SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 49


__ADS_3

Azahra tak menggubris pertanyaan Zulfikar. Masa bodoh dengan pertanyaan itu. Saat ini, dia hanya ingin menangis bahagia, mengucap syukur pada sang Kuasa karena telah mengijabah doa yang selalu dia panjatkan.


Hampir dua tahun menunggu, menunggu dia yang dipanggil Papa oleh sang buah hati. Terkadang ingin berteriak, bertanya, namun kemana dan pada siapa harus bertanya. Setiap sujud, bahkan setiap waktu, Azahra memanjatkan doa pada Sang Kuasa, agar memberi perlindungan pada sang pemilik hati.


Malam ini, doanya terkabulkan. Dia, dia yang selalu disebut dalam doa kini berdiri di depan pintu dalam keadaan sehat wal afiat.


"I_ini nyata kan?" gumam Azahra bertanya. Deraian air mata mengalir cepat tanpa bisa di jeda.


Zulfikar yang pada dasarnya sangat, bahkan sangat merindukan sang istri, pria itu membawa istrinya dalam pelukannya. Sedetik kemudian tatapannya beralih pada gadis kecil yang berada di belakang sang istri. Gadis kecil yang sedari tadi memanggil Papa. Gadis kecil yang semakin hari semakin mirip dengannya. Baby Z, adalah Zulfikar versi wanita.


"Papa" Sorot mata Baby Z terarah pada wajah yang baru dilihatnya. Dia belum pernah melihat Papa nya, selalu memanggil Papa pada setiap pria yang datang ke Toko. Kini, panggilan itu tepat sasaran.


Azahra melerai pelukannya, ia berbalik menatap gadis kecil yang kini menatapnya juga Zulfikar. "Sini, Sayang. Ini Papa" katanya.


Baby Z terkekeh, segera menghampiri sang Mama. "Salim dulu" titah Azahra pada Baby Z.


Baby Z yang selalu diajari begitu pandai, dia yang masih mungil seakan mengerti. Tangan mungilnya meraih tangan Zul yang tak bisa digapainya.


Zul berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan tinggi sang buah hati. "S_sayang, apa dia anak kita?" tanya Zul terdengar bergetar.


Baby Z meraih tangan Zulfikar lalu menciumnya. Ciuman itu seakan membawa aliran listrik, namun menyejukkan hati Zulfikar.


"Iya, dia anak kita" jawab Azahra menyeka air matanya.


Pukul sepuluh malam, Baby Z masih belum tidur. Dia masih ingin bermain, bermain dengan Zulfikar, sang Papa. Sesuai kata Zul, kedatangannya untuk malam ini dirahasiakan dari orang tuanya. Esok hari, dia akan ke rumah orang tuanya, memeluk keluarganya sekalian meminta maaf dan menceritakan kejadian yang menimpanya sehingga dia tak memberi kabar dalam waktu yang cukup lama.


Lelah bermain, Baby Z terlelap di pangkuan sang Papa. Zulfikar pun memindahkan sang buah hati di tempat tidur. Menciumnya sekilas, lalu menemui Azahra di depan televisi.


"Sayang, kamu belum menikah lagi kan?" pertanyaan konyol itu terdengar keluar dari mulut Zul setelah mengambil tempat di samping sang istri.


"Bagaimana dengan mu?" Azahra balik bertanya. Pertanyaan Zul mengundang kekesalannya. Boleh dikata dia baru bahagia beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Istri ku masih kamu" lirih Zul. Berharap Azahra memberi jawaban yang hampir sama. Seperti 'Suamiku juga masih kamu'.


Dalam hati Azahra bahagia, namun tak ia tunjukan.


"Kamu sudah menikah?" Zul kembali mengulang pertanyaannya.


Azahra masih tak menjawab. Saat ini, dia ingin dipeluk oleh Zulfikar. Tapi, pria itu tak kunjung memeluknya. Azahra ingin memulai, tapi dia malu.


Tak mendapat respon, Zulfikar mengubah topik. "Bagaimana ceritanya kita punya anak. B___"


Zul tak melanjutkan kalimatnya saat Azahra menatap tajam padanya. "Apa katamu tadi! Bagaimana ceritanya?" Azahra menggertak kan giginya. "Siapa yang bercinta denganku saat akan ke Bandara? Kamu atau pria lain?" desisnya kesal.


Jleb!! Zulfikar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pertanyaan tentang anak sudah terjawab. Tinggal status Azahra, apakah dia sudah menikah lagi atau belum.


"Bagaimana dengan pertanyaan ku yang tadi?" lirih Zul. Pertanyaan itu masih saja terlontar. Boleh dikata, di Toko tak ada pria dewasa selain dirinya.


"Cepat balas Sayang, aku ingin memelukmu. Melepas rindu yang selama ini terpendam" batin Zul.


Kedua kening Azahra saling beradu. Seakan akan dia tidak paham namun sebenarnya dia paham.


Gemes, Azahra menghela napas panjang. "Ayo ke kamar" ajaknya lalu bergegas ke kamar.


Zulfikar menerbitkan senyum, ia telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang tadi dia tanyakan. "Sayang, tunggu aku ..." rengek nya.


Pukul dua malam, Zulfikar dibangunkan oleh belaian jari jemari Baby Z yang gembul. Menarik senyum, Zul menarik diri hingga duduk menghadap sang putri. "Napa bangun di larut malam?" tanya Zul pada sang putri.


"Ta ... Ta ..." celoteh Baby Z sambil menunjuk mainannya.


"Mau Papa ambilkan ya?" Zul bertanya menatap manik mata sang putri.


Tersenyum, Baby Z berhamburan memeluknya. "Pa Papa ... Papa ..."

__ADS_1


Netra mata Zulfikar kembali berair. Ada rasa bahagia yang tak dapat diutarakan lewat kata. "Iya Sayang, ini Papa" kata Zul mencium kepala putrinya berulang kali.


"Kita main dibawa ya, biar Mama tidurnya nyenyak" ucap Zul pelan. Lalu menggendong putrinya ke lantai satu.


Kebiasaan Baby Z, selalu ketiduran di tempat bermain. Melihat sang putri tertidur, Zul kembali menggendongnya membawanya masuk ke dalam kamar.


Bermain di larut malam, membuat Baby Z juga Zulfikar bangun terlambat. Waktu sudah menunjukan pukul 06:21 AM, namun anak dan Papa itu masih tidur. Sementara Azahra memilih bersih-bersih setelah shalat subuh.


"Papa" Baby Z mengelus pelan wajah pria yang dia panggil Papa.


Merasakan ada sentuhan dari sang buah hati, Zulfikar mengerjap kemudian tersenyum. "Selamat pagi putri, Papa" ucap Zul.


Zul menggendong Baby Z, membawanya turun ke lantai satu. Di sana, mereka mendapati Azahra sedang melayani pelanggan. Zul melirik putrinya, mendapati sang putri masih dengan baju tidurnya. Zul yakin, putrinya belum mandi. Tak ingin merepotkan sang istri, Zul memilih memandikan sendiri anaknya.


Dia yang belum cukup 24 jam berada di Toko Rezeki, bingung mencari letak pakaian sang putri. Maka bertanya adalah jalan satu-satunya. "Sayang, pakaian princess dimana?"


"Di kamar, di lemari plastik susun" jawab Azahra yang sementara menghitung uang.


Zul bergegas kembali ke kamar. Ia mendudukkan Baby Z di atas tempat tidur, lalu dia mengambilkan pakaian untuk putrinya.


"Sayang, pakai baju dulu ya" kata Zul pada sang putri.


Baby Z tersenyum lebar, memperlihatkan dua gigi besarnya di bagian atas. Juga dua giginya di bagian bawah.


Tak berapa lama, Baby Z sudah cantik dan harum. "Masya Allah ... anak Papa cantik .... sekali"


"Assalamualaikum. Sayang, Mana cucu Mama?" tanya Mama Aira seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam Toko.


Suara itu, pemilik suara itu sangat amat dirindukan oleh Zul setelah istrinya. Zul yang masih di kamar, segera keluar menemui sang Mama.


"Mama" panggil Zul.

__ADS_1


Degh!! Mama Aira yang hendak duduk seketika menoleh ke sumber suara. Berharap pria yang memanggilnya Mama memang benar putranya yang menghilang bagai ditelan bumi.


"K_kamu bukan s_setan kan?" pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Mama Aira.


__ADS_2