
"SAH ..."
Hanya terdiri dari tiga huruf namun dapat melegakan hati. Akhirnya, Assagaf putus bujang juga. Dia yang dibujuk oleh Arumi, Haikal juga Asna, merendah juga saat kalimat-kalimat manis keluar dari mulut adik-adiknya.
"Nggak nyangka, aku putus bujang juga" batin Assagaf setelah mengucap basmalah. Hati pria itu berdebar-debar, bahkan dia merasa sedang kena serangan jantung.
Setelah semua proses selesai, Assagaf membawa Nina ke rumah. Diikuti oleh keluarganya juga keluarga Zulfikar yang menggunakan mobil yang lain. Sepeninggal mereka, Taufik tiba di masjid Baitul Makmur.
"Gara-gara macet ni! Jadi terlambat kan akunya!" Taufik mendengus kesal. Setelah bertanya, Taufik kembali mengendarai kendaraan roda duanya dengan tujuan rumah Om Assagaf.
Sekitar dua puluh menit, dia pun tiba. Di dalam rumah ada Zahira juga keluarganya. Mereka ikut membahas acara resepsi yang akan digelar di Hotel Wedding. Salah tingkah, Taufik masuk dan langsung menuju kamar Tante Arumi.
"Ini anak ... main masuk saja" Arumi menjewer kuping Taufik.
Taufik hanya bisa tertawa. "Tante, Zahira cantik ya" lirih Taufik mengajak Arumi mengintip Zahira.
"Iya. Dia cantik sekali. Kapan kamu mau lamar dia?" tanya Arumi.
"Hari ini pun bisa, tapi aku nggak yakin diterima" ungkap Taufik sedikit sedih.
"Kenapa?" tanya Arumi.
"Zahira masih dendam sama aku. Bahkan dia pernah bilang ke Mama Papa nya untuk menolak lamaran ku" jelas Taufik kembali ke kamar Arumi.
Arumi hanya bisa menghela napas panjang. Lalu menemui keluarganya juga keluarga Zahira yang dengan senang hati akan membantu mereka mempersiapkan acara resepsi nanti.
Sore hari, Zahira pamit pulang bersama Mama, Papa juga Furqan. Dalam perjalanan, Zahira kembali membahas Taufik yang menurutnya tidak punya sopan santun. Bagaimana tidak, Taufik tidak keluar kamar selama Zahira ada di sana. mendengar komentar sang putri, Zul hanya bisa tertawa.
Omelan Zahira terjeda saat mobil yang dikendarai Papa Zul telah sampai di depan rumah. Zahira dan Mama serta adiknya turun disusul oleh Papa Zul.
"Zahira, bisa Papa minta waktunya sebentar?" Zul menatap sang putri yang hendak ke kamarnya.
"Bisa Papa" sahut Zahira segera mengambil tempat di sofa. "Ada apa, Pah? Sepertinya serius" tanyanya kemudian.
"Papa mau nanya soal ucapanmu dulu. Dimana kamu bilang kalau orang tua Taufik datang melamar, maka Mama dan Papa harus tolak. Apa masih berlaku?" tanya Zul.
Zahira terdiam. "Apa Papa mau jodohin aku dan Kak Taufik?" tanya Zahira setelah berpikir.
__ADS_1
"Nggak, Papa nggak jodohin kamu. Tapi Om Haikal yang bilang ke Papa untuk menikahkan kamu dengan Taufik" ungkap Zul walau ragu.
"Kak Taufik itu kulkas, dia akan cuekin aku setiap harinya. Emang Papa mau aku tinggal dengan manusia namun bersa tinggal seorang diri?"
"Ya sudah, kalau memang kamu nggak mau Papa nggak maksa. Papa hanya nyampein isi hati Om Haikal" ucap Zul.
...
Azahra menyiapkan celana juga baju batik yang senada dengan warna gamisnya. Malam ini mereka akan menghadiri acara resepsi pernikahan Assagaf dan Nina di Hotel Wedding. Furqan yang juga mau ikut sementara berada di kamar mandi bersama sang Papa.
"Mama ... gamis ku mana?" Zahira mengetuk pintu Mama nya.
"Ada ini. Ayo masuk" sahut Azahra. Zahira meraih handle pintu lalu membukanya. Segera ia menghampiri sang Mama kemudian mengeluarkan gamisnya yang sudah disetrika dari dalam lemari pakaian empat pintu.
"Mama ... jangan lupa baju Papa dan Furqan" teriak Furqan dibalik pintu kamar mandi.
"Iya ..." sahut Azahra. Banyak acara kondangan namun kondangan kali ini membuat keluarga Azahra heboh. Bagaimana tidak, mereka turut bahagia atas pernikahan Om Assagaf. Bahkan Furqan pun berulah agara diizinkan ikut.
Hotel Wedding
"Aku yakin, Assagaf tidak murni lagi" bisik Zul pelan.
"Hus! Kamu ini, masih sempat-sempatnya berpikiran begitu" tegur Azahra. Zulfikar hanya bisa membalas dengan senyum lebar.
Semakin waktu bergulir, tamu undangan mulai berdatangan mengisi kursi yang telah disediakan. Dari sekian banyaknya yang hadir, ada satu orang yang membuat Zahira ingin pulang. Dialah Taufik yang terus memperhatikan Zahira.
"Mama, itu Kak Taufik kok lihat di sini terus!" ketus Zahira.
"Kamu ini, apa salahnya sih dia lihatin kamu. Lagian hati hati loh Sayang, terlalu membenci bisa jadi cinta. Jadi nggak baik juga kalau terlalu membenci" tegur Azahra.
"Iya juga sih, lagian aku nggak benci Kak Taufik. Aku nggak suka dia yang cuek" batin Zahira.
Zahira masih merasa tidak nyaman. "Mama, aku pulang dulu ya. Demi Allah, aku nggak nyaman dilihat terus" bisik Zahira.
"Ya sudah, hati-hati" balas Azahra.
Zahira menarik langkah keluar dari gedung, terus ditatap Taufik membuatnya tidak nyaman. Maka pulang ke rumah adalah keputusannya. Zahira menekan tombol lift, lift terbuka, Zahira segera masuk.
__ADS_1
"Mau ngapain!" seru Zahira saat Taufik tiba-tiba masuk.
"Santai aja kali Neng. Nggak perlu panik. Aku bukan serigala atau semacamnya" jelas Taufik panjang kali lebar.
Lift terbuka, Zahira segera keluar mencari taxi. Dibelakangnya ada Taufik yang terus menatapnya. Kesal, Zahira menghampiri Taufik yang entah pria itu salah minum obat atau apa, yang pasti dia tersenyum saat melihat ekspresi kesal Zahira.
"Nikah yuk" ajak Taufik menarik senyum.
Zahira menghentikan langkah. Lalu menengok ke belakang, samping kiri juga samping kanan. "Hanya aku dan satpam" gumamnya pelan.
"Iya, kamu .. nikah yuk" Taufik kembali mengulang kalimatnya.
Dari kejauhan, Azahra juga suaminya tenga menyaksikan pemandangan yang menyita rasa ingin tahu mereka. Bahkan Rio dan Gerry juga sementara bersembunyi hanya untuk mendengar jawaban Zahira.
Taufik berjongkok, kemudian mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya, membukanya lalu mengarahkannya pada Zahira. Sedetik setelahnya lampu bagian luar tiba-tiba padam, dan tiba-tiba saja ada tangan yang menutup mata Zahira.
"Ini tangan Mama" batin Zahira. Zahira mendengar pergerakan kaki yang terdengar terburu-buru.
"Jangan dulu dibuka matanya" ucap Taufik pada Zahira. Zahira menurut, perlahan dia merasakan tak ada lagi tangan yang menutup matanya.
"Silahkan di buka" titah Taufik.
Zahira membungkam mulutnya saat melihat pemandangan indah di sekitarnya, sementara Taufik kembali berjongkok, dan tak lupa mengarahkan cincin pada Zahira. "Bismillahirrahmanirrahim. Zahira Fatimah, mau kah kau menikah denganku?" tanya Taufik serius.
Zahira mengangguk pelan.
"Alhamdulilah ..." semua keluarga yang bersembunyi keluar dari tempat persembunyian mereka. Setelah lamaran Taufik di terima, mereka semua kembali ke acara resepsi.
End_____
Akhirnya TAMAT juga. Terima kasih untuk Kakak-kakak dan adik-adik (Siapa tahu ada) yang masih setia menjadikan novel ini sebagai bacaan di waktu lenggang kalian.
Dan terima kasih untuk komentar kalian. Jujur saja, komentar positif yang kalian tinggalkan adalah mood booster bagi aku, yang baru sebulan lebih mulai dari awal lagi setelah setahun lebih hiatus.
TERIMA KASIH.
YUK MAMPIR DI Kesayangan Tuan Skay Lioward 😊
__ADS_1