SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 13


__ADS_3

Melihat rumah yang berantakan, Zul yakin itu pasti ulah kekasihnya, Kulsum. Pasalnya, setelah Azahra pergi sore tadi, Kulsum menghubungi Zul, berkata dia dan teman temannya akan mengerjakan tugas di kontrakan.


"Ya Allah Kulsum ..." Zul nampak kesal. Pria itu mendudukkan bokongnya di sofa.


"Nanti aku beresin, Kak" ucap Zahra segera meletakkan tas di atas meja kemudian mengambil keranjang sampah kering dan juga sapu. Dengan telaten, wanita itu membersihkan ruang tamu dan ruangan yang lain.


Setelah membersihkan ruangan, Azahra segera mandi sebelum menunaikan shalat magrib di rumah. Usai shalat, tanpa mengaji terlebih dahulu, wanita itu menggiring langkah keluar kamar menuju dapur. Tangan kanannya terulur membuka tudung saji di atas meja. Menghela napas panjang, Azahra membalikan badan menuju lemari kecil. Nyatanya, selain membuat rumah berantakan, makanan di tudung saji juga di dalam lemari sudah habis dimakan.


"Zahra ... Jalan-jalan yuk ..." Sambil mengenakan hoodie pria berwarna putih dipadu dengan celana chino panjang warna milo muda, Zulfikar menghampiri Azahra di dapur.


Azahra membalikan badan menatap Zulfikar yang serius menatapnya. "Kakak ngajak aku?" tanya Azahra menunjuk dirinya.


"Ya kamulah Azahra ..." Jawab Zulfikar gemes.


Kedua kening Azahra menukik naik. Segera wanita itu menempelkan tangan pada jidat Zulfikar. "Nggak demam" gumamnya pelan.


Kembali Zul yang mengerutkan kening. "Kamu kenapa?" Zul balik bertanya.


"Aku kira Kakak demam jadi bicaranya ngasal. Nyatanya nggak" Jawab Azahra. Kemudian melenggang pergi ke sofa.


"Zahra, mau ikut apa nggak?" tanya Zul menyusul ke sofa.


"Iya mau. Tapi aku dandan dulu" Jawab Azahra beranjak pergi dari sana.


"Yang cantik ... biar ada yang naksir" kata Zul sedikit menaikkan volume.


"Ngapain ... Orang udah ada yang DM kok" ucap Azahra membalas.


Azahra tak perlu berdandan cantik untuk menarik perhatian para lelaki. Karena pada dasarnya, Azahra sudah menjadi idola kaum adam di sekolahnya. Bahkan bukan hanya idola para junior, senior yang sudah lulus pun masih ada yang mengidolakannya. Salah Satunya Faisal, Kakak tingkat Azahra saat wanita itu berada di kelas X IPA.


Wanita seperti dirinya, yang tidak suka berdandan berlebihan–hanya mengenakan hoodie berwarna hitam, celana jins hitam dan jilbab warna maron. Bahkan wanita itu tak memoles bedak pada wajahnya. Bermodal lipstik warna nude serta kecantikan alami, Azahra menemui Zulfikar.

__ADS_1


"Ayo Kak" Azahra berdiri menatap Zulfikar yang sudah rapih dengan stylenya.


Zulfikar yang sementara mencoba menghubungi Kulsum, memalingkan wajah pada Azahra. Cantik, satu kata untuk wanita itu. Beranjak dari sofa, Zulfikar mengikuti Azahra yang lebih dulu keluar rumah.


"Dek, kita ke Caffe aja ya" ucap Zulfikar mengenakan sendal lalu menutup pintu rumah.


"Kenapa ke Caffe? Apa penampilanku kurang oke?" Azahra menatap bayangannya lewat kaca jendela. "Nggak menor kok" gumamnya pelan.


"Bukan seperti itu. Tapi .." Zul ragu melanjutkan kata.


"Ya sudah. Tapi kita makan di Mas Eqi dulu, setelah itu kita ke Caffe. Bagaimana?"


Zulfikar mengangguk. Segera pria itu naik di atas motor disusul oleh Azahra. Hanya beberapa menit saja, keduanya tiba di warung Mas Eqi. Sebelum mengambil tempat, Azahra bertanya pada Zul.


"Kakak mau pesan apa?"


"Nasi goreng spesial" jawab Zul.


"Dimana anak ini, kenapa nggak jawab panggilan" gumam Zul terlihat kesal. Kembali menghubungi Kulsum namun masih tetap sama, nomornya diluar jangkauan.


Azahra hanya diam. Ia yang duduk menghadap depan, menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang. Hingga sapaan seseorang mengalihkan pandangan Azahra, begitu juga dengan Zulfikar.


"Masya Allah, Dek. Lama nggak ketemu. Gimana kabarmu?" Ayumi, Kakak senior Azahra bersama teman prianya, Riandi, mengambil tempat di samping Azahra. Kursi yang memanjang, bisa ditempati oleh mereka bertiga.


"Alhamdulilah, Kak. Aku baik. Kakak dan Kak Riandi iya gimana? Sehat?" Azahra balik bertanya.


"Alhamdulilah sehat. Kamu sendiri ke sini?" tanya Ayumi.


"Ngggak, aku sama Kakak sepupu aku. Kenalin, ini Kak Zul" Azahra memperkenalkan mereka.


Zulfikar yang masih memikirkan Kulsum, pria itu harus menyapa senior Azahra yang tersenyum menyapanya. Hingga kehadiran Mas Jono yang mengantar pesanan Azahra dan juga Zul, mengakhiri percakapan antara Azahra, Yumi dan Riandi. Nyatanya, Yumi dan Riandi hanya sekedar lewat. Mereka berhenti saat melihat Azahra melamun. Berhubung keduanya hanya sekedar jalan-jalan ke depan dari indekos, mereka pun pergi melanjutkan langkah demi langkah.

__ADS_1


Sesuap demi sesuap, Azahra memasukan makanan ke dalam mulutnya. Mengunyah berulang kali lalu menelannya. Begitu juga dengan Zulfikar. Bedanya, Zulfikar selalu melirik ponselnya, sementara Azahra fokus pada makanannya. Setelah makan, Azahra mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Biar aku yang bayar" ucap Zul beranjak dari kursi.


Setelah makan, Azahra dan Zulfikar kembali melanjutkan perjalanan menuju Caffe tempat Zulfikar bekerja. Setibanya di sana, Zulfikar tak kunjung turun dari motor. Namun tatapan pra itu terarah pada beberapa pria di dalam Caffe


"Kenapa mereka di sini" batin Zul.


"Kak Zul, kok nggak turun sih" Azahra menatap Zul yang masih setia duduk di atas motor. "Ayo kita masuk" sambungnya menarik pelan tangan Zulfikar.


"Dek, kita pulang yuk" Zul menatap serius Azahra. Melihat Azahra yang cantik, Zulfikar mengurungkan niat untuk masuk ke Caffe.


"Hah?" Azahra memastikan pendengarannya. "Apa karena penampilanku norak jadi Kakak malu masuk ke dalam bersamaku" sambungnya pelan. Namun ada rasa sakit yang menghampirinya.


"Bukan itu tapi ..." Zul malu melanjutkan kata yang akan menjadi kalimat.


"Ya sudah, ayo pulang" kecewa, Azahra naik di atas motor. Melihat Azahra yang menunduk, Zul menghela napas panjang.


"Ayo kita masuk" Zul turun dari motor. Sementara mood Azahra sudah rusak. "Dek, ayo" Zul kembali mengajak Azahra.


"Aku mau pulang" Mata Azahra mulai berkaca kaca.


"Harusnya aku dandan cantik biar Kak Zul nggak malu jalan sama aku. Lihat, Kak Zul nggak mau masuk di dalam" batin Azahra.


"Zahra, ayo kita masuk" Zulfikar membujuk Azahra yang menunduk.


"Nggak mau" Azahra terisak. Segera wanita itu menyembunyikan wajahnya dibalik jilbab yang dikenakannya.


Rasa bersalah menghampiri Zulfikar. Naik di atas motor, Zul membawa pulang Azahra. Setibanya di rumah, Azahra segera membuka pintu lalu masuk ke kamarnya. Menguncinya dari dalam, ia menangis di atas tempat tidur.


"Benar kata Asna, jadi wanita itu harus pandai berdandan" ucap Azahra disela sela tangisnya.

__ADS_1


"Zahra ... Kamu salah paham, Dek. Bukan itu alasanku nggak mau masuk" ucap Zul dibalik pintu.


__ADS_2