SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 61


__ADS_3

Seminggu berlalu, Asna telah resmi menjadi janda muda anak satu. Dia pergi membawa Taufik bersamanya. Hanya Taufik yang dia punya di Makassar. Ibunya telah bekeluarga dan tinggal di luar Makassar, begitu juga dengan Ayah nya juga sudah bekeluarga dan tinggal di luar Makassar. Sementara Nenek di Jeneponto tinggal bersama adiknya yang juga sudah tua.


Di bawah terik matahari, Asna mengantar Azahra ke pasar menggunakan sepeda motor. Sementara Zahira dan Taufik dijaga oleh Zulfikar. Zahira yang suka cemberut kembali berulah. Lelah Taufik membujuk teman wanita nya itu. Bukan hanya Taufik, Zulfikar pun lelah membujuk Zahira yang apabila di bujuk dia marah, tidak dibujuk dua menangis.


Uwwwaaaaa ... tangis Zahira pecah saat Zul mengabaikannya.


Zul menghela napas panjang, menghebuskannya perlahan. Papa muda itu menghampiri putrinya yang berdiri di pinggir televisi.


"Sayang, kok ke dapur sih" Zul mengerutkan keningnya, menatap frustasi sang putri yang masih kecil suka ngambek.


Sementara membujuk Zahira, Assagaf tiba-tiba datang. Pria itu mengambil tempat di luar, tepatnya di kursi plastik. Kepalanya terasa mau pecah, dia bingung harus bagaimana. Asna telah mengambil keputusan yang sulit. Dan Alhamdulilah, dia baik-baik saja. Tidak seperti Haikal yang tidak baik-baik saja. Sejak mentalak Asna, Haikal tak lagi bersemangat. Bahkan pria itu mulai menjauh dari Tuhannya. Parahnya lagi dia mulai mabuk mabukan. Pagi pergi kerja, malam mabuk lagi. Begitu terus kerjaannya selama beberapa hari ini.


"Om" Taufik menghampiri.


Assagaf menarik senyum, pria itu menggedong Taufik, mendudukan ia di pahanya. Tatapan keduanya bertemu. "Jangan nakal-nakal ya. Taufik jadi anak yang baik. Nggak boleh buat Mama nangis" nasehat Assagaf.


Taufik mengangguk. Segera tubuh mungil itu memeluk pria yang dia panggil Om. "Papa sehat?" tanya Taufik pelan. Mata Assagaf berkaca-kaca.


"Iya, Sayang. Papa kamu sehat. Sekarang Papa lagi kerja" jelas Assagaf. Dibelakang mereka, ada Zulfikar dan Zahira yang sedari tadi menyaksikan keduanya berpelukan. Belum cukup setengah jam di Toko, Azahra dan Asna tiba dari pasar.


Asna menyapa mantan Kakak iparnya itu lalu masuk ke dalam Toko. Ie meletakkan barang belanjaan mereka di dapur. Karena hari ini mereka akan membuat kupurung dan mie titi. Sementara Azahra pergi ke warung dekat konter membeli garam.


Beberapa jam setelahnya, kapurung juga mie titi telah tersaji. Bahkan ada juga pisang goreng dan sambal. Menu itu jarang dibuat, namun sekali dibuat akan membuat ketagihan.


"Kak Zul, Kak Asgaf, ayo makan" panggil Asna setelah berada di depan pintu toko. Zul dan Assagaf yang sementara duduk di kursi depan sambil menikmati kopi, segera menarik langkah ke dalam. Makan siang bersama pun dimulai. Assagaf turut bahagia melihat Asna terenyum lebar, bahkan wanita itu tertawa. Bukan hanya Assagaf, Azahra pun merasa bahagia melihat Asna yang tertawa girang.

__ADS_1


Usai makan, Assagaf membuka pesan di group, nyatanya ada kabar duka yang datang dari keluarga Kaprodi. Anak Bu Nonik yang bernama Siti itu mengalami kecelakaan hingga meninggal di tempat.


"Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un"


Zulfikar juga Azahra dan Asna menoleh pada Assagaf. "Siapa yang meninggal?" tanya Zulfikar.


"Siti, anak Bu Nonik. Dia ketabrakan dan meninggal di tempat" ucap Assagaf memberitahu


"Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un" Serempak Zukfikar juga Azahra dan Asna berucap.


.


.


Waktu bergulir, tak terasa sudah 4 tahun lamanya Zulfikar mengajar. Keluarganya semakin harmonis. Ditambah lagi dengan Zahira yang mulai masuk sekolah. Pagi sebelum ke Kampus Zulfikar mengantar Zahira ke sekolah, sementara Azahra sibuk di rumah. Ya, di rumah. Wanita itu tak lagi menyewa ruko, ia mulai membuka bisnisnya di rumah. Penjualan pun lewat online dan orang-orang juga bisa datang ke rumahnya.


"Beb, kemarin mantan suami kamu itu datang ke sini, dia nyari kamu" Azahra memberitahu.


Asna berdecih. Seakan tak ada lagi cinta untuk pria itu. "Dia memang sudah gila. Dia sering datang di rumah ku. Malam hari lagi, ya aku nggak bukain pintu. Takut disangkah kesepian ama tetangga" ungkap Asna terkekeh.


"Hahahahahaha. Kamu nggak ada niat rujuk gitu?" Azahra bertanya sambil memprint out resi pesanan.


"Nggak ada, aku udah nyaman menjanda" balas Asna.


Pukul delapan malam, Zulfikar dan istri beserta Zahira tengah dalam perjalanan menuju rumah Papa Giman, membesuk Nenek dan Kakek juga Om Azahra yang bernama Berlin. Berlin adalah anak Papa Giman dan Mama Allice yang usinya 3 tahun lebih. Dia begitu cerewet sama seperti Zahira.

__ADS_1


"Papa, kalau aku udah besar nanti Papa nikahin aku dan Kak Taufik ya" ucap Zahira serius.


Mata Azahra membulat sempurna begitu juga dengan Zulfikar. Ada ada saja si Zahira itu. Masih kecil sudah bahas pernikahan. Aneh tapi nyata, itulah anak pada zamannya.


"Kamu itu masih kecil, jangan bahas nikah nikahan dulu" tegur Zulfikar.


"Aku tahu, Pak. Kan aku bilang kalau aku udah besar, aku nggak minta Papa nikahkan aku sekarang" Zahira memutar bola mata jengah.


Perdebatan anak kecil dan orang dewasa pun berakhir setelah mobil yang dikendarai Zulfikar berhenti di depan rumah Papa Giman. Zahira dan Azahra segera turun menemui Nenek dan Kakek nya.


Mata Zahira membulat sempurna saat melihat seorang pria di sofa. Rambutnya berantakan, celananya sobek-sobek, banjunya yang putih menjadi abu-abu. "Itu kan Papa Taufik" gumam Zahira mendekat.


"Mama, itu bukannya Papa Taufik?" jari telunjuk Zahira terarah pada pria yang tak lain adalah Haikal.


"Itu Haikal, tadi Papa lihat dia tidur di pinggir jalan, di gerbang BTP" Papa Giman memberitahu.


"Ya Allah ... kenapa dia seperti orang gila sekarang. Aku kira dia akan menikah dengan selingkuhannya itu nyatanya dia semakin kacau setelah bercerai dengan Asna" lirih Azahra merasa iba.


"Asna ... maafkan aku ..." Haikal meracau.


"Kasihan ya Sayang. Dia semakin tak terurus sekarang" lirih Zul turut memprihatin keadaan Haikal.


"Taufik, maafkan Papa. Taufik, Asna, ayo pulang. Ayo ..." Haikal menendang ke sembarang arah.


Papa Giman, Zulfikar, Azahra dan Zahira mengelilingi Haikal yang terus meracau. Sungguh, kondisinya sangat memprihatinkan.

__ADS_1


Beritahu saya lewat kolom komentar jika ada Typo 🙏


__ADS_2