SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 36


__ADS_3

Setelah melewati beberapa hari yang super sibuk, akhirnya Zulfikar akan ujian tutup pada pukul sepuluh pagi nanti. Rasa syukur tak henti-hentinya ia panjatkan, bersyukur Allah mermudah segala urusannya.


Malam ini, Azahra berlaku seperti seorang penguji. Ia memberikan pertanyaan yang ada kemungkinannya akan ditanyakan saat ujian tutup nanti. Setiap pertanyaan yang terlontar dari mulut Azahra, dapat dijawab oleh Zulfikar. Hingga angka jarum jam terarah pada pukul satu, menyudahi aktivitas keduanya.


"Selamat tidur penyemangat ku" ucap Zulfikar menarik senyum. Memperlihatkan sederetan gigi putihnya yang berbaris rapih pada tempatnya.


Azahra hanya terkekeh. Walau usia Zulfikar masih terbilang muda namun pikiran dan juga tindakannya seperti orang dewasa pada umumnya. Dia bertanggung jawab padanya. Ya ... walaupun uang semester masih dibayar oleh Papa Kurniawan tapi setidaknya dia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari bersama Azahra.


"Pinjam lengannya ya, Kak" ucap Azahra. Segera ia menjadikan sebelah lengan Zulfikar sebagai bantal. Tidur membelakangi sang suami, memudahkan Zulfikar untuk memeluknya.


Keesokan harinya. Zulfikar telah berada di kampus bersama Azahra, Qonita dan Assagaf. Rasa gugup mulai menghampiri Zul yang saat ini sedang merapikan bajunya.


"Benarin dasi ku dong" pinta Zulfikar berdiri di depan sang istri.


Azahra mulai memasang kambali dasi yang awalnya sudah rapi namun terbekalai lagi akibat ulah Zulfikar sendiri.


"Zul, baca doa sebelum masuk" Assagaf mengingatkan.


Zulfikar mengangguk. Dan kini, dia telah berdiri di depan para pembimbing juga penguji. Belum diberi pertanyaan namun Zulfikar mulai panik sendiri.


Di luar, Azahra tak henti-hentinya berdoa agar Zulfikar bisa menjawab semua pertanyaan dari pembimbing satu dan juga ketiga pengujinya.


Satu jam kemudian, Zulfikar keluar dari ruang ujian, wajah pria itu tampak berseri seri dengan senyum khasnya. Tentu saja senyum itu mengundang tanya Azahra juga Assagaf dan Qonita.


"Kak, gimana tadi?" tanya Azahra penasaran.


Tanpa memperdulikan sekelilingnya, Zulfikar memeluk Azahra. "Alhamdulilah, semuanya berjalan lancar" ucapnya seraya melerai pelukannya.


"Alhamdulilah ya Allah" netra mata Azahra berkaca-kaca. Diusia mereka yang terbilang muda, mereka dituntut untuk saling mensuport. Saling terbuka bahkan keduanya banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, ngampus, sekolah dan bekerja.

__ADS_1


"Jangan menangis di sini. Banyak orang" ucap Zul tersenyum simpul.


"Jam berapa lagi Yudisium?" tanya Assagaf.


"Sebentar lagi. Kata Ibu Cia, nanti Ibu panggil" jawab Zulfikar.


"Pertanyaannya sulit nggak?" tanya Qonita. Gadis cantik itu juga sedang mempersiapkan berkas untuk naik ujian tutup.


"Nggak, jauh lebih enak ujian tutup daripada seminal hasil" ungkap Zulfikar.


Qonita dan Assagaf mengucap syukur. Jika benar begitu, mereka tak perlu separno Zulfikar.


Zulfikar kembali ke ruang ujian setelah dipanggil oleh Ibu Cia. Di dalam, pria itu nampak menangis. Entah nasehat apa yang para pengujinya uraikan hingga menyentil hati kecil Zulfikar.


Tak berapa lama, Zulfikar keluar menghampiri Azahra yang sementara melakukan panggilan telepon dengan Mama Aira.


Kedua kening Azahra berkerut, terbesit tanya dalam benaknya, ada apa gerangan? Kenapa manik mata Zul terlihat merah?.


"Iya, ini Mama" jawab Azahra. Zulfikar meminta ponsel Azahra, pria itu sedikit menjauh dari kerumunan.


"Mama ..." suaranya terdengar bergetar. Dia berusaha untuk tidak menangis. "Aku baru saja selesai ujian tutup" lirihnya.


"Alhamdulilah Ya Allah ... Kenapa kamu nggak bilang? Mama dan Papa bisa kesitu. Saksiin kamu Yudisium"


"Maafkan aku, Mah. Aku sengaja nggak bilang sama Mama dan Papa, aku mau beri kejutan pada kalian. Apa Mama bangga sekarang?" tanya Zul diakhir kalimatnya.


Terdengar isak tangis di seberang telepon. Bangga? Tentu saja wanita itu bangga pada putranya. Dia adalah mahasiswa pertama yang menyelesaikan study S1nya dalam kurung waktu yang cepat. Dia, dia anak pertamanya yang dituntut untuk belajar bertanggung jawab.


"Tentu saja Mama bangga. Kapan kalian ke sini?" tanya Mama Aira diakhir kalimatnya.

__ADS_1


Besok, Ma. Besok pagi aku dan Zahra kesitu" jawab Zul.


.


.


.


Zul dan Azahra dalam perjalanan ke Maros. Keduanya berniat bermalam di rumah orang tua mereka sampai tiba Azahra dengar hasil kelulusan.


Setibanya di rumah, mereka disambut hangat oleh orang tua Zulfikar. Tak berapa lama, Kakek dan Nenek Zulfikar yang tinggal Luar Negeri pun tiba di Bandara. Mau tidak mau, mereka harus menjemput Kakek dan Nenek di Bandara Hasanuddin Makassar.


Mereka sekeluarga sudah di Bandara, menunggu Kakek dan Nenek keluar dari dalam. Dari kejauhan, Zulfikar melihat Neneknya yang berpenampilan sopan.


"Mama, Nenek udah hijab" ucap Zul menuntun Mama Aira untuk menatap kearah Nenek.


"Ibu ... Kami di sini ..." Mama Aira melambaikan tangan.


Pasangan tua yang ditunggu pun menghampiri anak, cucu dan menantu mereka. Azahra mencium tangan Kakek mertua juga Nenek mertuanya.


"Ayo kita pulang Aira. Mama pusing, tadi Mama mabuk di pesawat. Ini nih yang bikin Mama nggak mau pulkam-pulkam. Mama mabuk perjalanan. Untung ada Papa kamu, kalau nggak, Mama udah mati di jalan" ungkap Nenek Angel.


Kakek Will terkekeh begitu juga dengan yang lain. Mereka semua masuk ke dalam mobil. Mobil pun perlahan menjauh dari area Bandara.


Setibanya di rumah, Nenek Angel dan Kakek Will langsung duduk di ruang utama. Sementara Azahra langsung ke dapur membuatkan sesuatu untuk keluarganya. Tak berapa lama, Azahra datang membawa nampan.


"Nenek, diminum dulu teh nya. Biar Nenek nggak pusing lagi" ucap Azahra.


"Iya Sayang. Terima kasih ya. Oh iya, nanti malam Nenek mau bicara sama kamu dan Zul" ucap Nenek Angel.

__ADS_1


__ADS_2