
Zahira memilih ke kamar daripada ikut nimbrung di ruang keluarga. Di kamar, gadis cantik itu mengambil ponselnya, dia pun mulai mengambil gambarnya sendiri. Lalu dalam hitungan detik dia menjadikannya story WA. Gayanya yang genit membuat Taufik menggeleng kepala di ruang keluarga.
"Mama Papa nya Subhanallah tapi anaknya kok Istighfar" batin Taufik.
Pukul sepuluh malam, Asna dan keluarga kecilnya pamit pulang. Asna dan suaminya boncengan sementara Taufik mengendarai motor sendiri. Mereka tidak punya mobil, namun masing-masing dari mereka mempunyai kenderaan roda dua.
Setibanya di rumah, mereka menyempatkan waktu untuk mengobrol. Bukan membahas mau makan apa besok melainkan mengenai rencana kuliah. Taufik mau lanjut di mana dan jurusan apa yang mau dia ambil. Kemudian masuk ke kamar untuk beristirahat.
Di lain tempat, Zahira baru saja menyudahi aktivitasnya, yaitu mengaji. Gadis cantik itu memang genit, tapi dia tak lupa akan perintah Mama Papa nya.
"Bantal, bangunkan aku di jam 4 ya" ucap Zahira terkekeh. Dia mengingat kata Fenda, dimana Fenda berkata bahwa dia kerap membuat janji bersama bantal sebelum tidur. Dan anehnya, Zahira pun percaya dan sekarang mempraktekannya.
Di kamar lantai satu, Azahra tengah menyusui putranya. Sementara Zul sejak tadi tidur. Azahra ingin tidur, namun Baby Furqan tak kunjung menutup mata. Bayi mungil itu masih terjaga sementara waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Pukul 12 malam, Baby Furqan mulai menutup mata.
Suara bising dari arah dapur membangunkan Zahira dari tidurnya, gadis cantik itu menatap jam dingin di kamar. Arah jarum jam pendek berada di angka 5.
"Entah Fenda berbohong atau aku yang malas bangun jam 4" gumam Zahira.
Zahira segera ke kamar mandi membersihkan diri sebelum shalat subuh. Setelah shalat, ia turun ke lantai satu menuju dapur.
"Papa, sedang apa Papa di dapur?" tanya Zahira.
"Memasak, Sayang. Kasihan Mama kalau harus ngurus kita lagi. Semalam Mama tidur jam 12 malam, lalu bangun jam dua, terus jam 4 bangun lagi. Kebetulan Papa nggak ngantuk lagi jadi Papa memasak" ungkap Zulfikar.
"Ya sudah, biar aku yang ganti Papa. Sekarang Papa olahraga saja" ucap Zahira serius.
"Biar Papa yang memasak. Kamu ambil pekerjaan yang lain saja, bersih bersih dalam rumah atau halaman depan. Kalau nggak mau, kamu cuci piring kotor saja. Kalau nggak mau lagi, kamu kembali ke kamar atau bersiap berangkat sekolah" tolak Zulfikar.
__ADS_1
Zahira mengangguk, gadis cantik itu membersihkan ruangan lalu halaman depan. Setelah selesai ia kembali ke dapur mencuci piring. Dari arah kamar, dia mendengar Baby Furqan menangis. Zahira tak langsung menemui adiknya, dia dengan telaten membilas piring. Usai mengerjakan pekerjaan rumah, Zahira kembali ke kamar membersihkan diri sebelum ke Sekolah.
Di lantai satu, Azahra sedang mandi air hangat sementara Zulfikar menemani Baby Furqan. Bayi mungil itu terus mengecap ngecap, dan sekali kali mengayunkan bibirnya. Jari-jari mungilnya terus ia gerakkan.
"Apa dulu Zahira juga begini?" gumam Zulfikar.
Tok Tok Tok ... "Papa .. Mama .. boleh aku masuk?" izin Zahira bertanya. Itulah Zahira, dia selalu mengetuk pintu juga meminta izin sebelum masuk ke dalam kamar orang tuanya. Alasannya pun hanya satu, takutnya saat dia masuk dia mendapati salah satu atau kedua orang tuanya sedang tidak mengenakan pakaian.
"Silahkan masuk, Sayang" sahut Zul mempersilahkan. Zahira segera membuka pintu kamar Mama dan Papa nya.
"Papa, apa adik masih tidur?" tanya Zahira pelan.
"Sudah bangun" jawab Zul. "Mau ambil uang jajan?" tanyanya kemudian.
Zahira mengangguk. "Pa, bisa nggak Papa berikan aku uang sebanyak 150 ribu? Aku mau beli sepatu untuk temanku. Sepatunya udah sobek, dan orang tuanya belum ada uang lebih" lirih Zahira.
"Terima kasih Mama, semoga Allah melipatgandakan rezeki Mama dan Papa biar kita bisa membantu orang terus. Aamiin" ucap Zahira berdoa.
Zahira baru SMA kelas 1 sebentar lagi naik kelas 2. Dan selama ini dia selalu meminta uang lebih dengan alasan yang sama. Azahra dan Zulfikar pun tak mempermasalahkan itu, karena dia meminta bukan setiap hari atau setiap minggu, melainkan sebulan sekali dia akan membelikan sesuatu untuk teman-temannya. Terkadang bukan untuk temannya, tapi untuk diberikan ke Group Group kebaikan, dimana kegiatan mereka membagikan makanan untuk anak-anak yatim.
"Aamiin" Azahra dan Zul mengamini.
"Papa ayo" Zahira mengajak, pasalnya Papa Zul yang selalu mengantar jemputnya di sekolah.
"Tunggu sebentar, Papa ke teoilet dulu" kata Zul. Zahira mengangguk. Tak berapa lama, Zul keluar dari toilet.
"Ma, Zahira di mana?" tanya Zul pada istrinya.
__ADS_1
"Di luar" jawab Azahra sambil mengasihi putranya. Zulfikar pamit kemudian menghampiri putrinya.
Di lain tempat, Haikal baru saja selesai menjemur pakaian. Sementara Asna memotong sayur untuk dimasak. Mencuci juga memasak pernah dilakukan oleh Haikal setelah menjadi suami Asna. Bukan diperintah oleh istrinya melainkan atas dasar keinginannya sendiri. Dia hanya ingin menjadi suami yang apabila dia senggan, dia akan membantu. Toh bukan setiap hari.
"Ma, Mama tambah subur ya" ucap Taufik mengambil tempat di meja makan.
"Tambah subur kek mana? Mama nggak paham" ucap Asna.
"Itu badan Mama, semakin besar. Hati-hati loh, Ma. Obesitas nanti" jelas Taufik.
Asna terkekeh. Berat badannya memang naik tapi sesuai dengan tinggi badannya. Jadi justru terlihat tambah cantik, bukan sebaliknya. "Berat badan Mama sesuai dengan tinggi badan Mama, jadi nggak akan obesitas"
"Pa, olahraga dikit napa. Anak baru 1 tapi perut kek orang hamil" tegur Taufik pada Papa nya.
"Biarin, biar orang mengira Papa ini Bos" ucap Haikal tertawa.
Taufik pamit ke sekolah, meninggalkan Mama dan Papa nya berdua di rumah. Seminggu yang lalu Taufik meminta sesuatu pada Mama dan Papanya. Dia, dia meminta Mama dan Papa nya memberinya adik. Jika tidak bisa dari rahim Mama nya, mereka bisa adopsi anak.
Asna yang awalnya mengonsumsi pil KB, segera menghentikannya. Dia dan suami akan berusaha, siapa tahu usaha mereka berhasil. Seperti pagi ini, setelah putra mereka pergi ke sekolah, Haikal menggiring istrinya ke kamar.
SMA Negeri Harapan
Zahira menghampiri Taufik yang sementara duduk di bawah pohon bersama dua orang temannya yang tak kalah ganteng dengan Taufik. Tujuannya pun bukan mencari perhatian tapi mau minta diajarin cara menyelesaikan tugas matematika yang Zahira tidak pahami.
"Kakak, boleh aku gabung?" ucap Zahira sebelum duduk.
Taufik tak menjawab, begitu juga dengan kedua teman Taufik. Kedua teman Taufik ingin mengatakan 'Silahkan' tapi mereka tahu, Taufik begitu tidak suka dengan Zahira. Mau tidak mau mereka hanya diam.
__ADS_1
"Ayo ikut aku" seorang pria yang entah darimana datangnya, dia menarik ujuang jilbab Zahira. Menggiring Zahira ke gazebo kelas.