SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 58


__ADS_3

Siti menunggu Zulfikar di depan ruang Dosen. Primadona kampus itu tak patah semangat, tekadnya sudah bulat, dia akan menggoda Dosen nya yang tampan itu. Tak perduli mau dia sudah beristri atau sudah punya anak.


"Aku harus membuatnya terpikat padaku" batin Siti. Dia anak Kaprodi yang keras kepala. Apabila dia menginginkan sesuatu, maka yang dia inginkan itu harus ia dapatkan.


"Selamat Pagi, Pak" sapa Siti sebelum Zulfikar melewatinya.


"Pagi" sahut Zul tersenyum rama kemudian berlalu ke ruangannya.


"Jangan aneh-aneh deh kamu. Pak Zul itu udah punya anak dan istri. Istrinya juga cantik, aku pernah belanja di Toko mereka" tegur Aleya, teman geng Sitti Kumara.


G yang berada di Fakultas MIPA menatap Siti yang centil. Dia kurang suka wanita itu. Selain centil, Siti juga terbilang sombong dan suka pamer. "Aku harus melindungi tempat Azahra" gumam G, teman baik Azahra saat Azahra masih kuliah.


G mengeluarkan ponselnya, dia mencari nama kontak Azahra lalu melakukan panggilan pada temannya itu. Tak menunggu lama, Azahra menjawab panggilan darinya.


"Assalamualaikum. G, kamu masih di Kalimantan atau sudah di Makassar?"


"Waalaikumsalam. Alhamdulilah aku sudah di Makassar"


"Jika ada waktu luang kamu ke sini ya, cerita cerita sama aku"


"Iya, jika kamu nggak keberatan aku meluncur sekarang" G terkekeh.


"Hahahaha. Ayo, aku tunggu ya. Sekarang"


G mengakhiri panggilan lalu ke Toko Rezeki. Di sana, dia mendapati Azahra sedang melayani pembeli sementara Zahira sedang memainkan bonekanya.


Kembali ke kampus, Zulfikar mengajar di lantai dua kelas D. Setelah mengajar, ia kembali ke ruangannya. Di sana, dia bertemu Assagaf yang baru datang. Ya, Assagaf baru saja datang. Pria itu memiliki jam mengajar di siang nanti, setelah shalat Dzuhur. Namun ia datang lebih awal sebelum waktunya mengajar.


"Gimana?" Zul menghampiri.


"Tentang Haikal?" Assagaf bertanya.


"Iya" sahut Zul mengambil tempat duduk di depan Assagaf.

__ADS_1


Assagaf menghela napas panjang. Terlihat jelas raut sedih pada wajahnya. Tentu ekspresi itu mengundang tanya Zulfikar. "Kamu kenapa? Mereka baik-baik saja kan?" tanyanya kemudian.


"Asna pergi sekitar jam 4 pagi tadi, dia pergi membawa Taufik. Haikal pun tak tahu mereka pergi kemana. Bahkan Asna tak membawa ponselnya. Pakaian pun dia tak bawa, hanya milik Taufik yang dia bawa" ungkap Assagaf.


Di lain tempat, Haikal menangis meraung raung. Belum cukup sehari Asna dan Taufik pergi namun perasaan cemas itu telah menghampirinya. Selain meninggalkan ponsel, Asna juga meninggalkan kartu ATM yang Haikal berikan padanya. Uang di dalam ATM pun lumayan untuk kebutuhan setahun.


"Akh ... Asna ... kalian dimana ..."


"Maafkan aku ... maafkan aku .."


Haikal menatap kembali surat yang ditinggalkan Asna. "Saat kita masih sekolah, aku berani melawan mu. Karena waktu itu kita masih pacaran. Setelah menikah, aku nggak berani meninggikan suara. Karena kamu adalah suamiku, pria yang harus aku hargai. Aku sudah berusaha membuatmu nyaman, namun aku gagal. Maaf ya ... Dan maaf juga karena aku pergi tanpa pamit. Aku membawa Taufik bersamaku karena hanya dia yang aku punya. Kamu, kamu masih punya Adik dan Kakak, terlebih lagi ada Dea, wanita yang kau senangi. Selamat berbahagia ya. Oh ya, ponselmu aku nggak bawa. Karena bukan punyaku, tapi punya kamu. Aku nggak bawa apa-apa selain pakaian yang aku pakai, itupun pakaian yang aku beli sebelum menikah. Oh ya, ATM yang kamu berikan aku simpan di atas meja. SELAMAT BERBAHAGIA, Suamiku"


"Dasar wanita bodoh!!" pekik Haikal lalu menangis. "Kenapa kamu nggak bawa uang, kalian mau hidup dengan apa ... Akhhhh ..."


Haikal menghubungi Azahra namun wanita itu memberi jawaban yang tak diharapakan. Haikal menghubungi Irwan namun Irwan tak menjawab, bahkan pria itu memilih mematikan ponselnya. Haikal menghubungi Stevani dan teman-temannya yang lain namun mereka juga tidak tahu Asna ke mana.


Kembali ke kampus, Assagaf pergi mengajar setelah shalat Dzuhur. Sementara Zulfikar memeriksa skripsi punya Siti.


"Pak, Bapak mau makan apa? Ayam lalap atau brownis? Nanti saya belikan" Siti menawarkan.


Sementara memeriksa skripsi, ponsel Zulfikar berdering. Zul menarik senyum setelah melihat nama kontak, segera pria itu menjawab panggilan dari istrinya. Sementara melakukan panggilan, Siti tiba-tiba mendesah. Tak berapa lama Azahra memutuskan panggilan.


"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud____"


"Keluar kamu dari ruangan saya!" usir Zul naik pitam.


"Tapi P___" Siti tak melanjutkan kata.


"Aku bilang keluar!" bentak Zul mengarahkan jari ke pintu. "Untuk apa kamu mendesah saat Saya melakukan panggilan? Untuk apa?!"


Tanpa menjawab, Siti mengambil skripsinya lalu keluar dari ruangan Zulfikar. Tangis palsunya pun terdengar. Dia berlaku seperti korban pelecehan.


Di dalam, Zul mengambil tas juga kunci motornya. Zul menggiring langkah keluar, langkahnya terhenti saat melihat baju Siti sobek bagian lengan. Di samping Siti ada Kaprodi yang menatap tajam padanya.

__ADS_1


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Kaprodi.


"Bisa, Buk" jawab Zul. Kaprodi membawa Siti ke ruangannya di susul oleh Zul.


Zul dipersilahkan duduk, begitu juga dengan Siti. Kaprodi duduk menatap Zul yang juga menatapnya penuh tanya. "Apa yang kamu lakukan pada Mahasiswi mu?" tanya Ibu Kaprodi masih bernada lembut.


"Maksud Ibu apa ya?" Zul pura-pura bertanya walau dia sendiri sudah yakin, dia sedang dijebak.


"Jangan berpura pura Pak Zul. Anda di sini adalah Dosen, anda harusnya memberi contoh yang baik bukan melecehkan Mahasiswi anda!" Ibu Kaprodi mulai membentak.


"Maaf, Buk. Siapa yang saya lecehkan? Saya tidak melecehkan siapa-siapa di Kampus ini" Zul membela diri.


"Siapa? Anda tanya siap?!" Bentak Ibu Kaprodi yang mulai tersulut emosi.


"Siti, beritahu Ibu apa yang sudah Pak Zulfikar lakukan padamu" titah Ibu Kaprodi.


Di luar, para Dosen juga Mahasiswi mengintip dan memasang telinga. Bahkan Assagaf pun juga ada di luar menunggu Zulfikar keluar. G yang mendengar bisikan tetangga segera berlari ke Fakultas tetangga. Di sana, dia bertemu Assagaf.


"Pak, Apa Pak Zul masih di dalam?" tanya G pada Assagaf.


"Iya masih, G. Kamu percaya nggak sih?" tanya Assagaf.


"Nggak, aku nggak percaya" sahut janda muda itu. Ya, G sudah bercerai dengan suaminya.


"Aku juga begitu. Kita tunggu Zul keluar dulu" kata Assagaf yang dibalas anggukan kepala oleh G. G dan Assagaf duduk di parkiran motor sambil menatap pintu ruangan kaprodi yang tak kunjung terbuka.


Tak berapa lama, Zul keluar berlalu ke parkiran. Di sana dia dihadang oleh Assagaf dan G. "Kamu aman kan?" tanya Assagaf terlihat cemas.


Zulfikar terkekeh. "Gaf, punya istri cemburuan itu bagus juga ya" ungkap Zul. Sontak membuat G dan Assagaf menautkan kening


"Kami nggak paham, iya kan G?" Assagaf menatap G sekilas lalu menatap Zulfikar.


Apa reader paham akan kalimat terakhir Zul? 🤣🤣

__ADS_1


Kira-kira apa yang Azahra lakukan hingga Zul bersikap santai?


__ADS_2