
Berharap ia hamil namun sebelum menggunakan tespek, ia melihat bercak darah di celananya. Rona sedih pun tergambar di wajah cantik Azahra. Hingga satu pertanyaan berhasil lolos dari mulut sang suami.
"Tadinya aku kira hamil karena udah telat enam hari, nyatanya nggak" jawab Azahra cemberut.
Lima bulan kemudian. Zulfikar bersiap ke Kampus menghadap Kaprodi juga jajarannya. Dia yang telah menyelesaikan S2nya akan mengajar di Alumninya. Suatu kebanggaan baginya bisa mengajar bersama para Dosen yang dulu mengajarinya. Suatu kebanggan baginya dimana dia yang dulu duduk di kursi sejejer dengan teman-temannya akan duduk di kursi depan yang di khususkan untuk Dosen.
Azahra mencium tangan suaminya, begitu juga dengan Baby Zahira yang ikut mencium tangan sang Papa. Ciuman keduanya dibalas oleh Zul pada puncak kepala masing-masing.
"Papa pergi dulu ya. Assalamualaikum" pamit Zul.
"Waalaikumsalam" sahut Azahra.
"Mama, Papa pelgi? Cekola?" tanya Zahira yang pandai dalam hal berbicara bahkan ia termasuk anak yang cepat tanggap.
"Iya, Sayang. Papa pergi sekolah. Tapi, Papa mengajar, nggak seperti Tante Naudira" jawab Azahra.
Zahira mengangguk, seakan dia mengerti. Setelah bayangan Papa Zul menghilang, Zahira dan Azahra masuk ke dalam Toko. Tak berapa lama, terdengar seseorang mengucap salam. Segera Azahra melihat dan mendapati Asna juga putranya, Taufik Hidayat.
"Masya Allah, gantengnyaTante baru datang ya" Azahra menjulurkan tangan pada Taufik. Taufik Faham lalu mencium tangan Azahra.
"Tante, Dede mana?" tanya sekecil Taufik.
"Ada di dalam, ayo masuk Sayang" Azahra menuntun Taufik masuk di susul Asna.
Taufik dan Zahira mulai bermain bersama. Sementara Azahra mulai bercanda gurau dengan Asna, sahabatnya yang kini memiliki bisnis kuliner di Antang Raya samping Kampus Universitas Mega Rezky Makassar.
"Beb, kapan kapan kita ngumpul bareng ya" ujar Azahra.
"Insya Allah, kalau Haikal libur nanti kita kumpul bareng" sahut Asna. "Kamu mau kuliah?" tambahnya bertanya.
"Rencananya sih gitu. Tapi nanti dilihat. Menurut kamu aku jaga Toko saja atau kuliah?" tanya Azahra kemudian.
"Mana nyamannya kamu. Kalau kamu merasa dengan kuliah kehidupanmu akan jauh lebih baik ya kamu kuliah" terang Asna.
__ADS_1
"Kamu tahu nggak sih, aku tuh mau kuliah hanya untuk memantau Kak Zul di kampus. Aku takut dia kepincut mahasiswi cantik" ungkap Azahra.
"Astaghfirullah Zahra ... Istighfar. Kamu harus ingat, di Los Angeles saja Kak Zul bisa menjaga mata masa di sini nggak. Kamu mulai ngaco deh" Asna menggeleng tak mengerti.
"Iya juga sih" Azahra membenarkan.
"Mama ... Dede gigit tangan Taufik" Taufik melapor saat Zahira menggigit kuat tangannya.
Zahira menunduk.
"Zahira Sayang. Ayo minta maaf sama Abang" Azahra membujuk putrinya yang terus menunduk.
"Tante ... Dede jahat" aduh Taufik.
"Nda ..." tangis Zahira pecah. Ia berdiri memeluk mamanya.
"Mama, Dede" Taufik menunjuk Zahira yang menangis kuat.
"Iya, adenya nangis" Asna memberitahu.
Walau segukan, Zahira mengangguk. "Masih kecil, udah nggak mau minta maaf. Heran aku sama ini anak" Azahra menggeleng tak mengerti.
"Sabar, Beb. Dia masih kecil, nggak semua apa yang kita bilang dia paham maksudnya apa" Asna mengingatkan.
Taufik mulai bermain, sementara Zahira tak mau turun dari pangkuan Mamanya. Beberapa menit kemudian, Zahira meninggalkan sang Mama mendekati Taufik yang asik bermain. Lagi dan lagi, Zahira menggigit tangan Taufik.
"Zahira ..." Azahra menarik anaknya. "Jangan digigit tangannya Abang Taufik. Sakit loh, cepat minta maaf" titahnya.
Zahira membuang pandangan ke tempat lain. Seakan menunjukan rasa enggannya untuk meminta maaf.
"Ya sudah, kalau Zahira nggak suka Abang Taufik main di sini, Tante dan Abang Taufik pamit pulang ya" Asna bersuara.
"Dangan ... Hiks ... Mama ... Tante ulang ..." aduh Zahira disertai tangis. Aneh tapi nyata, diminta minta maaf tapi sok jual mahal. Giliran dibilang mau pergi, langsung nangis tak mau ditinggal.
__ADS_1
"Iya iya ... Tante dan Abang nggak jadi pulang. Tapi Zahira janji ya, nggak gigit tangan Abang lagi" ujar Asna menatap tanya Zahira.
"Ummm" sahut Zahira mengangguk. "Maap" tambahnya.
Dua jam sebelum piringan matahari secara keseluruhan mehilang dari cakrawala, Zulfikar lebih dulu tiba di Toko Rezeki. Setibanya di Toko, ia tak mendapati anak dan istrinya itu. Terbesit tanya dimana mereka berdua.
Zul sempat bertanya pada tetangga, apakah mereka melihat Azahra pergi? Dan ya, mereka menjawab Azahra pergi bersama temannya yang pagi tadi datang bersama anak laki-laki. Zul yakin, itu pasti Asna. Sekalipun begitu, Zul merasa tak tenang, segera ia mengisi daya ponsel nya di tetangga. Kebetulan, di samping Toko Rezeki ada konter.
"Dari mana, Mas?" tanya seorang pria yang bekerja di tempat Foto Copy samping konter. Mas, panggilan itu disematkan karena si pemanggil pun bukan asli Makassar, melainkan pendatang dari luar Makassar tepatnya dari Jawa Tengah.
"Dari kampus, Mas" jawab Zul tersenyum.
Ditengah asiknya Zul bercerita, ponsel pria itu berdering. Segera Zul melihat siapa yang menelepon dan ternyata itu dari Ibu Negara, alias istrinya, Azahra si cantik.
"Assalamualakum. Sayang kalian dimana?" tanya Zul.
"Loh, kamu nggak buka Whatsapp? Aku chat loh sebelum pergi tadi" terdengar tanya dari wanita pujaan hati Zul.
"Owwww, begitu ternyata. Ya sudah, kamu dimana sekarang?" tanya kemudian.
"Aku dan Asna juga anak-anak di Mall MTOS, ngajak anak-anak main. Sebentar lagi kami pulang. Kamu dimana Sayang?" tanya Azahra setelahnya.
"Aku di depan Toko. Mau masuk tapi nggak ada kunci" jelas Zul.
"Ya Allah ... Ya sudah, kami pulang sekarang" kata Azahra. Mengucap salam, lalu memutuskan panggilan. Jarak MTOS dan Toko yang tidak terlalu jauh, mempercepat Azahra dan Zahira sampai di Toko. Terlihat mata Zahira mengeluarkan tetes bening dari kedua matanya.
Melihat sang putri menangis, Zul menatap tanya istrinya. lalu menggendong sang putri "Dia kenapa?" tanyanya kemudian.
"Nggak mau pulang, maunya main terus" jawab Azahra sambil mrngeluarkan kunci dari dalam tas. Setelah membuka pintu, Azahra masuk yang di susul oleh Zul.
"Gimana, banyak Mahasiswi cantik di kampus?" Azahra memulai.
"Tentu saja, Sayang. Apalagi dekat Fakultas Sospol kan Fakultas Farmasi. Huiii, banyak yang bening bening" jawab Zulfikar cepat. Bukannya dia tak bisa menjaga pandangan, melainkan dia hanya ingin melihat respon dari istrinya.
__ADS_1
Azahra berdecih. Rasa cemburu menyeruak. Prasangka prangsangka buruk berseliwerang diingatannya. Dia teringat satu kejadian yang diberitakan dua bulan sebelum Zul kembali dari Los Angeles, dimana seorang Dosen yang hampir setiap waktu mengirim pesan pada istrinya di rumah, mengatakan cinta pada sang istri. Namun siapa sangkah, di tempat kerja, suaminya berselingkuh dengan Mahasiswinya.