
Menjadi anak kedua dari tiga bersaudara, membuat Haikal harus menjadi contoh yang baik untuk adik perempuannya yang masih balita. Haikal, yang tak lain adalah adik dari Assagaf, menggeleng tak mengerti akan pikiran bodoh Zulfikar, sahabat dari Kakaknya itu.
Mengerjakan tugas sekolah ditemani oleh Assagaf yang juga sibuk mencari bahan belajar di geogle crome, Haikal sekali kali mengambil napas panjang hingga menyita perhatian sang Kakak. Sang Kakak yang sementara berbaring di sofa, menarik diri untuk duduk.
"Kamu kenapa sih, Dek?" tanya Assagaf penasaran.
"Bagus" gumam Haikal tak terdengar oleh Assagaf. Memang pertanyaan itu yang dia tunggu sejak tadi. Meletakkan pulpen di atas meja, Haikal menarik diri hingga duduk di sofa depan Kakaknya. "Kak, tatap aku dong .." pintanya merengek.
Assagaf yang begitu memanjakan sang adik, hanya bisa menurut. Segera pria itu menatap adiknya yang menggemaskan. "Kenapa?" tanya Assagaf dengan santai.
"Sebelumnya, aku mau nanya dulu, sahabat Kakak yang namanya Kak Zulfikar itu udah nikah apa belum?" tanya Haikal serius.
Assagaf mengerutkan keningnya. Tak biasanya Zulfikar menjadi topik pembicaraan dikala keduanya sedang mengerjakan tugas bersama. "Kenapa memangnya?"
"Iss! Kakak ... aku nanya, Kak Zul udah nikah apa belum?!" ketus Haikal.
Assagaf menarik napas panjang. "Iya sudah. Kenapa memangnya?"
"Nanti dulu baru aku jawab, aku masih mau bertanya" kata Haikal berhasil membuat kening Assagaf bertekuk naik.
"Kakak tahu istrinya siapa?" tanya Haikal melanjutkan pertanyaan.
"Memangnya kamu tahu siapa istrinya?" Assagaf balik bertanya masih dengan eksptesi wajah yang sama.
"Ih Kakak ... Kok bertanya sih! Jawab dulu dong!!" Haikal kembali kesal.
"Iya tahu" balas Assagaf singkat.
Haikal mengangguk. "Jadi gini kak" Haikal diam sesaat membuat Assagaf penasaran.
"Kek mana ...?" Assagaf kembali menjadi kesal.
Haikal terkekeh. "Tenang, jangan marah marah" kata Haikal dengan santai. Lalu membenarkan cara duduknya. "Jadi gini, aku dan istrinya Kak Zul itu bestie. Nah, kemarin malam, dia kesenggol motor lalu dibawa lari ke Rumah Sakit sama orang yang menyenggolnya. Te__"
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Assagaf memotong kalimat Haikal.
"Sabar dulu napa sih, Kak!" ketus Haikal.
"Oke" Assagaf merendah. Dia harus sabar menghadapi adiknya yang manja juga suka bikin kesal.
__ADS_1
"Terus, Asna, Kakak tahu Asna kan?" Haikal melanjutkan kalimat.
Assagaf mengangguk.
"Asna yang beritahu aku jadi aku ke Rumah Sakit. Di sana, aku ketemu sama Kak Zul. Masa, dia manggil aku Mas. Kan aneh, bukannya Kak Zul pernah ke rumah kita. Masa sih dia lupain aku. Kok bisa ya, Kak" Haikal menggeleng tak mengerti saat mengucap kalimat terakhirnya.
"Kan kamu nggak penting baginya. Lagian, ngapain dia harus ingat kamu" ucap Assagaf berniat membuat adiknya kesal.
Kesal, Haikal enggan menjawab. Dia memilih duduk di lantai kembali fokus mengerjakan tugasnya. Penasaran, Assagaf memilih menghubungi Zulfikar namun nomor pria itu tidak aktif.
Di tempat lain, Azahra sibuk mengerjakan tugas sekolah. Walau para guru telah memberinya izin untuk beristirahat di rumah sampai keadaannya membaik, tapi Azahra tetap mengerjakan tugas sekolah agar nilainya tidak terlalu buruk.
Setelah mengerjakan tugas, Azahra bersantai sambil menikmati biskuit slai olai rasa strowberi dan pop ice coklat campur boba yang dia pesan lewat aplikasi grab.
"Kenapa? Baru sadar kalau cintaku itu tulus?"
"Sudah lah Kulsum. Aku tahu aku bodoh. Hingga dengan mudahnya kau mengelabuiku"
"Nggak, nggak ada lagi yang namanya kesempatan keempat"
"Apa? Kau bilang aku egois? Kau yang egois, Kulsum!!"
Suara Zulfikar yang besar saat melalukan panggilan telepon, membuat Azahra mendengar semuanya. Rasa bersalah menyelimuti wanita itu. Pertengkaran keduanya berawal dari keeogisann dirinya yang tidak mau tinggal seatap dengan Kulsum. Tapi, apa benar dirinya yang bersalah dalam hal ini?
Dia istri Zulfikar, dia berhak memutuskan siapa yang boleh tinggal di kontrakan. Pikir Azahra.
Cek--lek!!
Pintu kamar di ruang tamu terbuka lebar. Terlihat Zul menggiring langkah ke ruang keluarga. Melihat Azahra yang menatapnya, Zulfikar mengambil tempat di samping wanita itu. Bersandar pada sofa, Zulfikar memejamkan mata. Dia masih mencintai Kulsum, tetapi untuk memberi kesempatan keempat, Zul tidak mau lagi. Kulsum sudah sering membodohinya.
"Kak, mau aku buatkan teh atau kopi?" Azahra menawarkan.
"Nggak perlu" balas Zul.
"Makan aku pijitin?" Azahra kembali menawarkan.
"Emang kamu tahu?" tanya Zul tanpa membuka mata.
"Tahu, tapi nggak terlalu pandai" jawab Azahra.
__ADS_1
"Ya sudah, tolong pijitin bahu ku" pinta Zulfikar.
Azahra kembali ke kamar lalu keluar membawa hanbody sebagai pengganti minyak urut. Mengambil karpet, dan segera membukanya di ruang keluarga.
"Kak, baring di sini yuk" pinta Azahra yang langsung diindahkan oleh Zulfikar.
Dengan telaten, Azahra memijat Zulfikar. Walau tak begitu pandai, tapi pijatan Azahra cukup mengurangi pegal-pegal yang dirasakan oleh Zulfikar. Sudah hampir setengah jam namun Zulfikar tak kunjung berkata sudah, atau sudah cukup. Pria itu dengan santainya mamainkan game sambil menikmati kerajinan tangan sang istri.
"Kakak ... ini penyiksaan atau apa? Kok belum sudah-sudah juga" ketus Azahra cemberut.
"Itu ganjaran karena kamu menanyakan makanan favorit si Faisal itu" batin Zul tertawa.
"Kak, udah dulu ya. Balik aku yang pegal-pegal ni" keluh Azarah cemberut.
"Iya ... Makasih ya" ucap Zul tersenyum.
Azahra berdiri namun kakinya mulai keram. Tetap diam ditempat, membuat Zulfikar tersenyum jahat. Berpura pura tak tahu, pria itu menyenggol kaki Azahra.
"Kakak ..." pekik Azahra.
"Kenapa?" Zul pura-pura bertanya.
"Tolong, jangan sentuh kakiku" pintah Azahra.
Terkekeh, Zulfikar mengabaikan permintaan istrinya. Dengan isengnya, pria itu mengayun ayunkan jari jemarinya di kaki sang istri.
"Hahahahahaha. Kakak jangan, aku mohon ..." tawa Azahra pecah. Ingin segera berdiri, tapi belum bisa.
Tak perduli apa kata Zulfikar, Azahra menarik tangan pria itu. Tarikan yang kuat, membuat Zulfikar jatuh diatas tubuh Azahra. Bibir tipis yang tak pernah bersentuhan dengan bibir pria, kini, untuk pertama kalinya, bibir mungil itu bersentuh langsung dengan kekasih halalnya.
Mata Azahra membulat sempurna, segera wanita itu mendorong kuat tubuh Zulfikar hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Zahra ... sakit tahu ...!" ketus Zulfikar berusaha bangun.
"Kakak sih .... nggak langsug berdiri. Malah asik nempelin bibir ke bibirku. Jadi nggak suci lagi kan bibirku!" ketus Azahra memegangi bibirnya.
Zulfikar terkekeh. Iseng, pria itu mendekati Azahra yang kesal. Melihat sikap Zul yang tak biasanya, Azahra beranjak dari karpet.
"Kakak mau ngapain ..." teriak Azahra. Mengatur langkah, wanita itu lari ke kamarnya.
__ADS_1
Tawa Zulfikar pecah. "Dasar bodoh" gumamnya menggeleng.