
Bunyi kenderaan yang berlalu lalang kembali terdengar menandakan pagi telah menyapa dan aktivitas yang tertunda pun kembali dilanjutkan. Mengisi perut sebelum ke Kampus, Zul terdiam sambil menyantap makanan yang dimasak oleh sang istri sebelum wanita itu ke sekolah.
Sesudah makan, Zulfikar masuk ke dalam kamar mengambil tas sebelum ke kampus. Dia harus ke kampus bertemu Ibu Cia mengenai judul skripsi yang diberikan Ibu Cia padanya.
Tak ingin mengulur waktu, Zul segera pergi ke kampus. Hanya beberapa menit saja, dia pun tiba di parkiran. Di lantai satu depan beskem, Assagaf dan kawan kawanya tengah bercerita perihal pemukulan Zul, Ardi dan Bagas yang dilakukan oleh Hadi, suami dari Kulsum Ummu.
"Itu wajah kenapa ditekuk kek gitu? Udah jelek, tambah jelek lagi" tegur Rais menggeleng tak mengerti.
"Kesal aku! Orang-orang pada lihatin aku, kek aku ini artis!" ketus Zul menjelaskan.
"Lah emang kamu artis, artis dadakan!" timpal Aldi kesal. Pasalnya, semalam dia dan teman-temannya mau besuk Zul tapi saat mereka datang, kontrakan nampak begitu gelap dan Zul tak bisa dihubungi.
Percakapan mereka terpaksa ditunda lantaran dosen pengampu yang mengajar di pukul sembila lewat empat puluh menit telah datang. Segera mereka masuk ke dalam ruangan C203 yang terletak dilantai dua.
Di ruangan C203, Kulsum tak nampak di sana. Wanita itu menghilang bagai ditelan bumi. Bahkan pakaian yang ia tinggalkan di kontrakan pun belum di ambil. Ketidakhadiran Kulsum membuat Zul bertanya tanya. Pasalnya, Kulsum juga belanja mata kuliah yang akan berlangsung beberapa menit lagi.
"Zul, gimana rasanya di tipu? Bisa ceritain ke kami nggak?" Adelina, mahasiswi tercantik di kelas A yang cintanya ditolak oleh Zul.
"Uang semester 1,5 juta dalam satu semester. 1,5 juta dikali 5 semester. Totalnya 7,5 juta. Ditambah uang kosan 7,5 juta dalam kurung waktu 2 tahun lebih. Belum biaya SP (Semester pendek) yang diambil lalu, belum uang makan dan beli ini itu. Wuaaahhhh ... kasihan nyokap kamu ngirimin uang buat nyenangin anaknya tapi anaknya nyenangin istri orang lain" timpal Nandi yang duduk di paling pojok.
Siap sih yang tidak mengetahui tentang kisah mereka? Hampir satu Fakultas pun tahu. Kenapa? Karena Kulsum memamerkan itu. Dia bercerita tentang Zul yang membiayainya. Tak sedikit kaum hawa merasa iri padanya.
Zulfikar tak ingin mencari masalah. Dia hanya diam sambil mendengarkan ejekan teman-temanya. Melihat Zul, Qonita mengambil tempat di samping sang sahabat. "Jangan diperdulikan mereka" ucapnya tersenyum.
"Anggap saja kamu buang sial" Assagaf menimpali.
Di lain tempat, Azahra sedang menerima mata pelajaran matematika. Dia yang begitu menyukai mata pelajaran tersebut, dengan senang hati menjawab soal yang ada di papan tulis.
Bel berbunyi, menyudahi aktivitas belajar. Para siswa dan siswi beranjak dari kursi setelah Ibu Guru Nurdia kembali ke ruang guru. Di dalam kelas, menyisakkan Azahra dan Asna sementara Gea, Geovani, Irwan dan Haikal lebih dulu ke kantin.
"Beb, ini uang paket" Asna menyodorkan uang sebanyak dua juta seratus ribu.
__ADS_1
Azahra menerimanya. Kemudian memisahkan modal sebanyak satu juta tiga ratus ribu. Sisa uang delapan ratus ribu. Dari delapan ratus itu, ia sisipkan tiga ratus.
"Ini untuk kamu. Pergunakan uang ini dengan baik" Azahra meletakkan uang sebanyak lima ratus ribu di atas meja sang sahabat.
"Nggak perlu Zahra. Aku ikhlas bantuin kamu. Sumpa demi Allah" jari telujuk juga jari tenga Asna terangkat bersamaan, membentuk untuk V di udara.
"Dan aku juga ikhlas, Beb. Aku mohon, jangan menolak rezeki" tegas Azahra.
Mengambil napas panjang, akhirnya Asna menerima uang yang diberikan sahabatnya. "Terima kasih ya" ucapnya sembari memasukkan uang ke dalam ranselnya.
....
Waktu bergulir begitu cepat, aktivitas belajar telah berakhir beberapa puluh menit yang lalu. Dan kini, Azahra berada dalam perjalanan pulang dari sekolah ke kontrakan. Melewati Carefour, ia ingin mampir belanja bulanan tapi terik matahari membuatnya mengurungkan niat. Setibanya di kontrakan, ia menatap tanya beberapa motor yang terparkir di depan.
"Pasti teman-teman Kak Zul ada di dalam" gumam Azahra segera melepas helem. Tak lupa mengucap salam, Azahra masuk ke dalam rumah. Di dalam, ia mendapati Kulsum bersama tiga orang pria dan dua orang wanita.
Meminta permisi, Azahra segera menarik langkah ke kamar. Dari dalam, dia mendengar Zul berucap. Mengatakan bahwa dirinya tidak tahu tentang status Kulsum. Yang dia tahu, Kulsum masih single. Bukan hanya Zul, Ardi dan Bagas pun mengatakan hal yang sama.
"Kak, jam berapa sekarang?" tanya Azahra menarik diri sedikit duduk.
"Jam setengah tujuh. Cepat mandi, temani aku ke Top Mode" kata Zul keluar dari kamar.
"Iya" balas Azahra segera ke kamar mandi.
Beberapa puluh menit kemudian, Azahra sudah siap. Ia mengenakan hoodie warna merah dan celana training hitam serta jilbab hitam. Melihat penampilan Azahra, Zul hanya diam. Wanita yang berstatus istrinya itu tetap cantik walau berpenampilan sederhana. Bahkan tanpa malu Azahra mengenakan sendal jepit ke Top Mode.
"Zah, pulanb dari Top Mode kita jalan-jalan ya. Mau nggak?" tanya Zul.
"Boleh, tapi kita mau ke mana?" Azahra balik bertanya.
"Kamu maunya ke mana?" bukannya menjawab, Zul balik bertanya.
__ADS_1
"Aku nggak tahu, soalnya aku jarang keluar malam. Siang pun, paling pergi antar paket" jawab Azahra serius.
"Kak Zul, aku peluk ya" Azahra meminta izin sebelum memeluk suaminya. Di sisa waktu yang ada, dia ingin menikmati rumah tangga yang harmonis bersama Zul. Tidur bersama, berpelukan, gandengan tangan, masak bersama dan yang lainnya.
"Hmmm" balas Zul singkat.
Azhahra menarik senyum, segera ia memeluk erat suaminya. Bersandar dagu pada bahu Zulfikar, membuat Azahra senang. "Seperti inikah rasanya orang pacaran" batin Azahra.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di Top Mode. Segera Azahra turun, begitu juga dengan Zulfikar. Masuk ke dalam Top Mode menuju lantai dua.
"Zah, tunggu aku ambil troli belanja" kata Zul sebelum Azahra menggiring langkah ke bagian bahan dapur. Azahra mengangguk.
"Ayo" ajak Zul.
Azahra menurunkan bumbu dapur yang biasa digunakan saat memasak. Tak lupa gula dan terigu juga agar-agar. Berlanjut ke tempat peralatan mandi, ia menurunkan pepsodet, sabun mandi dan keperluan lainnya.
"Kak, kita sediain mie, biskuat dan minuman juga ya. Siapa tahu Kakak punya tamu"
"Terserah kamu saja" balas Zul.
Azahra menggiring langkah ke bagian snack, biskuat juga wafer. Menurunkan apa yang dia minat, kemudian ke tempat susu dan kopi. Sebagai suami, Zul hanya bisa mengikuti dari belakang sambil mendorong troli.
Tiba saatnya membayar, total tagihan belanjaan mencapai lima ratus ribu. Azahra mengeluarkan dompetnya dari tas kecilnya.
"Biar aku yang bayar" kata Zul sambil mengeluarkan uang dari dompetnya. Siapa sih yang tidak bahagia saat uangnya tetap utuh? Semua wanita berstatus istri pasti bahagia. Apalagi Ibu-Ibu yang banyak tagihan ini dan itu.
Usai belanja, mereka turun di lantai satu. Zulfikar membawa barang ke motor, sementara Azahra berlari kecil mengecek harga mesin cuci. Setelah mengetahui harganya, ia kembali menemui Zulfikar di parkiran.
"Dari mana?" tanya Zul.
"Cek sesuatu" balas Azahra kemudian naik diatas motor. Kembali memeluk Zulfikar, Azahra dibuat senyam senyum sendiri.
__ADS_1