SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 21


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Dering telepon di pagi hari membangunkan sang pemilik ponsel. Meraih gawai nya di atas nakas, Zulfikar segera menjawab panggilan dari Assagaf yang sejak pagi sekitar jam delapan, sudah berada di kampus.


"Oke, aku kesitu sekarang" kata Zulfikar segera memutuskan panggilan telepon secara sepihak. Nyatanya, dosen yang konon nya masih di luar kota ternyata telah kembali. Mengharuskan Zulfikar yang juga belanja mata kuliah Teori Sosiologi Klasik, sebagai mahasiswa harus mengikuti kelas yang dia pilih, tanpa terkecuali.


Melirik jam dinding, Zulfikar menarik napas panjang. Waktunya sisa lima belas menit, dan dalam lima belas menit itu dia sudah harus di dalam kelas.


"Cukup sikat gigi dan mencuci muka" gumamnya pelan.


Seperti kata Zul sebelumnya, cukup sikat gigi dan cuci muka. Kini, pria itu telah berdiri di depan cermin dengan pakaian kampus yang sudah rapih. Walau tidak mandi, Zulfikar tetap harum dan ketampanan nya tidak luntur.


"Zah .. pulang dari kampus baru kita ke pasar ya" ucap Zul seraya mengambil kunci motor di atas meja ruang tamu.


"Iya, Kak ...." balas Azahra di dapur.


Tak ingin membuang buang waktu, Zulfikar segera ke kampus. Setibanya di sana, ia segera ke ruangan C202. Di kelas, sudah ada Ibu Tahira yang memulai materi tiga menit lalu. Berdiri di ambang pintu, Zul mengucap salam.


"Tabe, Buk. Bisa saya masuk mengikuti kelas pagi ini?" Zul bertanya sebelum masuk.


"Iya, silahkan masuk" balas Dosen Buk Tahira.


Mendapatkan respon yang baik, Zulfikar segera menarik langkah ke dalam kelas. Manik mata indahnya mencari-cari kursi tanpa penghuni. Dibarisan paling depan kolom ketiga, ada satu kursi yang kosong penghuni tapi di samping kursi itu ada Kulsum yang juga memprogram mata kuliah yang sama dengannya. Mau tidak mau, Zul harus mau duduk di sana, di samping wanita itu. Wanita yang berhasil membuatnya seperti pria dungu.


...


Mata kuliah pagi telah usai, Zulfikar beranjak dari kursi berniat pulang. Kaki pria itu tak jadi melangkah saat Kulsum menarik tangannya.


"Boleh aku ikut, ada yang mau aku bicarakan denganmu" ungkap Kulsum menatap sayu Zulfikar.

__ADS_1


Hati yang masih untuk orang yang sama, membuat Zulfikar sulit menolak. Hingga ia pun mengangguk tanda menyetujui.


Di barisan pertama dekat pintu, Assagaf dan Qonita menatap keduanya. Melihat Zulfikar yang dungu, membuat Assagaf dan Qonita menghela napas panjang.


"Jangan lupa nanti malam datang" kata Zulfikar pada Qonita dan Assagaf.


"Insya Allah" balas Assagaf.


"Kami pulang dulu ya" Kulsum pun pamit pada kedua temannya yang diangguki oleh Qonita.


Seperti kata Kulsum tadi, ada yang mau dia bicarakan dengan Zulfikar. Setibanya di rumah, Kulsum masuk terlebih dahulu menggunakan kunci cadangan yang ada padanya. Disusul oleh Zulfikar yang mulai gerah.


"Kul, tunggu sebentar di sini. Aku mandi dulu" kata Zul masuk ke dalam kamar. Sepeninggal Zulfikar, Kulsum mengambil tempat di sofa ruang tamu.


Azahra keluar dari kamar, mendapati Kulsum di depan. "Kak Kul, ayo makan dulu. Kebetulan, aku memasak lumayan banyak" Azahra menawarkan.


Kulsum tak menjawab, justru sebaliknya, menatap tajam Azahra yang tersenyum ramah padanya.


"Ya sudah. Kak Kul, aku ke kamar dulu" pamit Azahra kembali ke kamar.


Cukup lama Kulsum menunggu, akhirnya Zulfikar keluar kamar. Menatap Kulsum, pria itu lupa jika dia datang bersama mantan ke kasihnya. Menghela napas panjang, Zulfikar duduk di sofa dekat pintu.


"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Zul tanpa ekspresi.


"Sayang, aku kesini mau jelasin semuanya. Kamu salah paham, aku dan Ardi nggak ada hubungan apa-apa. Ardi itu sepupu aku dari Mama. Malam saat kau menghubungiku, itu memang Ardi dan aku memanggilnya Sayang karena kukira itu Sania, kekasih Ardi. Ardi mengakuiku calon istrinya karena dia ingin menguji keseriusanmu" jelas Kulsum.


Zulfikar terkekeh. "Sudahlah Kulsum, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kau dan Ardi berduaan di mobil"


Manik mata Kulsum mulai berkaca kaca. Bukan Kulsum namanya jika dia kalah dalam hal membujuk Zulfikar. Lewat panggilan telepon, Zul akan menang, tapi dalam hal tatap muka, Zul akan dilema. Seperti saat ini.

__ADS_1


"Memang benar, aku dan Ardi berduaan di mobil beberapa hari yang lalu, dan akupun melihatmu. Kukira kau akan mengajakku pulang, nyatanya kau pergi begitu saja" jelas Kulsum mengakui.


Kulsum terisak. "Kau tahu, saat aku pergi dan kau tak mencariku, hatiku sakit. Aku nggak tahu mau kemana lagi jadi aku menghubungi Ardi" ungkap Kulsum.


"Lalu kenapa kau mengecualikan aku pada story WA mu?" tanya Zul merendah.


"Aku hanya ingin menguji keseriusanmu. Pria yang benar-benar mencintai, dia akan memperjuangkan wanitanya" jawab Kulsum.


Zulfikar terdiam. "Lalu, sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Zul.


Kulsum menunduk dan menangis. "Aku tinggal dengan Ardi, tapi semalam Sania mengusirku" ungkapnya.


"Kamu tunggu di sini sebentar, aku bicarakan ini dulu dengan Azahra" kata Zul sebelum mengambil keputusan.


Beranjak dari sofa, Zul menemui Azahra. Mengetuk pintu kamar istrinya, namun tak jua dibukakan pintu. Hingga panggilan ketiga, Azahra pun membukakan pintu. Nyatanya, wanita itu baru saja selesai mengenakan pakaian setelah ia mandi.


"Sudah mau pergi?" tanya Azahra melangkah menuju meja rias.


"Dek, ada yang mau aku bicarakan, ini mengenai Kulsum" ungkap Zul. Azahra menghentikan langkah, membalikan badan, menatap Zulfikar.


"Kamu tahu sendiri kan, Aku mencintai Kulsum. Dan ternyata apa yang dilihat Assagaf itu hanya salah paham. Kulsum dan Arti tidak pacaran. Dan ternyata, Ardi dan Kulsum itu sepupu" jelas Zulfikar.


"Kesimpulannya apa?" tanya Azahra.


Zulfikar terdiam. "Ummm, boleh Kulsum tinggal di sini bersama kita? Aku janji, besok pagi aku carikan indekos untuknya" jelasnya memohon.


"Kenapa harus minta persetujuanku? Biar nanti kalau kalian bertengkar, aku yang jadi penyebabnya? Gitu maksud Kakak?" tanya Azahra tanpa ekspresi. Pria di depannya bodoh. Cinta membuatnya semakin dungu.


Zulfikar menggaruk tenguknya yang tak gatal. "Bukan begitu tapi __"

__ADS_1


"Jika memang Kakak ingin balikan dengannya, oke. Tapi ingat! Kakak ya Kakak, aku ya aku. Aku nggak akan nyiapin makanan untuk kalian berdua. Untuk uang jajan, aku nggak akan nuntut. Diberi, aku ambil. Nggak diberi, aku nggak akan minta" ujar Azahra.


__ADS_2