
"Zahra, apa kamu masih mau menerima Zul sebagai suami kamu?" tanya Papa Kurniawan pada menantunya.
Semua mata tertuju pada Azahra. Terlebih Zul yang tidak sabar mendengar jawaban dari istrinya. Dia tahu dia salah, dan dia akan melakukan apa saja asal Azahra menerimanya.
"Iya, Pa. Aku menerima Zul sebagai suamiku" balas Azahra menunduk.
"Alhamdulilah" sahut mereka semua setelah mendengar jawaban Azahra.
Berhubung sudah 2 tahun Zul tak menafkahi Azahra, maka mau tidak mau, mereka harus menikah ulang. Dan kini, dikediaman Papa Giman, Azahra dan Zulfikar baru saja melangsungkan akad nikah. Akad nikah berlangsung tanpa kendala. Para tetangga pun turut diundang untuk menghadiri ijab kabul yang berlangsung tadi. Cukup meriah dan berkesan.
"Sayang, terima kasih ya. Kamu mau menerima aku lagi" ungkap Zul saat di kamar hendak mengganti pakaiannya setelah semua acara selesai.
"Jangan di ulang lagi ya" pinta Azahra.
Zulfikar mengangguk. Melihat Azahra yang semakin cantik, Zul tak sabar mengajak istrinya berolahraga. Setelah Azahra dan Zul mengganti pakaian, keduanya menemui keluarga di lantai satu. Di sana, ada kawan kawan Azahra termasuk G, Asna dan Haikal. Bahkan Assagaf dan Qonita juga ada.
"Hai, Kak. Lama tak bersua" sapa Haikal.
Zulfikar terkekeh. "Anak kamu ganteng ya, nanti kita jodohkan dia dengan Zahira" ujar Zul menatap anak digendongan Haikal.
"Tentu saja dia ganteng, orang Papa nya ganteng kok. Bagaimana Sayang?" Haikal mengedipkan mata pada Asna.
Asna hanya terkekeh. Sementara yang lain tertawa melihat tingkah konyol Haikal. Haikal, di usianya yang masih muda, dia sudah memikul tanggung jawab yang besar. Sekalipun begitu, dia tak pernah menyesali keputusannya dulu.
Di ruang keluarga, sanak saudara bercanda gurau bersama. Begitu juga dengan pengantin lama yang kembali memulai akad beberapa jam yang lalu. Seiring bergesernya waktu, satu persatu pamit pulang ke rumah masing-masing.
Bahkan Azahra dan Zul pun pamit kembali ke Toko. Ya, mereka akan tinggal di Toko sampai masa kontrak berakhir. Atau setidaknya mereka memiliki rumah dulu, rumah pribadi tanpa harus menguras kantong orang tua. Memang sih, membangun rumah membutuhkan biaya yang cukup banyak, dan mereka akan mengusahakannya.
__ADS_1
Zulfikar menemani Zahira bermain, sementara Azahra menyiapkan makan malam sederhana. Hanya beberapa puluh menit saja, masakan tersaji di atas meja kecil yang hanya memiliki dua kursi. Dengan lauk pauk seadanya, keduanya memulai makan malam. Sementara Zahira asyik bermain sendiri. Usai makan malam, keduanya menemani Zahira bermain.
"Sayang, apa kamu kuliah?" tanya Zul. Banyak pertanyaan yang akan ia ajukan, namun satu persatu dulu.
"Nggak. Aku memutuskan berhenti kuliah setelah aku tahu aku hamil dan kamu nggak ada kabar" jawab Azahra.
Zulfikar terdiam. "Lalu, selama kamu hamil, siapa yang mengurus kebutuhanmu?" tanyanya melanjutkan pertanyaan.
"Mama dan Papa yang di Maros, juga Mama dan Papa yang di BTP. Asna juga sering datang mengajakku bercerita. Dan teman baruku, G. Namanya Diana Aprlian G, kami memanggilnya G. Dia sering ke Toko temani aku jaga Toko sambil ngajak cerita" jelas Azahra lagi.
"Apa kamu marah saat aku menghilang tanpa kabar?" pertanyaan ketiga terlontar.
"Awalnya marah. Lama kelamaan nggak lagi. Aku selalu berdoa, agar Allah melindungimu" jawab Azahra sambil membersihkan tangan Zahira.
"Kenapa kamu tidak menikah lagi?" pertanyaan keempat terdengar menyebalkan namun akan tetap dijawab oleh Azahra.
"Jangan lupa apa yang dikatakan Mama tadi. Selama 6 bulan kamu temani Zahira bermain saat malam hingga pagi. Jika dia haus atau lapar, kamu bisa ambilkan ASI di kulkas" tambah Azahra mengingatkan.
Ya, Mama Aira menyuruh Zul untuk mengambil alih Zahira. Dalam arti, selama 6 bulan, Zulfikar lah yang akan bangun pada malam hari untuk memberi ASI botol juga dia yang akan menemani Zahira saat anak kecil itu bangun bermain di larut malam.
Itu hukuman untuk Zulfikar dari Mama Aira. Dan Azahra, wanita itu setuju berhubung dia juga ingin suaminya dekat dengan putri mereka. Toh, Zahira kerap bangun dilarut malam, boleh dikata dia aktif disiang hari.
"Iya, aku masih ingat. Sudah sana, kamu istirahat" kata Zul mengusir istrinya ke kamar.
Azahra terkekeh. Segera wanita itu mencium putrinya sebelum dia ke kamar. "Dada Sayang, Zahira sama Papa ya, Mama tidur dulu"
"Da ... Dada Mama ..." Zahira mengoyangkan tangan kanannya. Lalu tersenyum lebar.
__ADS_1
Pukul sepuluh malam, Zahira belum mau tidur sementara Zul sudah mengantuk. Mengingat dia tak ada saat-saat Azahra mengandung juga melahirkan hingga merawat putri mereka, Zulfikar pun ke dapur membilas wajah agar tidak mengantuk. Berulang kali dia melakukan hal yang sama hanya untuk mencegah matanya terutup sebelum Zahira.
"Papa" Zahira menunjuk kulkas. Sepertinya anak itu tahu ada stok di kulkas.
"Minum?" Zul bertanya menatap manik mata sang putri.
"Um" sahut Zahira kecil.
Zulfikar menguap lagi. Ia menggelengkan kepala cepat membuang rasa kantuk yang sedari tadi menghampiri. Lalu membuka kulkas. Sementara Zahira yang sudah jalan mengekori Papanya.
"Biar Papa Sayang" ucap Zul pada putrinya yang mau mengambil botol susu dari tangan sang Papa.
"Nen" celoteh Zahira menatap botol susunya.
Menarik senyum, Zul menuntun putrinya duduk. Dengan pengawasannya, ia membiarkan Zahira minum sendiri. Setelah menghabiskan 100 mL susu, Zahira dengan pintarnya merebahkan diri di atas karpet yang membentang. Lalu menutup mata.
"Papa" panggil Zahira menepuk pelan pahanya. Memberi isyarat agar sang Papa mengelus pelan paha Zahira.
Zulfikar yang mengatuk, langsung tertawa. Gemes, ia mulai memenuhi permintaan putrinya. Hanya beberapa kali elusan pelan, Zahira terlelap. Segera Zul menggendong putrinya, membawanya ke kamar. Berhubung di Toko hanya ada satu kamar di lantai 2, maka mereka pun tidur seranjang bertiga.
Pagi keesokan harinya, Azahra selesai mengenakan putrinya baju juga bedak tipis. Tak lupa lotion baby juga parfum. Pagi jam delapan nanti, dia akan ke Puskesmas Antara membawa Zahira Posyandu.
"Sayang, bangun. Jam 8 nanti kita ke Puskesmas Antara" kata Azahra menggoyangkan kaki suaminya.
"Hmmmmm" sahut Zul tanpa membuka mata. Tidur di pukul 12 malam lalu bangun lagi di pukul 3 pagi membuatnya enggan bangun. Andai anak yang dia jaga adalah keponakan nya, bisa dipastikan, Zul akan membawa pulang anak itu ke Mama Papa nya. Sayangnya, Zahira adalah darah dagingnya. Dia diharuskan ikut berperan penting dalam mendidik juga membesarkan putrinya.
"Sayang, Zahira mau Posyandu. Kamu nggak mau antar kami?" tanya Azahra pelan.
__ADS_1
"Posyandu?" gumam Zul, segera pria itu berlari ke kamar mandi.