
Keluarga besar Anci dari Kalimantan mengambil penerbangan malam dan kini mereka telah berada di rumah Zahira di malam berikutnya. Kedua Kakek Zahira menampakkan aura tak sedap dipandang, begitu juga dengan kedua neneknya. Tidak terkecuali dengan Zulfikar dan Azahra yang tak menampakkan kemarahannya.
"Papa dan Mama jangan termakan emosi ya. Papa dan Mama harus waras agar pernikahan ini dibatalkan dengan cara baik-baik" ucap Zahira semalam. Dan Zulfikar masih mengingatnya.
"Saya rasa pernikahan Anci dan Zahira tidak perlu dibatalkan. Bukankah dalam keyakinan kita poligami tidak dilarang. Jadi, setelah Anci dan Zahira menikah, Anci akan mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Lina" ucap Ibu Anyelir tanpa memikirkan dampaknya.
Jleb!! Seketika amarah Papa Zulfikar naik hingga ke ubun-ubun. "Ibu Anyelir tidak salah ucap kan?" tanya Zulfikar memastikan. Siapa tahu Ibu Anyelir lagi mengigau. Pikirnya.
"Tidak, Pak Zul. Saya rasa Zahira pun tidak akan keberatan untuk di madu. Dan saya rasa mereka berdua sudah melakukan nya" ucap Ibu Anyelir lagi.
"Ibu!" tegur Anci. Dia tidak suka kalimat terakhir Ibu nya.
Papa Zulfikar juga yang lain menatap Zahira. "Apa benar Zahira?" tanya Papa Zulfikar.
Zahira menggeleng. "Aku berani bersumpah, Mah, Pah, aku dan Anci belum pernah melakukannya. Jangankan begituan, untuk berpegangan tangan pun belum pernah" jelas Zahira dengan manik mata yang mulai berembun.
"Iya ... sama anakku belum tapi sama orang lain sudah kan! Bilang saja kalau kamu sudah tidak perawan!" hardik Ibu Anyelir.
"Hentikan Ibu Anyelir!!" bentak Zulfikar.
"Papa" lirih Zahira. Melihat sang putri yang menunduk sedih, Zulfikar mengusap kasar wajahnya.
"Pernikahan ini akan tetap dibatalkan. Sekarang juga saya minta kalian keluar dari rumah saya" ucap Zul masih mencoba untuk tidak melewati batas.
"Tidak!" Ibu Anyelir berdiri. "Pernikahan ini tidak boleh di batalkan! Mau taruh dimana mukaku jika pernikahan ini batal! Zahira!! Apa susahnya kamu jawab mau di madu!!" seru Anyelir seperti orang kesurupan.
Plak!!
__ADS_1
Plak!!
Nenek Allice yang sedari tadi diam akhirnya mendaratkan dua tamparan di pipi Ibu Anyelir. "Jaga mulutmu sebelum aku merobeknya! Jika kau tidak ingin malu maka didiklah putra mu dengan baik! Kau pikir kau siapa? Hah! Berani beraninya kamu memaksa cucu ku!"
"Nenek ..." Zahira menarik Nenek Allice yang hendak mencakar Ibu Anyelir.
"Aku pastikan, kalian akan menyesal telah membatalkan pernikahan ini!" seru Anyelir sebelum meninggalkan kediaman Zulfikar.
Abimanyu juga Anci meminta maaf kemudian menyusul Ibu Anyelir kembali ke rumah. Ya, mereka punya rumah di Makassar. Rumah peninggalan orang tua Abimanyu yang berada di jalan Adiyaksa.
Sepeninggalkan keluarga Anci, Papa Zulfikar menatap sayu sang putri. "Sudah, jangan menangis lagi. Beruntung kamu mengetahuinya sebelum kamu menikah dengannya"
"Maafkan aku .. a_aku sudah buat keluarga kita malu .." ungkap Zahira terisak.
...
Kabar tentang batalnya pernikahan Zahira telah sampai pada telinga Mama Asna dan Haikal. Mama dan Papa muda itu berencana melamar Zahira untuk putra mereka. Namun, mereka sedang mencari waktu yang tepat.
"Assalamualaikum, Bro. Tebak, ada kabar bahagia apa pagi ini?" tanya Gerry berteka teki.
"Waalaikumsalam. Aku nggak mood main tebak tebakan. Apa memang?" tanya Taufik.
"Ya sudah, itu PR untukmu" ucap Gerry.
"Beritahu saja napa! Kasihan dia, galau mulu. Tapi itu karma sih, dulu dia cuekin Zahira" terdengar Rio menyindir.
"Iya, aku rasa ini karma deh. Secara dulu dia membuat Zahira seperti pengemis. Kalau ingat ekspresi Zahira dulu, aku jadi sedih. Kasihan bangat" timpal Gerry membenarkan.
__ADS_1
"Sudah? Masih mau nyindir aku atau?" tanya Taufik.
Hahahahahaha. Tawa Gerry dan Rio bersamaan. "Dia dengar, Bro. Habislah kita, disuntik dokter Taufik. Hahahahaa" ucap Gerry tertawa.
Taufik hanya bisa menarik napas panjang. Ingin mengakhiri panggilan tapi dia tidak enak hati bila bersikap demikian. Maka menunggu kedua temannya puas menyindirnya barulah dia akan memutuskan panggilan dengan salam.
"Jadi gini Bro, belum lama ini kami dapat info, katanya ... Aow!! Rio ... kamu apa-apan sih!" ketus Gerry keluar topik.
"Kamu sih, kalau ngomong suka berbelit belit. Langsung ke inti napa sih!" Rio mengambil ponsel dari tangan Gerry.
"Zahira batal nikah, Bro. Kamu mau maju atau aku yang maju?" ungkap Rio disusul pertanyaan.
Jleb!! Sepertinya itu jebakan. Salah jawab, bisa apes si Taufiknya. "Maksud kamu?" tanya Taufik.
Ehem!! "Aku rasa kamu tahu bagaimana perasaan kamu terhadap Zahira. Ya ... walaupun cinta kami di tolak tapi sekarang kan nggak ada salahnya kami mencoba lagi. Bukan kami sih tapi aku, Rio. Aku berencana melamar Zahira. Itupun kalau kamu mau mengalah"
"Assalamualaikum" ucap Taufik kemudian memutuskan panggilan. Dia harus melamar Zahira, harus secepatnya sebelum Rio mendahuluinya. TNI? Ya, Rio adalah TNI AD. Tentu krisma pria itu bisa memikat hati Zahira yang genit. Pikir Taufik.
Taufik menemui orang tuanya tapi Mama dan Papa nya di mana. Bahkan Maya pun tidak ada. Saat dirinya mencari ke dapur, ponsel Taufik di kamar berdering. Segera Taufik kembali ke kamarnya.
"Mama" gumam Taufik. "Assalamualaikum, Mah"
"..........."
"Apa? Sekarang?"
".........."
__ADS_1
"Iya, Mah. Aku kesitu sekarang"
Taufik menutup panggilan lalu mengeluarkan baju kemeja dari lemari juga kopia. Setelah bersiap-siap, Taufik mengambil kunci motornya.