
Demi sang buah hati, Azahra mencoba untuk tetap waras walau sebenarnya dia hampir gila. Tak pernah terbesit kejadian seperti saat ini akan terjadi dalam hidupnya. Di setiap sujud, ia selalu berdoa, meminta pada sang Kuasa untuk memberi titik terang, dimana Zulfikar berada. Walau kerap diminta dalam sujud terakhir, namun doa itu belum diijabah.
Hari perkiraan lahir sudah di depan mata, Azahra dibantu oleh Mama Allice menyiapkan pakaian bayi di dalam tas agar kelak mereka tidak perlu berkemas lagi saat akan ke rumah sakit.
"Mama, kira-kira anak ku mirip siapa, ya?" tanya Azahra seraya melipat baju newborn.
"Dia cantik seperti mamanya. Hidungnya mancung seperti hidung Papa nya" jelas Mama Allice.
Azahra terkekeh. Tak berapa lama, perlengkapan newborn selesai disiapkan.
Bercak darah di celana da*am Azahra menghadirkan senyum pada wajah cantik yang memesona itu. Dia yakin, tak lama lagi dia akan melahirkan. Azahra segera keluar dari kamar mandi menemui Mama Allice di dapur.
"Mama, lagi apa?" tanya Azahra.
"Mau masak, Sayang. Papa minta Mama buatin ikan bakar rica-rica" jelas Mama Allice yang kebetulan mengeluarkan ikan kakap dari kulkas.
"Ma, sepertinya aku akan melahirkan hari ini juga" ungkap Azahra memberitahu. Tak ada rasa cemas apalagi takut kehilangan nyawa.
Mama Alice menoleh. "Kamu serius? Apa kamu sudah melihat tanda-tanda persalinan?" tanyanya segera memasukkan ikan ke dalam kulkas.
"Kok Mama masukkin ikannya lagi?" kedua kening Azahra saling bertaut.
"Kita pesan saja. Sudah, jangan bahas ikan dulu. Gimana, apa kamu sudah melihat tanda-tanda persalinan?" kembali Mama Allice mengulang pertanyaannya.
Azahra mengangguk pelan. "Ada bercak darah di celana dala* ku. Dan sepertinya sekarang aku buang air kecil" jelasnya merasa ada cairan yang membasahi celananya.
__ADS_1
Mama Allice mengajak Azahra ke ruang keluarga. Lalu menghubungi suaminya yang sementara menjaga Toko Rezeki milik Azahra yang kini semakin berkembang. Tak berapa lama, Papa Giman menjawab panggilan.
"Sayang, cepat pulang. Sepertinya Zahra akan melahirkan" jelas Mama Allice.
"Iya, Sayang. Aku pulang sekarang"
Panggilan berakhir, Mama Allice menatap anak tirinya yang terlihat sedang mengambil napas dalam-dalam. Mama Allice berlari ke kamar mengambil satu tas berisi perlengkapan newborn. Lalu kembali mengambil tempat di samping anak tirinya.
"Sayang, apa perutmu sudah sering sakit?" tanya Mama Allice yang hanya dibalas anggukan kepala oleh sang putri.
"Jangan panik ya. Kamu masih ingat kan cara mengatasi rasa sakit saat pembukaan?" Mama Allice kembali bertanya. Lagi-lagi Azahra hanya mengangguk.
Mama Alice bernapas lega. Dia yakin, anak tirinya itu kuat. Tak berapa lama, Papa Giman membunyikan klakson mobil. Lalu bergegas turun menemui istri dan anaknya di dalam rumah.
"Sayang, ayo kita ke rumah sakit" ujar Papa Giman menghampiri. Papa Giman menuntun Azahra berdiri. Sementara Mama Allice menenteng tas yang tadi dia ambil.
Papa Giman memarkirkam mobil di area parkiran Rumah Sakit. Lalu membantu putrinya turun. "Papa ambilkan kursi roda dulu" kata Papa Giman.
"Nggak perlu, Pa. Aku masih bisa jalan" tolak Azahra.
Azahra diantar masuk ke UGD dibantu Mama Allice. Setelah Azahra baring di brankar, Papa Giman membawa amplop putih yang beberapa hari yang lalu diberikan Dokter Sisna. Yang katanya tinggal di serahkan di UGD apabila ke Rumah Sakit nanti. Di dalam amplop tersebut, terdapat beberapa tulisan dokter yang didalamnya tertera tanggal HPL juga tindakan apa yang akan dilakukan, melahirkan normal atau sesar. Juga dokter siapa yang akan menjadi Dokter Azahra.
Dokter Sisna yang kebetulan ada di Rumah Sakit, segera menemui pasiennya. "Buka kakinya lebar-lebar" tita Dokter Sisna dengan ramah.
Azahra menurut, segera Dokter Sisna mengecek sudah pembukaan berapa.
__ADS_1
"Masya Allah, sepertinya Ibu Zahra belajar banyak ya. Lihat, Ibu Zahra terlihat tenang" puji sang Dokter.
"Segera kesini, pasien akan melahirkan" Dokter Sisna memanggil dua Bidan, juga ada satu Mahasiswa magang yang ikut menyaksikan persalinan Azahra.
Benar kata Dokter, Azahra yang banyak belajar tentunya banyak tahu. Selain itu doa yang kerap ia panjatkan selain untuk suaminya, Allah mengijabahnya. Dia melahirkan dengan cepat tanpa harus merasakan sakit yang jam-jam apalagi berhari hari.
Tangis Baby Newborn terdengar. Azahra yang melihat buah hatinya bersama Zul telah lahir, Ibu muda itu meneteskan air mata bahagia. Benar kata Mama Allice, putri Azahra cantik seperti Azahra. Sementara hidung dan bibirnya seperti hidung dan bibir papanya.
Azahra di pindahkan ke ruangan yang lain. Tak berapa lama, Mama Aira dan Papa Kurniawan datang membesuk menantu juga cucu mereka. Netra mata Mama Aira berkaca-kaca. Bayi mungil itu begitu mirip Zul saat masih bayi dulu.
Azahra diperbolehkan pulang oleh Dokter Siska setelah dua hari menginap di Rumah Sakit. Dan kini, mereka berada di rumah Papa Giman, di BTP.
Seperti kata dokter dalam video yang diunggah di aplikasi merah, mengatakan bahwa sayur daun katuk juga daun kelor adalah dua jenis sayuran yang bagus dikonsumsi oleh Ibu menyusui. Daun katuk mengandung steroid dan polifenol yang dapat meningkatkan kadar proklatin atau hormon pelancar ASI. Sementara daun kelor mengandung senyawa fitolesterol yang dimana fitolesterol ini juga merangsang dan melancarkan produksi ASI.
Sejak usia kehamilan 8 bulan, Azahra mulai rutin mengonsumsi sayur bening juga kacang goreng. Yang konon katanya dapat membantu merangsang produksi ASI. Selain itu, Azahra rutin membersihkan putin* payudar*nya menggunakan air hangat. Alhasil, di usia kanduangan 9 bulan, produksi ASI Azahra siap dikeluarkan.
Dengan segala usaha yang sebelumnya di lakukan, Alhamdulilah, Azahra dapat mengasihi sang putri dihari pertama bayi mungil itu dilahirkan.
"Sayang, baby nya udah tidur. Sini, biar Mama baringkan dia di tempat tidur" kata Mama Aira yang siap mengambil baby Z dalam gendongan sang Bunda.
Malam ini, Mama Aira dan beserta keluarganya bermalam di rumah Papa Giman. Mereka akan menjaga Baby Z bersama.
Pukul sembilan malam, Azahra menatap wajah mungil bayinya yang konon katanya mirip Zul saat masih bayi. Lama menatap, setetes bulir bening kembali jatuh membasahi pipi.
"Kak Zul, anak kita cantik. Kata Mama, dia mirip Kakak. Kakak dimana sekarang? Sudah hampir setahun Kakak pergi tanpa kabar. Apa Kakak baik-baik saja?"
__ADS_1
"Kak Zul, aku kangen. Bukan hanya aku, Mama dan Papa pun merindukan Kakak"