SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 33


__ADS_3

"Zah, kok aku senang mendengarnya" ucap Zulfikar. Sedetik kemudian dia tertawa lepas. Menarik diri hingga duduk, Zulfikar menatap Azahra. "Cieee ... yang ditinggal nikah" sambungnya meledek.


"Apaan sih!" ketus Azahra. Kesal, dia beranjak dari ranjang berlalu ke kamar mandi.


"Cieeee ... Zahra cieee ..." Zulfikar kembali meledek.


Di kamar mandi, Azahra terus mengumpat. Tak ingin mendengar ledekan dari Zulfikar, Azahra menyalakan keran air.


Di ranjang, Zulfikar berhenti meledek sang istri. Beranjak dari tempat tidur, pria itu mengambil dua gelas beras untuk menanak nasi menggunakan magic com.


"Kakak ... bisa ambilkan aku handuk? Aku lupa mengambilnya" pinta Azahra berdiri dibalik pintu.


"Kamu simpan di mana handuknya?" tanya Zulfikar yang memang tidak tahu dimana handuk berada.


"Di dalam lemari paling bawa" jelas Azahra.


Seperti penjelasan Aviola Azahra. Zulfikar meninggalkan pekerjaannya, kemudian mengeluarkan handuk putih dari lemari. "Zahra ... nggak ada handuk di sini" ucap Zul berbohong.


"Kok bisa sih? Aku yang tadi isi. Coba Kakak cek kembali, masa nggak ada"


"Betulan nggak ada Zahra. Nggak ada handukmu di sini. Yang ada hanya punyaku, warna merah" jelas Zulfikar seraya berjalan menuju pintu kamar mandi. "Buka pintunya!" tambahnya.


Menarik senyum, Azahra membukanya. Perlahan tangannya terulur keluar, kembali ditarik setelah handuk sudah pada genggamanannya. Setelah mengenakan handuk, Azahra keluar.


"Zahra, ternyata kamu cantik juga ya" tersenyum nakal, Zulfikar menggoda sang istri.


Memutar bola mata malas, Azahra mengeluarkan pakaian ganti dari dalam lemari. Pujian itu selalu dia dengar sejak sebulan belakangan ini. Pria yang dulunya dimanfaatkan oleh wanita yang teramat dia cintai, kini mengeluarkan jurusnya pada sang istri. Entah apa tujuannya.


"Nggak nyesal aku aku nikahin kamu" tambahnya.


"Oh ya? Lalu siapa yang bilang dirinya tersiksa menikah denganku? Setan?" ucap Azahra nampak geram.


"Ya ... seperti itu setan. Karena memang aku nggak merasa" ucap Zulfikar yang pada awalnya mau buat Azahra kesal.


Azahra mendengus kesal sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mengenakan pakaian ganti, wanita cantik itu keluar menghampiri suaminya yang masih setia memegang panci magic com.


"Sudah sama cuci berasnya" titah Azahra.


"Nanti aku yang goreng ikan" tambahnya.

__ADS_1


"Zahra, jangan lupa masak sayur. Aku mau makan sayur buncis" kata Zulfikar yang sudah berada di kamar mandi.


Pukul delapan malam, Azahra dan Zulfikar tengah melantai. Di depan mereka, ada panci magic com berisi nasi, ada piring, sendok, gelas, dan lauk pauk juga air minum yang sudah tersedia.


Seperti biasa, Zulfikar akan mengambil makanan untuknya. Begitu juga dengan Azahra. Sementara makan, ponsel Zulfikar berdering. Namun pria itu enggan untuk menjawabnya.


"Kebiasaan! Pergi tanpa bersua dan memanggil tanpa chat terlebih dahulu" gumam Zulfikar. Walau terlihat nomor baru, tapi Zul tahu itu nomor siapa.


"Cieee ... ada yang ngambek ni ..." ledek Azahra seraya menyenggol lengan Zulfikar.


Zulfikar terkekeh. "Dia itu sahabat aku. Kami dibesarkan dilingkungan yang sama. Ada itu rumah besar, yang dua rumah setelah rumah Mama. Nah, dia tinggal di situ. Namanya Micel. Papanya orang Australia, Mamanya asli Makassar" jelas Zulfikar.


Azahra mengangguk. "Terus, kenapa Kakak nggak jawab panggilan darinya?" tanya Azahra.


"Itu pelajaran untuk dia karena pergi tanpa pamit" jawab Zul sedikit kesal jika mengingat sikap sahabatnya.


Setelah makan, Azahra mencuci piring dibantu oleh Zulfikar. Usai bersih-bersih, keduanya duduk dibilik depan.


Drt ... Drt ... Drt ... Drt ...


Drt ... Drt ... Drt ... Drt ...


Ponsel Zulfikar kembali bergetar. Zulfikar yang malas menjawab, membiarkan ponselnya begitu saja. Dia tidak marah, tapi hanya malas .


"Bicara sama dia" Zul menempelkan benda pipinya pada telinga Azahra.


Azahra menggeleng cepat. Namun wanita diseberang telepon mulai menyapa. Terpaksa, Azahra memulai percakapan dengan mengucap salam. "Assalamualaikum. Maaf, Kak. Kak Zul lagi ngerjain tugas kampus" jelas Azahra.


"Lalu saya bicara dengan siapa sekarang?" tanya Micel sedikit terdengar ketus.


"Sama istrinya" bisik Zul memberi kode pada Azahra.


Azahra terdiam. "Istri? Apa Kak Zul nggak salah?" batin Azahra bertanya tanya.


"Hellooooo. Saya bicara dengan siapa sekarang? Nggak tuli kan!" Micel mulai kesal


"Ah, s_s_saya istrinya" jawab Azahra.


Tut Tut Tut ... Panggilan terputus.

__ADS_1


Zulfikar tersenyum jahat. Dugaannya benar, Micel akan memutuskan panggilan secara sepihak. Setahun yang lalu juga begitu, menghubungi minta dijemput di Bandara. Dan Zul yakin, sekarang Micel ada di Bandara.


Keeosokan harinya, Azahra bersiap ke Sekolah sementara Zulfikar masih tidur. Dia yang tidak mau mengganggu tidur nyenyak sang suami, hanya meninggalkan selembar kertas kecil yang disimpan di bawa ponsel Zulfikar.


Setibanya di Sekolah, Azahra mencari teman-temannnya yang nyatanya belum pada datang di sekolah. Untung menghilangkan kejenuhan, wanita itu bersenandung sambil menggiring langkah ke depan gerbang sekolah.


"Nyari siapa, Zah?" tanya Akri, teman sekelas Azahra yang baru saja datang.


"Haikal dan yang lain" jawab Azahra.


"Sana Haikal" jari telunjuk Akri terarah pada kendaraaan roda dua yang semakin mendekat.


Mengulas senyum, Azahra menunggu Haikal yang sepertinya datang bersama Irwan. Selang beberapa puluh detik, Gea dan Geofani datang. Tinggal Asna yang belum menampakan batang hidungnya. Lama menunggu, Asna pun tiba di sekolah. Sambil menunggu apel pagi, Azahra dan kawan kawannya duduk di depan kelas.


"Beb, kamu rencana kuliah dimana nanti?" tanya Gea pada Asna.


"Aku belum kepikiran itu. Kalian tahu sendiri kan Nenek aku udah tua, rentan sakit pula. Aku nggak mau ninggalin Nenek aku" jawab Asna. "Kamu iya mau kuliah di mana?" sambungnya bertanya.


"Mungkin di Jakarta. Karena Mama dan Papa aku pindah tugas di sana" jawab Gea.


"Kamu Zahra, rencananya di mana?" Gea kembali bertanya pada Azahra.


"Di Jerman, aku mau nyusul Mama dan Papa aku di sana" jawab Azahra.


"Kamu dan kamu?" Gea menatap Haikal dan Irwan. Berharap ada yang mau kuliah di Jakarta, dengan begitu, mereka akan daftar di kampus yang sama.


"Aku di Manado" jawab Irwan.


"Kalau aku ya tetap di Makassar" jawab Haikal. Gea menghela napas panjang. Tak satupun dari mereka yang mau kuliah di Jakarta.


Di Pondok AQILA, Zulfikar terbangun akibat nada dering yang dia lupa pelankan. Berusaha membuka mata, pria itu meraih ponselnya juga kertas yang ditinggalkan oleh Azahra.


Menatap jam pada ponsel, Zulfikar segera membersihkan diri sebelum ke kampus. Hanya beberapa belas menit saja, dia sudah siap ke kampus.


Ting!!


"Jam satu nanti temui aku di tempat biasa" Pesan dari Micel.


Sebelum naik di atas motor, Zul menyempatkan waktu untuk membalas. "Aku nggak bisa, jadi lain kali saja" balas Zulfikar.

__ADS_1


"Aku nggak mau tahu!" balasan dari Micel.


"Ya sudah, jam empat saja. Tunggu istriku pulang baru kami ke sana" balas Zulfikar.


__ADS_2