SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 50


__ADS_3

Zulfikar mendengus kesal saat mendengar pertanyaan konyol sang Mama. Walau kesal, tapi rindu itu masih berada di tingkat tertinggi. Zul perlahan mendekati sang Mama. Netra matanya kembali berkaca-kaca.


"Ma, ini aku, Zulfikar, anak Mama. Mama masih ingat aku kan?"


Tangis haru Mama Aira pecah. Wanita tua itu memeluk putranya yang sementara menggendong Baby Z. Mencium lalu kembali memeluknya lagi.


Azahra mengambil putrinya dari gendongan sang suami, memberi ruang pada Zul untuk membalas pelukan rindu dan sayang dari sang Mama. Sesaat setelah Azahra mengambil putrinya, Zul mulai membalas pelukan sang Mama. Tangisnya pun terdengar pecah.


"Kemana saja kamu selama ini ... Kenapa kamu baru datang, kenapa?!" tanya Mama Aira histeris.


"Zul" suara berat Papa Kurniawan melerai pelukan anak dan istrinya. "K_kamu Zul kan? Anak saya?" tanya Papa Kurniawan memastikan.


Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Bahkan mereka pun mengira Zul telah tiada. Melihat Zul berada di Toko, tentu membuat Mama Aira dan Papa Kurniawan memastikan penglihatan mereka.


"Papa ..." Zul menghampiri Papa Kurniawan lalu memeluknya. "Aku anak Papa. Ini aku, Zulfikar. Papa masih ingat kan?" tanya Zul, takutnya sang Papa sudah pikun.


Papa Kurniawan membalas pelukan erat sang putra. "Iya, Papa masih ingat. Alhamdulilah. Papa senang kamu masih hidup" ungkapnya menahan tangis. Dia tidak boleh menangis dihadapan menantu juga putranya.


Toko sengaja di tutup hari ini. Karena Papa Kurniawan juga yang lain akan menyidang Zulfikar. Zulfikar duduk di depan televisi menghadap Papa Kurniawan, Papa Giman, Mama Aira, Mama Allice dan Azahra.


"Kamu kembali ke sini seorang diri kan?" tanya Papa Giman menyelidik.


"Iya, Pa" jawab Zul cepat.


"Kamu tidak meninggalkan istri baru atau anak di Los Angeles kan?" tanya Papa Giman lagi.


Zulfikar menggeleng cepat. "Nggak, Pa"


Papa Giman juga yang lain bernapas lega. "Besan, sekarang giliran kamu" kata Papa Giman pada Papa Kurniawan.


"Ehem!" Papa Kurniawan berdehem. "Jadi, selama ini kamu dimana?" tanya Papa Kurniawan mengambil alih pertanyaan.


"Aku di Los Angeles, kediaman Hadi, suami Kulsum" jawab Zul lengkap.


Jleb!! Kulsum, saat nama itu disebut, Mama Aira juga Azahra melotot tajam pada Zul yang seketika menunduk setelah melihat tatapan tak suka itu.

__ADS_1


"Jadi selama ini kamu tinggal dengan Kulsum! Kamu" Papa Kurniawan menunjuk Zul dengan jari telunjuk. "Kamu berkhianat lagi!" pekiknya meninggi.


Zulfikar menggeleng cepat. "Nggak, Pa. Papa salah faham" jelas Zul.


"Lalu apa?" Mama Aira menimpali. Wanita itu juga tak kalah marahnya dengan yang lain.


Zulfikar menarik napas panjang sebelum memulai cerita. "Tapi kalian harus janji, nggak akan mukul aku" ucapnya sebelum memulai cerita.


Menarik napas kasar, keempat manusia dewasa mengangguk. Melihat respon itu, Zul siap memulai cerita.


"Jadi gini, sesaat setelah aku dan ketiga temanku duduk di Restoran Makan, tanpa sengaja aku bersitatap dengan Hadi, suami Kulsum"


"Jangan lagi kamu sebut Kulsum" protes Mama Aira tak suka.


"Ma, nggak baik membenci orang sampai ke akar akarnya" kata Zul mengingatkan sang Mama.


Mama Air mendengus kesal. "Lanjutkan cerita, namun jangan sebut nama mantanmu itu" ucapnya memperingati. Kembali Zul menarik napas panjang.


Flashback On


Los Angeles. Restoran Makan


"Bukannya itu Hadi" gumam Zul bertanya pada diri sendiri.


Di depan Restoran Makan, Hadi seorang diri melangkah masuk ke dalam. Nyatanya, Hadi pun masih mengenal Zul, sehingga pria itu mendekati Zul lalu meminta izin untuk ikut bergabung di meja yang sama.


"Mas sudah lama di Los Angeles?" tanya salag satu kawan Zulfikar, namanya Reno.


"Lumayan, hampir dua tahun" balas Hadi. Melihat di meja belum ada makanan, Hadi memanggil pelayan lalu memesan beberapa menu spesial yang ada di Restoran Makan.


Tak berapa lama, pesanan disajikan. Mereka pun memulai makan siang bersama. Setelah makan, Hadi mengajak mereka ke rumahnya, Zul dan temannya pun mengiyakan.


Sepuluh menit lagi kendaraan roda dua yang dikendarai Hadi akan sampai di rumah. Tiba-tiba bebarapa mobil nenyelinap jalan hingga menyebabkan kecelakaan. Dua orang di dalam mobil meninggal di tempat sementara Hadi dan Zul terlempar jauh.


Mobil ambulance datang di tempat kejadian, begitu juga dengan polisi. Korban yang terluka parah dilarikan ke rumah sakit, begitu juga dengan yang meninggal di tempat.

__ADS_1


Ketiga teman Zulfikar mengikuti ambulance. Tak berapa lama, mereka pun sampai di Rumah Sakit Sembuh. Ketiganya ingin menghubungi keluarga Zulfikar namun mereka tak punya kontak keluarga Zulfikar. Berteman di media sosial pun tidak.


Hari berlalu, Zul sudah bisa pulang ke rumah. Berhubung Zul hanya tinggal seorang diri, Hadi pun mengajak Zul untuk tinggal bersama keluarganya.


"Zul, apa kamu nggak mau ngabarin keluarga kamu? Zahra? Aku yakin, mereka pasti mencemaskan kamu" ucap Kulsum yang sementara memberi makan Garetta.


"Saran aku sih lebih baik jangan. Karena kamu juga nggak mau pulang selama belum sembuh kan. Aku yakin, Zahra nggak akan duain kamu. Percaya deh" timpal Hadi yang tahu Zul akan tetap melanjutkan study.


"Aku juga berpikir begitu. Mama dan Papa akan menjemputku apabila tahu kondisi ku sekarang. Terlebih Azahra, dia akan sedih dan akan memintaku pulang" ungkap Zul.


"Ya sudah, besok kamu dan Hadi ke Australia, kamu harus berobat, biar cepat sembuh" kata Kulsum.


"Nggak perlu, Kul. Lagian uang yang aku punya sekarang untuk biaya sehari hari" ucap Zul menolak berobat. Toh kata Dokter besar kemungkinan untuk Zul bisa jalan.


"Untuk biaya biar aku yang tanggung. Anggap saja aku membayar hutangku padamu" ungkap Hadi mengingat perjuangan Zul saat memenuhi kebutuhan Kulsum sewaktu mereka bersama.


Zul menolak, namun Hadi juga pantang menyerah dalam membujuk. Hingga Zul pun setuju. Sebulan di Autralia, Zul dan Hadi kembali ke Los Angeles. Dengan bantuan kursi roda, juga bantuan Kulsum, Zulfikar kembali aktif ke kampus.


Hingga suatu hari Zul bermimpi. Di dalam mimpinya, dia melihat Azahra menangis bersama seorang bayi dalam gendongannya. Rintihan bayi mungil itu juga rintihan Azahra, membuat Zul berusaha untuk bisa jalan.


Pagi pukul 6. Zulfikar bangun mengingat mimpinya. "Ya Allah, semoga Azahra baik-baik saja di sana" batin Zul berdoa.


Zul yang mulai risih bergantung pada kursi roda, saat itu juga ia mencoba untuk berdiri. Awalnya ia jatuh, lalu bangkit lagi. Hampir sebulan ia berusaha, akhirnya menuai hasil yang indah.


Flashback On


Indonesia, Makassar


Mama Aira jadi mellow saat mendengar kebaikan keluarga Kulsum. Kebencian yang tertanam seakan menghilang dalam sekejab.


Mendengar cerita Zulfikar, Papa Kurniawan sedikit sedih. Hany sedikit, sedikitnya lagi tak membenarkan keputusan putranya.


"Lain kali, jangan pernah kamu mengambil keputusan seperti itu. Kematian nggak ada yang tahu kapan datangnya. Lihatlah, kamu nggak tahu kan kalau Nenek sudah meninggal" ucap Papa Kurniawan.


Lemas seakan tak berdaya. Dia yang berencana memberi kejutan pada keluarga besarnya, harus menelan kenyataan yang menyayat hati.

__ADS_1


NOTE: Nama Restoran dan Nama Rumah Sakit kita bikin lucu aja ya, biar saya nggak buka geogle lagi. Jaringan nggak bagus ๐Ÿ˜


JANGAN LUPA BINTANG 5NYA YA, KAK. ATAU TERSERAH KALIAN DEH MAU KASIH ULASAN APA ๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2