SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 44


__ADS_3

Bandara Udara Sultan Hasanuddin Makassar


Akibat penyatuan yang sempat terjadi di beberapa waktu yang lalu, Zulfikar hampir saja ketinggalan pesawat. Kini, pria itu harus segera ke gate empat setelah cek in.


Di pintu masuk, Azahra terus memantau pergerakan suaminya. Hingga bayangan sang suami menghilang dari pandangannya. Sedih, Azahra memelum erat Mama Aira. Tangisnya pun pecah di sana.


"Mama" lirihnya. Tanpa kata, Mama Aira yakin, Azahra merindukan suaminya.


"Kamu yang sabar ya, Sayang" ucap Mama Aira.


Papa Kurniawan mengajak istri dan menantunya pulang. Malam ini Azahra akan bermalam di rumah Papa Kurniawan, esok hari baru pindah di Toko. Ya, di Toko. Azahra akan tinggal di Toko selama Zulfikar di Luar Negeri. Bukannya Azahra tidak mau tinggal dengan Mama mertuanya tapi jarak alamat rumah Mama Aira ke kampus cukup jauh.


Keesokan harinya, Azahra dan keluarga tengah sarapan pagi bersama. Raut sedih masih terpahat jelas di wajah Azahra. Dia sudah berusaha tapi rasa rindu itu semakin menjadi jadi. Semalam tidur sendirian, wanita itu gelisa hingga menangis.


"Sayang, apa kau yakin akan ke Toko pagi ini?" tanya Mama Aira saat di meja makan.


"Iya, Ma. Biasanya hari minggu banyak pelanggan" jawab Azahra setelah mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Kamu hati-hati ya, Nak. Hubungi Mama atau Papa jika kamu butuh sesuatu" ucap Papa Kurniawan.


"Iya, Pak. Kalian juga, jika ada waktu segan, sering seringlah ke Toko" ucap Azahra.


"Iya, Sayang. Kami pasti ke sana" kata Mama Aira menimpali.


Usai sarapan pagi, Azahra ke Toko diantar Pak Mo. Dalam perjalanan, wanita itu kembali terlihat murung. Hingga menyita perhatian Pak Mo yang sedari tadi memperhatikan menantu dari majikannya.


"Nak Zahra kangen Nak Zul ya?" tanya Pak Mo.


"Iya, Pak" jawab Azahra pelan.

__ADS_1


"Kenapa Nak Zahra nggak kuliah di Luar Negeri saja sama Nak Zul. Kan bisa tinggal bareng di sana" ucap Pak Mo.


Azahra menghela napas panjang. "Awalnya aku berpikir begitu. Tapi, setelah aku pikir-pikir, Kak Zul akan terbebani dengan hadirnya aku di sana. Pak Mo kan tahu, uang bukan segalanya tapi segala galanya butuh uang"


"Nak Zahra ada benarnya juga. Ya udah, Nak. Kamu harus sabar, Insya Allah, kamu pasti bisa Biasa, kalau baru LDR memang rindunya kelewatan, nanti, kalau udah terbiasa, Nak Zahra nggak akan sedih lagi" jelas Pak Mo.


Pak Mo menepikan mobil di depan Toko Rezeki. Didepan Toko, ada pelanggan yang sedari tadi menunggu sang pemilik bisnis. Melihat kedatangan Azahra, pelanggan tersebut mengulas senyum.


"Dari tadi, Mbak?" tanya Azahra berjalan menghampiri.


"Belum terlalu lama" balas si pelanggan tersebut, namanya Sintia. Mahasiswa semester 7 jurusan Kimia.


Azahra mengangguk. Segera wanita itu membuka gembok pintu lalu mempersilahkan Sintia masuk. Sesuai tujuan kedatangannya, Sintia langsung meminta Azahra mengeluarkan 6 buah jilbab pasmina, 6 buah jilbab Saudia dan 1 lusin jilbab Paris. Lalu meminta Azahra menurunkan 5 totebag 2in1 yang beda model namun harganya sama.


"Ini saja, berapa total semuanya?" tanya Sintia.


"Jilbab Pasmina setengah lusin 210 ribu ya, Mbak. Jilbab Saudia 160 ribu, 1 lusin jilbab Paris 360 ribu. Totebab 2in1 80K/Item kali 5 jadinya 400 ribu. Total semua 1.130 ribu" jelas Azahra.


Sintia mengeluarkan uang sebanyak total belanjaan. Sementara Azahra mulai memasukkan jilbab ke dalam keresek merah besar, begitu juga dengan tas yang dimasukkan ke dalam kresek yang berbeda.


Setelah membayar tagihan, Sintia mengambil barang belanjaannya lalu pamit pergi. Di Toko, tinggalah Azahra seorang. Sepeninggal Sintia, Azahra menghubungi Asna. Tak berapa lama, Asna menjawab panggilan darinya.


"Assalamualaikum, Beb. Kamu sibuk nggak?" tanya Azahra tanpa berbasa basi.


"Waalaikumsalam. Nggak juga, kenapa?" Asna balik tanya.


"Aku mau menawarkan pekerjaan. Kebetulan semalam Kak Zul udah ke Luar Negeri jadi hanya aku yang jaga Toko. Kalau kamu mau, kamu bisa kerja di tempatku. Gajinya 1,5 juta/bulan. Makan dan minum aku yang tanggung di sini" jelas Azahra.


"Aku mau bangat, Beb. Tapi aku izin sama Haikal dulu, kalau dia ngizinin aku kabarin kamu. Ya sudah, aku telepon dia dulu" kata Asna. Lalu memutuskan panggilan setelah Azahra menjawab iya.

__ADS_1


Tak berapa lama menunggu, Asna pun menghubungi Azahra. Segera Azahra menjawab panggilan dari sang sahabat. "Assalamualaikum. Beb, gimana?" tanya Azahra.


"Alhamdulilah. Haikal ngizinin aku aku kerja di tempatmu" ungkap Asna.


"Alhamdulilah. Besok pagi jam 9 kamu kesini ya, soalnya aku kuliah jam 10" jelas Azahra.


"Iya, Beb" balas Azahra.


Malam menyapa, Azahra yang kerap menatap ponselnya, wanita itu kembali merindukan suaminya. Sejak Zulfikar pergi hingga saat ini, pria itu belum mengirim pesan padanya. Pukul tiga malam, Azahra dikagetkan oleh pesan masuk. Segera wanita itu menghidupkan layar ponselnya. Namun apa yang ia dapat, kekecewaan. Zulfikar, entah apa yang dia lakukan sekarang di Luar Negeri, tak satupun pesan ia kirim untuk istrinya.


"Perasaan di sana sore, kok bisa Kak Zul nggak ngabarin aku" gumam Azahra. Untuk menghilangkan pikiran negatif, Azahra memilih menuaikan shalat tahajut. Usai shalat, wanita itu kembali meraih gawainya, dan lagi-lagi ia tak menerima pesan dari suaminya.


"Mungkin Kak Zul lelah jadi dia belum ngabarin aku" gumam Azahra mencoba untuk berpikir positif.


Pagi jam 9, Asna dan Haikal telah berada di depan Toko. Kedua calon orang tua itu masuk ke dalam setelah mengucap salam. Melihat mata Azahra yang sedikit bengkak, Haikal terkekeh.


"Kangen ya ..." ledek Asna.


Azahra mengayunkan bibir ke depan. "LDR itu nggak enak ya" keluhnya.


Belum sempat Haikal maupun Asna menanggapi, ponsel Azahra berdering. Segera Azahra meraih gawainya di pinggir televisi. Melihat siapa yang menelepon, Azahra mengulas senyum. Tanpa berpikir panjang, wanita itu menjawab panggilan dari Mama Aira.


"Sayang, belum lama Zul meseg Mama di Instagram, katanya sih dia baik-baik saja" ucap Mama Aira memberitahu.


Azahra terdiam sesaat. "Aku memang istrinya. Istri yang tak kunjung hamil. Sellain itu Mama Aira adalah cinta pertama Kak Zul, jadi sudah pasti Kak Zul mendahulukan orang tuanya daripada aku" batin Azahra.


"Syukur Alhamdulilah. Aku senang mendengarnya. Oh ya, Ma. Aku ke kampus dulu ya, pagi ini aku ada jadwal kuliah" ucap Azahra mencoba menarik senyum. Jujur, dia cemburu.


Setelah panggilan terputus, mata Azahra mulai berkaca-kaca. "Kok Kak Zul nggak chat aku" lirihnya menunduk

__ADS_1


__ADS_2