SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 26


__ADS_3

Pagi hari sekitar jam tujuh lewat dua puluh satu menit, Azahra tiba di kontrakan setelah hampir dua jam dia berolahraga di Unhas. Sebelum masuk ke dalam rumah, wanita itu menyempatkan waktu untuk memanaskan motornya. Hanya lima menit, ia pun mematikan mesin motor lalu masuk ke dalam rumah.


"Zahra ... aku lapar ..."


Terdengar Zulfikar mengeluh. Azahra yang sementara melewati kamar Zulfikar, otomatis mendengar keluhan itu. Dia yang masih marah, masih kesal dengan kembalinya Kulsum di kontrakan, membuatnya malas menanggapi.


"Zahra ... aku lapar ..." kembali Zulfikar mengeluh bahkan terdengar terisak.


Memutar bola mata malas, wanita cantik berjilbab hitam itu kembali menggiring langkah hingga ke dalam kamar. Membuka lemari pakaian, mata indahnya mulai menatap satu persatu pakaian yang tertata rapih di sana. Beberapa detik kemudian, seulas senyum tersungging manis di wajah cantiknya tatkala mata indahnya terpanah pada beberapa pakaian yang menurutnya pas untuk menunjang style hari ini.


Kembali mata teralihkan pada jam tangan yang dimana, disana menunjukan pukul delapan lewat tiga menit. "Masih ada waktu satu jam" gumamnya.


Segera Azahra mengeluarkan dalaman warna crem muda, kous lengen pendek warna putih dan celana kulot warna putih, serta jilbab pasmina warna senada dengan dalaman baju.


Tak ingin terburu buru nantinya, Azahra pun memilih mandi agar nanti dia tinggal berdandan cantik tapi tetap terlihat natural. Karena selain mengantar paket, dia juga berencana akan ke MTC, membeli ponsel baru sekalian pergi jalan-jalan ditemani Asna sang sahabat.


Beberapa puluh menit kemudian, Azahra selesai mandi bahkan sudah berdandan. Mengambil sling bag ukuran sedang, ia segera keluar dari kamar.


"Zahra ... tolong aku ... aku lapar sekali ..."


"Kenapa bukan Kak Kulsum sih yang dipanggil! Kan lebih romantis bila Kak Kul yang menyiapkan makanan untuk Kakak!" protes Azahra sambil mengeluarkan satu kertas merah berisi paket yang sudah dia packing.


"Zahra ... tolong buatkan makanan untukku ..." pinta Zul yang enggan keluar kamar.


"Zahra ... aku lapar ..." Zulfikar kembali merengek.


Azahra yang sementara meletakkan paket di motor, menghela napas panjang. Kesal, wanita itu menemui si Zulfikar di kamarnya. Melihat wajah Zulfikar yang babak belur, mata Azahra membulat sempurna.


"ASTAGHFIRULLAH ... Kakak kenapa?" tanya Azahra panik. "K_kita ke rumah sakit sekarang" sambungnya merogoh ponsel dari dalam tasnya.


"Aku mau makan, Zahra ... bukan mau ke rumah sakit" suara itu terdengar mengecil bersamaan dengan sipemilik suara yang terlihat menunduk.


Ditatapnya wajah Zulfikar yang memar, hati wanita itu tersenyuh. Tak tega bila harus meninggalkan suaminya di rumah sendirian. "Tunggu aku ambilkan makanan" merendah, akhirnya Azahra kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


Sekitar tiga menit, Azahra membawa makanan kesukaan Zulfikar yang sengaja Azahra masak kemarin sore. Mengambil tempat di samping ranjang, ia mulai menyuapi Zulfikar.


Aaa ... Azahra membuka mulutnya saat satu sendok makanan diarahkan ke mulut Zulfikar. "Buka mulut!" ketusnya diiringi tatapan tajam.


"Biarkan aku makan sendiri. Lagian hanya wajahku yang lebam dan sakit, bukan tangan ku" jelas Zul salah tingkah.


Azahra memelototi. "Buka mulut!" desisnya mengancam.


Malu, namun tetap membuka mulut. Zulfikar, pria itu menyesali sikapnya. Harusnya dia tidak merengek pada Azahra yang dikiranya lemah lembuh namun nyatanya dia begitu pemaksa. Lihatlah, Azahra memperlakukannya bak anak kecil yang sedang sakit. Andai Zul anak kecil, bisa dipastikan Azahra akan menggendongnya.


Sesuap demi sesuap, satu piring makanan pun habis dimakan oleh Zulfikar. Menyadari tidak ada air minum, Azahra segera ke dapur mengambil segelas air dan tak lupa membawa piring kotor juga sendok.


Kembali ke kamar, Azahra mendapati Zulfikar batuk-batuk. "Minum dulu" ucapnya seraya mengarahkan gelas pada mulut Zul.


"Kalau aku nggak masak, ya Kakak memasak. Kan kakak juga punya tangan, kenapa harus tahan lapar segala. Dan lagi, bukannya semua uang ada di Kakak? Kakak bisa beli makanan untuk Kakak makan. Hidup itu jangan dibikin sulit. Lapar ya makan. Nggak ada makanan ya masak"


"Dimana Kak Kul? Dari kemarin nggak kelihatan" tanya Azahra. Lalu kembali melirik jam pada pergelangan tangannya.


"Jangan sebut dia lagi" ucap Zul kemudian masuk ke dalam selimut. "Pergilah, jangan lupa gembok pagar" sambungnya mengingatkan.


Azahra keluar dari kamar. Mengeluarkan ponsel dari dalam tas, ia mulai mencari kontak sahabatnya, Asna. Kemudian memulai panggilan suara. Beberapa puluh detik kemudian, Asna menjawab panggilan darinya.


"Assalamualaikum" Asna mengucap salam.


"Waalaikumsalam. Asna, bisa kamu bantu aku? Tolong kamu chat Haikal, minta dia temani kamu antar paket. Aku nggak bisa sekarang, Kak Zul sakit aku nggak tega ninggalian dia sendirian"


"Iya. Nanti aku hubungi dia" balas Asna.


"Makasih ya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab Asna.


Setelah panggilan berakhir, Azahra menarik langkah ke dapur tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Mengambil panci berukuran sedang–mengisinya dengan air–dan terakhir meletekannya di atas kompor gas. Menyalakan kompor gas, kemudian ia mengambil baskom besar, membawanya masuk ke dalam kamar Zulfikar.

__ADS_1


Melihat Azahra membawa masuk baskom besar ke dalam kamar mandinya, Zulfikar hanya diam menatap tanpa bertanya. Hingga panci berisi air panas yang berhasil Azahra bawa, membuat Zulfikar bertanya.


"Untuk apa itu?"


"Untuk Kakak mandi" jawab Azahra seraya menuangkan air panas ke dalam baskom berisi air dingin.


"Tapi aku nggak mau mandi!!" protes Zul.


"Dan aku nggak mau tahu, Kakak tetap harus mandi. Kalau nggak, aku lapor Mama" Azahra mengancam sambil berkacak pinggang.


"Kakak, ayo mandi" panggil Azahra merendah. Kemudian keluar dari kamar.


Tak ingin berdebat, Zulfikar mengindahkan. Segera pria itu melepas pakaiannya, menyisakkan cel*na d*lam.


Sembari membiarkan Zulfikar melepas pakaian, Azahra mengambil handuk kecil di kamarnya. Hanya beberapa puluh detik saja, ia kembali mendapati Zul hanya mengenakan celana dal*m.


"Zahra ... tutup matamu ...!" titah Zul berteriak.


Azahra tak mengindahkan. "Ikut aku ke kamar mand!" titahnya melewati Zul.


Dengan ekspresi tak percaya, Zulfikar menatap punggung Azahra "Sepertinya kau sudah gila!" pekik Zul kesal.


"Aku nggak lihat. Dan kalau lihat pun, nggak mungkin aku ambil. Jadi santai saja. Aku nggak akan perk**a Kakak" desis Azahra tak terima.


Kesal tak diikuti Zul, Azahra berbalik menarik paksa tangan Zul. "Patuh dikit napa sih, Kak! Ini juga demi kebaikan Kakak!" ketusnya.


Duduk bak anak kecil, Zulfikar menatap air yang ada di dalam baskom. Terlihat jelas air itu masih terlihat mengeluarkan asap. "Zah, tambahin air dingin lagi dong ... airnya masih panas ..." protes Zul.


Azahra tak mengindahkan, ia mengambil segayun air dan mulai menyiram tubuh Zul dimulai dari bagian bahu.


"Huuuu ... airnya panas Zahra ..." teriak Zulfikar.


"Panas apanya, dingin kok" Azahra memasukkan sebagian tangan di baskom.

__ADS_1


Membasahi handuk kecil dengan air hangat, Azahra mulai mengurut tubuh Zulfikar. Dimulai dari bahu, lengan dan anggota tubuh lainnya. Terkecuali bagian yang ditutupi dengan celana d*alam.


__ADS_2