
kesal membuat Taufik memilih pulang lebih awal daripada menyaksikan Zahira duduk di samping Brian. Tingkahnya yang masih seperti dulu membuat Rio juga Gerry mendengus kesal namun mereka tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menatap kepergian Taufik
"Kak Rio, Kak Gerry, kami pamit pulang ya. Udah larut, nanti dicariin Papa" pamit Zahira.
"Iya, jangan lupa datang di reuni sekolah nanti" ucap Gerry.
"Iya, Kak" balas Zahira tersenyum.
Zahira dan Brian kembali bergabung dengan teman mereka yang sementara menunggu di bagian tulisan Citty Of Makassar. Setibanya di sana Zahira pamit pulang karena Papa Zul telah mengirim pesan memintanya untuk segera pulang.
Dalam perjalanan menuju rumah, Zahira teringat Taufik yang tak menyapanya. "Bersyukur aku bisa melupakannya, kalau nggak, gimana nasibku" gumam Zahira. Setelah beberapa puluh menit membelah jalanan kota, akhirnya Zahira sampai di rumah.
Di dalam rumah, Assagaf merebahkan diri di sofa ruang keluarga. Pria dewasa yang awet muda itu ragu-ragu untuk pulang. Dia mau pulang tapi ada Nina, dia tidak suka dengan panggilan yang Nina sematkan padanya.
"Bro, membenci itu sewajarnya saja. Jangan berlebihan, takutnya kamu jodoh sama dia" ucap Zulfikar memberitahu.
"Amit-amit! Aku lebih baik nggak nikah seumur hidup daripada harus nikah sama bocah ingusan itu!" ketus Assagaf.
"Assalamualaikum ..."
Baik Assagaf maupun Zul juga Azahra menjawab salam dari Zahira. Zahira masuk lalu mengambil tempat di samping Mama nya. Masih seperti dulu, Zahira masih suka curhat pada Mama dan Papa nya.
"Om Gaf, itu ponakan Om yang si Taufik, ternyata dia belum berubah juga ya, Om. Ekspresinya itu bikin aku mau tabok kepalanya" ungkap Zahira menyandarkan kepala pada sofa.
"Ketemu dia dimana?" tanya Assagaf.
"Di Pantai Losari. Tadi kan aku dan rekan kerja mutusin ke sana tuh buat lihat senja, nah! Di sana ada dia dan dua berkawan nya. Aku dan Brian yang sementara mau beli somay, terpaksa samperin mereka karena di panggil Gerry dan Rio. Ampun dah, bilang 'Hai' saja dia nggak!" ungkap Zahira sedikit kesal.
"Dia lagi patah hati, Zah. Pagi tadi dia minta Papa nya buat lamar kamu untuk dia, tapi Papa nya bilang ke dia kalau kamu udah punya calon suami. Bahkan nikahnya bulan depan. Eh, dia langsung masuk kamar tanpa a i u e o" jelas Assagaf memberitahu.
__ADS_1
"Serius kamu?" tanya Zul memastikan.
"Iya, aku serius" balas Assagaf. "Malam ini, biar kalian mau usir aku dari rumah kalian, aku akan tetap bermalam di sini. Titik!!" tegas Assagaf berlalu ke kamar tamu.
Zulfikar dan Azahra tertawa melihat Assagaf yang frustasi. Jujur, Zulfikar dan Azahra berharap semoga Assagaf berjodoh dengan teman Arumi yang memanggil Assagaf dengan panggilan bujang lapuk itu.
Sepeninggal Assagaf, Zahira juga naik ke kamarnya. Kalimat Om Assagaf masih membekas diingatan nya. "Pantas saja dia seperti nggak suka lihat Brian" gumam Zahira.
Zahira membuka pintu kamar, lalu masuk ke dalam. Seperti biasa, dia akan mencuci muka lalu menggosok gigi sebelum naik di atas tempat tidur. Setelah selesai, ia naik di atas ranjang. Zahira ingin menghubungi calon suaminya sebelum dia tidur, dengan senyum mengembang, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Oh iya, tadi Anggi mengirim video padaku. Kira-kira video apa itu" gumam Zahira sedikit penasaran.
Anggi seorang Kowad yang bertugas di Kalimantan. Dia dan Zahira teman dekat saat masih SMP, dan keduanya berpisah setelah lulus SMP. Lalu keduanya kembali dipertemukan di lamaran Zahira. Nyatanya, pria yang melamar Zahira masih saudara dekat dengan Anggi. Penasaran, Zahira segera menyaksikan video tersebut.
Degh!! Zahira terdiam, namun tak meneteskan air mata. Dia tidak mencintai calon suaminya, maka dikhianati juga takkan berpengaruh pada hatinya.
"Sudah aku duga" lirih Zahira. Tanpa mengulur waktu, Zahira menghubungi Anci Adipati, sang calon suami yang kini berada di 'Hotel Tidur'. Tak berapa lama, panggilan dari Zahira dijawab namun bukan Anci yang menjawabnya.
Di lain tempat, tepatnya di rumah Assagaf. Arumi dan temannya Nina tengah bersantai di balkon. Nina yang orangnya ceplas ceplos berhasil membuat Assagaf murka. Bagaimana tidak, Nina memanggil Assagaf dengan panggilan bujang lapuk. Panggilan yang disematkan untuk Assagaf mengundang gelak tawa Arumi yang sebenarnya membenarkan panggilan tersebut.
"Dimana si bujang lapuk itu?" tanya Nina sejak tadi menunggu Assagaf pulang.
"Paling di rumah temannya, Om Zul" jelas Arumi.
Arumi berniat menikahkan Assagaf dan Nina tapi belum juga mengutarakan niatnya pada sang kakak, Nina sudah lebih dulu membuat Assagaf murka. Arumi ingin menikah, tapi dia tidak mau mendahului sang Kakak. Sementara Assagaf juga tidak mau menikah apabila Arumi belum menikah.
Keesokan harinya
Zulfikar bersiap ke kampus begitu juga dengan Zahira yang memiliki jam mengajar pukul 08:00-09:40 AM.
__ADS_1
"Gaf ... Mau ke kampus nggak?" tanya Zul dibalik pintu.
"Mau, ini lagi siap-siap" sahut Assagaf dibalik kamar.
"Ya sudah, kami tunggu di meja ya ..." ucap Zul.
Tak berapa lama, Assagaf menghampiri Zul dan keluarga kecilnya. Melihat Zahira dan Furqan, Assagaf jadi sadar kalau dia sudah tua. Beruntung dia awet muda jadi orang-orang tidak tahu kalau dia sudah Om-Om.
"Mama, jangan lupa ke sekolah ya" ucap Furqan mengingatkan. Ya, hari ini ada rapat orang tua/wali murid pukul 9 nanti.
Di lain tempat, Taufik masih berada dibawa selimut. Bahkan pria itu tak mendengar ketukan pintu dari luar. Asna yang diluar pun menyerah membangunkan putranya. Apalagi putri kecilnya menangis karena takut terlambat ke sekolah.
"Ayo kita berangkat" Asna mengulurkan tangan pada putrinya yang bertingkah di lantai.
Hiks .. hiks .. hiks .. "Kita pasti terlambat ... Ibu guru pasti marah, bilangin Maya nggak teladan" omel Maya Humaira Alfatuni.
"Mama minta maaf ya sayang ... lain kali Mama nggak buat Maya terlambat lagi" Asna berjongkok membangun putrinya berdiri.
Hiks .. hiks ... "Mama janji ya, mulai besok Mama akan ngantar Maya ke sekolah jam 6" ucap Maya berdiri.
"Heh?" Yang benar saja Maya minta diantar jam 6 pagi. Sekolah dan rumah kan jaraknya hanya 54 meter. Untuk apa berangkat jam 6 kalau jam 7 saja belum terlambat.
Setelah mengantar putrinya di sekolah, Asna kembali membangunkan Taufik yang masih di kamar.
"Taufik! Bangun ini ini sudah pagi!" teriak Asna menggedor pintu kamar putranya.
"Iya, Mama ..." sahut Taufik di dalam kamar.
Asna menghela napas panjang, menghembuskan nya perlahan. Setelah memastikan putranya sudah bangun, Asna menggiring langkah ke halaman belakang. Lalu menjemur pakaian yang sudah dikeringkan di mesin cuci.
__ADS_1
Di kamar, Taufik memandangi gelang yang dikembalikan oleh Zahira. Ya, gelang yang dulu Taufik kirim kembali Zahira kembalikan, bukan pada Taufik, tapi pada Mama Asna.