
Azahra dan Zulfikar duduk bersama Nenek Angel di ruang utama. Baik Zul maupun Zahra juga penasaran, apa tujuan Nenek Angel meminta mereka menemuinya di ruang utama.
"Nek, ada apa? Apa kami punya salah? Jika iya, maafkan kami" ucap Azahra serius.
Nenek Angel menarik senyum. "Nggak, kalian berdua nggak punya salah. Ada yang mau Nenek tanyakan pada kalian.
"Kapan kalian akan ngadain acara resepsi?" tambahnya.
Azahra dan Zulfikar saling tatap. Resepsi? Sungguh, keduanya pasangan muda itu tak berniat untuk melangsungkan acara resepsi. Lantas, jawaban apa yang harus mereka berikan pada Nenek Angel?
"Kenapa? Kenapa kalian berdua diam?" tanya Nenek Angel mengerutkan kening.
Ehem!! Zulfikar berdehem. Pria itu membenarkan cara duduknya.
"Jadi begini, Nek. Aku dan Zahra itu belum memikirkan ... Salah, bukan belum tapi memang kami berdua nggak kepikiran sampai di situ. Sekarang ini, kami punya planing mau mencari lokasi yang strategis untuk membuka usaha kecil kecilan" jelas Zulfikar.
"Panggil orang tuamu!" titah Nenek Angel tak terima jika cucunya tidak menggelar acara resepsi.
Azahra pamit undur diri lalu kembali bersama Papa Kurniawan dan Mama Aira. Mama Aira dan suaminya duduk di sofa yang sama, begitu juga dengan Zulfikar dan Azahra.
"Ada apa, Ma?" tanya Papa Kurniawan.
"Mama mau kita adakan acara resepsi untuk Azahra dan Zulfikar. Masalah biaya, biar Mama yang tanggung. Mama sudah membahas ini dengan Papa kalian" jelas Nenek Angel.
"Zahra, seminggu setelah kamu dengar hasil, kita adakan resepsi. Nenek minta kamu undang Mama dan Papa kamu. Minta mereka datang" sambungnya menegaskan.
__ADS_1
"Iya, Nek. Alhamdulilah, dua hari lagi Mama dan Papa mau datang di Indonesia" jawab Azahra.
.
.
Waktu berlalu, hari kelulusan telah didepan mata. Tepatnya malam ini, Azahra di rumah orang tuanya, di BTP. Duduk di ruang keluarga bersama Papa, Mama sambung, juga suaminya, Zulfikar.
Wanita cantik bernama Allice itu, tampak bermanja pada suaminya, Papanya Zahra. Bermanja di depan sang putri dan menantu, membuat Papa Giman malu walau usianya tak lagi muda. Sekalipun begitu, tampang pria itu terlihat masih muda.
"Sayang, jangan di sini" bisik Papa Giman.
"Ma, Pa, kalian lanjutkan saja, aku dan suamiku ke kamar dulu" Azahra menarik tangan suaminya. Selama dia dan Zulfikar menikah, keduanya baru pada tahap berpelukan, tak lebih dari itu. Dan saat ini, mata Azahra telah ternodai akibat ulah Mama sambungnya.
"Sayang, ayo kita lanjutkan apa yang tadi Mama lakukan" bisik Zulfikar tersenyum mesum. Detik itu juga Azahra merinding. Tentu hal itu membuat Zulfikar tersenyum jahat.
Melanjutkan apa yang Mama dan Papa lakukan? Oh tidak, Azahra malu. Tapi, dia bisa apa jika Zul menginkan itu. Azahra tidak boleh menolak, apa yang ada pada dirinya adalah milik Zulfikar, suaminya.
Setibanya di kamar, baik Zul maupun Azahra hanya diam. Azahra tak punya pengalaman, sehingga dia bingung harus bagaimana. Maka, duduk di samping ranjang adalah keputusannya. Sementara Zulfikar, pria yang dikenal setia itu, tak sekalipun dia meminta hal yang aneh-aneh pada wanita yang dipacarinya. Maka dari itu, dia dan Azahra pun sama, tak punya pengalaman. Tapi ... Zul pernah menonton video ***** di situs dewasa.
"Apa aku searching dulu? Takutnya aku salah" batin Zul.
"Bagaimana ini? Aku nggak punya pengalaman. Nonton situs dewasa pun belum belum pernah. Apa aku buka geogle dulu?" batin Azahra.
"Sepertinya malam ini si Jono akan seperti malam-malam yang sebelumnya. Aku sih, kenapa nggak hafal doanya!" Zul mengumpat dalam hati.
__ADS_1
"Kok aku bisa lupa ya kalau aku lagi haid. Apa jangan-jangan aku juga menginginkannya?" batin Azahra.
"Ya sudah, malam ini aku biarkan Azahra tidur nyenyak dulu. Besok pagi, aku hafal doanya sekalian aku belajar dulu" Zul kembali membatin.
"Kak Zul__"
"Zahra__"
"K_kakak duluan" ucap Azahra tergagap.
"Kamu aja dulu" ucap Zulfikar.
"Anu, um ..." Azahra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "A_aku ... aku sedang haid" sambungnya.
"Alhamdulilah, aku selamat dari alasan konyolku" batin Zulfikar.
Hari ini, tepatnya pukul delapan pagi, Papa Giman telah berada di sekolah bersama beberapa wali murid lainnya. Harapan mereka sama, sama-sama ingin putra dan putri mereka lulus seratus persen.
Cukup lama menunggu, akhirnya orang tua wali murid diminta untuk memasuki ruangan yang telah disediakan. Singkat cerita, tibalah waktunya pembacaan keputusan. Dari 100%, hanya 99% yang lulus.
Tangis para siswa pecah. Jika hanya 99% itu artinya ada satu orang yang tidak lulus. Dan itu berhasil membuat semua siswa dan siswi bertanya-tanya. Siapa? Apakah itu aku? Dia? Atau Siapa? Siapa yang tidak lulus itu.
"1% yang saya maksud di sini adalah siswa yang pindah sekolah saat awal semester. Jadi, semua siswa angkatan 11, baik dari jurusan IPA maupun IPS, semuanya lulus" jelas Pak Kepala sekolah.
Tangis haru semua siswa dan siswi pecah, para kaum hawa yang berstatus bestie saling berpelukan. Hari ini, tepatnya tanggal 30, adalah hari dimana perpisahan dimulai.
__ADS_1
Mereka yang tinggal satu Kota, akan jarang bertemu, bahkan mungkin tidak akan bertemu. Apalagi dengan yang perantau, mereka akan menghilang bagai ditelan bumi. Rasa segan akan menghampiri, hingga masa yang berlalu ingin diulang kembali. Namun, semua itu hanya akan menjadi angan. Bukan tidak mau, tapi mungkin kondisi yang tidak memungkinkan.