
Sabtu malam, Zulfikar mengajak istrinya keluar bersama Zahira. Mereka menggunakan Grab Car karena pasangan itu belum membeli mobil. Uang mereka ada, tapi untuk membeli rumah.
Tawa kecil Zahira terdengar dalam gendongan sang Papa. Gadis kecil itu tak henti-hentinya menatap banyaknya mainan di Top Mode. Bahkan tangan mungilnya pun berusaha meraih mainan yang dia tatap.
"Papa" keluhnya saat sang Papa berpindah tepat.
"Mama ..." tangis Zahira pecah.
Zulfikar bingung, tak tahu penyebab putrinya menangis. "Sayang, kenapa?" tanya Zul.
Jari telunjuk mungil Zahira terarah pada boneka beruang kecil. Zulfikar tersenyum, kemudian menghampiri boneka tersebut. "Zahira mau boneka yang ini?"
Zahira tersenyum lebar.
"Ya sudah, Papa beli ini untuk Zahira" Zul mengambil boneka kecil kesukaan putrinya. Lalu mencari Azahra yang katanya mau beli sesuatu. Nyatanya wanita itu berada di bagian sepatu. Segera Zul menghampiri.
"Sayang, sepatu untuk siapa?" tanya Zul.
Azahra tersenyum. "Untuk kamu, masak mau mengajar pakai sendal" kekeh Azahra.
Tersenyum, Zul merasa senang. Dibalik rasa cemburu yang melanda sang istri, ada rasa peduli di sana. Zulfikar hanya menurut walau sebenarnya dia tidak terlalu suka sepatu yang dipilih istrinya. Biarlah, toh kaki yang mengenakannya, bukan wajah. Pikir Zulfikar.
"Loh, kok diletakkan lagi?" Kedua kening Zul saling bertaut.
"Aku tahu kamu nggak suka sepatu itu, aku hanya mengetes kamu saja. Mau nurut nggak, nyatanya kamu nurut" jelas Azahra dengan santai lalu mengambil sepatu yang sesuai dengan selera Zulfikar.
__ADS_1
Bukan marah, melainkan Zul bahagia mendengarnya. Azahra memang aneh, dia tak seperti Azahra saat masih berstatus Siswi di Sekolah. Kini dia gampang cemburu, aneh pokoknya.
Azahra tak perlu meminta Zul mencoba terlebih dahulu sepatu yang akan dibeli, karena Azahra sudah tahu, sepatu nomor berapa yang dia harus beli. Setelah membayar, Azahra mengajak Zulfikar ke pakaian anak-anak. Membeli beberapa gamis kecil lalu mengajak suaminya pulang.
"Sayang, untuk kamu mana?" tanya Zul hendak melangkah keluar.
"Cukup untuk kalian berdua, pakaian dan lainnya aku masih punya, dan masih layak dipakai" jawab Azahra.
Berhubung sabtu malam, Zul mengajak anak dan istrinya bermalam di rumah Papa Giman. Yang kebetulan jarak dari Top Mode ke rumah Papa Giman tidak terlalu jauh. Dalam perjalanan, Zahira terus berceloteh. Tak membutuhkan waktu lama, Crab Car sampai di depan rumah Papa Giman.
Azahra turun menenteng barang belanjaan sementara Zul menggendong Zahira. Kedatangan mereka yang tiba-tiba membuat Mama Allice bahagia. Pasalnya, Ibu sambung itu merindukan cucunya. Pagi tadi dia berniat ke Toko mengajak cucunya bermain tapi ada sesuatu dan lai hal sehingga tidak memungkinkan Allice pergi.
Berkumpul di ruang keluarga, Zahira dibiarkan bermain sendiri namun dalam pengawasan keluarga.
"Sayang, ada yang mau Papa sampaikan pada kamu" ucap Papa Giman.
Walau ragu, namun Giman harus memberitahu putrinya. Mau terima dengan tidaknya, itu urusan belakangan. "Papa nggak tahu ini kabar baik atau kabar buruk untuk kamu. Papa hanya mau bilang, Mama kamu hamil" ungkap Papa Giman.
Mama Allice menunduk. Takut kehamilannya menjadi kabar tak menyenangkan bagi anak tirinya. Namun besar harapan, Azahra dapat menerima adiknya walau masih dalam perut.
Dilihatnya sang Mama yang menunduk, mata Azahra berkaca kaca. Segera wanita itu berpindah tempat di samping Mama Allice. "Mama .." panggilnya lalu memeluk erat Mama sambungnya.
"Dulu, aku membenci Mama karena aku pikir, Mama akan merebut Papa sepenuhnya dari aku. Nyatanya aku salah" ungkap Azahra segukan. "Apa Mama mau tahu, selain kudoakan rumah tanggaku, aku juga berdoa agar Allah memberi titipan pada Mama dan Papa. Aku senang Mama hamil" tambahnya semakin dalam memeluk sang Mama.
Papa Giman maupun Zul mengucap syukur setelah mendengar pengakaun Azahra. Secara, sejak tadi mereka menunggu jawaban itu. Tak disangkah, Azahra akan menerima kehadiran adiknya.
__ADS_1
Uwwuaaaaak. Zahira menangis melihat Mama nya menangis. Gadis kecil itu berdiri menghampiri Mamanya. Zul segera memanggil putrinya, untuk memberi ruang Azahra memeluk Mama Alice.
"Papa, Mama nanis" adu Zahira menujuk sang Mama
Melihat putrinya semakin terisak, Azahra melerai pelukannya. "Mama nangis bahagia, bukan nangis sedih" jelas Azahra walau dia yakin, putrinya tidak akan paham.
Malam semakin larut, Mama Allice dan Papa Giman telah tidur. Sementara Azahra dan Zul masih terjaga akibat Zahira yang masih asyik bermain. Semenntara memau Zahira, Zul membulatkan niatnya bertanya.
"Sayang, semakin hari Zahira semakin besar. Dan ruangan di Toko pun agak sempit. Bagaimana kalau kita tinggal di rumah baru kita saja. Nggak Papa belum sepenuhnya kelar, toh tinggal bagian luarnya saja" jelas Zul.
Azahra mengangguk. Dia juga sempat berfikir begitu namun niatnya tak jua diutarakan. Berhubung Zul lebih dulu berinisiatif maka ia tak perlu mengatur kata lagi. Cukup mengiyakan dan mereka akan pindah. Hanya pindah tempat bernaung, bisnis tetap akan dilanjutkan di tempat yang sama.
"Besok pagi kita singgah belanja ya, biar pekan depan kita sudah bisa tinggal di rumah baru kita" ujar Azahra yang dibalas senyum oleh suaminya.
Zulfikar dan Azahra telah berada di Living Plaza Perintis. Sementara Zahira di titipkan pada Kakek dan Neneknya. Tujuan mereka ke Living Plaza membeli berabotan rumah. Di lantai 3, dari sekian banyaknya pilihan, Azahara memilih sofa minimalis warna abu-abu untuk ruang tamu. Sementara untuk ruang keluarga, pilihannya jatuh pada sleeper sofa. Alasan memilih sleeper sofa karena jenis sofa ini dapat difungsikan untuk tempat tidur. Bagian bawahnya dapat dibentangkan sehingga bisa digunakan untuk meluruskan kaki.
Usai membeli perabotan rumah, Azahra maupun Zul kembali ke rumah Papa Giman. Untuk saat-saat ini mereka belum memikirkan healing. Mereka masih fokus membangun rumah hingga kelar. Setelah kelar, baru mereka cari waktu untuk jalan-jalan di Luar Kota.
Hari yang dinanti pun tiba, dimana Azahra dan keluarga kecilnya akan pindah di rumah baru. Rumah baru mereka berada di PK 7 dekat Universitas Hasanuddin Makassar. Setibanya di sana, Mama Aira dan keluarga telah sampai lebih dulu. Sementara Papa Giman dan istri baru saja tiba sesaat setelah Azahra dan suami serta anak tiba di tempat tujuan.
Tak terasa, sudah seminggu mereka tinggal di rumah baru. Hari ini, tepatnya senin pagi, Zulfikar bersiap ke Kampus mengajar.
"Sayang, jaga mata jaga hati. Jangan sampai kepicut ulat bulu. Ingat! Di rumah ada anak dan istri yang menunggu mu pulang! Jadi jangan coba-coba mengundur jam pulang" ucap Azahra mengancam.
Zul hanya merespon dengan senyum. Toh hatinya juga sudah ditempati oleh Azahra.
__ADS_1
Note: Hai Kak, maaf ya. Novel yang tak ada greget gregetnya ini kemungkinan besar besok nggak Up. Saya mau ajukan rekomendasi Banner dan itu dimulai tiap hari rabu sampai rabunya lagi, jadi mulai dari hari rabu, novel ini akan Up 3 episode dalam sehari dalam kurung waktu seminggu.