
Beberapa tahun kemudian
Amerika, Los Angeles
Senyum sumringah terpahat jelas di wajah tampan seorang pria yang kehadirannya di nanti oleh orang-orang yang menyayanginya. Dialah Zulfikar. Dengan mengenakan toga, pria itu menarik senyum lebar saat mengambil gambar. Ya, Zulfikar wisuda S2-Nya hari ini. Bukan hanya Zulfikar, Kulsum juga.
"Papa ..." panggil gadis kecil yang usianya sekitar enam tahun.
Zulfikar menarik senyum membuka lebar kedua tangannya. Gadis kecil yang memanggilnya Papa pun berlari kecil ke arahnya.
"Selamat ya, akhirnya Papa wisuda juga" ucap gadis kecil itu. Namanya Garetta. Senyum manisnya membuat Zulfikar gemes.
"Zul, selamat ya. Akhirnya, kamu bisa pulang ke Indonesia. Aku yakin, Azahra pasti merindukan mu" ucap Hadi, Ayah dari Garetta.
"Iya, Azahra pasti merindukanmu" Kulsum menimpali.
Kulsum, ya wanita itu adalah Kulsum. Kulsum dan keluarganya tinggal di Amerika. Tentang panggilan Garetta pada Zulfikar, panggilan itu hanyalah panggilan sayang untuk Zul dari Garetta.
Kenapa Zul bisa bertemu Kulsum juga ceritanya cukup panjang. Yang pasti, Zulfikar tak berniat mengabaikan istrinya juga tak berniat menghilang untuk selamanya. Untuk menebus kesalahannya, Zul akan kembali ke Indonesia di pekan mendatang.
Waktu yang ditentukan pun tiba, Zulfikar masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Hadi. Dalam perjalanan ke Bandara, Zul mengeluarkan ponselnya yang retak saat kejadian tempo dulu, dimana kejadian itu memakan dua korban. Juga dirinya yang nyaris kehilangan nyawa.
"Aku salut sama kamu, dengan kondisimu yang nggak memungkinkan, kamu tetap menyelesaikan study mu" ucap Hadi mengakui betapa pantang menyerahnya seorang Zulfikar. Dia yang hampir setahun lebih bergantung pada kursi roda, tak menyerah akan tujuannya datang di Amerika.
"Hadi, terima kasih ya. Keberhasilan ini bukan hanya usaha ku, tapi juga berkat usahamu dalam mempercayai Kulsum. Selama ini, kamu membiarkan Kulsum membantu ku. Sekali lagi terima kasih. Kamu juga Kulsum, terima kasih banyak" ungkap Zulfikar serius.
Mobil yang dikendarai Hadi telah masuk dalam area Bandara. Lalu berhenti di Parkiran. Hadi maupun Kulsum juga Zulfikar turun dari mobil. Tak lupa mengambil kopernya, Zul masuk ke dalam Bandara.
__ADS_1
"Bro, hati-hati ya. Sampaikan salam kami untuk keluarga kamu" ucap Hadi memeluk lalu menepuk pelan bahu pria yang dia panggil Bro. Keduanya melerai pelukan masing-masing.
"Hei! Apa kamu nggak malu, menangisi suami orang" tegur Hadi yang direspon tawa oleh Zulfikar. Sementara Kulsum mengayunkan bibir ke depan sebelum memeluk suaminya.
"Kul, Hadi, aku pergi dulu. Jaga Garetta untuk ku" pamit Zul yang dibalas anggukan kepala oleh Hadi. Sementara Kulsum semakin memeluk erat suaminya.
Sepeninggal Zulfikar, Hadi menertawai istrinya. "Ya ampun, Sayang. Jangan nampak juga kali" ledek Hadi.
Kulsum mendengus kesal. "Apaan sih, orang akunya hanya sedih aja" celetuk Kulsum.
Cinta Kulsum pada Zulfikar memang tidak tulus, maka tidak sulit baginya untuk melupakan pria itu. Sementara Hadi, kerap mengolok olok Kulsum saat Zulfikar tinggal bersama mereka. Jujur, Hadi cemburu tapi dia yakin, Kulsum tidak akan mengulangi kesalahannya. Dan Zul, dia tidak akan menghianati Azahra, wanita yang menjadi alasan Zul untuk bisa berjalan kembali.
Indonesia, Makassar
Zulfikar menarik kopernya keluar dari Bandara. Tiba di malam hari, membuat pria itu bertanya akan ke mana. Ke Maros, BTP, atau ke Toko? Entahlah, dia pun bingung. Ingin menghubungi salah satu dari mereka. Tapi, dia juga ingin memberi kejutan pada mereka.
Hampir tiga puluh menit, Taxi Bandara menepi di depan Toko Rezeki. Zulfikar menatap lama Toko yang kini semakin berkembang. Bahkan Azahra menyewa dua ruko yang dijadikan satu sehingga Toko Rezeki menjadi luas.
"Mas, apa alamatnya salah?" tanya sang supir yang sedari tadi menunggu Zul membayar tagihan sebelum turun.
"Ah? Alamatnya sudah benar" jawab Zul seketika mengeluarkan uang dari saku celananya. Lalu turun.
Di dalam Toko, Azahra sedang menyusui putrinya. Jarinya terus menerus digerakkan mengelus pipi cubby sang putri. Zahira Fatimah, itulah nama putri mereka.
Ponsel Azahra berdering, segera wanita itu meraihnya. Di layar ponsel, nama Zulfikar terpampang jelas di sana.
"Kak Zul" mata Azahra berkaca-kaca. Dia berharap, yang menghubunginya memang Zulfikar, suaminya. Bukan orang lain yang kebetulan menemukan ponsel di jalan lalu menghubungi keluarga si pemilik ponsel.
__ADS_1
"Mama ... Mama ..." panggil Baby Z.
"Iya, Sayang" Azahra menyahut panggilan putrinya.
"Papa ... Papa ..." kembali Baby Z memanggil Papa nya.
Azahra segera menekan icon hijau, lalu menekan speaker. Azahra diam, menunggu seseorang yang dia tunggu mengucap salam atau memanggil namanya. Lama, keduanya tak bersuara.
"Assalamualaikum" Zul mengucap salam.
Degh!! Tangis Azahra pecah setelah mendengarnya. "Waalaikumsalam" jawab Azahra.
Di luar, netra mata Zulfikar berembun sesaat setelah mendengar suara istrinya. "Kamu dimana?"
"Aku di Toko. Sayang, aku kangen. Kamu dimana? Boleh aku menyusulmu?"
"Aku di luar" jawab Zul.
"Papa Papa Papa ..." Baby Z kembali bersuara.
Degh!! Zul segera menghampiri pintu Toko. "Sayang, tolong buka pintunya, aku di depan Toko" kata Zul.
Tak berapa lama, Azahra membuka pintu. Tangisnya pun pecah melihat Zul di hadapannya. Untuk memastikan kenyataan, Azahra mengulurkan tangan menyentuh wajah suaminya.
"Papa ..." Baby Z berdiri tak jauh dari Azahra.
Zul menatap Baby Z, lalu menatap Azahra. "Apa kamu sudah menikah lagi?" tanya Zul.
__ADS_1