkan keputusan Azahra semalam.


"Ada apa ini?" tanya Papa Kurniawan, menatap Zul, Aira dan Azahra bergiliran.


"Tanyakan saja padanya" Aira menunjuk Zulfikar.


"Zul, jelasin ke Papa. Ada apa ini? Kenapa Mama bisa marah? Kamu buat kesalahan apa?" tanya Kurniawan yang belum tahu akar permasalahan.


"Aku dan Kulsum masih pacaran, Pah" Dengan berani, Zul menjawab dengan jujur.


"Astaghfirullah ... Zul ... Kenapa begini, Nak" Papa Kurniawan mengusap wajahnya dengan kasar.


....


Malam kembali menyapa. Mama Aira dan Papa Kurniawan yang tadinya berniat bermalam, kembali mengurungkan niat akibat kejadian sore tadi. Sakit hati bercampur kecewa, kedua pasangan itu memilih pulang ke rumah mereka di Maros. Keduanya sangat menyesal karena telah mengusulkan perjodohan itu.


Di rumah yang nampak begitu sunyi, Azahra menangis di kamar. Ingin rasanya dia mengaduh pada kedua orang tuanya. Akan tetapi, dia tak tak ingin menjadi beban pikiran mereka. Beranjak dari tempat tidur, Azahra menggiring langkah hingga pada lemari pakaian. Mengambil amplop coklat yang diberikan oleh Zul sehari sebelumnya, wanita itu menemui Zul yang berada di kamar sebelah.


"Kakak, boleh aku masuk?"


"Iya .." sahut Zul.


Segera Azahra masuk ke dalam kamar. Menghampiri Zul yang sibuk dengan ponselnya, Zahra meletakkan amplop di atas nakas.


Zulfikar yang tadinya sibuk dengan gawainya, menatap amplop coklat dengan kedua kening menuki naik. "Maksud?" tanyanya menatap Azahra yang matanya terlihat kecil diakibatkan menangis.

__ADS_1


"Seperti apa yang tadi Kakak katakan, Kakak nggak bahagia menikah denganku. Karena itu, aku nggak mau jadi beban hidup Kakak. Jika aku keluar dari sini, aku akan tergolong istri yang durhaka. Maka dari itu, aku akan tetap tinggal disini sampai Kakak menceraikan aku. Untuk kebutuhanku, aku akan memenuhinya sendiri. Kakak cukup memenuhi kebutuhan Kakak dan Kak Kulsum. Dan jika Kakak ingin menikahi Kak Kulsum dalam waktu dekat, atau saat ini juga, aku merestui itu. Dan jika boleh aku meminta, tolong hargai aku, jangan biarkan aku seatap dengan kekasih Kakak" jelas Azahra serius.


Zulfikar terdiam, dia tak tahu harus bagaimana. Tak mendapat sanggahan dari Zulfikar, Azahra segera berbalik meninggalkan Zulfikar. Kembali ke kamar, Azahra mengunci pintu kamar dan membiarkan kunci pada tempatnya. Di dalam kamar, ia menangis sejadi jadinya.


...


Pagi menyapa, Zulfikar bangun dan tak mendapati Azahra di rumah. Wanita itu hanya meninggalkan selembar kerta di atas meja makan. Di dalam tudung saji, ada ikan goreng, sambal dan sayur.


"Assalamualaikum, Kak Zul. Hari ini aku pulang malam sekitar jam 8. Nanti Kakak beli makanan di warung depan atau minta Kak Kulsum siapin makan malam untuk Kakak. Jangan lupa sarapan dulu sebelum ke kampus"


Zulfikar meletakkan selembar kertas kecil yang ditinggalkan oleh Zahra. Segera pria itu menggeser kursi lalu duduk. Sejenak kemudian ia beranjak kembali untuk mengambil nasi yang masih di rice cooker.


Menghabiskan makanan dengan lahap, Zul menarik senyum sebelum ke kamar membersihkan diri. Sesudah mandi, Zul dengan bertelanjang dada, mengambil baju kemeja di gantungan dalam lemari. Nyatanya, pakaian yang digantung sudah disetrika. Karenanya, Zul tak perlu menyetrikanya lagi.


Mengambil tasnya di gantungan, Zul menghela napas panjang saat manik matanya menangkap amplop coklat yang berisi uang diatas nakas.


"Kenapa aku merasa bersalah begini" gumam Zul. Segera pria itu menyimpan uangnya ke dalam lemari dibawa lipatan pakaian.


"Gays ... ada yang mau bayar utang pulsa apa nggak?" tanya Azahra saat memasuki kelas. Azahra maupun Asna langsung saja duduk di kursi mereka masing-masing.


"Aku ... tunggu bentar ya, aku ambil uang dulu" Stevani yang sementara duduk bergosip di barisan paling belakang dari arah pintu, berlari kecil ke mejanya lalu menghampiri Asna yang sedang berbincang dengan Zahra.


"Aku juga mau bayar hutang. Berapa lagi harga pulsa 50?" Gea bertanya.


"55 ribu" jawab Asna.


"Untuk kamu 100 ribu, Gea" Azahra menimpali.


Gea terkekeh. Segera mengeluarkan uang 100 ribu dari dalam dompetnya. Lalu menghampiri Asna dan Azahra. "Kembaliannya 45 ribu" Gea mengingatkan.


Segera Asna memberikan uang kembalian pada Gea. "Makasi ya gengs" ucapnya tersenyum.

__ADS_1


"Sama sama Beb" Jawab Gea menarik senyum lalu kembali ke kursinya.


"Asna ... besok baru aku bayar ya" ucap Kinanti yang dibalas jempol oleh Asna.


Belajar dibawa tangga Fakultas Sospol lantai satu, Zulfikar terlihat fokus dan serius. Perhatiannya teralihkan saat notifikasi pesan masuk terdengar. Menerima pesan dari Papa Giman Ananda, sang Papa mertua, Zulfikar segera membacanya. Isi teks cukup membuat Zulfikar menelan salivanya. Sepertinya Mama Aira telah melaporkan kejadian kemarin sore pada Papa Giman.


"Baik, Pah"


Pesan terkirim, sedetik kemudian centang dua bertanda pesan telah dibaca.


"Zul, tumben sendiri. Kulsum mana? Assagaf juga mana?" Qonita mengambil tempat di depan Zulfikar.


"Kulsum dan Assagaf lagi beli gorengan. Bentar juga datang" Jawab Zulfikar.


Panjang umur, yang ditanyakan pun tiba-tiba datang. Kulsum duduk di samping Zul sementara Assagaf duduk disamping Qonita.


...


Malam menyapa, Kulsum bermalam di rumah temannya. Sementara Azahra dalam perjalanan pulang dari rumah sang sahabat, Asna Kirani. Hujan deras tak membuat Azahra berteduh. Wanita itu terus melajukan motor yang dikendarainya Sementara di rumah, Zulfikar berdiri di depan kontrakan menunggu Zahra pulang.


"Ke mana anak ini?" gumam Zul bertanya-tanya.


Pukul 9 malam, Azahra tiba di rumah dengan tubuh yang basah kuyup. Memarkirkan motor, wanita itu segera turun dan mendapati Zul diambang pintu.


"Kamu dari mana? Kenapa hujan hujanan?" tanya Zul menginterogasi.


"Dari rumah teman di Daya. Kakak, aku masuk dulu ya" Azahra berlari masuk ke kamarnya. Disusul oleh Zul yang ke dapur membuat teh hangat untuk Azahra.


"Dek ... Kalau sudah temui Kakak di sini ya ..." ucap Zul balik pintu.


Sesuai titah Zulfikar, Azahra dengan rambut sepinggang yang dibiarkan menjuntai, menemui Zulfikar di ruang keluarga. Mengambil tempat di sofa yang berbeda, Azahra menatap sang suami.

__ADS_1


__ADS_2