
Taufik diperbolehkan pulang oleh Dokter setelah kondisinya membaik. Harapannya selama ini pun terkabulkan, kedua orang tuanya setuju untuk rujuk kembali. Dan hari ini, tepatnya tangal 21 Mei, usia pernikahan Mama Asna dan dan Papa Haikal telah memasuki bulan ke-8. Di bulan-bulan yang lalu mereka menjalani hari yang meninggalkan kesan indah. Canda dan tawa menghiasi hari-hari mereka. Sungguh, Haikal menyesali pengkhianatannya dulu. Karena dirinya yang tak pandai menundukkan pandangan, dia kehilangan sosok istri juga anak. Dia melewati hari tanpa turut serta mendidik juga memberi kebahagiaan pada putranya. Begitu ruginya dia tak menyaksikan tumbuh kembang anaknya itu.
"Papa ... Mama ..." Taufik berlari kecil dari gerbang rumah. Tanpa melepas sepatu, Taufik melenggang ke dalam rumah.
"Mama ayo kita ke rumah sakit. Tante Zahra mau melahirkan" ungkap Taufik ngos-ngosan.
"Di rumah sakit mana?" tanya Asna
"Di rumah sakit Mama dan Anak" jawab Taufik. Taufik menengok ke kiri lalu ke kanan. "Mama, Papa mana?" tanya Taufik.
"Papa lagi kerja" jawab Asna menggiring langkah ke depan. "Ayo cepat!" panggilnya berlalu ke keluar.
Di lain tempat, tepatnya di Rumah Sakit Ibu dan Anak, Zulfikar menemani Azahra di ruang persalinan. Setiap kali akan kontraksi, Zulfikar terlihat panik. Terlebih saat dia melihat istrinya menjerit kesakitan. Tak sekali dua kali dia memanggil dokter untuk melihat kondisi istrinya. Tingkahnya membuat Dokter tersenyum lalu menjelaskan padanya.
Pukul 16:00 PM, Azahra melahirkan anak keduanya berjenis kelamin laki-laki. Anaknya diberi nama Furqan. Tangis Baby Furqan menghilangkan rasa sakit yang beberapa saat tadi dirasakan. Zulfikar yang turut menyaksikan perjuangan sang istri, pria itu turut meneteskan air mata. Terlebih saat dia melihat wajah mungil putranya yang begitu mirip dengannya.
Azahra dipindahkan di ruang VVIP, di sana keluarga telah menunggunya. Sesampainya di dalam, dia dihadapkan dengan ucapan selamat ulang tahun. Nyatanya hari ini, tepatnya 21 Mei Azahra bertambah usia 1 tahun. Azahra berdiri dari kursi roda, lalu naik di atas tempat tidur. Kemudian berbaring di sana.
"Selamat ulang tahun Mama" ucap Zahira mencium sang Mama.
"Mana hadiah untuk Mama?" tanya Azahra menaik turunkan alisnya.
"Mama mau aku sayang adik atau nggak?" Zahira balik tanya seraya duduk di sisi tempat tidur.
"Tentu sayang dong, Sayang" jawab Azahra menatap senyum sang putri.
"Itulah hadiah dariku untuk Mama. Aku akan bantu Mama bersih bersih rumah, jagain ade dan memasak. Tapi Mama janji ya, Mama dan Papa nggak akan abaikan aku walau pun aku udah besar" ungkap Zahira.
__ADS_1
Azahra menggenggam tangan putrinya. "Mama janji. Sudah, jangan sedih lagi"
Ditengah sibuknya mereka menatap simungil Furqan, Asna dan Taufik tiba-tiba membuka pintu. Disusul Haikal yang dari tempat kerja. Haikal dan Asna menghampiri Azahra, sementara Taufik menghampiri orang dewasa lalu mencium tangan mereka.
"Adik aku ganteng kan?" ucap Zahira berdiri di samping Taufik yang melihat Baby Furqan.
"Hmm" sahut Taufik tanpa melirik Zahira.
"Dasar es!" umpat Zahira pelan.
"Dasar genit!" celetuk Taufik membalas.
"Lihat saja nanti, akan kubuat kamu jatuh cinta padaku. Setelah itu aku tolak cintamu!" ucap Zahira dekat telinga Taufik.
"Kecil kecil udah bahas cinta-cintaan. Ini nih, bibit-bibit pelakor" ucap Taufik menyentil Zahira dengan ucapannya yang hanya mereka berdua yang dengar.
Dari kejauhan, mereka yang ada di ruangan memperhatikan tingkah keduanya. Azahra tahu perasaan anaknya terhadap anak sahabatnya itu. Dan dia juga tahu, Taufik membenci Zahira yang genit.
"Sepertinya kita nggak bisa jodohin mereka. Aku takut anak ku diabaikan" ucap Azahra pada Asna.
"Aku rasa juga begitu. Biarlah waktu yang menentukan jodoh mereka masing-masing" sahut Asna yang tatapannya tak lepas dari Zahira dan Taufik.
Azahra sudah di rumah bersama keluarganya. Seperti kata Zahira sebelumnya, dia akan membantu Mama Azahra memasak juga beres-beres rumah. Dan sekarang Zahira sedang memasak untuk kesekian kalinya. Rasa masakan Zahira tak dapat diragukan lagi, dia pandai memasak.
"Papa jadi lapar" ucap Zul menghampiri sang putri.
Zahira terkekeh. "Sabar ya, Pa. Anak Papa lagi masak. Bentar lagi selesai"
__ADS_1
"Apa yang bisa Papa bantu?" tanya Zul menawarkan bantuan. Melihat putrinya terjun ke dapur, ia merasa sangat bahagia.
"Nggak perlu, Pa. Papa gabung sama yang lain saja" tolak Zahira.
Zulfikar menarik senyum, tangannya terulur mengelus kepala sang putri. Kemudian dia bergegas ke ruang keluarga, berbincang dengan yang lain hingga masakan Zahira tersaji di atas meja.
Zahira mengambilkan sayur bening daun katuk untuk Mamanya. Lalu membawanya ke kamar sang Mama bersama Nasi dan ikan.
"Mama makan dulu ya. Biar ASI nya lancar" ucap Zahira meletakkan nampan berisi makanan.
"Terima kasih, Sayan" ucap Azahra.
"Sayang dulu dong, Ma" Zahira mendekatkan pipinya pada sang Mama.
Azahra segera mencium sekilas pipi putrinya. Kembali mengucapkan terima kasih lalu mulai makan.
Zahira ke kembali ke ruang keluarga, memberitahu keluarganya untuk makan. Kemudian ia masuk ke kamar membersihkan diri sebelum dia mengerjakan tugas sekolah.
Pukul 8 malam, Asna dan Haikal datang membawa daun katuk yang mereka cari di pasar sore tadi. Dan baru sekarang mereka bawa. Belum cukup setengah jam keluarga berbincang, Taufik datang menekan bel rumah.
Si Genit pun kembali merayu Si Es. Dan si Es kembali mengacuhkan rayuan Si Genit. Tingkah keduanya selalu membuat keluarga geleng kepala. Semua keluarga Azahra mengetahui perasaan Zahira terhadap Taufik. Namun mereka selalu berkata pada Zahira untuk tidak mengenal cinta dulu. Cinta itu bisa nanti, asalkan Zahira raih cita-cita dulu.
"Abang ganteng" goda Zahira.
"Ingat tugas!" Taufik mengingatkan. Lalu menemui keluarga di ruang keluarga.
Mendengus kesal, Zahira melayangkan tendangan di udara. Namun hanya sampai di udara, dia tak berani menendang pria yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Lihat saja nanti, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Kemudian melemparmu ke Pluto. Hahahaha" batin Zahira.