SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 28


__ADS_3

Di dalam kontrakan kembali sunyi setelah orang tua dan adik mereka pulang ke Maros. Menyisakan Azahra dan Zulfikar di kontrakan. Terdiam di depan kontrakan, Azahra menatap mobil yang dikendarai Papa Kurniawan menghilang dari jangkauan matanya. Hingga tangan mulus Zulfikar berpijak pada bahunya. Menyadarkan dia yang sementara termenung.


"Ayo masuk, sudah sore" ajak Zul pelan.


Azahra mengangguk walau dia sendiri masih mau duduk di luar pagar. Beranjak dari tempat duduk, Azahra masuk ke dalam rumah bersama Zul.


"Dek, bisa bicara sebentar?" ucap Zulfikar sebelum mendudukkan bokongnya pada sofa ruang tamu.


Tanpa menjawab iya, Azahra segera mengambil tempat di sofa yang berbeda. "Kakak mau bicara apa?" tanyanya pelan.


Zulfikar menatap serius Azahra yang juga menatapnya. "Zah, jawab jujur ya. Apa kamu mencintai Faisal?" tanyanya.


"Ya" jawab Azahra menunduk.


Zulfikar terdiam dan pada akhirnya harus menarik senyum. Dia tidak boleh egois. Azahra berhak bahagia bersama orang yang dia cintai. Sama seperti Azahra yang membiarkannya menjalin kasih bersama Kulsum. Ya ... Walau pun sekarang hubungan keduanya telah berakhir, tapi tetap saja, Azahra tak menuntutnya untuk mengakhiri hubungan itu.


"Sekarang kamu fokus sekolah dulu. Setelah kamu lulus nanti, baru kita bahas soal itu" ucap Zul.


Azahra yang tadinya menunduk, segera mengangkat wajah. Di tatapnya pria yang bergelar suaminya itu. Suami yang hatinya ditempati oleh wanita yang pandai bersilat lida.


"Dek, mari kita jalani sisa waktu yang ada. Kamu bisa menjadikanku sahabat, kamu bebas curhat tentangnya, juga tentang yang lain, misal tentang suka duka di sekolah" Zul menarik senyum.


"Sisa waktu yang ada? Ternyata Kak Zul akan tetap meninggalkanku. Janjinya pada Mama Aira hanya alibinya saja" batin Azahra kecewa. Dia menjawab 'iya' sesuai kenyataan. Tapi, jika benar Zulfikar serius dengan ucapannya tadi saat masih ada Mama Aira, Azahra akan belajar mencintai Zul. Mencintainya hingga segenap jiwa.


"Kak, mandi air hangat lagi ya" Azahra berusaha menarik senyum.


Zulfikar mengangguk. Melihat Zul mengangguk, Azahra undur diri ke dapur. Seperti pagi tadi, mengambil panci, menuangkan air di dalamnya, mengangkat dan meletakkannya di atas kompor gas. Menyalakan kompor, kemudian menurunkan baskom besar membawanya ke kamar Zulfikar.


Beberapa puluh menit kemudian, air yang didih kan pun mendidih. Segera Azahra mematikan kompor, mengangkat panci berisi air panas, kemudian membawanya masuk ke dalam kamar Zulfikar.


Sementara Zulfikar, pria itu hanya memperhatikan Azahra. Ingin membantu, namun Azahra menolak dibantu.


"Kak Zul ... cepat kesini ..." panggil Azahra yang sudah siap dengan handuk kecilnya di tangan.


Zulfikar beranjak dari sofa, menghampiri Azahra di kamar mandi. Tanpa merasa canggung lagi, Zul melepas pakaiannya di depan Azahra, menyisakan celana d*lam. Duduk seperti anak kecil, Azahra mulai melakukan aktivitas berulang seperti pagi tadi.


Walau tubuh atletis Zulfikar masuk dalam kriteria suami idaman Azahra, tapi tetap saja, Azahra tak tertarik pada pria yang dirawatnya itu. Entah bagaimana di hari hari selanjutnya, dia pun tak tahu. Yang Zahra tahu, untuk sekarang-sekarang ini dia tidak tertarik pada Zul.


Beberapa puluh menit kemudian, Zulfikar berdiri dengan handuk yang terlilit dipinggang. Menyibak rambutnya yang acak acakan, ia terlihat sangat tampan.


"Udah tampan, pekerja keras lagi. Sayangnya, suka mabuk mabukan. Mana gampang emosi" batin Azahra menatap Zulfikar yang sementara membuka lemari pakaian.


....


Malam sekitar jam sembilan, Azahra merebahkan diri di sofa sambil mendengarkan lagu kesukaannya. Memejamkan mata sambil mengikuti nyanyian yang ia dengar, kegiatannya menyita perhatian Zulfikar yang sedih merenungi kebodohannya di kamar.


Gitar yang sudah lama tak digunakan oleh Zulfikar, yang disimpan rapih diatas lemari, detik itu juga Zul mengambilnya. Membersihkannya kemudian menemui Azahra di ruang keluarga.

__ADS_1


"Dek, nyayi sama-sama yuk" ajak Zul mengambil tempat di sofa yang berbeda. Azahra menarik diri hingga duduk. Mengulas senyum, wanita itu mengangguk.


Zulfikar mulai memainkan gitar. Azahra yang juga pandai bermain gitar, tentu banyak lirik lagu yang dia tahu. Dari petikan yang Zulfikar mainkan, Azahra yakin, judul lagu itu adalah 'Cinta Dalam Doa'. Dan benar saja, Zulfikar mulai menyanyikannya.


...        Am                     Dm...


...berakhirlah sudah cerita kita...


...     G                          C...


...setelah sekian lama bersama...


...          F                          Dm...


...kau hadirkan dia dalam cerita...


...               E                        Am...


...yang hanya menyisahkan luka...


...Dm    G        C                            F...


...ku coba menahan perih yang kurasa...


...Dm                        E...


...Reff :...


...            Am...


...jika menyakiti aku...


...                   Dm...


...bisa membuatmu bahagia...


...             G...


...maka lakukanlah itu...


...               C               E...


...tanpamu ku yakin bisa...


...               Am...


...ikhlas ku mencintaimu ...

__ADS_1


...               Dm...


...ikhlas ku kehilanganmu...


...              G...


...semoga kau bahagia...


...                C             E...


...dengan pilihanmu itu...


...              F...


...kau bersama dia...


...        G           Am...


...aku bersama doa...


Mulai dari menyanyikannya, Zul terlihat menghayati lagu tersebut. Dari satu bait ke satu bait, terdengar begitu merdu. Hingga yang menyanyikan dan yang menjadi pendengar pun terenyuh dibuatnya.


Cinta, yang bertahun tahun dibina dengan harapan bisa saling memiliki dan menua bersama, harus kandas karena kenyataan. Sakit hati yang dirasakan oleh Zul, tak dapat diutarakan dengan kata-kata. Menjadi pebinor bukanlah maunya, dia hanya terjebak di dalamnya.


Usai menyanyikan lagu yang ia bawakan, Zulfikar menyandarkan dagu pada gitarnya. Manik mata indahnya terarah dimana Azahra duduk melipat kedua kaki di atas sofa.


"Apa yang kau pinta dalam doamu?" tanya Zul serius.


Azahra menarik senyum. "Jawab jujur, atau boleh berbohong?" Azahra balik bertanya.


"Harus jawab jujur" kata Zul.


"Doaku hanya satu, mendoakan Kakak agar tetap dalam lindungan Allah" jawab Azahra serius.


Zulfikar terdiam. Hingga pertanyaan kedua terlontar. "Apa yang kau benci saat ini?"


Azahra ragu menjawab namun dia harus menjawab dengan jujur. "Memiliki suami namun tak mencintaiku"


Lagi dan lagi, jawaban Azahra membuat Zul terdiam. Jawaban Azahra tak salah, jawaban itu benar dan Zulfikar mengakui itu. Dia, dia suami Azahra namun cinta pria itu untuk orang lain.


"Kenapa kau mendoakanku?" tanya Zul. Kali ini dia tak lagi menumpukkan dagu pada gitar.


Azahra terkekeh. Dia yakin, Zul tak sekalipun mendoakannya. "Ya karena Kakak suami aku. Ya wajarlah aku mendoakan Kakak" ungkap Azahra. "Apa ada pertanyaan lagi?" sambung Azahra bertanya.


Zulfikar menggeleng. Melihat itu, Azahra berpindah tempat duduk. Ia duduk di samping Zul dan tanpa izin merebahkan tubuh di sofa dengan berbantal paha pria itu.


"Izinkan aku bermanja sebelum Kakak meninggalkan aku" ucap Azahra memejamkan mata.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Zul menatap wajah sang istri. Rasa bersalah menghampirinya saat itu juga. Sudah hampir sebulan usia pernikahan mereka namun tak sekalipun Zul memanjakan Azahra. Bahkan, tak sekalipun Zul bertanya, apa yang Azahra suka.


__ADS_2