
Plak!!
"Berani beraninya kamu bohongin Ibu!" pekik Bu Nonik menatap marah putrinya. Ibu mana yang tidak malu saat putrinya berulah? Terlebih itu bukan perbuatan yang terpuji. Marah, Bu Nonik hampir menggampar ulang putrinya namun dicegah oleh Azahra.
"Maaf, Bu ... Aku lakuin ini karena aku suka Pak Zulfikar, aku mau Pak Zul jadi suami aku" jelas Siti terisak, gadis cantik itu memegangi pipinya yang merah.
"Tapi caramu salah! Dia sudah beristri! Sudah punya anak!! Apa kamu mau jadi pelakor! Hah!!" bentak Bu Nonik menggebu-gebu.
"Cepat minta maaf!" bentak Bu Nonik lagi.
"Aku nggak mau ...!" seru Siti berlalu begitu saja.
Di ruangan menyisakan Azahra, Zulfikar dan Bu Nonik. Bu Nonik meminta maaf dan siap menerima konsekuensinya. Namun Azahra dan Zulfikar akan selalu menjadi orang baik. Cukup Bu Nonik mengembalikan nama baik Zul, setelah itu beres, perkara selesai.
Zulfikar dan Azahra pamit undur diri, kedua pasangan itu saling berpegangan tangan saat keluar. Mahasiswa yang berada di luar pun segera bubar, begitu juga dengan staf Dosen yang juga memasang telinga. Di luar, Azahra ditunggu oleh G dan Assagaf. Mahasiswi dan Dosen itu menggiring pasangan Azahra ke parkiran.
"Gimana, udah kelar?" tanya Assagaf.
"Udah, Kak. Itu cewek benar-benar gila! Bisa-bisanya dia mau rebut suami aku!! Dia belum tahu siapa Azahra" Azahra mengepal tangannya.
"Makasih Sayangku ..." Zul bergelayut manja di lengan istrinya.
Tik!! Assagaf menyentil jidat Zul. "Ingat, ini di kampus"
Zulfikar terkekeh. Berhubung hari ini Zulfikar tidak memiliki jadwal mengajar, maka pria itu ikut pulang bersama istrinya. Setibanya di toko, mereka mendapati Asna bersama Taufik. Azahra bersorak girang melihat sahabatnya itu, segera ia memeluknya erat.
"Kamu yang sabar ya" ucap Azahra.
"Iya, aku ini wanita paling sabar" sahut Asna lalu tertawa.
__ADS_1
"Dek, apa kamu yakin mau bercerai dengan suami kamu?" tanya Zulfikar serius.
Asna melerai pelukannya. Wanita itu menghela napas paniang. "Keputusanku sudah bulat, Kak. Kakak mau tahu, penyakit yang nggak ada obatnya itu selingkuh"
Zulfikar menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. "Ya sudah, apapun keputusanmu kami berada di pihakmu. Jika kamu membutuhkan sesuatu kamu tinggal ngomong ke Azahra. Jika kami bisa membantu kami akan membantumu"
Asna mengangguk. Cinta? Dia sangat mencintai suaminya. Sayang? Dia juga sangat menyayangi pria itu. Haikal meyakinkan dia akan ketulusan cintanya, hingga jadilah dua buku dimana ada lambang Garudanya. Bahkan kolaborasi dari dua buku nikah itu menghasilkan buku Pink yang biasa dikenal buku KIA. Begitu besar perjuangan mereka hingga bisa menghasilkan buku KIA itu. Mempertahankan dua buku itu? Bisa saja. Tapi hari-hari yang dijalani tidak akan sama seperti hari-hari sebelumnya.
Di saat Taufik dan Zahira sedang bermain, sosok kecil Taufik menatap pria yang berdiri di ambang pintu Toko. Sosok mungil itu tak melangkah atau bersorak girang melihat pria yang membuatnya ada di dunia ini. Dia diam membeku, sesat kemudian dia berlari ke Mama nya.
"Mama, ayo kita pelgi, ada Papa di lual. Ayo Mama, ayo kita lali" Taufik menarik jilbab sang Mama. Netra mata anak kecil itu mulai berkaca kaca.
Asna menatap ke arah pintu, disana dia melihat Haikal. Keduanya pun bersitatap cukup lama. Tubuh Asna gemetar, dia takut putranya di bawa oleh Haikal. Asna menyembunyikan putranya, sementara dia memegangi tangan Azahra dengan kuat.
"Ayo masuk" Zulfikar mempersilahkan.
"Kami baik-baik saja" jawab Asna singkat. Di belakang Asna, Taufik terus menarik jilbab sang Mama. Tak berapa lama, tangis anak kecil itu pecah. Haikal beranjak hendak meraih putranya namun Fitra menolak, anak kecil itu memeluk erat sang Mama.
"Mama, ayo pelgi ... Taufik nggak mau ikut Papa. Taufik mau ikut Mama ..." ungkap Taufik mengajak.
Uuwwwaaaaak ... Zahira ikut menangis melihat Taufik menangis. Gadis kecil itu berlari memeluk Zulfikar. "Papa, nangis ..." jarinya terarah pada Taufik.
Haikal mengerjap berulang kali agar air matanya tak menetes. "Bisa ikut aku ke rumah? Kita bicarakan dengan baik di sana" ujar Haikal.
Asna berpikir sebelum mengiyakan. Kabur dari rumah juga tidak ada untungnya. "Beb, Kak Zul, kami pulang dulu ya" pamit Asna.
"Hati-hati ya" ucap Azahra.
Haikal pamit lalu keluar dari Toko. Dalam perjalanan, Taufik terus diam begitu juga dengan Asna. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di rumah. Asna turun dari motor, lalu menurunkan putranya.
__ADS_1
"Papa nggak akan ngambil kamu dari Mama. Ayo kita masuk" bujuk Asna disaat Taufik enggan melangkah masuk ke dalam rumah.
Taufik masuk ke rumah kemudian ia diminta masuk ke kamarnya. Bocah itu pun menurut, segera ia menggiring langkah ke kamar. Dari dalam kamar, dia mendengar Papa nya menangis. Bahkan pria itu berulang kali meminta maaf.
"Sayang, tolong beri aku kesempatan" pinta Haikal meraih tangan Asna namun Asna menarik tangannya kembali
"Ayo kita bercerai" sedikit terdengar bergetar saat diucap. Namun itulah keputusan Asna. Dia sudah memikirkanya hampir semalam. Sakit, namun akan jauh lebih sakit apabila dia bertahan.
Di lain tempat, Azahra sedang mengobrol sesama pejuan rupiah di depan Print Ember. Sementara Zulfikar menemani Zahira bermain sambil jaga toko. Zulfikar mendengus kesal saat istrinya belum juga kembali.
"Dasar Ibu-Ibu, kalau udah menggosip suka lupa pulang!" ketus Zulfikar.
Di depan Print Ember, Azahra dan Ibu-Ibu lainnya tertawa girang. Mereka berencana mau jalan-jalan. Tentunya tanpa mengajak suami mereka. Namun hari itu belum ditentukan kapan, yang pasti, mereka mau minta izin dulu.
"Zahra, suami kamu panggil tu" Mbak Gina memberitahu.
Azahra menarik senyum, segera wanita itu pamit pergi. Sebelum menghampiri suaminya, Azahra memilih singgah di Tante Bule. Memesan Pisang ijo juga Pop Ice coklat. Setelah pesanan dibuat, Azahra mengambilnya dan tak lupa membayar
"Maaf ya, tadi aku lagi cerita sama Mbak Tiyas, Mbak Erna dan Mbak Gina" beritahu Azahra cengengesan.
"Kebiasaaan, kalau udah ngerumpi suka lupa anak dan suami" Zulfikar cemberut.
Azahra tertawa. Gemes, ia menggelitik suaminya. Zulfikar yang tadinya cemberut, sejurus kemudian dia tertawa. Begitu juga dengan Zahira yang ikut tertawa.
Dari samping JNE, Siti menyaksikan mereka tertawa. Wanita gila itu tersenyum miring, dia memikirkan cara untuk bisa mendapatkan Zul. Bagaimana pun caranya, Zul harus menikah dengannya.
"Kita lihat saja nanti, aku akan membuatmu menyesal telah mempermalukan aku, sialan!!" batin Siti mengumpat.
Jangan pada kabur ya š¤£š¤£.
__ADS_1