
Bandung, Jawa Barat, Hotel Amanah
Zulfikar, Assagaf dan teman dosen yang lain tiba di hotel Amana pukul sepuluh malam setelah seharian mereka melaksanakan kegiatan di luar. Zulfikar dan Assagaf yang satu kamar hotel segera masuk ke kamar mereka.
"Bro, kamu mau mandi duluan atau aku dulu?" tanya Assagaf.
"Kamu dulu, Bro" balas Zulfikar seraya melepas dasi yang dia kenakan, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Ya Allah ... aku lupa aktifkan ponselku" lirih Zul segera ia mengaktifkan ponselnya. Tiba-tiba perasaannya tidak enak setelah beberapa pesan masuk dari istri, Mama, Papa juga dari Taufik.
"Zahira kecelakaan saat akan ke Apotek membeli obat"
Degh!!
PRANK!!
Seketika tubuh Zulfikar lemas. Tangannya berpegang pada sisi tempat tidur guna menompang dirinya agar tidak ambruk. Mata pria itu mulai berkaca-kaca, sedetik setelahnya ia menangis di dalam kamar hotel.
"Ya Allah selamatkan putriku" pinta Zul terisak. Zul segera memunggut ponselnya lalu menghubungi Azahra. Tak berapa lama, terdengar suara berat di seberang telepon.
"Sayang .." panggil Azahra terdengar terisak. "Zahira kecelakaan. Apa kamu bisa pulang?" tanyanya kemudian.
"Bisa dengan nggaknya, aku tetap akan pulang. Kamu yang kuat, ada Furqan yang masih butuh ASI. Aku temui Dosen yang lain dulu, setelah itu aku hubungi kamu"
Zulfikar mengirim pesan di group Whatsapp. Beberapa detik setelahnya, balasan pesan dari rekan Dosen memintanya segera memesan tiket. Bahkan kaprodi memintanya untuk mengambil penerbangan di beberapa jam yang akan datang.
Tanpa mengulur waktu, Zul membuka aplikasi Traveloka lalu memesan tiket untuk penerbangan subuh. Kemudian dia menghubungi istrinya di Makassar. Panggilan video terhubung, di sana, Zul melihat Zahira menggunakan alat bantu bernafas. Tanpa diminta, air mata Zulfikar menetes melihat putri kesayangannya yang tak berdaya.
"Bro kamu kenapa?" tanya Assagaf yang baru keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Putriku, Gaf. Dia kecelakaan" jawab Zul memberitahu.
Degh!! Assagaf tak tahu harus berkomentar apa. Dia belum menikah tapi dia bisa memposisikan dirinya di posisi Zul dan itu sudah pasti sakit.
Keesokan harinya.
Pesawat yang membawa Zulfikar ke Makassar telah mendarat di Bandara Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Zulfikar menyeret kopernya keluar dari Bandara. Lalu masuk ke dalam Taxi Bandara menuju Rumah Sakit Kasih Bunda. Tak berapa lama, Taxi yang membawanya berhenti di depan Rumah Sakit.
"Om Zul"
Taufik yang sementara di luar menghampiri Zulfikar. Dia dari semalam bermalam di rumah sakit bersama Berlin. Pagi tadi, sekitar jam 5 subuh Berlin pamit pulang karena harus ke sekolah.
"Bagaimana keadaan Zahira?" tanya Zul cemas.
"Zahira belum melewati masa kritisnya, Om" jawab Taufik tak bersemangat. "Om, sini kopernya aku simpan dibagasi, kebetulan ada kunci mobil kalian sama aku" ucapnya kemudian.
Zulfikar memberikan kopernya pada Taufik. Kemudian dia ke ruangan putrinya di lantai 13. Di sana, dia melihat sang putri yang lemas. Di sisi tempat tidur, ada Mama Aira juga Mama Alluce yang menjaga Zahira. Di sofa, ada Kakek Kurniawan juga Kakek Gun yang sedang berbincang.
"Papa .." panggil Zahira. "Aku dimana?" tanyanya kemudian.
Mama Aira juga yang lain segera menghampiri. Sementara Zulfikar memanggil dokter. Tak berapa lama Zulfikar kembali bersama Dokter Ilhan dan dua orang perawat. Keluarga berpindah setelah Dokter Ilham memeriksa kondisi Zahira.
"Zahira, apa kamu mengenal mereka?" tanya Dokter menatap keluarga Zahira.
"Itu Papa, Nenek, Kakek, Oma dan Oma" jawab Zahira.
Baik Dokter maupun yang lain mengulas senyum. "Alhamdulilah. Zahira banyak istirahat ya. Kalau perawat ngantar makanan, jangan di simpan, tapi di makan. Buah-buahan juga, jangan dibiarkan habis dimakan yang besuk"
"Hahahahahaha" tawa Zahira pecah. Gadis cantik itu merasa diri sebagai pelaku. Saat Mama nya masuk Rumah Sakit, sang Mama menolak makan makanan rumah sakit. Dan buah-buahan yang dibawa orang dimakan oleh Zahira hingga tak tersisa.
__ADS_1
Usai memeriksa kondisi Zahira, juga membuat gadis cantik itu tertawa, Dokter Ilham kembali bekerja.
Mama Asna dan Papa Haikal datang dari rumah membawa rantang makanan yang cukup besar. Di depan Rumah Sakit ia bertemu putranya yang melamun, entah apa yang dia lamunkan.
"Bagaimana keadaan Zahira?" tanya Asna setelah berdiri dihadapan putranya.
"Aku nggak tahu, Mah. Sejak tadi aku di sini. Oh ya, Om Zul sudah datang. Dan sekarang ada di dalam" jelas Taufik. Setelah mendengar penjelasan dari Taufik, Asna dan Haikal menggiring langkah ke kamar rawat Zahira.
Sementara Taufik duduk, tiba-tiba pria itu menangkap sosok dikenalnya, dia Kansa dan Fenda, teman karib Zahira. Taufik sebenarnya tidak menyukai Kansa tapi dia juga tidak mungkin mengusir Kansa. Bisa marah Zahira kalau tahu temannya di usir saat akan membesuknya.
"Kak Taufik? Gimana keadaannya Zahira?" tanya Kansa.
"Ke ruangannya saja, di Lantai 13" balas Taufik tanpa ekspresi.
"Dasar kulkas!!" umpat Fenda setelah berada di jarak 3 meter dengan Taufik.
"Sudah, nggak mau marah-marah" tegur Kansa.
Kansa dan Fenda berhenti di lantai 13 seperti kata Taufik. Keduanya masih mencari ruangan Zahira karena Taufik hanya menyebut lantai 13 saja. Sementara di lantia 13 ada beberapa kamar.
"Sepertinya di sana, aku mendengar suara Om Zul" Fenda menarik tangan Kansa. Dan benar saja, Zul dan yang lain ada di kamar yang dimaksud Fenda.
Di rumah, Azahra mendapatkan panggilan dari suaminya. Jujur, dia pun ingin ke rumah sakit, menemani putrinya bermalam di sana. Tapi .. Furqan masih sangat kecil. Mau tidak mau Azahra hanya bisa menunggu kabar dari mereka yang berjaga.
"Sayang, Zahira udah siuman" ungkap Zulfikar.
"Alhamdulilah ya Allah ..." Azahra meneteskan air mata bahagia.
Panggilan suara diubah menjadi panggilan video, di rumah sakit Zahira terlihat tersenyum melihat sang Mama di layar ponsel bersama Furqan.
__ADS_1
"Mama, bagaimana keadaan Furqan? Apa demamnya sudah turun?" tanya Zahira cemas. Pasalnya semalam dia mau beli obat di apotek untuk adiknya tapi ada mobil yang melaju dengan cepat, saat mobil mengurangi lagi kecepatan, Zahira segera mempercepat langkah dan ternyata ada kenderaan roda dua yang tiba-tiba menyenggolnya.
"Alhamdulilah Sayang, adik kamu nggak demam lagi" jawab Azahra.