
Harusnya pagi ini Azahra ke Sekolah, namun sakit kepala yang kerap menyiksanya kembali kambuh. Mau tidak mau dia harus istirahat ful di rumah.
"Zahra, aku ke kampus dulu ya. Nanti setelah jam pertama usai, aku pulang" ucap Zulfikar seraya mengikat tali sepatu ventelanya.
"Kok pulang sih, Kak. Emangnya hanya satu mata kuliah ya?" tanya Azahra menyilangkan kaki di sofa ruang tamu sambil menyaksikan Zulfikar yang berjongkok di ambang pintu rumah.
Selesai mengikat sepatu, Zulfikar mengambil helemnya di atas meja. "Iya, hanya satu" jawabnya. "Hati-hati di rumah. Hubungi aku bila kau butuh sesuatu" tambahnya sembari memasang helem di kepala.
"Iya, Kak" balas Azahra segera mencium tangan suaminya.
Sepeninggal Zulfikar, Azahra kembali memejamkan mata di sofa. Sakit kepala yang masih berdenyut hebat membuatnya malas untuk membuka mata.
...
Di kampus, Zulfikar masih menerima materi yang sebentar lagi akan berakhir. Sekali kali pria itu melirik ponselnya takutnya Azahra menghubunginya. Beberapa menit kemudian, kelas pagi usai tepat di pukul sembilan lewat empat puluh menit.
"Zul, kamu langsung pulang atau masih di sini?" tanya Assagaf.
"Sepertinya aku langsung pulang, Gaf. Kalian mau ikut? Ayo kita sama-sama ke sana" ucap Zul seraya mengisi binder dalam tasnya.
"Nggak, aku juga langsung pulang. Ibu aku mau ke kondangan dan nggak ada yang jagain adik aku. Oh iya ini ada obat dari Haikal. Katanya sih dari Faisal" Assagaf mengeluarkan obat sakit kepala dari dalam tasnya. Menyerahkannya pada Zulfikar.
"Terima kasih ya, aku pulang dulu. Assalamualaikum" ucap Zulfikar kemudian keluar dari ruangan C105.
Setibanya di kontrakan, Zulfikar mendapati Azahra masih di ruang tamu, yang dimana tertidur di sana. Melihat Azahra tertidur, Zulfikar mendekat dan meletakkan obat yang katanya dari Faisal.
Meletakkan tas di atas kasur, kemudian kembali ke ruang tamu. Di sana, dia mendapati Azahra membuka mata.
"Kakak dari tadi pulang?" tanya Azahra dengan rambut yang digerai.
"Belum lama. Itu obat dari Faisal" balas Zul mengambil tempat di samping Azahra. Mengambil ikat rambut yang Azahra letakkan di atas meja, dan mulai mengikat rapih rambut Azahra.
"Kalau diikat seperti ini terlihat jauh lebih cantik. Beda lagi kalau digerai" tambah Zulfikar.
"Aku rasa sama aja, aku tetap cantik walau nggak nyisir rambut seminggu" ucap Azahra penuh percaya diri.
Zukfikar tersenyum. Ia membenarkan cara duduknya. Tatapannya kembali tertuju pada obat yang dari Faisal. "Dek, dari mana Faisal tahu kalau kamu sakit?" tanya Zul.
"Paling dari Haikal. Kan dia kerjanya di Apotek yang dibangun oleh keluarga Faisal" jawab Azahra dengan santai. "Kak, kita makan yuk. Au lapar" tambahnya.
__ADS_1
"Oh" hanya dua huruf itu yang terdengar dari mulut Zulfikar. Dia kesal saat Assagaf berkata obat itu dari Faisal. Sekalipun begitu, dia tidak mau Haikal ataupun Faisal tahu jika obat yang mereka titipkan pada Assagaf tidak sampai pada penerima.
"Kakak nggak mau makan?" tanya Azahra mengernyitkan dahi.
"Kakak mau makan apa nggak? Kalau iya, ayo kita makan" jelas Azahra geram.
"Sialan! Gara-gara Faisal dan Haikal ini!!" umpat Zul dalam hati.
Di meja makan, Zulfikar terdiam. Tentu hal itu mengundang rasa penasaran Azahra. Setahu Azahra, dua minggu belakangan ini Zulfikar selalu cerewet saat di meja makan.
"Kakak kenapa? Ada masalah?" tanya Azahra setelah meneguk setengah gelas air dingin.
"Nggak ada, hanya mau diam aja" balas Zulfikar. "Awas saja Haikal! Akan aku ulek ulek kamu!!" batin Zulfikar yang masih kesal pada Haikal.
Sesudah makan, Zulfikar mencari ponselnya di dalam tas. Dia yakin, ponselnya ada di dalam tas. Segera ia merogoh dalam tas namun tak menemukannya. Kesal, Zulfikar mengeluarkan satu persatu benda-benda yang ada di dalam tasnya.
"Dimana ponselku?" gumam Zul bertanya-tanya.
"Cari apa sih Kak?" tanya Azahra setelah membersihkan meja makan.
"Ponselku. Aku cari-cari tapi nggak ada, perasaan aku masukin ke dalam tas" jawab Zulfikar menjelaskan.
"Ya pantas saja nggak ada di dala tas, kan Kakak masukkan di saku celana" ucap Azahra menggeleng.
"Hehehehe" cengir Zulikar.
Azahra menggeleng kepala. Segera ia keluar kamar mengambil obat sakit kepala dari Faisal yang dititipkan pada Haikal.
Ting!!
"Tadi aku titip obat di Kak Asgaf untuk diberikan pada Kak Zul. Apa obatnya sudah kamu terima?" pesan dari Haikal.
Ting!!
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Masih sakit kepalanya? Jika sore nanti tetap sakit kamu chat aku, aku antar kamu ke rumah sakit atau kita ke klinik saja" pesan dari Faisal.
Azahra tidak tahu ada pesan masuk sehingga dia mengabaikan pesan dari Haikal dan Faisal. Sementara di sekolah, Haikal, Irwan, Geovani, Gea dan Asna tengah duduk dibawah pohon mangga samping kantin.
"Beb, nanti kita besuk Azahra ya. Dia nggak balas chat juga nggak angkat panggilan dariku. Takutnya dia kenapa napa" ucap Haikal sedikit cemas.
__ADS_1
"Sempat Kak Zul yang pegang ponselnya" Asna menimpali.
"Iya juga sih, nggak biasanya Zahra nggak respon pesan dari kita" Geovani menimpali.
"Mau Kak Zul kek atau siapapun itu, nanti sepulang dari sekolah kita besuk Azahra" ucap Gea tegas.
"Iya, aku setuju" Asna menimpali.
.
.
.
Asna dan kawan kawannya telah berada di depan kontrakan. Berulang kali memanggil namun tak jua ada yang membukakan pintu.
"Mungkin Azahra lagi tidur siang" ucap Asna.
"Tidur apanya, lah ini dia online" celetuk Haikal kesal.
Disela sela perbincangan mereka, terlihat Zulfikar membuka pintu. Kemudian mempersilahkan tamu Azahra masuk ke dalam.
"Zahra, gimana keadaanmu sekarang? Udah baikan atau masih sakit?" tanya Asna cemas.
"Alhamdulilah, udah mendingan. Makasih ya, kalian udah besuk aku" balas Azahra.
"Alhamdulilah. Kalau ada apa-apa, kabari kami. Jangan kek tadi, di chat nggak balas. Mana di read lagi" timpal Haikal sedikit kesal.
Azahra mengernyitkan keningnya. Chat? Dia tidak tahu ada chat masuk. "Mungkin tadi Kak Zul yang baca" batin Azahra.
"Maaf, tadi itu aku mau balas tapi kepalaku masih sakit jadi aku hanya read doang" kilah Azahra.
"Pantas, Kak Faisal DM aku katanya kamu nggak balas chatnya. Dia khawatir jadi nanyain kabar kamu ke kami" timpal Irwan memberitahu.
Azahra menghela napas panjang. Dia yakin, Zulfikar yang membaca pesan-pesan yang masuk. Pertanyaannya, kenapa dia tidak membalasnya?
Lama berbincang, akhirna Asna dan kawan-kawannya pamit pulang. Sepeninggal kawan-kawannya, Azahra menemui Zulfikar yang sementara di kamar.
"Kak, kenapa Kakak nggak balas pesan dari Haikal dan Kak Faisal?" tanya Azahra menghampiri.
__ADS_1
"Emang harus dibalas ya?" Zulfikar balik bertanya.
"Maksud?" kedua kening Azahra bertekuk naik. Pertanyaan macam apa itu.