
Beberapa tahun kemudian, Zahira tumbuh menjadi anak yang cantik. Periang juga suka usil. Berbanding terbalik dengan Taufik yang menjadi anak yang pendiam dan lebih suka menyendiri.
Ayumi dan Naudira menjadi wanita yang tak kalah cantik dari Zahira, keduanya juga judes, juga Berlin yang tumbuh menjadi pria yang tampan. Dia lebih muda dari Zahira namun sikapnya seperti seorang Kakak.
Dengan mengenakan seragam sekolah SMP, Zahira berlari masuk ke dalam rumah. Di tangannya terdapat selembar kertas hasil kelulusan. Binar bahagia menghiasi wajah cantiknya.
"Papa ..."
"Mama ..."
Gadis blak blakan itu mencari Mama dan Papa nya yang entah di mana. Harapan terakhirnya adalah kamar orang tuanya, berharap Mama dan Papanya ada di kamar. Zahira mengetuk pintu kamar namun tak ada tanda-tanda orang di dalam.
Menghela napas kasar, Zahira kembali ke kamarnya. Sepeninggal Zahira, Zulfikar kembali bercocok tanam. Dia masih ingin punya anak dan Zahira menolak untuk memiliki adik. Tentu hal itu membuat Azahra dan Zulfikar ragu untuk melepas KB. Sekalipun ragu, Azahra tetap melepasnya sejak dua bulan lalu.
Usai bercocok tanam, Zulfikar dan Azahra bergegas mandi lalu menemui sang putri di kamarnya. Di sana, mereka mendapati Zahira melakukan panggilan telepon dengan seseorang yang dia sayangi, Nenek Aira.
"Nenek, aku lulus dan dapat juara 1 umum. Hadiah apa yang Nenek mau berikan padaku? Boleh aku request?"
"Boleh, Sayang"
"Boleh? Yeeeeah ..." Zahira bersorak. "Nenek, aku mau ponsel baru, Papa pelit, nggak beliin aku ponsel baru" Zahira mengadu.
"Nggak baik memfitnah orang tua, Zahira" ucap Zulfikar menghampiri sang putri.
Zahira terkekeh. "Nenek, kapan kita pergi beli?" tanya Zahira tak sabar.
"Insya Allah nanti sore, sekalian Nenek dan Kakek mau bermalam di situ"
"Nanti sore?" Zahira memastikan pendengarannya.
__ADS_1
"Iya, Sayang"
"Siap, Nenek. Aku tunggu Nenek di rumah ya, Nek. Ajak Tante Dira juga, aku kangen Tante Dira"
"Aku nggak kangen kamu ..." terdengar Naudira berucap.
"Hahahahaha. Nggak masalah, asalkan Nenek Sayang aku. Assalamualaikum Tante"
Tut Tut Tut ... Panggilan terputus. Zahira menghampiri Mama dan Papa nya yang sementara duduk di sisi ranjang sang putri. Rona bahagia di wajah Zahira masih terlihat di sana.
"Coba Mama dan Papa tebak, aku lulus nggak?" Zahira berdiri di depan Mama dan Papanya.
Azahra dan Zulfikar saling tatap, memang benar, anak mereka itu sedikit gila. Harusnya pertanyaan itu tidak perlu terlontar, karena Azahra dan Zulfikar sudah tahu. Tahu dari Zahira sendiri saat putri mereka itu memberitahu Nenek Aira. Tak ingin membuat sang putri sedih, baik Azahra dan Zulfikar berpura-pura berpikir.
"Kalau tebakan Papa benar, Zahira mau ngasih Papa apa?" tanya Zul sebelum menjawab tebakan sang putri.
"Aku pijitin Papa" balas Zahira. Dia sebenarnya tahu jikalau Mama dan Papa nya itu sudah tahu. Tapi, dia tetap mau mengajak Mama dan Papa nya main tebak tebakan. Tak mengapa bila dia harus memijat Papa nya. Anggap saja itu sebagai bentuk baktinya yang tak seberapa.
Zahira bersorak. "Mama, aku dapat juara nggak?" tanyanya menatap sang Mama.
"Hmm ... Dapat. Gimana, tebakan Mama benar kan?"
Zahira mengangguk. Segera ia memeluk Mama dan Papanya. "Nanti aku pijitin bahu Papa biar nggak sakit lagi. Dan nanti aku bantu Mama masak, biar Mama nggak terlalu cape" lirihnya.
Waktu yang dinanti pun tiba, Zahira sedang menunggu Nenek Aira, Kakek Kurniawan dan Tante Arumi datang. Hampir satu jam dia menunggu namun Neneknya belum juga datang. Kesal, Zahira kembali ke kamarnya. Suasana hatinya begitu tidak baik baik saja, dan suasana itu semakin tidak baik-baik saja saat ia melihat Taufik mengunggah story di Aplikasi Whatsapp, dimana di unggahan itu Taufik berpose bersama seorang wanita yang menggunakan pakaian seragam yang sama dengannya.
"Lihat saja nanti, aku akan membuat Kakak terpikat padaku" gumam Zahira penuh percaya diri. "Ayo bangkit Zahira, jangan patah semangat!!" tambahnya.
"Sayang ... Nenek manggil tuh" Azahra memberitahu dari lantai satu.
__ADS_1
Zahira yang dilantai dua segera menemui Neneknya. Tapi sebelum itu dia mencium tangan Mama dan Papanya dulu. Kendaraan roda empat mulai menjauh dari pekarangan rumah, Azahra kembali memasak untuk makan malam nanti.
Menjelang malam, Azahra bermanja pada suaminya. Wanita cantik itu membujuk suaminya jalan-jalan ke Eropa lagi. Namun Zul menolak karena dia mengajar. Dia tidak bisa libur seenaknya. Untuk mencegah rasa kecewa sang istri, Zul mengizinkan Azahra membawa Zahira ke Bali.
Ditengah keduanya sedang bercumbu mesra, bunyi klakson terdengar. Azahra segera membuka pintu untuk keluarganya. Dilihatnya sang putri sedang memamerkan ponsel barunya. Sementara Naudira terlihat jeles.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Azahra pada adik iparnya.
"Mama tuh, hanya beliin cucunya ponsel, aku nggak dibeliin" Naudira mengaduh.
"Kan ponsel kamu baru dibeli 3 bulan yang lalu sayang" ucap Mama Aira hanya bisa menggelengkan kepala.
Naudira tak mau menanggapi, ia menarik Kakak Iparnya masuk ke dalam. Azahra hanya menurut, dia tahu betul bagaimana sikap anak bungsu. Dimana mana anak bungsu selalu manja. Dan suka cemburuan pada ponaan pertamanya.
"Kakak ... tolong berikan adikmu ini uang ..." Naudira bergelayut manja pada Zulfikar, sang Kakak.
Zulfikar tertawa, begitu juga dengan Azahra. Melihat tingkah Naudira, Zahira tertawa. Tante nya itu suka sekali minta uang, dan ujung-ujungnya sebagian uang itu diberikannya pada Zahira. Aneh, tapi nyata.
"Kakak belum gajian" jelas Zul.
"Ya ..." Naudira memelas.
"Papa, kasihan Tante Dira. Nenek nggak beliin ponsel untuk Tante, bahkan Nenek nggak beliin sepatu baru buat Tante. Masa Papa dan Mama nggak ngasi Tante Dira uang. Kalau aku ada uang, aku pasti ngasi Tante Dira. Ayolah Papa, kasihani adikmu yang cantik itu ..." bujuk Zahira mengambil tempat di samping sang Papa. Lalu ia mengedipkan mata pada Naudira.
"Iya, Kakak. Adik kalian hanya aku, masa iya kalian tega lihat adik kalian gunakan sepatu yang sudah sobek" Naudira kembali beracting.
"Jangan percaya, tadi Mama sudah belikan dia sepatu" ucap Mama Aira.
"Dira ... Dira. Setiap hari kamu dan ponaanmu itu hanya bahas uang. Uang ... saja" timpal Kakek Kurniawan hanya bisa menggeleng kepala.
__ADS_1
Zahira dan Naudira terkekeh. Lalu keduanya masuk ke dalam kamar. Di sana, Zahira dan Naudira sedang mencoba kamera ponsel baru Zahira. Keduanya pun berpose bersama. Mereka terlihat seperti Kakak adik, nyatanya ponaan dan Tante.
Kembali ke Azahra, bukannya dia tidak mau memberikan uang pada adik iparnya, tapi dia sudah membeli sesuatu untuk adik iparnya. Dan itu ada di dalam kamar. Leptop untuk Naudira menulis novel, juga kacamata anti radiasi Ya, Naudira penulis novel remaja yang sudah setahun dia geluti.