
"Kamu ngapain di situ?" tanya Kulsum yang entah sejak kapan tiba di rumah. Wanita itu membuka pintu kamarnya sebelum Zulfikar menjawab pertanyaannya.
Berbalik menatap punggung Kulsum yang menghilang dibalik pintu, Zulfikar segera menemuinya di kamar. "Dari mana kamu? Kenapa nomormu nggak aktif? Aku cemas tahu"
Tanpa menjawab, dan tanpa merasa malu, Kulsum Ummu melepas kemeja yang melekat di tubuhnya, meletakkannya di keranjang pakaian kotor yang berada di samping lemari. Dengan gontai, wanita itu menghampiri Zul yang duduk di sisi ranjang.
"Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Kulsum mengambil tempat di samping Zulfikar.
"Kenapa kamu nggak bersihin rumah sebelum jalan sama teman-temanmu? Sayang, jangan bersikap seperti anak kecil, ok. Kan kamu sendiri yang bilang nggak akan nyusahin Azahra, iya kan? Dan tadi sore kamu nyusahin dia"
"Kenapa sih selalu saja Azahra dan Azahra!!" bentak Kulsum. "Dia sepupu kamu, dia tinggal di sini kamu yang biayai kebutuhannya kan? Jadi nggak ada salahnya dia melakukan semua pekerjaan rumah" sambungnya berapi api.
Kulsum sudah keterlaluan. Biaya SPP, perbaikan nilai, membayar tagihan indekos, memberi uang untuk membeli ini itu, dan semua perjuangan itu tak ada artinya bagi Kulsum. Beranjak dari sisi tempat tidur, pria itu melangkahkan kaki keluar. Sebelum membuka pintu, Zul berbalik mengingatkan Kulsum. "Kemasi barang barang mu, besok pagi aku antar kamu ke kos"
Kulsum mengumpat. Dia tidak mau tinggal di indekos yang berukuran kecil. Selain itu, siapa yang akan membuatkan sarapan pagi untuknya? Adik sepupu yang selalu menyiapkan segalanya kini tinggal di tempat kerjanya. Di sini, ada Azahra yang menyiapkan semua itu.
"Aku harus mencari cara agar tetap tinggal di sini" gumam Kulsum tersenyum miring.
Jam 5 keesokan harinya, seperti biasa Azahra akan memulai aktivitasnya. Setelah selesai, wanita itu bersiap siap ke sekolah. Mengunci pintu kamarnya dan segera ke membuka kamar Zulfikar. Hingga pemandangan di depannya mencegah kakinya untuk melangkah. Dia, dia yang berstatus suaminya tengah tidur di pembaringan. Di sampingnya, ada Kulsum, si pemilik cinta Zulfikar. Jika Zulfikar yang tak mencintai Zahra namun nyaman memeluk Azahra saat tidur, maka tak lepas kemungkinan, Zulfikar dan Kulsum akan melakukan hal lain selain berpelukan.
Tak ingin berteka-teki, juga mengotori mata indahnya, Azahra segera menutup pintu kamar. Di waktu yang sama, Zulfikar bangun dari tidur nyenyak nya. Melihat Kulsum, Zul menarik senyum di kedua sudut bibirnya. Segera pria itu menarik diri sedikit duduk dan bersandar pada head board. Sebelum ia keluar menemui Azahra, Zul merenggangkan otot ototnya terlebih dahulu. Mengambil uang 50 ribu dari dalam dompet, Zul menarik langkah keluar kamar.
"Udah mau pergi?" tanya Zul saat mendapati Azahra hendak membuka pintu utama.
"Iya" sahut Azahra menjauhkan tangan dari handle pintu beralih meraih tangan Zulfikar kemudian menciumnya.
"Ini uang jajan" Zul menyodorkan uang dengan jumlah yang sama dengan hari sebelumnya.
__ADS_1
Azahra tak menolak, dia menerimanya tanpa ekspresi. Melihat sikap Azahra, Zul yakin, Zahra masih marah perihal semalam.
"Dek, maafin aku" ucap Zul serius.
"Iya" balas Azahra sekenanya saja. Membalikkan badan, meraih handle pintu, Azahra keluar dari rumah. Mengeluarkan motor dari garasi, mata Azahra berkaca kaca.
Di dalam, Zulfikar menatap istrinya yang mulai menyalakan mesin motornya. "Apa Zahra melihat Kulsum tidur bersamaku?" batin Zul bertanya tanya.
Suasana sekolah masih seperti biasanya, selalu ada canda dan tawa. Bahkan suasana semakin ramai saat Haikal kembali ke sekolah. Dengan kedatangan nya, mereka bisa aktif dalam membuat konten konten yang menghibur. Berdiri di barisan paling depan, Azahra dan teman-temannya mendengarkan arahan dari kepala sekolah.
"Zahra, Asna, jam istirahat nanti kita buat konten ya. Ada yang review lagu di kolom komentar" Haikal memberitahu.
Azahra dan Asna menarik senyum mengiyakan. Mendapat jawaban dari Azahra dan Asna, Haikal menarik langkah menuju tempat duduknya.
Di rumah, Zulfikar bertengkar hebat dengan Kulsum. Wanita keras kepala itu kekeh untuk tetap tinggal di kontrakan bersama sang kekasih. Alasan tinggal di kontrakan juga karena malas memasak dan mencuci pakaian. Tak perduli dengan kata demi kata yang terlontar dari mulut Zulfikar, Kulsum tetap setia mendudukkan bokongnya di sofa.
"Kalau kamu mau aku diam, maka cepat kemasi pakaianmu!" Zulfikar balik membentak.
"Okeh!" Kulsum beranjak dari sofa. "Aku akan tinggal di indekos tapi kamu harus ingat, semua gaji kamu aku yang pegang"
Zulfikar mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu sudah gila, Kul. Aku lelah hadapin sikap kamu yang nggak menghargai aku. Mari kita akhiri hubungan ini"
Setelah mengatakan itu, Zulfikar kembali ke kamarnya.
"Oke!" Kulsum marah lalu masuk ke kamar mengemasi pakaiannya. Setelah selesai, wanita itu menarik kopernya membawanya keluar dari rumah.
Di kamar, Zul membanting semua benda yang bisa ia jangkau, termasuk alarm yang ada di atas meja samping tempat tidur. Stres, Zulfikar bergegas ke kamar mandi membersihkan diri sebelum ke kampus. Hanya Assagaf dan Qonita yang tahu status Zulfikar, maka pada merekalah Zulfikar berbagi cerita.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama, Zulfikar selesai dengan aktivitasnya. Mengunci pintu rumah, Zulfikar segera mengeluarkan motornya dari garasi. Sebelum ke kampus, dia menghubungi Assagaf dan Qonita terlebih dahulu.
"Kamu dimana?" tanya Zul pada Assagaf.
"Di rumah, mau ke kampus. Bagaimana?"
"Sampai ketemu di kampus" kata Zul memutuskan panggilan telepon.
Setibanya di kampus, Zul masuk kedalam kelas C201. Di dalam kelas, sudah ada teman-temannya yang duduk bergosip, selfi, menulis tugas dan ada yang menyalin catatan.
Mengambil tempat di kursi paling belakang, Zulfkar menunggu Qonita dan Assagaf. Tak lama menunggu, salah satu dari yang ditunggu pun masuk kelas. Qonita, wanita itu menghampiri Zulfikar.
"Kamu kenapa?" tanya Qonita meletakkan tas di atas meja. Lalu duduk menatap teman prianya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Aku stres tahu. Tadi, aku kehilangan kendali dan aku putusin Kulsum" ungkap Zulfikar.
Qonita menarik senyum mendengarnya. "Baguslah jika kau sudah putus. Besok atau besoknya lagi, kau akan tahu siapa dia" ujar Qonita dengan santai.
Kedua kening Zulfikar menukik naik. "Maksud kamu apa?"
"Aku nggak bisa jawab, karena bukan aku yang melihatnya. Jadi, kita tunggu Assagaf dulu. Biar dia yang menjelaskan semuanya" jawab Qonita.
Panjang umur, sang pemilik nama Assagaf datang. Melangkah cepat, Assagaf menghampiri Qonita dan Zulfikar. "Kamu kenapa?" pertanyaan yang sama kembali Zul dengar. Tadi dari Qonita, sekarang dari Assagaf.
"Apa yang kamu ketahui tentang Kulsum?" tanya Zul serius.
Assagaf menghela napas panjang sebelum menjelaskan. Menatap Zulfikar, Assagaf tidak tega mengungkap kebenaran tentang wanita yang dicintai oleh sahabatnya. Di desak oleh Zulfikar, Assagaf pun mulai cerita.
__ADS_1