
Pagi yang cerah, tak secerah hati Azahra. Wanita cantik berusia 17 tahun itu tengah duduk di kursi kelas 3 IPA. Pikirannya masih berkelana pada tanggapan Zulfikar semalam. Belum lagi pagi tadi Mama mertuanya mengirim pesan berisi kabar yang entah itu kabar gembira atau kabar buruk. Dimana di siang nanti, sang Mama mertua dan Papa mertua akan datang di kontrakan dan mereka akan bermalam di sana.
"Zah, kok melamun lagi" Asna yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya menegur sang sahabat.
Azahra menatap Asna serius. "As, ada yang mau aku beritahu. Tapi kamu harus janji, nggak bakalan bocorin rahasia ku" ucapan Zahra pelan agar teman-temannya tidak mendengar.
Asna mengangguk. "Aku janji, aku nggak bakalan beritahu siapa-siapa" kata Asna serius.
Azahra mendekat pada telinga Asna. "Aku udah nikah" bisiknya.
Asna menutup mulutnya dengan mata membulat sempurna. "Aku nggak salah dengar kan?" tanya Asna memastikan.
"Emang apa yang kamu dengar?" Azahra memastikan pendengaran sahabatnya.
Giliran Asna yang mendekat. "Kamu sudah menikah" bisiknya pelan.
Azahra mengangguk. Melihat respon Azahra, Asna bersandar pada kursi dengan wajah cemberut. "Kamu kok nggak undang aku" lirihnya kesal.
Di kampus, Zulfikar dan Assagaf ke kantin berdua. Sementara Qonita sedang duduk bersama para junior dibawah tangga lantai satu. Sesampainya di kantin, Zulfikar membeli rokok Marlboro.
"Silahkan" ucap Zulfikar meletakkan sebungkus rokok diatas meja.
Assagaf meraihnya, kemudian mengeluarkan sebatang rokok dari dalam pembungkusnya. Mengeluarkan korek api vintage dari dalam saku celananya, ia mulai membakar ujung rokok yang telah diapit oleh bibirnya.
"Kamu kenapa?" tanya Assagaf penasaran. Dia tahu, seorang Zulfikar bila sudah membeli rokok, itu berarti ada masalah yang dihadapinya.
Zulfikar membuang asap rokok dari dalam mulutnya. Menatap Assagaf, Zulfikar terkekeh pelan. "Aku lagi stres" ungkapnya.
"Mengenai Kulsum atau Azahra?" tanya Assagaf kemudian menghisap rokok yang diapit oleh kedua jarinya.
"Dua-duanya. Kau tahu sendiri kan aku mencintai Kulsum" ungkap Zul terdiam sejenak. "Ku kira, kehadiran Kulsum di rumah nggak jadi masalah buat Zahra. Nyatanya anak kecil itu nggak nyaman tinggal serumah dengan kekasihku" sambungnya bersandar kepala pada bahu kursi.
Assagaf menarik senyum di kedua sudut bibirnya. Mematikan rokok, ia beralih menatap Zulfikar..
__ADS_1
"Bro, nggak ada wanita yang dengan lapang mau tinggal serumah dengan orang lain, apalagi kekasih suaminya. Dan lagi, Azahra bukan pembantu kekasihmu. Ku perhatikan, jangankan memasak, menyapu dalam rumah pun Kulsum enggan"
Zulfikar membenarkan. Kulsum memperlakukan Zahra seperti ART. Bagaimana tidak, pagi tadi Zulfikar menerima pesan dari Kulsum. Dimana isi pesan tersebut, Kulsum meminta Zulfikar untuk menyuruh Zahra mencuci pakaiannya yang sudah dia pisahkan di kamar. Gila bukan, Kulsum benar-benar gila tapi apa balasan dari Zul? Iya. Pria itu mengiyakan.
"Zul, jika kamu nggak bisa membahagiakan dia, maka lepas dia. Biarkan dia menata hidupnya sendiri. Mungkin dia nggak menangis di depanmu, tapi aku yakin, dia menangis dibelakangmu" ucap Assagaf lagi.
Zul menghela napas panjang. Haruskah dia mengindahkan perkataan Azahra semalam? Entahlah, dia pun dilema.
....
Zul pulang dari kampus dan mendapati Azahra sedang mencuci pakaian. Seperti isi pesan Zul pagi tadi, wanita itu mengambil pakaian kotor yang sudah Kulsum pisahkan. Melihat Azahra menyeka peluh yang bercucuran di dahinya, dia terdiam menyaksikannya.
"Lebih baik aku cari indekos untuk Kulsum" batin Zul.
Menyadari kehadiran Zulfikar, Zahra meninggalkan pekerjaannya. "Dari tadi, Kak?" tanyanya seraya meraih tangan Zul untuk menyalaminya.
"Belum lama" Jawab Zul.
"Oh ya Kak Zul. Sekitar satu jam lagi Mama dan Papa datang. Kakak udah baca pesanku kan?" Azahra memberitahu.
Satu jam kemudian, orang tua Zulfikar datang bersama seorang anak perempuan berusia 8 tahun. Dialah adik Zulfikar bernama Sakila Naudira. Zul menggendong adiknya, membawanya masuk ke dalam rumah.
Tawa Naudira menarik senyum Azahra yang lelah sehabis mencuci dan menjemur pakaian. Dia yang juga suka anak kecil, bergabung dengan Zul dan Naudira di ruang keluarga.
"Sayang, gimana kabar kalian?" tanya Mama Aira, Ibu Zulfikar.
Azahra mengambil tempat di samping Mama Aira. Memeluk dan bermanja pada wanita itu. "Mama ... aku kangen" keluhnya cemberut.
"Gimana kabar kamu?" tanya Mama Aira menarik senyum.
Azahra membenarkan cara duduknya. "Alhamdulilah baik. Mama dan Papa gimana, sehat?"
"Alhamdulilah, Mama dan Papa sehat" Jawab Azahra.
__ADS_1
"Mah, Pah, tunggu sebentar ya. Zahra buatin teh dulu. Maaf, baru mau dibuatin soalnya tadi aku lupa colok kabel dispenser" cengir Azahra.
Papa Kurniawan mengangguk. Begitu dengan Mama Aira. Sepeninggal Azahra, Mama Aira menatap Zul yang sementara menggelitik adik perempuannya.
"Zul" panggil Mama Aira.
"Mah, Papa istirahat dulu ya. Naudira, ayo ikut Papa. Nanti malam baru main lagi" ucap Papa Kurniawan.
"Ayo Papa" Naudira turun dari gendongan Zulfikar. Segera anak kecil itu menghampiri Papa Kurniawan. Sepeninggal Papa Kurniawan, Mama Aira menatap putranya.
"Zul, kamu nggak sedang berbohong kan?" tanya Mama Aira penuh selidik.
"Nggak kok, Mah. Aku dan Kulsum udah putus" Jawab Zul dengan santai. Di waktu yang sama, Azahra datang dan tak sengaja mendengar jawaban Zulfikar. Azahra menuangkan teh untuk mama mertuanya juga untuk Zul.
"Mah, Papa mana?" Tanya Azahra mengambil tempat di samping Zul.
"Papa udah istirahat" Jawab Mama Aira. Kemudian menyesap sedikit teh panas yang dibuat oleh menantunya.
Saat Zul sedang dihadapkan dengan pertanyaan pertanyaan dari sang mama, panggilan dari Kulsum masuk. Nada dering khusus Kulsum, terdengar ditelinga Mama Aira. Mama Aira bukan wanita zaman dulu yang tidak update. Wania tua itu menatap tajam sang putra.
"Angkat! dan nyalakan speakernya" Titah Mama Aira.
"Tapi, Mah" Zul tampak gusar.
"Mama bilang angkat!" Mama Aira sedikit meninggikan suaranya.
"Mah, tenang" Azahra menegur. Takut penyakit jantung Mama mertuanya kambuh lagi. Mau tidak mau, Zul menjawab panggilan dari Kulsum dan tak lupa mengaktifkan speaker.
"Sayang .. Kapan kamu mau kirimin aku uang yang kamu janjikan kemarin!" terdengar Kulsum kesal.
Degh!! Mata Mama Aira membulat sempurna. Sementara Zul segera memutuskan panggilan.
"Kenapa kamu belum putusin anak itu?" tanya Mama Aira memijat pelipisnya yang terasa berdenyut hebat.
__ADS_1
"Mah, bukannya aku sudah bilang. Aku mencintai Kulsum. Lagian, Zahra juga nggak terganggu dengan hubungan kami" terang Zulfikar membawa nama Azahra.
Azahra mengerutkan kening. Kata siapa dia tidak terganggu? Mereka bermesraan tanpa mengenal tempat. Bahkan Zahra yang mencuci, juga menyapu rumah. Sementara kekasih suaminya hanya rebahan di sofa dan juga di kamar. Saat memasak pun, rasa makanan seperti garam semua, asin sekali.