
Waktu begitu cepat bergulir, tak terasa Ujian Sekolah telah berakhir. Bahkan Ujian Nasional pun akan berakhir esok hari. Malam ini seperti malam sebelumnya, Azahra sibuk belajar agar besok dia bisa menjawab soal ujian dengan benar.
Azahra telah berada di sekolah bersama teman-temannya. Ujian Nasional cukup menegangkan walau hari ini adalah ujian terahkir. Belum lagi pengawas yang mengawas hari ini dari sekolah yang yang lain.
Bunyi bel terdengar menggema, para peserta Ujian mulai masuk ke dalam kelas sesuai nomor masing-masing. Azahra dan Asna duduk di kursi baris pertama.
Dua pengawas masuk membagikan soal ujian. Dengan teliti dan berhati-hati Azahra maupun kawan kawannya menjawab soal yang ada. Hingga waktu berakhir, satu persatu meninggalkan lembar jawaban di atas meja masing-masing.
Dan kini, Azahra sudah berada di Pondok AQILA. Ya, mereka masih tinggal di pondok AQILA. Hidup sederhana walau mereka memiliki orang tua yang kaya raya.
"Bagaimana Ujiannya tadi?" tanya Zulfikar seraya meng scroll unggahan di Facebook.
"Alhamdulilah lancar, Kak" balas Azahra merebahkan diri di ranjang.
"Sekarang kamu tidur, nanti malam kita ke Maros" ucap Zul. Tanpa merespon, Azahra mulai memejamkan mata indahnya.
Azahra dan Zulfikar sudah berada di Maros. Di rumah Mama Aira dan Papa Kurniawan. Azahra memilih bermain dengan Naudira, sementara Zulfikar sedang duduk bertiga dengan Papa Kurniawan dan Mama Aira. Mereka terlihat cukup serius, entah apa yang mereka bahas. Sekitar satu jam, akhirnya Zul beranjak pergi meninggalkan Mama dan Papanya. Menarik langkah ke kamar, Zul mendapati Naudira dan Zahra terlelap.
Dengan hati-hati, Zulfikar menggendong adiknya, membawanya ke kamar sebelah. Lalu ia kembali ke kamarnya, kamar yang dia dan Azahra tempati bernaung.
"Selamat tidur, istriku" ucap Zul mendaratkan ciuman singkat di dahi istrinya. Sebelum ia ikut merebahkan diri, Zul membenarkan selimut Azahra hingga pada bagian dada.
.
.
.
Zulfikar sibuk menyusun skripsi walau dia masih dalam proses penelitian. Dengan begitu, dia tak perlu menguras pikiran saat hasil penelitian nya di Acc oleh pembimbing satu.
"Kakak, ini udah larut malam, ayo tidur. Insya Allah, besok aku bantuin Kakak menyusun" ucap Azahra yang sedari tadi tidur, namun saat membuka mata, ia masih mendapati Zulfikar yang sibuk dengan leptopnya.
__ADS_1
"Lima belas menit lagi selesai. Maaf, aku mengganggu tidurmu" ucap Zul mengelus pelan rambut sang istri.
Lima belas berlalu, Zulfikar mematikan leptopnya. Tak lupa mematikan lampu, pria itu ikut merebahkan diri di samping sang istri.
Keesokan harinya, Zulfikar menghadap pembimbing satu memperlihatkan hasil penelitiannya. Tanpa embel-embel, pembimbing satu meng ACC hasil penelitian yang Zulfikar kerjakan selama tiga minggu lamanya.
Pulang sambil membawa kabar gembira, pria itu tak sabar untuk segera memberitahu wanita yang selalu mensuport nya. Dialah Azahra, wanita yang mau menjalani hari-hari sederhana bersamanya. Setibanya di Pondok AQILA, Zul masuk ke dalam setelah Azahra membukakan pintu untuknya.
"Azahra, hasil penelitianku di Acc" ucap Zul dengan wajah berseri-seri.
"APA! ACC?" tanya Azahra bernada tinggi. Berharap apa yang baru saja didengarnya benar adanya.
Zulfikar mengangguk. "Alhamdulilah. Nanti malam aku tidur agak telat. Mau lanjut ngerjain skripsi. Target, dalam minggu ini aku naik Ujian. Biar kita lanjut plaining selanjutnya"
Ya, kedua pasangan muda itu berencana membuka usaha kecil kecilan. Uang yang Azahra kumpul dari sebelum menikah sampai menikah, akan dijadikan modal usaha mereka nantinya.
"Ya sudah, nanti aku pesankan pisang coklat di Grabfood biar Kakak semangat kerjanya" ucap Azahra serius.
Pukul tiga malam, skripsi selesai di susun sesuai pedoman dari Fakultas. Zulfikar segera mem-print out. Selesai, pria itu merapikan kembali ruangan sebelum ia pergi tidur.
Pagi menyapa, Zulfikar dan Azahra sudah berada di Kampus. Azahra sengaja ikut karena dia bosan di indekos. Duduk sambil bertukar cerita, keduanya terlihat seperti kakak beradik.
"Boleh gabun?" tanya Qonita yang baru saja tiba.
"Boleh, Kak. Silahkan" Azahra mempersilahkan.
"Kapan dengar kelulusan?" tanya Qonita.
"Dua pekan mendatang. Doakan ya, Kak. Semoga kami semua lulus 100%" jawab Azahra.
"Aamiin" Zul mengamini begitu juga dengan Qonita.
__ADS_1
"Kak Zul ... Dicari Ibu Cia" seorang junior memberitahu Zulfikar.
"Qo, temani Zahra bentar ya. Aku menghadap Ibu Cia dulu" ucap Zulfikar. "Tunggu aku di sini, jangan kemana mana" sambungnya memperingati Azahra.
Duduk di depan sang pembimbing, berharap skripsinya tak banyak pantulan agar dia bisa setor hari ini atau hari esok.
Ibu Cia membuka lembar demi lembar. Hingga bab 2, belum ada pantulan sama sekali. Masuk pada bab tiga hingga bab 4, masih tak ada pantulan.
"Persiapkan berkasmu untuk ujian tutup. Kalau bisa, sabtu nanti kamu naik ujian karena pekan depan Ibu mau ke luar Negeri" ucap Ibu Cia memberi Acc pada skripsi Zulfikar.
"Baik, Buk. Terima kasih banyak, saya permisi dulu. Assalamualaikum" ucap Zul sebelum beranjak dari kursi.
Tak henti hentinya Zulfikar mengucap syukur. Akhirnya, doanya dan juga doa Azahra Allah ijabah. Dengan binar bahagia, Zulfikar yang hampir sejam di ruangan Ibu Cia, perlahan menarik langka menghampiri istri dan juga sahabatnya.
"Kak, gimana hasilnya?" tanya Azahra.
"Alhamdulilah. Acc, Dek" jawab Zulfikar. Andai saat ini mereka di indekos, Zulfikar pastikan dia akan memeluk dan mencium Azahra.
"Masya Allah, Zul. Cepat ambil berita acara untuk ujian tutup. Dan jangan lupa urus SK penguji di Pak Rahmat" ucap Qonita mengingatkan. "Aku pergi dulu, pembimbingku sudah datang" tambahnya.
Sepeninggal Qonita, Zulfikar mengajak Azahra ke ruangan Pak Rahmat juga ruangan Ibu Ima. Dan kini, keduanya telah sampai di ruang kaprodi.
"Dek, kamu ke Ibu Ima ya, ambil berita acara untuk ujian tutup. Aku mau ke Pak Rahmat, mau buat SK pembimbing" ucap Zul membagi tugas.
Berdasarkan kerja sama yang baik, kini Azahra telah menghadap Ibu Ima. Bahkan Ibu Ima telah menyerahkan dua lembar berita acara pada Azahra. Sementara Zulfikar, pria itu diminta mengisi namanya, nomor induk Mahasiswa, pembimbing juga nama penguji pada selembar kertas yang tersedia di atas meja kerja Pak Rahmat.
Dalam sekejab, SK penguji telah selesai di print out oleh Pak Rahmat. Azahra dan Zulfikar yang sedari tadi setia menunggu, segera ke ruangan Pak Rahmat. Setelah mengambil berkas untuk ujian tutup, Zulfikar mengajak Azahra kembali ke Pondok AQILA.
Dan kini, mereka telah di depan pintu kamar. Zulfikar membuka pintu sementara Azahra mengangkat jemuran.
Tak ingin membuang buang waktu, Zulfikar segera mengeluarkan berkas-berkas penunjang untuk ujian tutup nanti.
__ADS_1