SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Promo "ELINA"


__ADS_3


Penthouse At The Pierre


Elina dan Melisa sedang bersiap siap ke kampus. Keduanya ke luar dari apartemen mencari Taxi. Terlihat dua pria tiba-tiba datang menculik Elina lalu membawanya ke dalam mobil. Di dalam mobil, ada Martha, Ibu tiri Elina.


"Jangan pikir kamu bisa kabur, Elina!" bentak Martha. Wanita paruh baya itu nampak marah.


"Turunin aku, Bu. Aku tidak mau menikah dengan pria tua itu!!" pekik Elina. Memberontak untuk bisa ke luar dari mobil.


Plak... Martha mendaratkan satu tamparan di pipi Elina.


"Kamu anak yang tidak tahu berterima kasih. Apa kamu tidak Sayang pada ayahmu! Apa kamu ingin ayahmu meninggal karena tidak mendapatkan perawatan! Aku tidak butuh persetujuan mu! Minggu depan kamu akan menikah dengan Jonathan!" hardik Martha sembari mencengkram mulut Elina. Lalu ke luar dari mobil.


"Bawa dia dan jangan biarkan dia kabur" kata Martha lalu turun dari mobil.


"Izinkan aku ke Kampus, Bu" pintah Elina memohon.


Martha menatap Elina sejenak. "Antar dia ke Kampus dan jangan biarkan dia kabur" kata Martha pada kedua pria itu lalu masuk ke mobil yang satunya.


"Baik, Nyonya"


Kendaraan roda empat perlahan bergerak meninggalkan tempat sunyi menuju jalan raya. Di dalam mobil, Elina terus diam dan tak bergeming. Dia terus memikirkan apa yang Ibu tirinya katakan.


"Nona, jika boleh aku sarankan. Alangkah baiknya Nona menuruti perintah Nyonya besar" kata seorang lelaki yang kini bersama Elina. Namanya Anjas, bodyguard kepercayaan almarhum Santika, Ibu kandung Elina.


"Aku tidak mau menikah dengan pria tua itu" balas Elina lalu lalu menangis.


"Terkadang, kebahagiaan itu hadir dengan orang yang salah, Nona. Aku mengenal pria yang membeli Nona, dia baik pada orang-orang" kata Anjas.


Elina tidak mengerti apa maksud dari perkataan Pria yang kini menatapnya dengan tatapan iba. "Apa kamu mengenalnya?" tanya Elina menatap Anjas dengan penuh tanya.


"Aku belum pernah melihatnya, tapi itulah kenyataan tentang Jonathan" balas Anjas.


"Tapi ada seseorang yang aku tunggu, aku tidak bisa menerima keputusan Ibu Martha begitu saja" ujar Elina menatap jauh keluar jendela.

__ADS_1


"Apa Erlanda yang Nona tunggu?" tanya Anjas sembari menaikturunkan alisnya.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Elin menyelidik. dia menatap lekat Pria itu.


"Nona, aku bekerja di keluarga Nona hampir 10 tahun. Aku tahu bagaimana Nona dan siapa pria yang Nona suka" jelas Anjas panjang lebar.


"Aku merindukannya, apa kalian bisa membantuku?" tanya Elina memohon pada Anjas dan Jivan.


"Katakan, Nona" kata Jivan, pria yang sedari tadi diam dan hanya fokus menyetir.


"Bantu aku untuk menemui Erlanda di Jerman, aku hanya butuh waktu satu hari" kata Elina kembali memohon pada Anjas dan Jivan.


"Baiklah, Nona. Kami akan membantu Nona" kata Jivan tersenyum.


"Tapi bagaimana dengan Nyonya Martha, Nyonya bisa marah besar jika tahu Nona menemui Erlanda" kata Anjas menatap majikannya.


"Aku percayakan semuanya pada kalian. Aku yakin, kalian bisa membantuku" ujar Elina dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, Nona. Kami akan mengurus semua keperluan, Nona" sahut Anjas dan Jivan bersamaan.


"Terima kasih sudah mau membantuku" ujar Elina sebelum turun dari mobil.


"Sama-sama, Nona" balas Anjas dan Jivan bersamaan.


Elina berjalan memasuki area Kampus, dari kejauhan dia melihat Melisa mondar mandir.


"Melisa...!" teriak Elina.


Melisa berlari menghampiri Elina. Tanpa izin, gadis cantik itu memeluk Elina. Beberapa Mahasiswa dan Mahasiswi menyaksikan pemandangan indah itu.


"Aku takut kamu kenapa-napa, Elina" ujar Melisa terisak. Gadis itu tidak perduli dengan sekelilingnya.


"Aku baik-baik saja, Melisa" kata Elina sambil menyeka air mata sahabatnya.


"Ayo cepat nanti kita terlambat" kata Elina menarik tangan sahabatnya. Langkah kaki keduanya nampak terdengar terburu-buru. Mereka takut terlambat di mata Kuliah seorang Profesor muda yang dijuluki pria tanpa perasaan. Namanya Stevin, pria yang ditakuti oleh para Mahasiswa dan Mahasiswi.

__ADS_1


Bruk... Elina menabrak seseorang, yang tak lain adalah profesor tanpa perasaan.


"Maafkan aku" ujar Elina tanpa menatap profesornya.


"Apa kamu pikir, kata maaf dapat mengembalikan buku yang jatuh itu ketempat semula!!" bentak Prof Stevin dengan dingin.


"M-maafkan kami, Prof." Melisa meminta maaf sambil membungkukkan tubuhnya sejenak.


Tanpa menjawab, Stevin berlalu pergi meninggalkan Elina dan Melisa.


"Ayo, Elina" ajk Melisa menarik tangan sahabatnya. Keduanya bergegas masuk ke dalam kelas sebelum Prof Stevin mendahului mereka.


"Melisa, kamu saja yang ke kelas. Aku ingin sendiri. Temui aku di tempat biasa" ujar Elina yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Tapi, Elin" Melisa menatap Elin dengan iba.


"Aku, aku ingin sendiri" kata Elin.


"Tunggu aku di sana ya" ujar Melisa, berlalu pergi meninggalkan Elina.


Elina berjalan menuju tempat di mana dia dan Melisa sering datangi. Ruangan kosong di gedung belakang Kampus, tempat yang dulunya adalah perpustakaan. Namun tak digunakan lagi sejak seorang Mahasiswi meninggal tanpa sebab.


"Apa aku beritahu Melisa tentang kondisiku saat ini?" gumam Elina sambil memeluk tubuh mungilnya.


"Ibu, apa Ibu dapat melihatku? Apa Ibu akan memintaku untuk menikahi pria tua bangka itu" batin Elina. Elina tak tahu harus bagaimana lagi. Menangis adalah salah satu cara untuk meringankan bebannya.


"Aku harus menemui Erlanda. Aku yakin, Erlanda akan membantuku" gumam Elina sembari menyeka air matanya. Lalu mengambil ponselnya mencari nama Erlanda di kontak. Jarinya berhenti berkutak saat nama Erlanda terlihat. Dengan segera, Elin menekan icon hijau.


"Kenapa nomornya tidak aktif" gumam Elin.


"Apa Erlanda sudah melupakanku? Kenapa dia tidak menghubungiku lagi" gumam Elina sembari menatap foto di layar ponselnya. Foto Erlanda dan Elina saat mereka masih sekolah.


"Aku harus ke Jerman, hanya ini satu-satunya cara agar aku tidak dinikahkan dengan Pria tua bangka itu" gumam Elin.


"Apa yang kamu lakukan di situ?" tanya seseorang. Elina menoleh ke arah suara.

__ADS_1


"A--a-ku" balas Elin gelagapan.


__ADS_2