
Tiga hari setelah kepergian Taufik di Luar Negri, Zahira mendapatkan panggilan dari kurir JNE sekitar jam 10 pagi. Dimana kurir berkata ada di depan rumah Zahira. Zahira tidak langsung membuka pintu, ia bertanya lebih dulu, pasalnya dia tidak merasa memesan sesuatu di lapak online. Setelah mengetahui nama pengirimnya adalah Taufik, Zahira segera menemui kurir di depan pagar rumah.
Saat membukanya, dia sedikit deg degan. Manik matanya mulai berkaca-kaca saat membaca isi surat yang Taufik tinggalkan untuknya. Juga baju gamis dan jilbab syar'i yang ada dalam paket. baju gamis itu adalah baju yang ingin Zahira beli tapi ia selalu menundanya. Bukan karena dia tidak punya uang, tapi dia belum siap mengenakan gamis plus hijab syar'i.
Setiap hari Zahira mengirim pesan pada Taufik. Ya, setiap hari dalam kurung waktu dua bulan dan Taufik tidak pernah membalasnya. Hingga Mama Asna dan Papa Haikal pulang, Taufik hanya mengirim sesuatu untuk Zahira. Lagi-lagi ada surat yang di dalamnya meminta Zahira untuk menunggunya.
Kembali Zahira mengirim pesan seminggu setelah Mama Asna di Makassar, dan lagi-lagi Taufik tidak membalas. Sejak saat itu Zahira memblokir Taufik. Bahkan dia mengganti nomor ponselnya.
2014, Zahira lulus sekolah. Dia melanjutkan pendidikannya di Semarang. Jurusan yang dia ambil adalah S1 Keperawatan. Berkat kepintarannya, juga ketekunannya, Zahira berhasil menyelesaikan study S1 dalam kurung waktu 3 tahun 3 bulan dengan IPK 3,99.
Setelah menyelesaikan study S1 di Semarang, Zahira kembali ke Makassar. Di Makassar, dia melanjutkan pendidikan profesinya, yaitu Ners dalam kurung waktu 1 tahun. Dia yang sudah berjanji pada orang tuanya untuk menjaga diri, selalu menolak pria yang mengajaknya pacaran.
2016, Zahira kembali merantau dan kali ini di Bandung. Di Bandung dia bertemu dengan Fenda dan Kansa yang telah menjadi pasangan suami istri. Zahira mengambil S2 nya di salah satu kampus ternama di sana.
2018, Zahira menyandang gelar Magister Keperawatan. Setelah menyelesaikan Study S2 nya, Zahira kembali ke Makassar. 2019, Zahira bekerja di Rumah Sakit Kasih Ibu.
Makassar pukul 07:00 AM
"Kakak ... bangun!" Furqan menarik selimut yang menutupi tubuh sang Kakak.
"Furqan, Kakak masih mengantuk .." Zahira kembali menarik selimutnya.
"Mama ... Kakak nggak mau bangun ..." Furqan mengaduh.
"Zahiraaaaaa ...!!" teriak Mama Azahra dari arah dapur.
"Si tukang melapor!" Zahira mendengus kesal. "Kakak nggak mau ngasih kamu uang jajan!" ketusnya menatap sang adik.
"Ada Mama dan Papa" ucap Furqan berlalu dari kamar Kakaknya.
Setelah mandi dan bersiap-siap, Zahira menemui keluarganya. Zahira menggeser kursi di samping adiknya, Furqan. Sekesal kesalnya dia, dia tidak akan membiarkan adiknya jadi penonton di sekolah.
"Itu, beli jajan yang berguna" Zahira menyodorkan selembar uang 10 ribu.
__ADS_1
"Terima kasih Kakak, tapi nggak usah. Mama udah nyiapin aku bekal jadi aku nggak akan jajan di sekolah lagi" ucap Furqan menarik senyum.
"Kamu simpan atau apa kek. Sudah ambil saja" Zahira memasukkan uang tadi di saku baju adiknya.
Kembali Furqan mengucapkan terima kasih. Melihat putri dan putranya saling mengasihi, Azahra dan Zulfikar merasa beruntung. Setelah sarapan, Zahira bergegas ke tempat kerja. Selain bekerja di Rumah Sakit, Zahira juga mengajar sebagai Dosen di tempat kerja sang Papa. Namun jadwalnya tak sepadat di Rumah Sakit. Dalam seminggu, Zahira hanya punya waktu 1 hari untuk tidur nyenyak.
Di lain tempat, tepatnya di rumah Mama Asna. Si dingin Taufik baru sejam yang lalu sampai di rumah dari Luar Negri. Dia yang pada awalnya putih, semakin putih setelah beberapa tahun di LN.
"Papa, nanti malam kita ke rumah Zahira ya" ucap Taufik mengaduk kopinya.
"Mau ngapain di sana?" tanya Haikal, kemudian menyeruput kopinya.
"Lamar Zahira" balas Taufik dengan santai.
Kedua kening Haikal bertekuk naik. "Emang kamu nggak tahu apa-apa tentang Zahira?" tanyanya memastikan.
Taufik menggeleng.
Haikal menghela napas panjang. "Buang saja harapanmu" ucap Haikal.
"Bulan depan Zahira menikah. Calon suaminya orang Kalimantan, ada campuran arabnya juga" jelas Papa Haikal.
Degh!! Taufik diam membisu. Tanpa pamit, pria itu melenggang ke kamar. Dia mengambil ponselnya, mencari kontak Rio dan Gerry. Bersyukur kedua temannya aktif di Instagram. Taufik segera DM keduanya, dan balasan mereka sama seperti yang dikatakan oleh Papa Haikal.
"Jadi benar Zahira akan menikah" lirih Taufik.
Huh!! Taufik menghembuskan napas kasar. Dia masih ingat kalimat Zahira dulu. Dimana Zahira akan mendepaknya. Nyatanya wanita itu benar benar mendepaknya.
Untuk mengobati luka hati yang tak berdarah, Taufik ke Pantai Losari guna menyaksikan senja. Sekalian dia akan menunaikan shalat magrib dan Isya di Masjid Amirul Mukminin. Kini, Taufik sedang duduk di sana sambil menyaksikan pemandangan laut yang teduh.
Ting!! Satu pesan dari Rio.
"Kamu dimana?"
__ADS_1
"Aku di Pantai Losari"
"Aku juga tahu kali! Maksudku .. kamu dibagian mana?"
"Aku dibagian masjid"
Tak berapa lama menunggu, Rio dan Gerry pun datang. Keduanya menatap wajah Taufik yang tak sedikitpun menampilkan ekspresi perubahan.
"Bro, kukira kamu akan menjadi pria yang murah senyum, tapi dugaanku salah. Kamu masih seperti kulkas. Herman aku" Rio menggeleng.
"Heran Rio ... bukannya Herman!" Gerry membenarkan.
"Yaaa, itu maksud aku" lirih Rio tertawa.
Sementara menyaksikan senja, sorot mata Taufik menangkap sosok yang dikenalnya bersama seorang pria. Pria itu terlihat tampan, bahkan keduanya sangat serasih. Dialah Zahira, entah siapa nama pria yang lagi bersamanya, Taufik pun tak tahu dan tak ingin tahu.
Dia yang tadinya jalan-jalan guna mengurangi sakit hati yang dirasa, justru semakin menancapkan belati pada hatinya. Rasa sakit itu semakin menjadi. Bukan niatnya tak membalas pesan dari Zahira tapi ponselnya sedang eror. Saat dia sudah membeli ponsel baru, Zahira sudah tak bisa dihubungi. Dan saat dia menemukan akun media sosial Zahira yang baru, gadis cantik itu tidak mengonfirmasi pertemanannya. Hingga kini, keduanya tidak menjalin pertemanan di media sosial.
"Zahira ..." panggil Rio.
Zahira mencari asal suara. Seketika tatapannya terhenti pada Taufik yang juga menatapnya. "Kak Taufik" batin Zahira.
"Kamu mengenal mereka?" tanya Brian, pria yang bersama Zahira.
"Iya, mereka senior ku saat SMA. Dan pria yang mengenakan baju kous putih itu adalah pria yang pernah aku ceritakan padamu" ungkap Zahira.
"Ayo kita samperin mereka" ajak Brian.
"Aku masih benci padanya, Brian" ucap Zahira.
"Zahira ... sini" Gerry memanggil.
Mau tidak mau Zahira menghampiri mereka. "Sudah lama di sini?" tanya Brian yang sok akrab.
__ADS_1
"Belum lama, iyakan Taufik" Rio menyenggol Taufik.
"Iya" jawab Taufik sekenanya saja.